
Masih dengan Pak Malik dan Bu Lia yang mengejutkan anaknya berada di kapal yang sama, datang bersama Lucas dengan tampilan mereka yang tak karuan diikat.
"Ka-kalian Kenapa bisa ada di sini?" Tanya Dini terbata
Lucas pun membuka lakban yang menutupi keduanya secara kasar.
Bu Lia langsung histeris saat lakban yang menutup mulutnya itu dibuka.
"Ibu, Apa yang terjadi? Katakan padaku Bu, kenapa kalian bisa ada di sini." Tanya Dini menghampiri
"Bapak dan Ibu ingin menemui mu. Kebetulan kami bertemu dengan Lucas dan memintanya untuk membawa kami agar bisa bertemu denganmu, Nak." Balas Pak Malik
"Kenapa kalian melakukan ini? Hanya untuk bertemu denganku kalian membahayakan nyawa kalian sendiri." Geram Dini
"Ingin bagaimana lagi. Kami semua sangat terpukul dan khawatir terjadi sesuatu padamu. Kau rela memberikan dirimu sendiri sebagai taruhan mereka. Mereka juga sudah berbohong mengenai kebebasan, Tuan Arya sendiri di tangkap polisi dan hari ini adalah persidangan vonisnya." Ucap Pak Malik
Dini mengusap wajahnya kasar. Ia benar sudah pusing dengan situasi saat ini.
"Jika kalian di bawa, Kenapa kalian diikat dan mulut kalian di tutup seperti ini? Apa kalian berbohong padaku hanya untuk menutupi kebenaran jika Lucas mengancam kalian?" Tanya Dini
"Tidak, Lucas sudah berbaik hati ingin membawa kami untuk bertemu denganmu. Kami hanya menerima konsekuensinya agar bisa menemui mu." Jawab Pak Malik gelagapan
"Lucas, bawa mereka ke kota lagi. Mereka sudah bertemu denganku bukan, walaupun hanya sebentar asalkan mereka bisa melihatku baik-baik saja, tapi aku tidak ingin membawa mereka dalam bahaya. Tolong antarkan mereka lagi." Pinta Dini
"Benar. Jika mereka ada di sini, itu artinya mereka dalam bahaya. Jika mereka sudah masuk ke dalam perangkap ku, tandanya siapapun tidak akan bisa keluar lagi. Hahaha..." Ucap Lucas penuh teka-teki
"Apa yang ingin kau lakukan saat ini?" Dorong Dini hingga Lucas mundur beberapa langkah
"Melakukan yang seharusnya." Ucap Lucas bersiasat
"Jangan berani bermacam-macam pada orang tuaku!!" Gertak Dini, menyadari akan terjadi hal buruk dari sorot mata Lucas
__ADS_1
Lucas mengeluarkan sebuah pistol dari saku celananya. Dini ketar-ketir semakin yakin Lucas akan bertindak bodoh lagi.
"Masukkan lagi pistol itu. Jangan lakukan sesuatu lagi pada keluarga ku." Hadang Dini, ia bergetar hebat
"Aku tak melakukan apapun. Aku hanya menghangatkan pistol kesayangan ku ini. Memangnya apa yang kau pikirkan?" Kata Lucas menarik satu alisnya
"Jangan membuat kesabaran ku habis. Aku tahu apa yang kau pikirkan." Geram Dini
"Bapak, Ibu, Kenapa kalian berdua nekat? Kalian berdua tahu siapa mereka. Seharusnya kalian berpikir 1000 kali untuk meminta pertolongan dari orang ini. Jika terjadi sesuatu pada kalian, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri." Tangis Dini berbalik menghadap ayah ibunya
"Kami hanya rela datang agar kau bisa di selamatkan dari pulau ini. Lucas berjanji pada kami, jika kami ikut dengannya, maka kau akan di keluarkan dari pulau ini." Jawab Bu Lia mengungkap pengakuan tak terduga
Dini sudah mengira. Dan kali ini terbukti benar. Ia semakin ketakutan dan tahu jalan akal pikiran Lucas saat ini. Orang tuanya dalam bahaya!
"Tidak. Kalian sudah tertipu. Kenapa kalian melakukan ini, aku bisa menyelamatkan diri tanpa bantuan orang lain. Tapi kalian sudah menghancurkan rencana ku. Kalian tidak tahu jika mereka menipu daya kalian, dan kalian adalah taruhan berikutnya." Teriak Dini terduduk
Tak ada harapan. Tak ada pertolongan. Mereka hanya berempat. Lucas tengah menaikkan pistolnya mengarah pada Pak Malik dan Bu Lia.
Suasana semakin mencekam. Tak ada yang bisa berkutik. Waktu seolah terhenti dan otak kelu untuk berpikir. Lucas tak hentinya tertawa puas siap menarik pelatuk itu.
Dorr! Dorr! Dorr! Dorr!
Lucas menembaki dua orang, peluru berhasil diluncurkan hingga dua orang tersebut langsung meregang nyawa di tempat.
Arrgghh!
Dini teriak histeris saat menyaksikan langsung kematian dua orang tuanya di depan mata.
Tubuhnya kaku, ia terduduk dilantai kapal itu, tak mampu menggerakkan satu jari pun.
Lucas berjalan melewatinya. Dengan kedua tangannya sendiri, ia menarik jasad Pak Malik dan Bu Lia, menjatuhkan mereka ke laut yang dalam.
__ADS_1
Warna biru air laut, berubah bercampur merah darah di sekitar air laut itu saat kedua jasad berhasil di tenggelamkan.
Dini semakin terpaku. Jantungnya terasa berhenti berdetak, Ia sangat syok melihat kedua orang tuanya ditenggelamkan ke dasar laut.
TIDAAAAKKKKK...
Dini tergopoh-gopoh menarik tubuhnya untuk mengesot ke sisi kapal untuk melihat laut yang pastinya menenggelamkan orang tuanya.
Ia menangis-nangis histeris, wajahnya penuh dengan air mata basah. Ingin menerjunkan diri ke dasar laut itu. Namun, Lucas menarik dirinya dari belakang sembari tertawa puas.
"Tidakk... Hiks...hiks...hiks... Bapaaakk... Ibu,,, Tidak, Ini tidak mungkin terjadi... Aaaaaaa..." Tangis dan teriaknya terdengar menyakitkan
"Apa nona sudah puas?" Tanya Lucas pada Dini, tapi wanita itu hanya menangis sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan jalan pikiran Lucas.
"Kau lihat itu bagaimana orang tuamu meninggal? Mereka memang sangat bodoh dengan mempercayaiku seperti yang kau katakan. Kau bisa lihat ke bawah sana, saat mereka sampai, Hewan laut, paus, bahkan hiu, pasti menyambut mereka sebagai santapan makan hari ini, kau bisa membayangkan bagaimana hiu itu mencabik-cabik tubuh mereka. Hiu itu harus berterima kasih padaku sudah memberi makan besar mereka hari ini. Tubuh manusia yang lezat dan masih segar. Hahahahaha..." Kejam Lucas
"Sangat jahat! Kau benar-benar sangat jahat bahkan melebihi iblis sekalipun." Lirih Dini suaranya pelan
"Itulah akibatnya jika nona berani bertindak macam-macam. Jika tidak ingin hal ini terjadi lagi, maka patuh lah!" Ucap Lucas mendesis sambil menatap Dini dengan tajam. Dini hanya diam dan menyesali semua tindakannya yang ternyata meregang nyawa ayah ibunya hari ini.
Pria itu tertawa lepas. Dini langsung terduduk lemas setelah kejadian yang ada di hadapannya, sambil terus menyalahkan dirinya sendiri. Ia terkulai lemas, kepalanya berkunang-kunang dan akhirnya pingsan.
"Heh,,, Wanita ini malah pingsan." Ejek Lucas membiarkan Dini tergeletak di lantai kapal berbahan kayu
"Biarkan laut membebaskanmu."
Laut. Pemandangan laut yang begitu luas memberikan kesan bebas dan menenangkan. Tak hanya itu saja, laut juga bisa memberikan ketenangan saat pikiran dan suasana hati sedang kelabu. Aku menyukai laut.
Tidak ada yang lebih indah daripada melihat kegigihan laut yang menolak berhenti mencumbui bibir pantai, meski berkali-kali harus menjauh terbawa arus.
Aku pikir, Masalah hidup seperti ombak di tepi pantai. Ia akan datang, tapi pada saatnya, ia akan pergi.
__ADS_1
Pada akhirnya,,, Ia menenggelamkan semuanya....