Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
109. Berebut Kekuasaan


__ADS_3

Sambil menikmati secangkir teh kesukaannya yakni teh Chamomile yang baik untuk kesehatan tubuh. Apalagi diposisi Arya yang menjabat sebagai CEO perusahaan yang membuat setiap harinya sibuk akan pekerjaan yang ia geluti sepanjang hari. bukan hanya fisik, mental, pikiran pun bekerja untuk kelangsungan pekerjaannya. membuat Arya menyenangi teh Chamomile yang kaya akan manfaat dan khasiat bagi tubuhnya yang bisa menenangkan dan merilekskan tubuh dan pikiran setiap kali mengkonsumsinya.



"Dari dulu kau selalu mengkonsumsi teh Chamomile yang tak pernah lepas dalam list kebutuhan nutrisi mu. Akhir-akhir ini pasti membuatmu semakin terkena penyakit mental karena terus mengurusi perusahaan mu yang semakin maju." Bicara Bu Amira mengawali


"Aku harus selalu berusaha walaupun perusahaan ku selalu berada di atas." Ujar Arya


"Itulah yang menjadikanmu sebagai panutan oleh banyak orang." Kagum Bu Amira


"Apa yang ingin kalian bicarakan denganku?" Ujar Arya yang mengingat alasan dia datang ke mansion orang tuanya, sehingga tak ingin lama-lama di sana, ia ingin langsung membahas pada intinya


"Kita harus mulai dari mana, Pak?" Bisik Bu Amira pada Pak Barma


"Bapak juga tidak tahu. Bapak takut jika tempramen Arya kambuh." Bisik Pak Barma juga ditelinga istrinya


Asing rasanya walaupun dihadapannya berbicara pada anak mereka sendiri yang berada dibawah mereka kedudukannya. seakan mereka tidak memiliki hubungan apapun yang mengikat mereka untuk tak canggung satu sama lain.


Arya hanya menatap kedua orang tuanya sinis.merasa paling agung karena seperti ditakuti dan terintimidasi olehnya.


"Cepat katakan! Aku tak memiliki banyak waktu untuk membicarakan hal yang tidak penting seperti ini." Cetus Arya mencela


"Emm...Begini Arya, kau tahu jika Darwin sudah pulang dan menyelesaikan studi bisnisnya sama seperti dirimu. otomatis dia akan menjadi seorang pengusaha yang menjadi pemimpin untuk perusahaannya seperti dirimu."


"Lalu, Apa yang ingin kalian lakukan?" Tanya dingin Arya


"Kami belum selesai berbicara. Kami ingin meminta pendapat darimu. Bagaimana pendapatmu tentang adikmu Darwin, Apakah dia bisa ditempatkan di perusahaan mu untuk mengurus perusahaan keluarga kita?"


"Aku sudah memimpin jalan perusahaan itu. Apa maksud kalian posisiku ingin digantikan oleh anak kesayangan kalian?"


"Bukan seperti itu maksud kami. Darwin bisa saja membantu dirimu di sana, bukankah bagus jika kedua anak kami yang sukses saling bekerjasama untuk kelangsungan kesuksesan perusahaan kita." Jelas Bu Amira

__ADS_1


Suasana semakin serius saat Arya terlihat berpikir keras.


"Perusahaan itu memang masih balik nama atas nama ayah, otomatis itu adalah perusahaan ayah, belum sepenuhnya milik ku walau aku yang memimpin. tapi jika bisa, dengan cepat segera memproses balik nama menjadi namaku, sehingga dengan sah aku merupakan pemilik perusahaan itu."


"Ini bukan saatnya memikirkan balik nama siapa pemilik perusahaan itu. Ini menyangkut pekerjaan Darwin. Sebagai kakak, apakah kau ingin berbagi tempat dengan adikmu?" Ujar Pak Barma yang terdengar geram


"Baru saja kemarin aku membuat petisi tidak akan menerima calon pekerja baru, karena akan lama untuk menyesuaikan, tidak baik juga untuk hari-hari kerja lainnya. itu tandanya aku tidak ingin orang baru masuk ke dalam perusahaan untuk mengambil tanggung jawab yang serupa."


"Karena kau takut tersaingi?" Kecam Pak Barma


"Tck,,, Arya Razvan Pratama bukanlah pecundang yang takut tersaingi. mungkin orang lain saja yang merasa tersaingi oleh diriku. aku hanya tidak ingin orang lain merusak rencana ku dan mengambil alih pimpinan ku. Dalam satu perusahaan yang sama, terdapat dua pemikiran yang berbeda setiap proyek yang kita rencanakan. Akan membutuhkan waktu diskusi yang lama, Sampai merusak rencana lain. aku tidak setuju jika Darwin ada di perusahaan ku."


"Darwin tidak akan menjadi CEO kedua di sana. Kau bisa menempatkannya di bagian divisi atau karyawan, Itu terserah padamu." Jelas Pak Barma


"Itu akan sulit." Jawab Arya singkat


"Apa yang menjadikannya sulit?" Tanya Pak Barma yang sudah emosi


"Baiklah, jika memang kau tidak ingin Darwin berada di perusahaan mu. tapi, bukankah baru saja kemarin kau membangun perusahaan baru yang bergerak di bidang pertanian atas nama dirimu sendiri.Kau bisa menjadikan Darwin CEO di perusahaan mu itu." Usul Bu Amira


"Aku tidak ingin orang lain yang mengurus perusahaan ku itu." Ujar Arya


"Kenapa kau terlalu egois pada adikmu sendiri." Geram Pak Barma yang sudah kesal seperti tidak ada gunanya berbicara dengan Arya


"Bukankah dia anak kesayangan kalian? Kenapa kalian tidak berusaha untuk membuatkannya perusahaan saja. Supaya dia bisa mengekspresikan pikiran dan perasaannya sendiri di sana."


"Awalnya kami berpendapat seperti itu. Tapi, apakah itu akan membuatmu lebih tersaingi? ada perusahaan baru yang siap untuk terjun dalam dunia bisnis saling berusaha untuk unggul dalam perencanaan mereka." Ujar Bu Amira


"Aku sangat menyukai tantangan dibandingkan simpangan. kalian tidak perlu merasa khawatir jika aku tidak akan merasa tersaingi."


"Jadi, kau lebih setuju jika Darwin memiliki perusahaannya sendiri?" Tanya Pak Barma

__ADS_1


"Daripada dia harus memimpin perusahaan ku." Ujar Arya dingin


"Baiklah itu artinya simpulan yang kita renungkan dari mendengarkan pendapat dari Arya, kita memutuskan untuk setuju jika Darwin akan kita buatkan perusahaan." Ujar Pak Barma


"Iya, Arya sendiri yang mengatakannya seperti itu. Maka dari itu kita tidak perlu khawatir mengenai karier Darwin."


"Sebaiknya kita segera mencari tempat yang strategis untuk membangun perusahaan Darwin dan segera memanggil arsitek dan kontruksi bangunan untuk segera membangun perusahaan baru." Antusias Pak Barma


"Dan jangan lupa untuk segera membalik nama perusahaan kalian menjadi namaku." Sambar Arya


Di sisi lain~


Sampai di halaman belakang yang terdapat taman luas berisi berbagai macam bunga yang warna-warni. Dini berjalan menyusuri lahan hijau seperti labirin itu, mencari Adik ipar yang selalu ingin menemui dirinya.


Lama-lama mencari dan berusaha mendapati seseorang disekitar sana, tak jauh terpantau seseorang sedang duduk merangkai bunga yang ia petik dari kebunnya.


"Apakah itu adik ipar ku? Siapa lagi jika bukan dia? Di sini sepi tidak ada orang sama sekali selain dirinya." Dini pun berjalan menghampiri bangku taman itu


memantau dari belakang dengan duduknya seorang pria yang sedang asyik sendiri merangkai bunga. Dia duduk dengan gagah dan tegap. Dari punggungnya saja terlihat samar tidak asing Dini mengenali sosok itu.


"Kenapa rasanya aku berat untuk berjalan menghampirinya? Seketika ingatanku langsung teringat akan Tuan Darwin yang ku temui kemarin. Nama adik ipar ku sama dengannya. Tapi di dunia ini nama Darwin bisa dimiliki oleh siapa saja, bukan hanya pada satu orang. tidak mungkin jika adik ipar ku adalah Darwin orang yang sama seperti yang pernah ku temui." Ujar Dini yang merasa mulai kurang enak hati berjalan serasa berat menghampiri Darwin yang tengah duduk


"Apa kau Darwin?" Bicara Dini saat 1 meter sampai di belakang Darwin


"Aku tahu jika kau pasti kakak ipar. kakak sudah datang?" Pungkas Darwin berdiri dan hendak berbalik memutarkan badannya


Jreng...! Duarr...!


Mereka sudah berhadapan dan melihat satu sama lain.


Dini langsung syok saat mendapati pria yang sedang berdiri dihadapannya adalah sosok pria yang ia kenal tidak jauh dengan Darwin yang ia temui kemarin.

__ADS_1


__ADS_2