
"Ansel suka tinggal bersama Paman?" Tanya Arya
"Suka!! Aku sangat suka tinggal di sini!!" Ansel berseru kegirangan, membuat Arya tersenyum lega. Setidaknya Ansel tidak membencinya.
Dini melihat adegan itu sembari menahan tangis. Hatinya begitu tersentuh dan sakit. Akhirnya moment yang di tunggu-tunggunya datang juga. Melihat ayah dan anak bersama, bercanda tawa.
"Tapi aku merindukan ayahku juga. Di sini aku bersenang-senang, dan di rumahnya ayah pasti kesepian. Paman sudah berbicara dengan ayahku jika aku sudah berada di sini belum?"
"Sudah!" Jawab Arya terdengar bergetar
"Apa pesan yang diberikan ayahku selama di sini?"
"A-ayah mu mengatakan menitipkan Ansel pada paman. Ansel harus hidup bahagia bersama ibumu tinggal di sini tanpa memikirkannya. Untuk selamanya..." Ujar Arya seolah dirinya sendiri yang mengatakan itu untuk Ansel. Darwin sendiri dan Arya tidak pernah berbincang normal secara sehat dan tidak ada secarik pesan yang diberikan.
"Tidak bisa. Aku tidak bisa berhenti memikirkan ayahku. Jika paman bertemu ayahku lagi, katakan padanya jika aku merindukan dia! Kapan-kapan ayah harus berkunjung ke rumah paman untuk menemui ku." Ujar Ansel
"Iya. Akan paman sampaikan nanti." Jawab Arya tidak benar mengatakannya, hanya sebatas meyakinkan agar Ansel percaya.
Dini sangat sedih. Ansel masih saja menganggap Darwin adalah ayahnya. Bagaimana reaksi Ansel bila tahu Arya adalah ayah kandung yang sebenarnya? Bagaimana reaksi Ansel bila tahu Darwin bukanlah ayahnya? Akankah mereka bahagia? Arya mungkin saja bahagia mendapatkan haknya. Tapi bagaimana dengan Ansel dan Darwin yang sudah memiliki keterikatan dengan Ansel sejak kecil. Karena Darwin, Ansel bisa berada bersama Dini sampai bisa melihat tumbuh kembangnya. Darwin tetap menjadi orang yang berjasa.
Sedangkan Ansel, apakah dia akan bahagia mengetahui Arya ayahnya? Sudah terlalu sering dia mengatakan pada Ansel, sampai menganggap bahwa ayahnya adalah Darwin. Itu artinya dia harus menerima Darwin sebagai pamannya yang sudah ia anggap ayahnya bertahun-tahun yang tidak bisa bersama mereka lagi. Akankah Ansel mampu menerima kenyataan bahwa ternyata ayahnya orang lain? Apakah tubuh kecilnya mampu menerima Arya?
Pikiran-pikiran seperti itu membuat Dini takut. Apakah bijak bila dia membantu Arya mendapatkan hak kenyataan yang sebenarnya? Aahh, tentu saja tidak bijak. Itu akan berpengaruh pada mental Ansel yang belum siap. Dia baru saja tinggal bersama pria itu lagi. Dia belum mampu menilai pria itu. Selama satu bulan, memang pria itu bersikap baik terhadapnya, meskipun terkadang kata-katanya sedikit sinis.
Tapi menilai sifat orang hanya dalam waktu satu bulan bukanlah penentuan seseorang bisa saja telah berubah. Dini masih belum percaya jika Arya benar-benar menginginkannya. Bukan tidak mungkin nantinya sikap buas Arya akan kembali muncul. Dia akan mengambil Ansel secara paksa, sama seperti yang dilakukan padanya melecehkan dia. la pikir Arya masih tetap sama seperti dulu dan hanya ingin menusuknya dari belakang saat ini!
Mungkin lebih baik dia harus melihat dan menunggu. Dia harus memastikan bahwa perasaan Arya tulus pada mereka. Setelah itu, Jika waktunya sudah tepat dia akan mengatakan yang sebenarnya pada Ansel.
"Kebetulan ini hari minggu. Bagaimana jika hari ini kita pergi berjalan-jalan?"
"Kemana Paman?" Tanya Ansel antusias
"Terserah ke tempat mana yang kau inginkan. Kita akan mengunjungi tempat yang kau katakan."
"Emm... Aku akan bertanya pada Arsen. Jika aku yang memilih, Dia pasti tidak akan ikut. Arsenn..." Teriak Ansel memanggil
__ADS_1
"Ada apa, Kenapa kau berteriak? Aku tidak tuli sampai kau harus berteriak memanggilku..." Ketus Arsen
"Hehe... Maafkan aku. Hari ini paman akan mengajak kita pergi berjalan-jalan. Paman bertanya kemana kita akan pergi. Apa kau ingin pergi ke suatu tempat?" Tanya Ansel meminta saran
"Tidak ada. Aku hanya ingin di rumah. Tidak penting berjalan-jalan di luar. berjalan dari kamar menuju dapur saja itu sudah jalan-jalan. Kalian pergi saja, Aku tidak akan ikut!" Ketus Arya
Ansel menepuk jidatnya sendiri.
"Haduuhh... Ternyata kau bisa bercanda juga. Aku tahu itu jalan-jalan. Tapi jalan-jalan ini berbeda karena kita akan pergi bersenang di luar."
"Hanya di luar. Itu tidak jauh dari dalam rumah! Kalian bisa bermain air sambil menyiram tanaman di sana." Ketus Arsen memaknai kata luar itu adalah di luar rumah yakni halaman depan
Lagi-lagi Ansel menepuk jidatnya frustasi.
"Ck,, Bukan di luar rumah. Tapi ini di luar tempat! Kita akan pergi keluar rumah menuju suatu tempat yang jauh dari rumah." Ujar Ansel menjabarkannya
"Aku tahu! Jangan anggap aku bodoh!" Ketus Arsen dengan dingin
Arya dan Dini tak kuasa menahan tawa melihat interaksi dari kedua anaknya.
"Baiklah, baiklah, biarkan paman saja yang memilih. Bagaimana jika kita pergi ke Malaysia saja, Ya?" Usul Arya
"Mobil tidak bisa dikendarai dalam rumah. Bisa-bisa barang-barang hancur tertabrak." Ucap Arsen menimpali
"Ansel memang alangkah bagusnya lebih baik kau diam. Saat berbicara ternyata kau membuat aku kesal." Frustasi Ansel dengan polosnya
"Aku tidak salah. Kau sendiri yang mengatakan kenapa tidak di sini saja menaiki mobil. di sini memiliki makna berada di rumah, karena kita sedang berada di rumah." Ujar Arsen tidak berhentinya mengajarkan orang lain untuk belajar logis dan spesifik
"Maksudku di negara ini. di Indonesia banyak sekali tempat hiburan, kenapa kita tidak berlibur di negara ini saja mengendarai mobil paman ke tempat hiburan itu, sehingga tidak perlu menaiki pesawat terbang menuju malaysia." Ujar Ansel yang kini perkataan penuh dengan kehati-hatian berbicara dengan Arsen agar tidak dikomentari lagi
"Oh... Baiklah." Ujar Arsen begitu saja setelah membuat orang lain kesal
"Sudah, Sudah, Kalian jangan bertengkar. Sebaiknya kalian segera mengganti pakaian dan kita pergi berlibur ke Malaysia menggunakan jet pribadi." Ujar Arya yang tidak henti menebar senyum melihat kedua anaknya yang menggemaskan
"He'eh." Ansel mengangguk dengan antusias
__ADS_1
Arya tersenyum kecil. Sikap logika Arsen mengingatkan pada dirinya.
"Ayo bersiap-siap." Arya berkata pada Dini
"Hah?" Dini malah terlihat linglung
"Ganti bajumu segera. memangnya kau tidak akan ikut." Kata Arya
"Hah? Kau saja dulu. Ruang ganti hanya ada satu di kamar mu itu pun tidak terpisah." Jawab Dini
"Kau sedang berpikir apa? kau bisa menggantinya di ruang ganti dan aku di kamar mandi. Atau kau ingin kita mengganti pakaian bersama-sama? Kau keberatan?" Goda Arya
"Sangat keberatan. Aku belum mandi. Lebih baik kau yang berada di ruang ganti agar aku bisa sekalian memakai pakaian ku." Ucap Dini dengan terkejut
Dini terburu-buru pergi ke kamar agar Arya tidak menggodanya lagi. Sedari tadi ia menahan pipi merahnya agar tidak keluar.
Arya hanya tersenyum-senyum melihat tingkah laku Dini yang gugup mendengar perkataannya.
***
Dini selesai bersiap. Di luar Arya sudah menunggu dia bersama kedua anaknya. Maklum saja wanita sangat lama untuk bersiap akan pergi keluar. mereka harus berdandan sampai penampilan mereka maksimal. Sejenak Dini menjadi tertegun melihat Arya.
Arya selalu saja tidak lepas dari style pakaian jasnya. Namun, kali ini dia terlihat santai dan tidak terlalu formal. memakai baju kaos ditambah jas dan sepatu sporty mahal miliknya. Bentuk tubuhnya yang sempurna tampak tercetak sangat pas di baju yang di pakainya. Kacamata hitam tampak bertengger di depan matanya.
Dini menelan salivanya. Visual Arya benar-benar luar biasa. Laki-laki itu benar-benar sangat tampan. Ia baru pertama kembali melihat penampilan Arya seperti ini.
Dini memandang dirinya sendiri yang tampak sangat sederhana. Dia hanya memakai dress longgar. Rambutnya yang panjang di ikatnya dengan asal-asalan. Bila tahu Arya akan setampan itu, dia pasti akan berdandan ekstra untuk membuatnya tampak tidak memalukan bila berdiri di samping pria itu.
"Sudah siap?" Tanya Arya
"Heemm." Dini hanya mampu bergumam
Mulutnya terlalu sibuk menelan salivanya sehingga suara susah keluar dari mulutnya.
"Ayo kita berangkat." Tanpa di duga Arya memegang tangan Dini dihadapan anak-anak dan mempersilakan ia untuk masuk setelah pintu mobil dibukakan
__ADS_1
Mereka menaiki mobil terlebih dahulu untuk pergi ke bandara pribadi hingga sampainya menaiki jet mereka.
Hari itu mereka pergi menggunakan pesawat jet untuk pergi berlibur di hari minggu ke Malaysia. Arya membawa anak-anak terutama Ansel yang terlihat sangat senang.