Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 82 - Menghantam Dinding


__ADS_3

"Banyak sekali barang belanjaan bulan ini. Kedua cucuku sering datang mengunjungi rumah Tuan Darwin sehingga aku harus menyetok berbagai macam cemilan dan bahan makanan untuk menjamu mereka. Andai saja dia tidak melakukan hal itu, dia masih bisa bahagia dan melihat kedua keponakannya berkunjung ke rumah."


"Nenek, Mari aku bantu!" Dewasa Arsen yang senantiasa menawarkan diri untuk membantu neneknya membawa barang belanjanya


Ansel yang menjadikan kakaknya panutan, Selalu mengikuti apa saja yang dilakukan kakaknya. Hubungan kakak adik sudah terjalin sangat dekat, dan kerap Arsen menerima tawaran untuk bermain dengan adiknya walaupun ia sebenarnya malas.


"Aku ingin membantu juga." Ribut Ansel yang selalu ceria


"Tidak perlu cucu-cucuku. Ini semua sangat berat, tubuh kecil masih belum bisa mengangkat beban seberat ini. Tapi, karena kalian ingin membantu, bawakan saja kantung buah ini ya."


Walaupun tak bisa membantu barang belanjaan kantung besar neneknya yang baru pulang dari supermarket, Bu Lia masih memberikan kesempatan cucunya untuk membawakan kantung sedang berisi buah.


Ansel masih tetap senang. Berbeda dengan Arsen yang menolak dan memilih mengambil kantung berukuran besar berisi semacam daging segar dan sosis.


Tanpa memperdulikan neneknya yang menatap tidak percaya. Arsen dengan santai membawa kantung itu dengan kuat. Walaupun jalannya sedikit terseok keberatan sehingga membuat neneknya tertawa.


Ansel yang tidak ingin kalah, ia meniru apa yang dilakukan kakaknya yang sama-sama membawa kantung berukuran besar. Bu Lia pun tak bisa menahan tawa melihat kelakuan cucunya. Mereka terlihat berjalan seperti penguin yang terseok-seok membawa belanjaan yang berat.


"Aku dengar Tuan sedang dekat dengan Luna. Apa kalian sedang menjalin suatu hubungan."


"Agh,,, Hahaha,,, Apa yang anda maksud Dokter Dini. Hubungan kami tidak lebih dari seorang teman. Tak ada tumbuh rasa apapun dalam hati kami."


Di Dapur.


"Hah,,, Berat sekali, untung sudah sampai. Kakak, Kau tidak berat?" Tanya polos Ansel


"Tidak." Jawab dingin Arsen


"Kenapa bisa? Padahal aku keberatan dan porsi tubuh kita sama." Ujar Ansel


"Siapa yang menyuruh untuk mengikuti ku? Seharusnya kau membawa kantung buah yang diberikan Nenek." Cerca Arsen


"Aku kan ingin mengikuti mu." Menunduk Ansel


"Untuk sekarang berhenti meniru apa yang aku lakukan." Titah Arsen


"Hei,,, Arsen, Ansel, Ada apa? Apa yang sedang kalian ributkan?" Tanya Dini lembut yang turun dari tangga dan menghampiri kedua anaknya


Bu Lia pun menjawab.


"Ini pertengkaran si kembar. Adiknya yang sering meniru kakaknya, dan Kakak yang melarang adik untuk meniru yang dilakukan kakaknya. Jadi, begini ceritanya Din, Arsen dan Ansel adalah anak teladan yang ingin membantu neneknya membawakan barang belanjaan. Karena semuanya berat, ibu berikan kantung yang berukuran kecil, tapi mereka tidak ingin dan malah membawa kantung yang lebih besar. Awalnya Arsen sendiri yang berinisiatif." Jelas Bu Lia

__ADS_1


Mendengarkan penjelasan dari ibunya, membuat Dini tergelak melihat si kembar yang terus bertengkar.


"Aku melakukan hal itu karena nenek sudah tua. Tubuh nenek tidak lagi kuat seperti orang muda. Seharusnya anak muda membantu mereka yang tidak berdaya." Kata Arsen


"Arsen, Kau sama sekali tidak salah, Nak. Tindakan mu itu sudah benar dan sangat baik patut untuk diancungi jempol. Tapi untuk membawa barang berat tubuhmu masih kecil, Nak. Jika terus dipaksakan, akan ada dua hal yang terjadi, kau sendiri akan menanggung berat, dan kau tidak bisa membantu secara efektif karena nanti jalanmu akan lambat dan menghambat untuk berjalan akibat terseok membawa barang berat itu." Ujar Dini berlutut untuk berbicara pada Arsen


"Maka jadikan kami cepat besar, Bu. Kami akan banyak membantu orang lain." Timpal Ansel


"Pasti. Kalian berdua akan tumbuh besar menjadi anak yang baik, cerdas, teladan. Suatu saat nanti tinggi badan kalian akan melebihi tinggi Ayah. Kalian juga senantiasa menjadi kakak yang baik untuk adik kalian nanti." Bicara Dini pada Arsen dan Ansel


"Aku tidak sabar menantikan adik bayi lahir. Aku ingin menjadi kakak yang baik untuknya, nanti aku akan merawat dia." Ujar Ansel


"Kau tidak akan bisa menjadi kakak yang baik. Mana ada seorang kakak masih memasangkan kancing pakaian dibantu oleh ibunya." Ejek Arsen


"Aku bisa memasangnya sendiri. Ibu saja yang ingin membantuku." Debat Ansel


"Ssstt... Jangan bertengkar lagi. Seharusnya kalian berdua rukun. Lihat, paman Zayn datang!" Ujar Dini melihat Zayn datang dan tengah dipersilakan masuk oleh Bu Lia


"Paman penculik... Kau datang??" Lari Ansel menghampiri


"Halo Ansel, Apa kabarmu?" Tanya Zayn dan memangku anak kecil itu


"Sangat baik, bahkan lebih baik akan mendapatkan adik bayi. Apa paman penculik tahu di dalam perut ibuku ada bayi?" Pungkas Ansel


"Terima Kasih, Paman penculik. Dadahh... Silakan untuk bertemu dengan ibuku, Aku akan mengajak Kak Arsen bermain." Ujar Ansel pergi dan menarik kakaknya dari sana


Kedatangan Zayn ke rumah peninggalan Darwin memang untuk bertemu dengan Dini setelah ia tahu jika Dini dan anak-anaknya berkunjung menemui Bu Lia.


Mereka berbincang banyak hal hingga Dini bertanya mengenai hubungan santer terdengar antara Zayn dan Luna.


"Tuan Zayn, Bagaimana hubunganmu dengan Luna? Apa kalian sudah memikirkan ke arah yang serius?" Tanya Dini membuat Zayn tersipu malu


"Agh, Dokter Dini, Apa yang kau tanyakan? Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan Dokter Luna. kami hanya sebatas teman biasa dan tidak lebih." Ujar Zayn tapi terlihat gugup


"Hati diibaratkan tanah, jika ditanam bibit akan tumbuh secara bertahap hingga menghasilkan bunga dan buah. Mungkin saat ini kalian bisa menganggap sebagai teman, tapi nanti tidak akan ada yang tahu apa yang tumbuh di hati kalian." Kata Dini


"Bahkan sebenarnya hatiku sudah tumbuh mencintai dirimu. Bibit ini sudah tumbuh menjadi bunga yang menginginkan dirimu." Ucap Zayn menatap lekat wajah Dini


"Tapi Saya memang tidak memiliki perasaan atau maksud lain mendekatinya." Ujar Zayn


Dini pun tergelak.

__ADS_1


"Baiklah, mungkin belum saatnya kau mengakui perasaanmu pada seseorang. Kau pasti malu untuk mengakuinya. Tidak masalah, suatu saat nanti kalian akan membuat kami terkejut dengan surat undangan yang sudah tersebar begitu saja." Ejek Dini terkekeh


Zayn pun ikut tertawa canggung.


"Tuan Zayn, bagaimana hubunganmu dengan keluarga? Apa kalian baik-baik saja? Lalu, bagaimana perkembangan ingatanmu?" Tanya Dini


"Ayahku kerap meminta diriku untuk segera kembali pulang ke Swiss. Hubungan kami baik-baik saja, hanya itu saja permasalahan yang memintaku untuk segera pulang. Untuk ingatanku tidak ada perubahan signifikan, sudah beberapa bulan tidak ada kilasan memori yang muncul lagi." Jelas Zayn


"Syukurlah hubungan kalian baik-baik saja. Aku merasakan kekhawatiran yang mendalam saat melihat ayah dan ibu, Tuan."


"Apakah karena raut wajah mereka? Mereka memang seperti itu, tidak pernah mengukir senyum apapun, tapi mereka sangat penyayang."


"Itulah yang ku khawatirkan. Biasanya orang dingin menyimpan sejuta rahasia lawannya. Aku tidak tahu perasaan apa ini, tapi mereka sangat menakutkan." Gumam Dini


Perbincangan mereka terganggu oleh kedatangan Pak Antonio secara tiba-tiba masuk begitu saja dengan raut wajah murka menghampiri mereka berdua.


"Sudah ku katakan jangan pernah berdekatan dengan wanita dan keluarga itu lagi. Tapi kau membangkang dan terus datang ke rumah ini." Seret Pak Antonio marah memegang kerah Zayn


Mendengar pertengkaran di luar, keluarga Dini pun masing-masing datang dan melihat kejadian itu.


"Ayah, Aku tidak memiliki maksud apapun untuk menemui keluarga ini. Kebetulan dia adalah dokter yang membantu penyakit ku. Itu akan membuat ingatanku kembali pulih." Ucap Zayn yang tercekik lehernya akibat kerah kemeja digenggam erat oleh pak Antonio


"Dia dokter yang membantu ingatanmu, Bukan? Cara apa agar ayah bisa meminta dia untuk keluar membantu pengobatan mu?" Gertak Pak Antonio


"Aku hanya ingin sembuh ayah. Apa Ayah sendiri tidak ingin aku mengingat semuanya."


"Ya, Aku tidak ingin kau mengingat semua ingatanmu! Jika kau ingat semuanya, maka istriku akan hancur." Ujar Pak Antonio membuat Zayn bingung


Di sela kebingungannya, Zayn terus saja di seret dan di gunjang-ganjing oleh ayahnya. melihat Zayn yang tersiksa oleh Pak Antonio membuat Dini merasa iba.


Dini datang ditengah pertengkaran mereka untuk menghentikan Pak Antonio yang memarahi putranya.


"Pak Antonio, Tolong jangan membuat Tuan Zayn seperti ini. Dia tidak salah apapun." Kata Dini


"DIAM KAU WANITA BODOH!! MENYINGKIR! KAU TIDAK PERLU IKUT CAMPUR DENGAN URUSAN KAMI!!" Bentak Pak Antonio mendorong Dini kuat hingga ia terduduk di lantai


"Dokter Dini!" Pekik Zayn melihatnya jatuh


Melihat Dini diperlakukan kasar hingga jatuh oleh ayahnya membuat Zayn marah. Ia pun memberontak dan melawan ayahnya hingga terjadi pertengkaran.


Zayn pun akhirnya bisa terlepas dari genggaman ayahnya dan ingin membantu Dini untuk bangkit.

__ADS_1


Namun, Pak Antonio tidak membiarkan Zayn untuk membantu. Saat Zayn hendak menghampiri, ia menarik jas Zayn yang membuatnya tertarik ke belakang dengan tarikan kuat itu membuat tangan Pak Antonio terlepas membuat Zayn terdorong ke belakang dan kepalanya menghantam dinding sangat keras.


__ADS_2