
Keesokan harinya~
Di tempat sekolah Arsen menimba ilmu yang sedang diadakan acara.
Para siswa yang datang bersama orang tua mereka yang menyempatkan diri, satu persatu masuk ke dalam auditorium tepat dilangsungkannya acara.
"Arsen, Kau tidak datang bersama dengan ayahmu?" Hampiri teman Arsen yang berlari menghampiri. bernama Gino
"Tidak, Aku bahkan melarang ayah datang." Jawab Arsen dingin, setelah berhenti dan menoleh
"Yahh,,, Jika tahu seperti ini aku melarang bibi ku untuk menggantikan ayah dan ibu yang pergi." Ucap anak kecil itu kecewa
"Untuk apa bibi mu yang menggantikan mereka? Apa ayah dan ibumu harus pergi ke luar kota?"
"Mereka ada di rumah. Tapi bibi memaksa untuk datang ke sini menggantikan mereka hanya untuk melihat ayahmu." Ujar Gino
"Ayah ku? Apa yang akan mereka lakukan?" Tanya Arsen
"Ini adalah masalah orang dewasa. kita anak kecil tidak perlu ikut campur. Kau tahu jika orang dewasa selalu bermain cinta-cintaan, bukan? Bibiku menyukai ayahmu!" Bisik Gino merangkul Arsen
Arsen pun melihat Bibi Gino yang berjalan ke arah mereka, ia menelisik dari atas sampai bawah karena penampilannya terlalu berlebihan, menor, dan seksi.
"Itu bibi mu?" Tanya Arsen berbisik
"Iya, dia cocok kan dengan ayahmu?" Ucap Gino
"Apa yang dia pakai di wajahnya?"
"Bibi ku memakai make up. wanita selalu berdandan cantik dihadapan pria yang dia sukai." Katanya
__ADS_1
"Tebal sekali!!" Gumam Arsen melihat Bibi Gino dengan merasa tidak suka
"Gino, kenapa kau pergi meninggalkan bibi? Eh, rupanya ada Arsen, berbicara tentang ayahmu, Di mana ayahmu?" Langsung tanya bibi itu dengan mengibaskan rambutnya tebar pesona
"Bibi, Ayah Arsen tidak datang." Kata Gino keponakannya
Seketika bibi Gino langsung masam.
"Sayang sekali ayahmu tidak datang hari ini ya? padahal kita bisa saling berbincang." Bicara lembut bibi Gino sangat kecewa
la sudah bersiap dari pukul 3 subuh, mandi dengan kembang tujuh rupa, membeli baju baru, wajah yang dirias dari pukul 4 subuh, niat hati ingin tebar pesona di depan Arya yang dikira akan datang menghadiri acara, dia malah tidak datang. sudah diterbangkan tinggi, ia dijatuhkan ke bawah begitu saja.
"Maaf bibi, untung saja ayahku tidak datang, jika ayah datang, ayahku sendiri tidak suka jika terlalu dekat dengan wanita. Apalagi wanita ber-make up menor seperti mu!" Hardik Arsen dalam hati
"Agh,, Baiklah, Baiklah, masih ada waktu lain agar kita bisa bertemu nanti." Ucapnya ramah
"Bibi, Arsen, ayo kita masuk! Acaranya akan dimulai sebentar lagi." Ajak Gino pada bibinya dan juga Arsen
Kini, Usia Arsen menginjak 7 tahun, ia bersekolah dengan pendidikan yang terjamin, fasilitas yang mewah, dan pastinya kualitas kalangan intenasional, dan sekarang ia duduk di bangku sekolah dasar kelas 2.
"Baik, Selamat datang dan saya ucapkan Terima Kasih kepada selaku orang tua wali murid sekolah Vintoria Primary High School. Seperti yang kami sampaikan melalui surat undangan kemarin, bahwa hari ini adalah. acara tahunan yang selalu diselenggarakan guna menumbuh kembangkan bakat seorang anak dengan serangkaian acara yang penuh motivasi dan inpirasi. tidak lupa saat penghujung acara nanti, pihak sekolah akan memberikan penghargaan bagi siswa yang teladan, berbakat, dan cerdas semasa mengikuti pembelajaran di kelas. Baiklah, tanpa perlu menunggu lama, kita akan segera melangsungkan acara ini dengan dibuka oleh tampilan pertama dari kelas 3 Antariksa. Waktu dan tempat kami persilakan, dan selamat menyaksikan." Ucap MC
Beberapa anak yang sudah memakai properti seperti pakaian, riasan, berjalan menaiki panggung dan segera menampilkan tarian yang mereka bawakan. Mereka akan menari tarian daerah untuk menjunjung tinggi kebudayaan.
3 Jam Kemudian~
Dengan serangkaian acara yang sudah dilakukan dari pembukaan, hingga kini sampai pada titik penghujung acara dengan ditutup oleh pemberian penghargaan pada siswa mereka yang cerdas.
Pemanggilan nama siswa yang berhak mendapatkan piala pun satu persatu disebutkan dan menaiki atas panggung. hingga pada akhirnya Arsen yang berada di posisi pertama mendapatkan penghargaan dari kategori siswa tercerdas itu.
__ADS_1
Semua orang yang hadir bersorak dan bertepuk tangan ramai mengagumi seorang anak kecil yang tidak biasa.
"Selamat ya Arsen, Kau memang pantas mendapatkan piala juara ini. Kau sangat cerdas diusia mu. Ibu dan ayahmu pasti bangga memiliki anak seperti mu. kebetulan apakah ayah dan ibumu tidak datang?" Puji Bu guru kelas Arsen yang tidak tahu menahu lika-liku kehidupan keluarga Pratama yang membuat Arsen menjadi korban ditinggalkannya oleh sosok seorang ibu
"Ibu?? Aku tidak tahu bagaimana seorang ibu! Sejak aku kecil, aku tidak pernah bertemu dengan ibu, atau ibu yang menemui ku." Gumam Arsen
"Arsen, Kau baik-baik saja? Tidak masalah jika ayah dan ibumu tidak bisa datang, kau bisa memberikan piala ini pada mereka nanti di rumah." Ucap Bu guru yang melihat Arsen seolah melamun
"Tidak, Bu guru. Aku baik-baik saja, Terima Kasih atas piala ini, akan ku tunjukkan pada mereka setelah pulang nanti." Ucap Arsen
"Baiklah, Semoga mereka senang ya. tapi itu pasti, mereka akan memelukmu dengan bangga nanti." Ucap Bu guru
Setelah selesai memberikan penghargaan dan ucapan selamat, Bu guru meninggalkan Arsen yang masih berdiri melihat ke arah keluarga yang lengkap, terdapat ayah, ibu, dan anak.
Arsen melihat temannya yang ditemani oleh seorang ibu dan ayahnya yang menciumi ia atas keberhasilan menjadi juara tiga besar di kelasnya. Arsen melihat sedih keharmonisan keluarga itu, matanya terlihat berkaca-kaca, menginginkan sosok seorang ibu disampingnya seperti temannya itu.
"Andai aku memiliki seorang ibu. Mungkinkah ibu akan bangga melihatku mendapatkan piala juara pertama ini?" Lirih Arsen
"Bagaimana ibuku? Kenapa ayah tidak pernah membicarakannya padaku, begitupun dengan nenek." Getirnya
Arya dan Bu Amira sekaligus keluarga tidak pernah membahas atau membicarakan Dini pada anaknya Arsen. Sehingga ia tumbuh besar, sampai saat ini belum tahu bagaimana sosok seorang ibu, wajahnya, ataupun keberadaan, dan alasan tidak ada ibu didekatnya.
"Jika aku memiliki seorang ibu sejak kecil, saat aku sekolah dan mendapatkan beberapa penghargaan, ibu pasti orang yang sangat bangga melihatku. Seperti Devan yang mendapatkan ciuman kasih sayang di pipi dari ibu dan ayahnya. Tidak seperti ayahku, ia selalu sibuk bekerja di perusahaan." Ucap Arsen iri melihat teman kelasnya yakni Devan
"Ibu, apakah ibu juga sangat ingin bertemu denganku? Maka temui lah aku, Bu! aku akan senang juga karena ingin melihat wajah dan bertemu dengan mu, Bu." Gumam Arsen yang tidak sadar menitikkan air mata
"Arsen, kasihan sekali kau, kau bersedih karena tidak memiliki seorang ibu, ya? hahaha... Ibuku mengatakan jika ibumu seorang penjahat, dia sedang ditahan dalam penjara." Hampiri Devan yang tidak berakhlak
"Hush... Devan, Apa yang kau katakan? Ibu sudah menegaskan agar kau tidak mengatakan itu langsung dihadapan Arsen. apa kau tidak tahu bagaimana pengaruh ayahnya di negara ini?" Ucap ibunya Devan yang jadi ketakutan
__ADS_1
Mendengar pernyataan Devan, membuat Arsen berpikir banyak. Apakah benar ibunya seorang yang jahat bahkan sedang dipenjara? Maka dari itu, ia tidak pernah melihat ibunya dari sejak kecil.