
Sederet orang berpakaian jas masuk ke rumah Arya tanpa adab sopan santun langsung memasukinya saja bersama rombongan entah siapa yang mereka bawa.
Mendengar kegaduhan membuat Valerie dan Bu Clara keluar dari kamar dan melihat orang dalam jumlah sedang, berkumpul di lantai utama.
"Hey, Ada apa ini? Kalian siapa berani-beraninya masuk ke dalam rumahku? keluar sekarang juga atau kalian aku laporkan polisi." Pekik Valerie
"Maaf Nyonya, kami datang atas perintah Tuan untuk mengantarkan mereka yang akan bekerja di sini." Bicara salah satu bawahan Arya
"Maksudmu?" Tidak mengerti
"Ini adalah pembantu dan beberapa pelayan muda lainnya. Lalu, ada petugas keamanan, supir, tukang kebun, yang dipekerjakan Tuan untuk bekerja di rumahnya." Jawab anak buah Arya
"Jadi, suamiku merekrut orang untuk bekerja di sini?"
"Iya Nyonya. ini untuk memudahkan akses rumahnya."
"Sekiranya ini keuntungan bagi kita menikmati rumah ini dengan fasilitas lengkap yang baru saja datang untuk melayani kita. Ada bagusnya Arya mempekerjakan mereka jika ada supir, ia bisa mengantarkan kita ke manapun pergi." Bisik Bu Clara
"Ibu benar, setidaknya ini akan membuat rumah ini hidup. Rumah sebesar ini mana mungkin tidak ada yang bekerja dengan kita." Bisik Valerie
Ekhemm...
Valerie berdeham setelah berbisik dengan ibunya. Lalu, kembali berbicara dengan mereka.
"Oh, Yasudah. Jika ini keputusan suamiku, kalian bisa langsung pergi ke kamar kalian masing-masing di belakang. Dan kalian mulai bekerja tugas kalian masing-masing besok hari." Kata Valerie mengambil alih kepemimpinan
Semua pekerja yang baru saja mendapatkan lowongan dan langsung diterima untuk bekerja di rumah Arya, mereka sangat senang.
Karena belum mengenal sifat Valerie bagaimana, mereka menyerbu Valerie untuk bersalaman sebagai ucapan terima kasih mereka.
"Eh,,, Apa yang ingin kalian lakukan." Mundur Valerie menghindar
"Kami ingin mengucapkan banyak terima kasih karena sudah menerima kami di sini, Nyonya." Jawab selaku yang akan menjadi supir. Baru saja mengulurkan tangan dan ditolak oleh Valerie
"Tidak, tidak perlu bersalaman. Kalian pasti di luar membawa virus ke rumah ini. Pakaian kalian juga lusuh dan menjijikan. jika ingin berkerja di sini dalam 24 jam kalian harus melayani anggota di rumah ini dengan pakaian yang layak dan juga bersih." Singgung Valerie membuat semua orang terkejut
Mereka seketika berpikir apakah akan nyaman dan bertahan bekerja di rumah itu melihat majikan mereka yang tidak ramah.
Serentak mereka mundur dan menjauh dari Valerie dengan raut wajah kecewa berat.
"Sudah, kalian bisa pergi mencari kamar sendiri di belakang." Kata Valerie
__ADS_1
"Baik, Nyonya." Mereka bersamaan masuk lebih dalam ke belakang untuk mencari kamar mereka
Valerie menggelengkan kepala melihat kepergian mereka.
"Lalu, Di mana Arya sekarang? Apa dia tidak pulang bersama kalian?" Tanya Valerie selaku pada anak buahnya
"Tuan, mengatakan pada saya untuk menyampaikan pesan ini pada nyonya. Beliau berpesan untuk saat ini tidak bisa pulang. beliau juga menyampaikan mohon maaf sebesar-besarnya pada, Nyonya." Jelasnya
"Kenapa?" Bingung
"Saat ini Tuan sedang berada di mansion nyonya besar. Beliau mengatakan akan menginap satu malam di sana menjaga Nona Luna." Jawab nya
Valerie pun tertegun.
"Tandanya dia dan wanita itu tidak akan pulang hari ini. Mereka akan bersenang-senang di mansion itu!" Gumam Valerie cemburu
"Kenapa dia tega membiarkan istrinya sendirian di sini?" Tanya Valerie
"Untuk masalah itu saya tidak bersangkutan, Nyonya. Hanya saja Tuan berpesan seperti itu."
"Dan latar belakang menyuruh kami mencari pekerja ini, agar suasana rumah ini tidak sepi jika ditinggalkan mendadak. Di luar pun sudah ada penjaga yang memulai bekerja malam ini untuk menjaga nyonya. Jadi, nyonya tidak perlu khawatir dan merasa takut." Ucapnya
"Hmm... Baiklah. Kau bisa pergi." Ucap Valerie
...***...
Kamar Arya~
"Ada apa? Kenapa kau tidak masuk?" Heran Arya melihat Dini berdiam diri di depan pintu dan enggan masuk
"Emm... Saya akan mencari kamar lain saja." Pergi Dini berbalik
Hap!
Arya meraih tangan Dini dan menariknya ke dalam. Lalu, menutup pintu.
"Orang lain sudah lelah membersihkan Kamar ini dengan rapi hanya untuk kita. Dan kau tidak menghargai pengorbanannya." Bicara Arya terlalu dekat
"Bukan itu maksud saya, Tuan. Ini kamar tuan jadi saya tidak akan tidur di sini."
__ADS_1
"Kenapa? Tinggal berdua di dalam kamar ini tidak akan membuat warga datang untuk menggeledah kita."
Dini hanya diam karena sungkan jika harus tidur bersamanya lagi.
"Baiklah, Aku mengerti. Kau bisa tidur di ranjang, dan aku akan tidur di sofa." Ucap Arya mengambil satu bantal dan selimut dan pergi untuk tidur di sofa
"Tidak perlu, Tuan. Tuan tidur saja di ranjang dan saya di sofa."
Arya menghentikan langkahnya dan berbalik menatap tajam Dini.
"Jangan membuat bayiku menderita karena mu di dalamnya." Kecam Arya
Melihat Arya yang benar-benar tidur di sofa dan langsung terlelap tidur.
Dini masih berdiam diri enggan untuk naik ke atas ranjang.
Ingin bagaimana lagi, Ia perlahan berjalan menghampiri dan menaikinya lalu, berbaring dengan perasaan tidak enak hati merasa bersalah.
Ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut sampai leher. Sesekali ia melirik ke arah Arya yang benar-benar sudah tidur.
Rasa kantuk datang, perlahan ia menutup mata dan terlelap dengan lampu kamar yang tidak dimatikan, sebab Dini sendiri takut akan kegelapan.
Arya terbangun dari menutup matanya, ternyata ia hanya berpura-pura sudah tidur dengan lelap.
Perlahan ia bangkit berjalan menghampiri Dini yang sudah tidur nyenyak di sana. Sehingga ia tidak merasakan pergerakan yang ada di sekitarnya.
Dengan pasti, Arya duduk di samping ranjang yang masih tersisa ruang dan dia perlahan menaikkan kakinya agar tidak menimbulkan suara yang dapat mengusik Dini sampai terbangun.
Arya sudah membaringkan tubuhnya di samping Dini dan menyelimutinya juga.
Ia membalikkan badan saat tidur menghadap pada istrinya yang terlihat sangat cantik saat tidur dalam jarak dekat.
Arya mengangumi wajah itu dengan terus memandanginya.
"Dia selalu cantik dalam keadaan apapun." Gumam Arya tanpa sadar memuji
"Tck,,, Apa yang ku pikirkan. Kenapa aku menjadi munafik seperti ini?" Mengelak Arya
Tanpa basa-basi dan sungkan lagi, Arya mendekatkan dirinya pada Dini dengan membuang guling yang menghalangi jarak mereka.
Entah apa yang sedang ia rasakan saat ini, sehingga dia memeluk Dini yang sama sekali tak terusik. Tapi sebelum itu, Arya mengelus perut Dini lebih dulu yang terlihat sudah membuncit sebesar jeruk bali. Perasaan senang timbul dalam dirinya.
__ADS_1
Sambil memeluk bak sebuah guling, Arya menutup mata dan tertidur bersama Dini seranjang berdua malam itu dengan romantis.