
Di Singapore~
Jet pribadi yang mereka tumpangi kini telah mendarat dengan selamat. Mereka akan turun dan segera menuju rumah Nek Arini.
"Kita datang ke Singapore dengan memiliki tujuan yang berbeda, bukan? Niatmu dari awal untuk refreshing di sini, kalian pergi saja, sedangkan kami ibu, ayah, Darwin, Luna, Dini dan orang tuanya akan langsung menuju rumah nenekmu." Kata Bu Amira setelah turun
"Apa maksud ibu? Aku juga datang ingin menjenguk nenek yang sakit. Dulu saat sakit nenek selalu ingin bertemu denganku."
"Ini dulu, berbeda dengan sekarang karena dia ingin bertemu dengan Dini. Jika kau masih memikirkan nenekmu, kenapa kau tidak mementingkan perasaannya." Sindir Bu Amira melihat Valerie
"Aku hanya menginginkan satu hal, tolong bawa aku menemui keluargamu, aku tidak ingin hubungan pernikahan ini diawali dengan kebohongan, aku mohon padamu.” pinta Valerie pada Arya
"Kau tidak perlu ikut untuk menemui ibuku. Semua masalah besar akan terjadi jika ibuku melihat mu di sana." Bu Amira yang sudah menduga jika ibunya nanti tidak akan suka melihat Valerie
Arya berpikir panjang, ia dalam dilema besar. namun, rasa cintanya terhadap Valerie mengalahkan keraguannya. Ia pun lebih setuju membawa Valerie masuk ke rumah besar tersebut.
"Aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Dari awal aku ingin menjelaskan ini pada nenek, akan ku perbaiki hubungan kami dengannya." Tetap pendirian Arya
"Tck,,, Kalian memang pasangan suami istri yang cocok. Sama-sama egois dan tidak tahu diri." Bentak Bu Amira
Lanjut berkata,
"Semuanya terserah pada kalian. Hanya satu pesanku, Asalkan kalian tidak membuat onar sampai membuat terjadi sesuatu pada ibuku." Kata Bu Amira
Terjadi perdebatan sebelum mereka pergi ke rumah Nek Arini. Dengan begitu, semua anggota keluarga tetap pergi bersama menuju rumah Nek Arini.
Arya tahu jika keputusan ini sebenarnya tidaklah benar karena akan membuat neneknya semakin terluka nanti. Namun, ia sangat ingin memperbaiki hubungan dengan neneknya itu yang sudah membuatnya sedih.
Berawal dari Bu Amira, Pak Barma yang membawa Dini masuk ke rumah itu, diikuti orang tua Dini, Darwin, dan Luna dibelakang yang tengah melenggang masuk.
Berbeda dengan Arya, Valerie dan Bu Clara yang entah kemana perginya mereka.
Kedatangan mereka pun langsung di sambut oleh keluarga mereka.
"Ibu, Dini sudah datang." Beri tahu Bu Alma pada Nek Arini yang tengah terbaring lemah
"Hahh,,, Benarkah?" Nek Arini yang senang tidak menyangka
"Iya." Jawab singkat Bu Alma yang senang juga melihat ibunya memancarkan wajah berseri
Nek Arini pun mengusik untuk bangkit dari tempat tidurnya.
"Ada apa Ibu? Kenapa ibu bangun." Jadi cemas Bu Alma
"Aku ingin menyambut cucuku." Paksanya terbangun
__ADS_1
"Tapi ibu sedang sakit. Sebentar lagi Dini akan ke sini untuk menemui ibu." Ujarnya
"Siapa yang sakit? Tubuhku sehat karena cucuku sudah datang." Jadi tidak tahu Nek Arini dengan kondisinya saat ini membuat Bu Alma menggeleng-geleng
Saat sedang sibuk saling berpelukan dan cipika-cipiki itu. Dari kejauhan terlihat Nek Arini dan Alma yang datang menghampiri mereka dengan guntai.
"Dini, Cucu nenek!" Langsung peluk Nek Arini sangat erat sampai sedikit sesak dirasakan Dini
"Apa kabar nenek? Aku dengar nenek sedang sakit. Jangan terlalu keras pada diri sendiri." Kata Dini
"Nenek tidak sakit, nenek jadi sehat saat bertemu denganmu." Jawabnya berseri bagai anak ayam yang kehilangan induknya namun, dipertemukan kembali
"Alma, Kenapa kau membawa ibu ke sini? Kami juga akan datang ke kamar ibu nanti." Langsung bentak Bu Amira
"Aku sudah melarangnya, Tapi ibu bersih keras ingin menyambut Dini di sini." Sesal Bu Alma terhenyak dikomentari kakaknya
"Aku tidak apa-apa. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku."
"Ibu selalu seperti itu, saat aku bertanya ibu tidak pernah menjawab sampai membuat aku khawatir, tapi sekarang setelah Dini datang ibu langsung berseri." Lontar Bu Alma cemburu hanya bercanda
Dengan wajah tanpa dosanya itu Nek Arini pun tertawa kecil.
Bersama keluarga yang lainnya tengah berkumpul, tiba-tiba Nek Arini Melihat kemunculan Arya yang masuk dan terlihat menggandeng tangan Valerie masuk ke dalam rumah tersebut tanpa rasa canggung.
"Dia!!?" Tegun Nek Arini tak menyangka
Dini dan Bu Amira pun mengkhawatirkan kondisinya. mereka tengah bersiap jika saja terjadi sesuatu yang membuat Nek Arini menurun.
Kini Arya dan Valerie sedang berada tepat dihadapan Nek Arini yang masih melongo.
Terjadi tatapan yang tidak intens saat Arya menatap neneknya.
"Untuk apa kau datang kesini?" Serang Bu Alma membentak keponakannya
“Aku kesini bukan untuk kalian, aku kesini untuk bertemu dengan nenekku karena ku tahu hanya dia yang bisa menerima keputusanku dan menerima Valerie sebagai menantunya.” Ucap Arya percaya diri
Mereka yang mendengarnya tak habis pikir.
Nenek Arini tersenyum dan melangkah maju sedikit menuju Arya. Ia tiba-tiba menampar Arya dengan kerasnya. Semua orang terkejut menyaksikan itu.
Plakkkk....
Arya terpaksa menolehkan kepalanya ke samping.
Terjadi keributan yang amat besar.
__ADS_1
Semua orang menyalahkan Arya terutama Valerie sedangkan Dini hanya terdiam membisu menatap suaminya dengan mata menangis.
"Kau pikir aku menerima pernikahanmu dengan wanita ini, Hah? Kau keterlaluan Arya!" Gertaknya
Lalu berkata,
Arya ditarik Nek Arini untuk menatap Dini dan menyaksikan bahwa Dini satu-satunya menantu bagi Nek Arini. Arya tanpa rasa bersalah sedikit pun mengatakan bahwa dirinya dan Valerie tidak salah.
"Valerie tidak salah, ini sudah menjadi kehendak tuhan, kami berdua berjodoh dan kalian lah yang salah memisahkan kami dulu.” Teriak Arya
Bu Alma sebagai bibinya pun berteriak dan untuk pertama kalinya ia berani mengeluarkan kata-katanya.
“Kau memang tidak salah, Kau berani bertanggung jawab atas perbuatan bejatmu, tapi paling tidak kau tidak akan melakukan pernikahan dengan berbohong pada kami, paling tidak kau bisa menjaga kehormatan kami yang malu dengan perbuatan mu, dan kau sama sekali tidak ada menghargai keluargamu sedikit pun.” kata Bu Alma menahan tangisnya
"Cukup, aku mengizinkan Tuan dan Nona Valerie menikah karena ia harus bertanggung jawab. mereka pun tidak salah, mereka bersatu atas kehendak Tuhan. Dari sejak awal memang aku yang menjadi penghalang cinta mereka." Kata Dini tenang
"Kau tidak salah, Dia saja yang memiliki pandangan mata hati tertutup tidak bisa melihat wanita sebaik dirimu. Orang tuanya tidak salah menjodohkannya karena tahu mana wanita yang terbaik untuknya. Tapi dia malah memungut sampah di tepi jalan." Sarkas Nek Arini
"Aku adalah cucumu yang sangat kau sayangi. Nenek tidak mungkin berpikir seperti itu terhadapku, apa nenek tidak ingat jika nenek selalu membelaku di saat ayah memarahiku saat kecil. Antara Luna dan Darwin, nenek tidak pernah memberikan kasih sayang yang lebih pada mereka selain memprioritaskan ku." Katanya
Darwin dan Luna pun merenung.
"Lupakan jika aku nenekmu, jangan panggil aku nenekmu lagi mulai sekarang. Nenekmu sudah meninggal, dan tidak pernah memiliki cucu sepertimu." Bentaknya
"Nenek tidak bisa seperti itu pada suamiku. suamiku sudah baik datang kesini untuk memperbaiki hubungan dengan nenek. Tapi nenek egois!" Kata Valerie yang baru berbicara
Nek Arini yang mendengarnya pun sangat syok.
Kenapa bisa Valerie berbicara tidak sopan padanya seperti itu. Bukan hanya ia, keluarganya pun heran!
"Ini yang kau sebut wanita baik? Apakah seperti ini yang disebut sebagai istrimu? Dia sudah berbicara kasar pada nenek." Kata Nek Arini bertanya pada Arya
Arya hanya diam tertegun.
Semua yang mendengar kata Valerie terdiam termasuk Arya. Sampai akhirnya Dini angkat bicara dan terlihat tegar.
Dini mengatakan, tidak perlu kata-kata itu, Sekarang Arya resmi menikah dengan Valerie. Sehingga ia adalah istri sahnya. Bahkan pernikahan mereka pun sudah berjalan 3 bulan yang sudah lama.
Pernikahan Dini dan Arya tidak ada artinya karena pernikahan itu dilakukan di atas perjodohan.
Dini juga mengatakan, jika pernikahan Dini dan Arya tidak memiliki arti. Berbeda dengan pernikahan Arya dan Valerie yang juga memiliki arti. Jadi, semua harus menerima Valerie.
Semua yang mendengar hal itu termasuk Nek Arini hanya diam dalam kebimbangan.
Tiba-tiba saja dadanya sakit, Ia memegangi dadanya sangat kuat berjalan termundur-mundur untuk tumbang. Nek Arini pun jatuh pingsan dan semua menuju padanya dengan histeris.
__ADS_1