
"Bagaimana, Din? ada perusahaan atau tempat kerja yang ingin menerima mu?" Tanya Pak Malik yang sedang membuat pupuk kompos di halaman belakang rumah, di jadikan pupuk untuk tanaman miliknya di kebun
"Mencari pekerjaan untuk saat ini sangat susah, Pak. padahal sarana tempat yang menyediakan lowongan pekerjaan itu banyak.namun, semua orang sudah termakan dengan kontroversi itu.sehingga susah bagiku untuk melamar pekerjaan." Ucap Dini yang sedang membantu ayahnya membuat pupuk kompos
"Jadi, harus bagaimana, Nak? pada intinya saat ini kita harus berusaha membuktikan pada semua orang jika foto, video, artikel berita itu tidak benar."
"Aku sudah memasrahkan diri, aku hanya bisa berharap pada Tuhan semoga memberikan petunjuk di suatu waktu dengan keajaiban, jika aku tidaklah bersalah pada semua orang di dunia ini." pungkas Dini sedih
"Lalu, kau akan membantu bapak di kebun?" Tanya Pak Malik
"Iya, Pak. lagipula apa yang harus aku lakukan di dunia ini, selain memiliki orang tua yang masih percaya padaku, dan aku bergantung padanya." Ucap Dini yang membuat Pak Malik merenung sedih
"Bapak sarankan jangan, Nak.kau tidak tahu dunia petani itu bagaimana, sangat keras, melelahkan dan kau akan kepanasan nanti."
"Hanya itu saja.itu tidak masalah bagiku, semua pekerjaan pasti tidak ada yang tidak melelahkan dan pasti berat, memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. aku sudah terlatih akan hal itu, jadi bapak tidak perlu khawatir." Ucap Dini dengan bicara sambil terkekeh nya
"Kau bantu ibu saja di toko kue." Saran Pak Malik
"Aku ingin hal itu, tapi apakah bapak tidak tahu jika Bu Sari pemilik toko itu Pekerjaan sehari-harinya memarahi karyawan.malah aku lebih setuju jika ibu keluar bekerja bersamanya." Ucap Dini
"Bapak tahu. Bapak juga sudah melarang ibu untuk tidak bekerja di toko milik Bu Sari.tapi bagaimana lagi, ibu sangat bersih keras untuk membantu perekonomian kita."
"Bapak tidak perlu khawatir, karena ibu sudah dikeluarkan dari toko itu!" Ucap seseorang yang mirip dengan Bu Lia mencela pembicaraan mereka yang tengah berada di belakang mereka berdiri
"Ibu?? Ibu sudah pulang?" Tanya Dini
"Ada apa, Bu? Apa yang terjadi?" Ucap Pak Malik mengehentikan aktivitasnya
"Ibu sudah dipecat oleh Bu Sari karena sama-sama termakan oleh berita itu.ia mengatakan tidak ingin menampung ibu dari seorang anak yang memiliki kontroversi tersebut." Jelas Bu Lia
"Astaghfirullah...begitu banyak cobaan yang menghantam keluarga kita." Ucap Pak Malik yang sudah frustasi mengacak-acak rambutnya
"Ini semua salahku, kalian jadi korban perbuatan ku.maafkan Dini ya, Bu." menggenggam tangan ibunya sangat erat
__ADS_1
"Tidak, Nak.untuk apa kau meminta maaf terus pada kami, kami lebih tahu jika anak kami tidak bersalah."
Tanpa berkata, Dini langsung memeluk ibunya.
Dari Luar~~
"Hey, Kalian!! Keluar!! Jangan berpura-pura pergi atau alasan lainnya untuk tidak membayar kewajiban kalian" Suara seorang berteriak keras sambil menggedor pintu dengan kuat
Pak Malik, Bu Lia dan Dini pun langsung pergi menuju halaman depan. Di sana terdapat 2 orang berbadan kekar seperti algojo, kumis tebal, rambut panjang yang diikat, dan pakaian seperti preman.lalu, 1 orang yang berdiri ditengah berpenampilan sangat eksentrik merupakan pemimpin mereka yang berusia 58 Tahun.
"Akhirnya kalian keluar juga." Ucap Pak Handoko sang pemilik pemberi hutang pada keluarga Pak Malik
"Pak Handoko, apa yang membuat anda datang kemari.silahkan masuk, Pak." Ucap Pak Malik yang berusaha tenang dan sopan
"Alahhh... tidak perlu basa-basi, aku datang ke sini untuk menagih uang milikku.kalian sudah mengumpulkan uang yang kalian pinjam dariku bukan? Aku ingin memintanya saat ini juga!" Ucap Pak Handoko dengan nada tinggi dan raut wajah seram
"Secepat itu, Pak? tapi ini belum pada tempo yang diberikan, masih ada 6 tahun lagi untuk kami membayar lunas hutang kami." Ucap Pak Malik syok
"Aku adalah pemimpin di sini! terserah padaku ingin mengambil uang milikku kapan saja.tidak tergantung pada tempo yang kuberikan, apa susahnya kalian hanya tinggal membawa uang milikku itu kehadapan ku.atau jangan-jangan kalian berleha-leha hidup mewah dengan menggunakan uang milikku itu." Ucap Pak Handoko sang rentenir
"Jadi, kalian memakai uangku! Bagaimanapun juga caranya, hari ini kalian harus melunasi pinjaman kalian.atau tidak, aku akan menghancurkan rumah kalian sekarang juga." Bentak dan kecam Pak Handoko marah sambil menendang tubuh Pak Malik yang sedang berlutut
"Saya mohon, Pak. Beri kami waktu untuk melunasi hutang kami, lagipula waktu tempo yang anda berikan dalam selembar surat yang sudah ditandatangani masih panjang.kami berjanji jika uang itu sudah terkumpul, kami sendiri yang akan mengantarkannya pada anda langsung." Ucap Dini dengan mata berkaca-kaca, menyatukan tangannya memohon pada Pak Handoko
"Tidak ada alasan.kalian!! cepat keluarkan barang-barang rumah ini yang berharga untuk kita bawa, dan panggil excavator untuk menghancur ratakan rumah ini." Perintahnya pada anak buah berbadan algojo dan menyeramkan itu
"Baik Boss!!" Jawab 2 bawahan itu bersamaan yang suaranya begitu Bass, dan langsung berjalan ke sana ke mari mencari barang berharga memberantakkan seisi rumah
Keluarga Pak Malik terus memohon meminta keadilan dengan saling menangis dan berteriak memohon jangan memberantakkan isi rumah mereka.
"Saya mohon pak, jangan hancurkan rumah kami.ini adalah harta kami satu-satunya tidak ada lagi yang berharga dari rumah ini.kami berjanji akan membayarnya tapi tidak untuk saat ini." Ujar Dini dengan sudah bercucuran air mata yang deras membasahi pipi memohon pada Pak Handoko
Pusat perhatian Pak Handoko beralih memandang Dini dengan sorot mata terpesona dan nafsu, ia berpikir sangat keras dan menyunggingkan bibirnya.
__ADS_1
"Kalian! Berhenti...!!" Teriak Pak Handoko membuat anak buahnya tidak melakukan aksinya lagi
Pak Handoko berjalan mendekat menghampiri Dini dengan tatapan tajam dan penuh nafsu.
Tentu saja hal itu membuat Dini sangat takut dengan melihat Pak Handoko yang sudah tua dan keriput itu mendekati dirinya, sehingga ia berjalan mundur dengan gemetar.
Tanpa Aba-aba, Pak Handoko menarik dagu Dini dan mencengkeram kuat.
"Hahhhh..." Suara Refleks yang keluar dari mulut Dini karena keterkejutan Pak Handoko yang secara kasar menarik dirinya, tubuhnya sangat gemetar hebat sampai dirasakan kaku
Sama halnya dengan Pak Malik dan Bu Lia yang tercengang melihat putri mereka yang diperlakukan senonoh oleh Pak Handoko.
"Lepaskan putri saya, Pak!" Ucap Pak Malik tidak bisa menerima putri nya dalam bahaya
"Diam kau!! Kalian, tahan mereka!" Ucap Pak Handoko dengan nada tinggi memerintah anak buahnya untuk menahan orang tua Dini dengan memegangi mereka yang kedua tangannya di ke belakangkan
"Ada yang lebih berharga dibandingkan yang lainnya, kau sangat berharga.tidak ku sangka Malik memiliki putri yang sangat cantik, kenapa dia menyembunyikan dirimu dariku?" Ucap Pak Handoko membelai wajah Dini menggunakan tangan kirinya dengan kepala terus menyosor seolah ingin mencium Dini
Dini terus menjauhkan diri agar tidak sampai terjadi suatu hal yang tidak diinginkan dengan mendapatkan ciuman dari pria tua.
"Sa-saya akan membayar hutang secepatnya." Ucap Dini ketakutan dengan bicara gemetar
"Belum aku menawarkan, kau sudah menawarkan diri.kita memang berjodoh, saat itu kau masih kecil yang datang bersama ibumu meminta pinjaman dariku.tidak ku sangka kita bertemu kembali dengan rupa mu yang sudah secantik ini." Ucap Pak Handoko tidak senonoh dengan menghirup tengkuk leher Dini
"Tubuhmu sangat wangi!!" Ucap Lagi Pak Handoko yang terbuai oleh aroma harum tubuh Dini dengan mengungkungnya
Dini semakin tertekan dan ketakutan, ia berusaha memberontak.namun, tetap saja tenaganya kalah dengan tenaga seorang kakek-kakek.
"DIAM...!!!" Bentak Pak Handoko karena Dini yang terus berusaha memberontak ingin pergi darinya
"Lepaskan saya...!" Ucap Dini dengan sudah menangis
"Aku tidak akan melepaskan mu sayang! Kau begitu cantik, tubuhmu bagus dan membuat candu.jika kau bersedia menyerahkan dirimu padaku, maka ayahmu tidak perlu membayar hutangnya dengan uang.hanya dengan tubuhmu, hutangnya akan lunas." Ucap Pak Handoko dengan yang sudah menahan sesuatu dari bawah balik celananya.tidak disangka diusianya yang sudah tua, ia masih memiliki nafsu tinggi
__ADS_1
"Jangan, Nak. Jangan dengarkan dia. Bapak yang akan membayar hutangnya dengan uang usaha bapak sendiri.jangan berikan dirimu padanya." Teriak Pak Malik membuka suara membela anaknya, ia tahu jika Dini adalah anak yang tidak segan memikirkan dan mementingkan orang lain sebelum dirinya sendiri terutama orang tuanya
Dini menatap sendu ke arah ayahnya, antara bingung dan berpasrah sedia mendengar tawaran dari pak Handoko yang bercampur menjadi satu.