
Lembaran Baru di bulan yang baru, Baju baru, kehidupan baru, keluarga baru dan status yang baru, semuanya baru. Itu yang dialami Dini saat ini, dengan mengemban kewajiban yang baru.
Dini menuruni setiap anak tangga setelah selesai membersihkan diri.
"Itu rupanya menantu ku. Ayo nak, kemari." Ucap Bu Amira
Sampai menghampiri~
"Ibu, Tolong maafkan aku karena sudah memakai pakaian ini."
Pakaian yang dikenakan Dini
"Kenapa kau meminta maaf, ibu membelinya khusus untuk mu. Kau cantik sekali memakai baju itu. Sudahlah tidak perlu dipikirkan, Ayo kemari duduk di sebelahku." Ujar Bu Amira meminta Dini untuk duduk dan langsung duduk di sebelah Bu Amira
"Aku senang akhirnya kau menjadi menantu yang merupakan istri dari putraku. Banyak orang juga yang turut senang atas pernikahan ini terutama Adik ipar mu Darwin. Kau pasti belum kenal dengannya, jika saja dia memiliki waktu banyak, mungkin kalian akan bertemu." Bincang Bu Amira
"Kemarin baru saja dia harus kembali ke Amerika menyelesaikan pendidikannya, Dia sangat antusias sekali mendengar kakaknya akan menikah. Dia juga sangat senang akan memiliki kakak ipar, sehingga Darwin menitipkan sesuatu pada ibu untuk diberikan padamu." Bu Amira mengambil barang yang sudah dipersiapkan di meja
"Ini, Ini hadiah dari Darwin untukmu. Entah apa yang ada di dalamnya, kau akan tahu jika sudah membukanya." Memberikan kotak hadiah berukuran kecil pada Dini
Dengan lapang dada, ia mengambil kotak hadiah tersebut.
"Apakah aku bisa membukanya sekarang?" Ujar Dini bertanya meminta izin
"Tentu saja, itu adalah barang milikmu. Buka sana sekarang."
Dini perlahan membuka kotak hadiah kecil tersebut, dan terdapat di kendati pun di dalamnya adalah sebuah kalung.
"Kalung...??" Tegun Dini
"Bagaimana apa kau menyukainya?" Tanya Bu Amira
"Ini benar-benar indah, Bu. Aku sangat menyukainya." Ujar Dini menatap binar kagum kalung indah itu, apalagi terdapat warna kesukaannya yakni biru muda
"Baguslah jika kau menyukainya, Darwin pasti akan senang mengetahui jika kakak iparnya menyukai barang pemberiannya."
Terdapat juga sepucuk surat yang diselipkan dalam kotak tersebut sehingga Dini membacanya.
Adapun isi surat tersebut adalah...
...Halo! Kakak Ipar......
Aku ucapkan selamat atas pernikahan mu dengan kakak ku. Sayang sekali aku tidak bisa menghadiri pernikahan kalian, sehingga aku tidak bisa melihat kakak ipar ku. Begitu pun denganmu yang tidak mengetahui siapa diriku. Tapi ini tidak lama, sebentar lagi aku akan pulang dan bertemu dengan keluarga baru kami, mungkin saat aku kembali aku juga bertemu dengan keponakan ku.
Kau pasti heran kenapa aku memberikan hadiah berupa kalung untukmu, bukan semata untuk maksud terselubung. itu adalah rasa ucapan terima kasih ku padamu karena sudah ingin menerima tawaran untuk menikah dengan kak Arya. Maafkan aku tidak bisa memberikan barang mewah seperti barang yang diberikan kakak untukmu. Itu hanya semata tanda penyambutan mewakili diriku yang tidak bisa hadir langsung ke pernikahan kalian.
Aku harap kakak ipar menyukai barang pemberianku, dan kakak memakai kalung itu untuk menghiasi leher kakak ipar.
Itu saja yang ingin aku sampaikan, selamat atas pernikahan mu. Semoga kalian menjadi pasangan yang bahagia untuk selamanya, jangan lupa untuk segera memberikan ku keponakan.aku akan tunggu kabar baik itu darimu kakak ipar.
Sampai bertemu nanti, aku akan kembali untuk melihat mu.
^^^Salam Darwin^^^
"Kepribadiannya pasti sangat jauh berbeda dengan kakak dan adiknya. Dari hanya membaca suratnya, aku bisa merasakan jika dia adalah orang yang baik dan hangat seperti Bu Amira dan Pak Barma. Sama seperti dirimu adik ipar, aku juga ingin melihatmu. Akan ku tunggu kepulangan mu kembali." Gumam Dini
"Ini adalah lembaran baru bagiku.sekiranya masih ada harapan jika di dunia ini ada orang baik yang senantiasa menyertai diriku." Lanjut Gumamnya
...***...
"Akhirnya kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri." Senang Bu Mira
"Betul, dari dulu ayah ingin sekali melihat kau menikah Arya, dan sekarang di masa tua ayah masih bisa menyaksikan pernikahan mu." Pungkas Pak Barma
__ADS_1
"Yang dikatakan ayah benar, ibu senang sekali kalian menikah.dulu ibu sempat hilang harapan karena mu, Din.setelah kejadian dulu kau menolak perjodohan ini, ibu takut Arya memilih istri yang salah."
"Apa yang aku alami saat ini, memang benar aku memilih istri yang salah." gumam Arya kejam
"Jika adikmu Darwin ada disini pasti dia senang melihat kakaknya yang dingin dan cuek ini ternyata sudah menikah." Ucap Bu Mira
"Iya, Bu. Bapak paling ingat, Darwin selalu menggoda Arya bagaimana nanti kakaknya akan menikah.sampai-sampai dia meledek wanita mana yang ingin dengan kakaknya." Ujar Pak Barma mengundang gelak tawa Bu Amira
"Hhhh...iya pak, ibu juga ingat. Dan sekarang tidak disangka kakak yang sering ia ledek ini sudah menikah."
"Ini sudah malam sebaiknya kalian berdua istirahat, acara kemarin pasti sangat melelahkan kalian.kalian sendiri belum mendapatkan istirahat yang cukup." Ujar Pak Barma
"Iya benar, Arya bawa Dini ke kamarmu.kalian harus istirahat." Pinta Bu Amira
Tanpa menjawab Arya langsung pergi saja.
Dini yang menyadari perlakukan Arya saat ini merasa ragu.
"Emm...Ayah, Ibu. Se-sebaiknya aku tinggal di kamar lain saja." Ucap Dini
"Eh, apa maksudmu, Nak. kau adalah istrinya, sebagai suami istri kalian tidak boleh pisah ranjang." Ujar Bu mira
"Ta-tapi seperti nya..." Terpotong
"Cepatlah ikuti aku dan istirahat di kamarku, aku tidak mungkin kan harus menyuruhmu untuk tidur di kamarku.bukankah kau adalah istriku, sebagai istriku kau berhak atas segalanya yang merupakan milikku bukan.tanpa harus menunggu persetujuanku." Ucap Arya yang menghentikan langkahnya di anak tangga dan berbicara
"Kau mendengarnya kan menantu ku? Arya sendiri menyuruhmu untuk tidur saja di kamarnya.kalian kan suami istri." Ucap Bu Mira
"Baiklah, Jika begitu aku akan istirahat sekarang.kalian juga harus istirahat, Selamat malam..." Ucap Dini, lalu berjalan menuju tangga dan menaikinya mengikuti Arya
Sampai di kamar Arya~
"Emm...T-tuan! Terima Kasih karena kau sudah mengizinkan ku untuk tinggal di kamarmu." Ucap Dini
"Tapi tadi anda mengatakan itu semua didepan ayah dan ibumu."
"Iya, tapi kau tidak tahu apa yang aku katakan tadi itu semua bohong, kau pikir aku bodoh ingin menerima dirimu sebagai istriku. Jangan berharap! di depan kedua orang tuaku aku hanya ingin meyakinkan mereka saja dan kau adalah sebagai alat untuk meyakinkan mereka.jangan berharap aku sudah menerima mu sebagai istriku, kau bukanlah istriku tapi alatku, yang aku beli dan sewaktu-waktu aku akan membuang mu." Cetus Arya kejam
"Dan ingat kamar ini adalah milikku kau tidak boleh menyentuh barang ku sedikit pun, kau tidak berhak atas diriku.apa yang aku katakan tadi itu semua palsu jadi jangan meminta harapan padaku." Lanjutnya lagi
"Jadi, Anda benar-benar membenci Saya?" Tanya tegun Dini
"Ya, tentu saja. Aku sangat membencimu! tidak segan aku akan membuat hidupmu menderita."
"Baiklah, Saya tidak akan menyentuh barang-barang milik anda di kamar ini atau di rumah ini." Menahan tangis
"Baguslah...kau sadar diri.dan ingat kau tidak boleh memanggilku dengan namaku.kau harus tetap memanggilku dengan sebutan Tuan."
"Baik, Tuan!!" Jawab Dini dengan sabar
"Bagus, dan hari ini untuk seterusnya kau tidur lantai sana."
"Tapi ibu mengatakan aku tidak boleh..." Terpotong
"Tidak boleh apa?! kau masih ingin menggunakan nama ibuku untuk bisa mendekatiku." Hardik Arya
"Ti-tidak, Saya hanya..."
"Cukup!! Aku tidak ingin mendengar alasanmu itu, Jika kau tidak ingin tidur di lantai, tidur saja di luar.masih untung aku membiarkanmu masuk ke kamarku." kesal Arya
"Baik, aku akan tidur saja di lantai ini."
"Yasudah tunggu apa lagi, cepat sana jangan pernah berani macam-macam padaku." Arya pun melepas pakaiannya untuk mengganti dengan pakaian tidur tanpa menghiraukan Dini. Dini yang melihatnya pun langsung memalingkan ke arah lain.setelah selesai Arya merebahkan dirinya di ranjang Super king size yang nyaman itu.
Sedangkan Dini ia mencoba tidur di lantai yang dingin tanpa alas dan selimut.
__ADS_1
Pagi hari~
Dini sudah bangun lebih pagi, Sedangkan Arya ia masih tertidur lelap.
"Eh pengantin baru sudah bangun, Dini bagaimana tidurmu, Nak?" Tanya Bu Mira yang sedang menyiapkan sarapan bersama para pembantunya
"Ba-baik Bu." Jawab Dini
"Baguslah, pasti tidurmu sangat nyenyak."
"Iya." Dini berbohong dan tidak ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.ia sama sekali tidak tidur di ranjang yang sama bersama Arya
"Di mana Arya??" Tanya Bu Amira
"Tuan dia...!"
"Eh kenapa kau masih memanggilnya dengan sebutan Tuan."
"Ma-maksud Dini, A-arya, dia masih tidur. Mungkin A-arya sangat lelah." Kelu Dini saat harus menyebut nama Arya
"Owh ibu tahu, pasti semalam Arya melakukannya dengan sangat brutal dan agresif yah." Terkekeh
"Ma-maksud ibu?" Bingungnya
"Eh tidak,,,tidak ada." Masih terkekeh
Sarapan pagi~
"Owh iya Arya, Dini. Kami masih memiliki satu permintaan pada kalian." Ucap Pak Barma
"Apa ayah??" Tanya Arya
"Cepatlah kalian berikan kami seorang cucu!!" Pungkas Pak Barma dengan spontan
Dini yang sedang makan, Tiba-tiba tersedak.
"Uhukk...Uhukk." Terbatuk-batuk
"Eh menantu, minum...minum dulu, Nak." Bu Mira memberi Dini minum
"Kenapa kau terkejut seperti itu, Nak.wajarkan kami meminta cucu dari kalian.lagi pula kalian pasti harus cepat memiliki momongan, dan kau Arya kau harus paling handal dalam masalah ini karena kau yang akan menentukan jenis anakmu sendiri." Ucap pak barma
"Sebelum kami meninggal kami ingin menggendong cucu." Kata Bu Mira
Arya pun pura-pura menanggapinya.
"Ayah dan ibu tenang saja keinginan kalian akan segera tercapai. Aku doakan kalian semoga panjang umur, supaya kalian bisa melihat anak-anak kami tumbuh dengan sehat dengan pengawasan kalian." Ucap Arya meyakinkan "Benarkan istriku...??" Arya dengan sengaja menggenggam tangan Dini, saat itu Arya menekan tangan Dini dengan keras membuat Dini kesakitan tapi ia menahannya
"I-iya...kalian berdoa saja. Semoga aku bisa memberikan kalian seorang cucu yang lucu." Jawab Dini dengan tertekan menahan sakit
Arya pun melepaskan genggaman nya.
Sedangkan Dini terlihat murung, ia mengetahui bahwa Arya melakukan itu semua hanya untuk meyakinkan orang tuanya.
"Aku tahu kau mengatakan semua itu hanya sebagai meyakinkan ayah ibumu, kau tidak benar-benar mengatakan semua ini sepenuh hatimu.dengan semakin kau tidak bisa menerimaku, semakin aku mengetahui apa posisiku didalam hidupmu." Gumam Dini
"Sepertinya aku juga tidak akan tinggal lama di mansion ini, aku akan pindah ke rumah ku sendiri." Ujar Arya
"Eh kenapa begitu cepat, Tinggal saja di sini bersama kami selamanya. Kenapa ingin tinggal di rumah kalian." Ujar Bu Amira
"Tidak bisa, Bu. Sebagai suami aku memiliki tanggung jawab penuh.aku hanya ingin mandiri, jika kalian melarang ku maka aku tidak bisa gerak bebas bersama istriku. Jika itu terjadi maka semakin lama kami memberikan kalian cucu."
"Kau ada benarnya juga, kau kan anak pemalu.ayah mengerti maksudmu Arya, kau membutuhkan ruang besar bersama istrimu." Bu Mira dan pak barma pun tertawa
"Yasudah kalian boleh pindah kerumah kalian Nanti. tapi jika ibu merindukan kalian, izinkan ibu pergi menemui kalian ke rumahmu Arya."
"Iya tentu saja.pintu rumah kami selalu terbuka untuk ibu.ibu bisa menemui kami kapan saja." Jawab Arya
__ADS_1