Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
189. Keguguran


__ADS_3

Dini menghentikan langkahnya ditengah anak tangga, telinganya samar-samar mendengar suara di koridor mall bawah yang sepi. kakinya melangkah mendekati suara berasal.


"Sedang apa kalian berdua di sini?" Memergoki Valerie dan Richo


Valerie menoleh, mendapati Dini sudah bersedekap dada di hadapannya.


"Kau?! Seolah seperti hantu yang ada di mana-mana. Untuk apa kau kemari? Masih ingin mencari bukti untuk membongkar rahasia ku?" Ujar Valerie


"Aku bertanya padamu, bukan memintamu untuk bertanya juga." Ketus Dini


"Aku? Ya jelas sedang bersama dengan kekasihku. untuk apalagi?!" Jawab Valerie sudah mulai terang-terangan


"Apa kau tidak tahu jika kau sudah berselingkuh dibelakang suamimu. apa orang di luar sana kelebihan wajah sampai kau memungut satu wajah mereka." Hardik Dini


"Seharusnya kata-kata itu cocok untuk dirimu. apa kau tidak malu merebut pria yang jelas-jelas tidak pernah mencintaimu. karena Arya hanya mencintaiku." Lawan Valerie


"Bahkan aku tidak mengerti kenapa kau tidak pernah menyesali perbuatan mu. Kau malah bersekongkol dengannya dengan merujuk semua bukti itu padaku. Anda juga sangat munafik Tuan Richo, apa yang anda incar dengan memutar balikkan fakta. Padahal sesuai kenyataan kau akan mengungkapkan kebenarannya di depan Tuan Arya untuk mengambil kekasih mu." Katanya


"Apa kau bermasalah? Itu malah bagus karena anakmu tidak dianggap lagi oleh ayahnya. Itu suatu keuntungan bagiku." Valerie yang menjawab


"Benar, wanita seperti dirimu tidak pantas untuk dibantu. Bahkan aku menyesal ingin Valerie kembali padaku karena aku tidak tahu jika sebenarnya dia tidak mencintai Arya. Lalu, apa yang ingin aku buktikan, perlahan kami akan bersatu setelah menyingkirkan kalian berdua." Kata Richo


"Ternyata kalian sama-sama tidak tahu diri. Nikmati saja kesenangan kalian, sebelum kalian benar-benar hancur. kembalilah ke tempat kalian masing-masing sebelum Tuan Arya sendiri datang memergoki kalian." Ujar Dini


Dini berbalik badan akan pergi, tapi langkahnya tertahan ketika tiba-tiba seseorang menarik rambut belakangnya.


"Apa yang kau katakan? kau mengancam ku? tak semudah itu Dini. Sebelum aku hancur, aku akan menghancurkan mu lebih dulu." Kecam Valerie


Akkhh...


"Lepas!! Apa yang kau lakukan?" Sakitnya Dini rambutnya dijambak


"Kenapa? Sakit? Dasar lemah, pantas saja suamimu berpaling padaku. bahkan sejak pertama dia tidak pernah mencintaimu." Valerie meraih kerah baju Dini, membuat Dini berbalik menghadapnya


"Bukan karena aku lemah Tuan Arya berpaling dariku, tapi karena dia salah memilih wanita sepertimu, kau tidak benar-benar mencintai Tuan Arya. Apa perlu ku rebut juga kekasihmu seperti kau merebut suamiku agar kau merasakan apa yang aku rasakan." Seru Dini


"Kau dengar itu, sayang. hhhh... dia mengatakan akan merebut mu dariku. memangnya kau ingin memiliki kekasih seperti dia yang kampungan ini." Ejek Valerie


"Mana mungkin aku ingin menjadi kekasihnya.dia tidak tahu diri sekali." Cela Richo


"Kalian memang manusia berandalan!" Hardik Dini


"Apa yang kau katakan?"


Plak!!


Bukannya takut. Dini malah tertawa.


"Kenapa? Kau takut? Takut aku merebut kekasihmu, atau takut Tuan Arya tahu? kau pikir aku selama ini diam karena takut pada kalian?" Kata Dini dengan berani


"Sialan kau. jangan macam-macam kau denganku!!" Valerie sudah dipenuhi dengan amarah yang memuncak


"Oh, Apa kau mencari pelarian? Semenjak mantan kekasihmu kembali, bukankah kalian mulai dekat setelah tuan mengumumkan bahwa aku adalah istrinya dihadapan media. Awalnya kau ketakutan dia kembali berada di tengah-tengah mu yang siap menghancurkan rencana mu. tapi kalian menuduhku agar menutupi perselingkuhan kalian."


"Itu tidak masalah bagiku. karena orang percaya jika kau yang selingkuh dibelakang Arya." Kata Valerie


"Aku tidak pernah selingkuh, dan aku tidak serendah dirimu. hanya tinggal tunggu saja, bangkai akan tercium kapan saja.nikmati permainanmu, sebelum hidupmu yang akan hancur." Ketus Dini


"Brengsek kau!!"

__ADS_1


Valerie kembali menampar Dini dan mencekiknya. Amarahnya tak terkendali. Dini berusaha melepaskan tangan Valerie dari lehernya, tangannya meraih rambut Valerie dan menjambak nya. tiba-tiba Valerie melepaskan tangannya dari leher Dini dan menjatuhkan tubuhnya ke belakang saat melihat Arya akan datang, hingga tidak sengaja dan tidak sesuai ekspektasi Valerie terjatuh sangat keras sampai terbanting setelah membentur pinggiran balkon mall. tubuh Valerie terjatuh dengan darah di belakang kepalanya dan kesakitan pada perutnya, ia pun mengeluarkan darah dari selangkangannya. Dini tentu saja terkejut akan hal itu. Dini segera menghampiri Valerie untuk menolongnya.


"Valerie...!!!" Teriak Arya yang awal niatnya mencari dia karena tak ada di toko perlengkapan bayi tadi


Dini menoleh. Tangannya urung meraih Valerie, melihat Arya mendekat dengan tatapan tajam padanya.


"Arya perutku sakit... Arrrgh... Ada banyak darah juga." Panik Valerie yang menangis ditambah kesakitan yang bercampur aduk


"Valerie, tenanglah, aku akan membawa ke rumah sakit saat ini juga." Cemas Arya


"Wanita dan pria itu sudah mendorongku. Aku takut terjadi sesuatu pada bayiku. Rasanya sangat sakit." Alih-alih berdalih mengatakan jika Dini yang mendorongnya padahal ia sendiri yang sengaja


Namun, sayangnya ia sudah melakukan kesalahan fatal akibat rencananya yang tidak sejalan dengan rencana. Valerie malah menuduh orang lain yang tidak tahu apa-apa.


Arya, Richo dan Dini kini berada di rumah sakit. ketiganya sama-sama cemas menunggu Dokter keluar dari ruangan emergency.


"Setelah apa yang kau lakukan padanya?! apa kau ingin memastikan jika dia atau bayiku selamat atau tidak?" Bicara Arya dihadapan Dini


"Aku benar-benar tidak tahu kenapa nona Valerie bisa jatuh, Tuan. Walaupun saya berkata jujur karena kami saling jambak, aku tak sampai mendorongnya sampai terjatuh." Tangis Dini


"Pencuri mana yang ingin mengakui kesalahannya. apa dia tidak waras sampai harus melukai dirinya sendiri?!"


"Aku berani bersumpah, aku tidak melakukan itu. Tuan Richo juga ada di sana, dia bisa menjelaskan apa yang dia lihat." Kata Dini


"Tolong maafkan saya, Tuan. Kebetulan saya berada di mall dan tidak sengaja melihat pertengkaran mereka. saya sudah melarang keduanya untuk tidak meladeni kemarahan yang melanda. Tapi Nona Dini terus saja menyerang Nona Valerie sampai mendorongnya." Malah berkata lain Tuan Richo


"Tuan Richo, Apa yang kau katakan. Kalian adalah sepasang kekasih yang sesungguhnya. Tuan, sekali saja kau percaya padaku jika tadi aku memergoki Tuan Richo dan Nona Valerie sedang bermesraan di koridor sepi tadi. percayalah pada bukti kemarin jika itu hanya rekayasa dan aku memiliki bukti yang asli." Terus Dini berusaha menyadarkan


"Cukup omong kosong mu itu. Jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan memaafkan mu Dini. aku akan membuat hidupmu hancur." Kecam Arya


Tanpa ingin mendengarkan lebih lanjut. Dokter pun keluar.


"Bagaimana Dokter, Apa yang terjadi pada istri dan bayi saya?" Tanya Arya tergesa-gesa


"Istriku keguguran?" Tegun Arya bergetar


"Mohon maaf tapi kami sudah berusaha, namun Tuhan berkehendak lain." Langsung pergi dokter dengan sedih ikut berduka cita


Arya mendekat, mencengkram erat leher Dini.



"DINIII.... Dasar pembunuh kau!!" Marah Arya yang memuncak sampai bergetar. Teriakannya bisa membuat Dini tuli


Dini yang sedari tadi mendengarkan pernyataan dokter pun sangat sakit hati, ia hancur mendengar Valerie keguguran.


Tak sadar, air mata Dini menetes saat menatap manik Arya yang menatapnya tajam penuh kebencian.


"A-aku bisa menjelaskan. Hiks...hiks..." Dini yang histeris menangis. pipinya sudah basah dengan air mata


"Tidak ada yang perlu dijelaskan di sini. Rencana mu sudah terlaksana dengan membuat anakku meninggal. Aku tidak menyangka jika kau memiliki jiwa pembunuh." Teriaknya tinggi sekali


"Sudah aku katakan bukan aku yang melakukannya, Tuan. Aku tidak tahu jika nona Valerie bisa terjatuh." Ucap Dini tak karuan lagi karena menangis yang melanda


"Sekarang bayiku sudah meninggal. bahkan dia belum terlahir ke dunia ini hanya untuk menemui ayah dan ibunya. Semua itu karena kau yang sudah membunuhnya."


Di sisi lain, Sebenarnya bukanlah Arya yang paling hancur. kenyataannya Richo sebagai ayah kandung si bayi kini terduduk lemah hancur berkeping-keping harus mendengar kematian bayi yang sangat ia nantikan.


"Kau juga akan menjadi seorang ibu, Bukan? Kau sedang mengandung anak dari pria lain, bagaimana jika kau saja yang berada di posisi ini menggantikan Valerie!" Tawar Arya

__ADS_1


Hiks...hiks...


"Aku bukan pembunuh, Aku tidak membunuh seorang bayi. Tolong maafkan aku!" Jawab Dini terbata


"Apa dengan memaafkan mu kau bisa mengembalikan bayiku yang sudah tiada? Katakan jika kau yakin tentang hal itu!"


Arya menarik paksa lengan Dini, membawanya keluar dari rumah sakit. sesampainya di lobby, Arya menarik keras tangan Dini membuat tubuhnya terpelanting hampir jatuh membentur tembok.


Bu Amira dan Darwin yang datang menyusul setelah mendapatkan kabar. Tepat waktu datang di saat Dini dihempaskan, Darwin pun menangkapnya sehingga tidak sampai terjatuh.


"Pergi!! Aku tidak ingin melihatmu di sini." Teriak Arya


"Arya, Dini, ada apa ini? kenapa kau kasar pada istrimu yang sedang hamil. jika terjadi sesuatu pada bayinya bagaimana?" Gertak Bu Amira


"Bahkan dia saja sudah membunuh bayi wanita hamil lain." Hardiknya


Dini menatap kepergian suaminya yang kembali memasuki rumah sakit. tangannya terulur mengusap air di pipinya, kemudian melangkah pergi menjauhi area rumah sakit.


Bu Amira dan Darwin melihat Dini pergi berlari. mengejar Dini yang berlari ke arah jalan raya.


"Darwin, cepat kejar Dini!" Panik Bu Amira


Darwin yang tidak perlu di perintahkan, sudah berlari cepat untuk menangkap Dini.


Dia berlari ke arah jalan raya ingin menabrakkan diri.


Untung saja Darwin lari dengan sangat cepat dan menariknya sebelum truk besar yang melaju kencang tidak sampai mengenai Dini.


Melihat Dini dalam kungkungannya, menunduk dan terisak pelan, Darwin langsung semakin menarik Dini dalam dekapannya.


"Hiks,,, A-aku lelah, Hiks..."


"Aku sudah membunuh seorang bayi. Aku seorang pembunuh,,, Aku pembunuh!" Histerisnya mempengaruhi psikis Dini


Darwin semakin memeluknya dalam dekapan yang sangat erat.


"Ssstt... jangan bicara seperti itu. kau gadis yang kuat, kau sudah lalui semuanya sendirian. dan sekarang kau tidak sendiri. Ada aku, ibu, orang tuamu dan orang-orang yang menyayangimu. kami akan selalu ada untukmu. Namun jika kau lelah, berhentilah! tandanya, itu bukan tempatmu. kau akan temukan tempat yang layak untuk kau singgahi." Kata Darwin


"Tuan Darwin, Aku seorang pembunuh. Tuan sebenarnya tidak kehilangan bayinya.bayinya masih ada dalam kandunganku, tapi kenapa dia yang marah padaku." Tangis Dini


"Kau tahu sendiri jika dia tidak mempercayai semua bukti yang berbicara untuk mewakili mu saat itu. Dia dibutakan oleh perkataan orang lain yang yang malah menjebak mu. Kau tahu itu sendiri, tapi kenapa kau harus bersalah, Din. ingat perkataan ku, seharusnya kau bahagia dengan tragedi ini karena perlahan orang yang menghalangi mu satu persatu akan pergi."


"Tapi dia seorang bayi, tidak pantas mendapatkan hukuman atas dosa kedua orang tuanya." Kata Dini


"Kau percaya mengenai takdir tuhan, bukan? ini sudah menjadi takdir si bayi, jika dia tetap terlahir di dunia ini, dia akan menderita karena malu memiliki orang tua seperti mereka." Darwin memegang pipi Dini


Dini mengangguk. Darwin terkekeh ketika Dini semakin mengeratkan pelukannya karena menganggap Darwin sudah memberikan ketenangan.


"Erat sekali. benar-benar sedih atau memang kau ingin merasakan pelukan ku, hum?!!" Bisa-bisanya Darwin masih bercanda


Dini melonggarkan pelukannya ketika sadar Darwin terkekeh menggodanya, tapi Darwin kembali menarik Dini dalam pelukannya, bahkan lebih erat dari pelukan Dini tadi. ia menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Dini.


"Biarkan seperti ini sebentar. karena aku yang ingin merasakan pelukanmu." Ucap Darwin semakin di depan


Dini merasa canggung, tapi ia mendengus sebentar, namun tangannya terangkat mengusap lembut rambut Darwin.


Darwin melonggarkan pelukannya. matanya menatap dalam manik mata Dini. begitu pula dengan Dini yang juga menatapnya.


"Masih tetap cantik, bahkan sangat cantik." lirihnya, namun dapat didengar oleh Dini

__ADS_1


Awws...


Darwin terpekik ketika Dini tiba-tiba mencubit pinggangnya. Darwin membalas mencubit hidung Dini, dan keduanya tertawa bersama. Sikap Dini pun tak seperti dulu yang enggan berdekatan dengan pria. Apalagi mungkin orang lain akan mengatakan tindakan Dini salah karena berpelukan dengan pria yang bukan suaminya dan menandainya sebagai wanita murahan. Tapi ingin bagaimana lagi, suaminya sendiri bahkan sikap dan tindakannya lebih dari sikap Dini kali ini.


__ADS_2