
"Nak Zayn, Ayo dicicipi kue lapisnya. Ini Ibu sendiri yang membuatnya."
"Benarkah? Tak mudah untuk membuat kue lapis, harus ekstra sabar dari proses pembuatannya hingga paduan warna-warni berlapis seperti ini. Ini adalah kue tradisional Indonesia yang ku gemari. Aku akan mencobanya." Ujar Zayn mengambil satu potong kue lapis itu
"Iya, Silakan dicoba." Ujar Bu Lia senang
Satu suapan berhasil masuk ke mulut dan menelannya.
"Eemm... Enak sekali rasanya. Rasa kue lapis, tapi ini sedikit berbeda dan lebih enak." Kata Zayn memuji
"Agh,,, Ini biasa saja. Ibu membuatnya sama seperti yang lain dengan bahan yang sama tanpa ada campur apapun."
"Tapi kau seorang ibu. Seorang ibu akan membuat cita rasa makanan yang berbeda untuk anaknya. Mereka memasak menggunakan hati yang penuh kasih sayang." Ujar Zayn menyentuh hati Bu Lia
"Anak??" Tegun Bu Lia
"Iya. Kau sudah seperti ibuku sendiri. Jadi, aku ingin menganggap Bu Lia seperti ibuku." Ungkap Zayn
Sangat menyentuh. Perasaan hangat terhantar dan gelora rasa senang membayangkan Zayn adalah benar anaknya. Itupun mengingatkan Zayn putranya yang hilang.
"Kau sangat menyukainya? Bertahun-tahun tinggal di Swiss tidak akan mungkin bisa memakan kue lapis, di sana tidak ada yang menjualnya. Bagaimana bisa menyukai kue lapis." Ujar Bu Lia
"Aku juga berasal dari Indonesia. Ayah, Ibu dan aku beremigrasi ke negara Swiss. Tetap saja di sini adalah negara tempatku lahir. Mengenai kue lapis, Aku juga tidak tahu kenapa bisa sangat menyukainya. Saat datang ke Indonesia aku langsung mencari pasar tradisional untuk membeli kue lapis. Akhirnya setelah beberapa tahun bisa merasakan kue lapis lagi." Kata Zayn
"Zayn kami pun sangat menyukai kue lapis. Saat kecil dan dia masih bersama kami, Zayn sangat menyukai kue lapis yang dibuatkan ibunya. Hari itu masih saya ingat bagaimana Zayn merengek pada ibunya untuk dibuatkan kue lapis." Ujar Pak Malik
"Zayn?? Siapa Zayn? Itu adalah namaku. Aku tidak percaya ternyata namaku dimiliki orang lain juga." Kata Zayn tertawa kecil
__ADS_1
"Zayn adalah putra anak pertama kami. Dia adalah kakaknya Dini." Jawab Pak Malik
"Benarkah? Lalu, Di mana dia sekarang. Mungkin aku bisa bertemu dengan kembaran namaku, kita lihat apakah wajahnya bisa saja sama." Kekeh Zayn
"Sayangnya kami kehilangan putra kami saat usia 8 tahun. Hingga sampai saat ini kami tidak tahu bagaimana keadaan dan di mana keberadaannya. Mungkin jika ada bersama kami, dia akan persis seperti mu." Ungkap Pak Malik
"Dia diculik??" Tegun Zayn
"Benar. Ibu sendiri yang melihat kejadian itu di depan mata. Tapi mobil hitam itu membawa Zayn kami pergi jauh sampai tidak kembali hingga kini." Pungkas Bu Lia
"Aku turut berduka cita. Semoga saja putra kalian bisa segera ditemukan atau jika dia masih ingat akan datang menemui dan kembali pada kalian lagi." Kata Zayn
"Kami selalu berharap dan tidak pernah putus berdoa." Kata Bu Lia
"Selagi Zayn kalian belum bisa ditemukan, Kalian anggap saja jika aku adalah putra kalian yang hilang itu. Aku bersedia kalian menganggap ku sebagai anak, mungkin itu akan sedikit mengurangi rasa rindu kalian." Ujar Zayn
"Aku harus pergi (Zayn melihat jam tangannya). Bu Lia, Pak Malik, Aku harus segera pergi. Terima Kasih untuk kue lapisnya, Aku akan membawa ini." Pamit Zayn
"Iya silakan dibawa. Di dapur masih ada banyak." Ujar Bu Lia
"Baiklah. Lain kali datang kemari lagi." Ujar Pak Malik
"Tentu saja." Jawab Zayn dan meninggalkan rumah itu
Saat di luar, Zayn pun dikejutkan dengan seseorang yang berdiri di depan halaman rumah peninggalan Darwin yang dihuni oleh orang tua Dini dan Nek Arini.
"Ayah, Apa yang sedang ayah lakukan di sini." Kejut Zayn melihat Ayahnya
__ADS_1
"Seharusnya ayah yang bertanya, Apa yang kau lakukan di rumah ini?" Kata Pak Antonio terdengar marah
"Aku memang sering datang ke rumah ini, Bukan baru satu atau dua kali. Aku sudah menganggap keluarga ini sebagai keluargaku sendiri. Kebetulan kenapa ayah tahu jika aku ada di sini? Atau mungkin ayah ingin bertemu dengan Pak Malik?" Kata Zayn
Antonio terlihat kebingungan menjawab. Di Indonesia, Dia seperti seorang penguntit yang mengikuti kemanapun hingga tahu segala di mana keberadaan seseorang.
"Ayah sudah mengingatkan mu untuk tidak berhubungan dengan mereka, Bukan. Semakin lama di sini, kau akan semakin dekat dengan mereka. Ayah akan memutuskan hari ini kita akan kembali ke Swiss." Kecam Pak Antonio
"Tidak bisa. Kenapa Ayah terus memaksaku untuk segera kembali ke Swiss. Apa Ayah lupa di negara mana ayah lahir, Negara ini adalah tempat lahir dan tinggal Ayah saat masih kecil bersama orang tua ayah. Tapi kenapa ayah tidak senang tinggal di negara sendiri. Sekiranya saat ini ayah bisa mengenang masa kecil di negara ini." Debat Zayn
Mendengar keributan, Pak Malik dan Bu Lia pun keluar.
Pak Antonio menyadari hal itu, Kedua orang itu sedang berjalan mendekat untuk melihat keluar. Perasaan Pak Antonio seketika menjadi tidak tenang dan kelimpungan.
Zayn pun ditarik paksa untuk dibawa pergi.
"Ayah, Apa yang kau lakukan? Jawab dulu pertanyaan ku maka dari itu ayah tidak perlu memaksaku pergi seperti ini." Kata Zayn terbawa dan langkahnya sedikit berlari
Saat sampai di depan pintu utama, Suara keributan itu menghilang dan hanya menyisakan Zayn yang ditarik ayahnya pergi dari rumah itu menuju mobilnya.
"Itu adalah ayahnya Zayn. Dia sengaja datang kesini untuk menjemput putranya atau ada keperluan lain? Jika seperti itu, Kenapa dia bisa tahu jika Zayn ada di sini." Heran Pak Malik
Pak Malik bertanya-tanya kebingungan. Sedangkan, Bu Lia hanya terdiam menatap lesu ke arah mereka. Ia terlihat melamun yang memikirkan satu hal.
"Wajahnya Ayah Zayn seperti pernah ibu lihat. Tapi ibu tidak mengingatnya. Dari kemarin ibu selalu membayangkan revolusi wajahnya yang mirip dengan pemimpin gerombolan penculik itu, jika ada perubahan pun diusianya yang tidak muda lagi, saat menua akan seperti itu." Gumam Bu Lia
"*Ibu tidak yakin jika dia adalah penculik Zayn. Seorang penculik yang memiliki niat jahat tidak mungkin berkeliaran bebas menghirup udara segar. Seharusnya penculik Zayn mendekam di penjara. Ini hanya kebetulan saja dipertemukan dengan nama anak yang sama. Itu artinya aku belum bisa melupakan Zayn."
__ADS_1
"Zayn, Kau di mana nak? Kami sudah berusaha mencari bertahun-tahun, setidaknya jika kau masih ingat wajah orang tuamu sapa kami, cari dan datang temui kami*."