
"Aku tidak menyangka jika Luna adalah adik dari pria itu.jadi, tanpa disadari aku sudah berhubungan dengan dua iblis yang licik.kakak dan adik sama saja angkuhnya." Pungkas Dini sarkas, sambil berjalan menyusuri koridor untuk masuk ke ruangan Dekan
Di Ruang Dekan~
"Permisi, Pak." Ucap Dini berdiri di depan pintu yang tidak ditutup, dan belum masuk sebelum diberi perintah
"Silahkan masuk!" Jawab Dekan
Dini berjalan masuk dan berdiri dihadapan meja Dekan.
"Duduklah!" pungkas dekan lagi
"Baik, Terima Kasih, Pak." Ujar Dini langsung duduk saat dekan memerintahkannya duduk
Dekan menyiapkan beberapa lembar ujian milik Dini yang sudah diberi nilai dan sebelum memperlihatkan pada Dini, dia melihat-lihat lebih dulu Nilai yang tertera dengan sudah dibuat dengan pulpen tinta merah.
"Ini semua hasil ujian milik mu." Ucap Dekan memberikan semua lembar ujian kepada Dini
Dengan gemetar, Dini meraih lembar jawaban ujian miliknya yang sudah diberi nilai.
Nilai yang tertera dan sudah dilingkari, tidak pantas untuk di perlihatkan.hampir semua mata pelajaran yang diujikan, ia mendapatkan nilai yang sama sekali tidak ada yang menepati di angka 50 saja, rata-rata semua yang tertera menepati di angka kurang dari 50.
Dini benar-benar tidak menyangka jika ia akan mendapatkan nilai di patokan angka yang semasa seumur pendidikannya ia tidak pernah mendapatkan nilai kecil.
ia sangat syok melihat nilai yang tertera, dia tidak tahu harus bagaimana jika orang tuanya mengetahui hal itu.
"Saya kecewa denganmu, Din. Dulu kau merupakan mahasiswa yang paling berprestasi di antara semua mahasiswa yang ada di sini.sehingga kau bisa mencetak nilai sejarah dengan skor 982,5. nilai mu hampir sempurna, jika saja kau berhasil menjawab semua soal yang ada.tapi memang di dunia ini tidak ada yang sempurna, satu kesalahan mengajarkan kita banyak arti, dan mengetahui jawaban sesungguhnya dari kesalahan tersebut." Pungkas Dekan
"Tapi sekarang, kau sudah melihatnya sendiri nilai mu kali ini.nilai yang kau dapat tidak pantas untuk dilihat!" lanjut sarkas Dekan
Dini hanya berdiam diri melihat nanar lembar jawaban, sekaligus mendengarkan perkataan dekan yang kecewa padanya.
"Kau menyia-nyiakan kecerdasan yang kau miliki.padahal saya sangat berharap, bahwa untuk kedua kalinya saya yang memberikan penghargaan padamu tadi.namun, tidak menyangka Luna bisa menempati posisi ini yang lebih baik darimu.Apa yang sebenarnya terjadi dengan mu saat ini?" Ucap Dekan bertanya
__ADS_1
"Karena saya tidak belajar, pak.saya sibuk melakoni pekerjaan saya di malam hari sebagai office girl.atasan tempat saya bekerja dikenal sebagai orang yang angkuh dan keras kepala, ia tidak akan memberikan pegawai izin seharian penuh.pada saat itu atasan saya sudah memberikan izin, tapi beliau meminta saya untuk tetap bekerja di malam harinya." Jelas Dini menundukkan kepala
"Hahh (menghela nafas panjang) Nilai skor akhir mu 420 point kali ini.membuat saya tidak membanggakan dirimu lagi, Din." Ucap Dekan
Dini sangat menyesal dan hanya menundukkan kepalanya.
"982, 5 dengan 420 point, itu sangat jauh perbandingannya. kemana nilai mu 562, 5 point lagi yang hilang?" Kesal Dekan
"Maafkan saya, Pak." Jawab Dini
"Kau sibuk bekerja di malam hari, untuk melakoni tugasmu sebagai pemuas!" Sarkas Dekan itu yang sama-sama tidak tahu diri
Yang awalnya Dini menundukkan kepala, dengan spontan ia mendongakkan kepala menatap dekan nya tidak percaya.
"Kenapa bapak sama saja dengan orang lain?" Tanya Dini
"Sesuai berita yang beredar, kau sudah menggoda seorang pria yang merupakan kakak dari Luna.berita itu sudah dibicarakan di mana-mana, semua bukti sudah jelas dengan memperlihatkan foto dan video mu."
Dini sudah tidak bisa berkata-kata lagi, ia sudah benar-benar hancur.semua orang di dunia ini sudah tidak mempercayai dirinya lagi. Dini terus disalahkan dan tersudutkan, korban pemitnahan.
Batu besar yang terus menimpanya berturut-turut, tidak bisa ia tahan lagi.bak sudah tertimbun dan tidak bisa menampakkan diri, Dini benar-benar terpuruk.
Tubuhnya terkulai lemas, masih menyaring perkataan dekan kepadanya bahwa ia sudah dikeluarkan dari tempatnya berkuliah.
Hancur sudah dan sirna harapannya untuk menjadi seorang Dokter.
"b-ba-bapak benar-benar ingin mengeluarkan saya dari sini?!" Ungkap Dini sudah mengeluarkan air mata yang membanjiri pipi dan pelupuk matanya
"Terpaksa! Kami tidak ingin mengambil risiko dengan menampung mahasiswa yang bermasalah di luar lingkungan universitas, demi menjaga dan mempertahankan reputasi kami.maafkan saya, saya akui kau adalah mahasiswa berprestasi dan cerdas.saya yakin jika kau tidak memiliki masalah, saya akan terus mempertahankan mu di sini, dan saya yakin tahun depan kau akan memperbaiki nilai mu dan kembali pada Dini yang semula.
namun, ini keputusan dari Rektor universitas, saya tidak bisa melakukan apa-apa saat ini.jika saya bisa, saya akan tetap mempertahankan mahasiswa cerdas seperti dirimu." Ujar Dekan
"Baik, Pak. Terima Kasih, Saya permisi pamit.maafkan saya jika semasa saya berada di sini, saya membuat anda kesal atau marah pada saya.sampaikan maaf saya pada semua orang." Ucap Dini yang sudah pasrah
"Tidak ada.seharusnya saya yang meminta maaf padamu, karena tidak bisa mempertahankan dirimu di sini. Saya doakan dan sangat yakin, jika kau bisa sukses di luaran sana." Ucap Dekan
__ADS_1
"Saya permisi, Pak." ucap Dini membawa semua lembar nilai ujiannya dan surat pernyataan Drop Out mahasiswa untuk dirinya
Mahasiswa lain yang menguping dari luar mendengar jika Dini di keluarkan, mereka sangat senang dan bersorak riang gembira seperti merayakan sebuah pesta.
Yeayy....
Dini keluar dan berlalu lalang pergi menyusuri sisi kanan dan kiri mahasiswa yang terus menyoraki dan mengejeknya.
Ia ingin cepat-cepat keluar dari tempat itu, sehingga mempercepat langkahnya. tapi tidak, seseorang menjulurkan kakinya ke depan sehingga membuat Dini terkait yang pada akhirnya terjatuh.
Semua orang di sana menertawakannya dengan puas.
terdapat luka jatuh di kedua lututnya yang lecet mengeluarkan darah.
Prisha dan Raina yang melihat kejadian itu merasa kasihan, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa sehingga hanya berdiam Diri menatap sayu Dini.
"Upss...! Maaf, Aku tidak sengaja." Ucap Luna yang sengaja menjulurkan kakinya
"Mari ku bantu kau berdiri." Ucap Vera menjulurkan tangannya
Dengan berpikir jika Vera benar-benar ingin membantu, Dini menjulurkan tangannya untuk bertaut. Dini memang berhasil bangkit di bantu oleh Vera, akan tetapi Vera malah membanting keras tubuh Dini hingga dahinya mengenai tembok dan menambah luka selain di kedua lututnya.
"Awsshh...!" Kesakitan saat dahi nya terbentur tembok
Bukannya membantu, semua orang yang ada di sana malah menertawakan Kembali.
"Hiks...Hiks..." Dini menangis berlari menuju ke arah luar dan menerobos semua mahasiswa yang sepanjang jalan mengejeknya
"Coba lihat, Ada apa dengan Bintang S**s kita, hahaha..." ucap mahasiswa senior menertawakan puas
Setelah melewati rintangan yang begitu terjang, akhirnya Dini bisa mengeluarkan diri dari universitas itu.
mungkin ini adalah detik terakhir nya, Dia tidak akan menginjakkan kakinya di tempat universitas yang menjadi saksi perjuangan nya untuk di terima agar bisa berkuliah di tempat impian.
Hanya karena kesalahpahaman, dengan mudah ia di keluarkan begitu saja melupakan semua perjuangannya.
__ADS_1