Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 44 - Harus Tinggal Bersama


__ADS_3

"Ansel, kenapa kau bisa datang bersamaan dengan Arsen? Kalian berada di mobil yang sama?" Tanya Gino


"Karena kami keluarga. Itu yang dikatakan oleh paman tampan."


"Keluarga?? Memangnya kalian saudara dan ayahnya Arsen adalah ayahmu?"


"Tentu saja ayahku hanya Tuan Darwin. Aku hanya tinggal di rumah paman tampan saja." Jawab Ansel polos


"Beginilah pentingnya dewasa sebelum usia. Agar orang dewasa tidak berbohong pada anak kecil. Lihat saja betapa polosnya Ansel... Dia tidak tahu jika ayahku memiliki hubungan dengan ibunya." Batin Arsen menanggapi


Wajah Gino tampak menelisik. Dia tidak bisa memahami kondisi sekarang.


"Kemarin malam kami juga tinggal di kamar yang sama, benarkan Arsen? Dan akan seperti itu setiap hari." Lontar Ansel


"Bisakah mulutmu itu diam. Kau tidak perlu menceritakan semuanya pada orang lain. Lain kali minta ibumu untuk ajarkan kedewasaan." Ketus Arsen melenggang pergi lebih dulu


"Hah? Kalian tinggal serumah?" Mulut Gino menganga lebar


"Iya. Rumah Arsen sangat besar sekali dari rumah ku." Jawab Ansel terus membuka suara


"Kenapa bisa? Anehh..."


"Aku juga tidak tahu. Ibuku dan aku ditawari ayah Arsen untuk tinggal di sana. Padahal kami memiliki rumah. Tapi tidak akan lama, mungkin hanya sebentar."


Ansel dan Gino berbincang sambil berjalan masuk menuju kelasnya.


"Ini sangat aneh Ansel. Bisa menjadi keluarga harus memiliki hubungan pernikahan, itu setahuku. Memangnya ibumu menikah dengan ayahnya Arsen, Ya. Tapi kan dia menikah dengan ayahmu." Jelas Gino


"Apa itu menikah??" Tanya Ansel yang membuat Gino frustasi


"Aduhh... Kau ini! Menikah saja kau tidak tahu. Jangan-jangan kau sendiri tidak tahu apa itu melahirkan yang bisa membuatmu ada di dunia ini." Ketus Gino


"Jika boleh, Tolong jelaskan padaku! Ibuku tidak pernah mengajariku mengenai hal itu." Pinta Ansel yang membuat Gino geleng-geleng kepala


"Akhh... Sudahlah. Lebih baik kau belajar matematika saja." Balas Gino


Setelah memastikan anak-anak mereka masuk dan tidak terlihat dari pandangan mereka lagi. Arya dan Dini masuk ke dalam mobil. Arya mulai melajukan mobilnya kembali.


"Kau lihat anak kita tadi? Mereka tumbuh dengan asuhan yang berbeda. Mereka perpaduan kepribadian kita." Bincang Arya membuka topik


"Aku lebih setuju jika sifat mu itu tidak diturunkan pada Arsen. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana caramu mendidik dia dalam tekanan hingga menjadi seperti itu." Balas Dini


"Arsen mirip denganku. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, itulah peribahasa yang menggambarkan keluarga kita saat ini. Walaupun tidak ada campur tangan dengan didikan, kau pasti mengenal sebuah gen keturunan. Ansel sangat mirip denganmu, dia terlalu polos dan juga ceria. Tak mengapa, Keluarga kita terlalu sempurna untuk menghadirkan seorang anak kembar seperti mereka. Terima Kasih sudah memberikan ku keturunan dua anak laki-laki sekaligus." Ucap Arya


"Bolehkah aku pergi ke rumahku? Orang tuaku pasti sangat mengkhawatirkan kami sejak kemarin." Kata Dini memutarkan topik


"Kau memiliki rumah?" Lontar Arya

__ADS_1


"Kau pikir selama ini aku tinggal di kolong jembatan?" Ketus Dini terlihat kesal dan Arya tertawa kecil


"Baiklah. Tapi untuk apa kau kesana?" Tanya Arya


"Kau sendiri mengambil handphone milikku dan belum mengembalikannya. Dari kemarin aku tidak bisa mengabari mereka. Jika kau memiliki hati yang baik, tolong antarkan aku kesana." Ucap Dini memohon


"Baiklah. Aku akan mengantarkan mu untuk bertemu dengan mereka. Namun, setelah itu kau harus kembali ke rumah mu yang sebenarnya." Jawab Arya menjadi serius


"Aku berjanji akan tinggal di rumah mu itu. Asalkan kau bisa menjamin untuk memberikan ku kebebasan tanpa kekangan seperti dulu."


"Demi kebahagiaan mu, aku akan menuruti semua keinginanmu, asalkan kau juga bisa terus bersamaku." Ujar Arya


Berhadapan secara langsung, mereka saling berjanji untuk bersama satu sama lain. Mencoba mengikuti arus yang membawanya kembali pada Arya, walaupun belum sepenuhnya dapat menerima Arya dalam kehidupannya kembali.


...***...


Di Rumah Darwin.


Saat akan masuk dan sebelum mengetuk pintu, Kedatangan Arya dan Dini langsung dihadapkan dengan Darwin.


Pandangan Darwin terfokuskan pada orang yang berada di samping Dini. Ia begitu menatapnya terkejut tidak menyangka dengan pria yang berada di hadapannya saat ini. Ia bertanya bagaimana Dini bisa datang bersama Arya ke rumahnya? Apalagi ia tahu jika mereka menyembunyikan diri dari Arya yang menjadi musuh kedamaian dalam hidup mereka.


Darwin pun menarik Dini sampai berada di sampingnya, menjauhkan Dini dari Arya.


"Tuan Darwin, tolong jangan buat keributan!" Titah Dini karena tahu akan terjadi keributan melihat Darwin yang menatap Arya begitu ganas


"Aku yang membawa dia pergi darimu. Dan aku membawa dia kemari bukan untuk memberikannya padamu lagi. Dia ingin memberitahu keluarganya maka dari itu aku mengantarkannya." Jawab Arya


Darwin menatap Dini dengan mengerutkan dahinya meminta penjelasan dari Dini.


"Iya. Selama ini aku dan Ansel tinggal bersama Tuan Arya. aku datang untuk memberitahu keluarga ku jika aku baik-baik saja. Di mana mereka?" Jawab Dini


Kebetulan saat Dini menanyakan keluarga yang lain. Orang di dalam mendengar seolah suara pertengkaran, maka dari itu semua keluar dan melihat ketiga orang di luar.


"Ibu..." Dini masuk dan memeluk ibunya


"Dini. Kau dari mana saja? Kau seolah menghilang tanpa memberi kabar bersama Ansel. Kami sangat khawatir sekali." Kata Bu Lia


"Kau datang bersama Tuan Arya? Kenapa bisa ada di sini? itu artinya kau sudah bertemu dengannya." Ucap Pak Malik


"Benar. Dan selama ini aku tidak ada kabar sampai membuat kalian khawatir karena tinggal di rumahnya. Dia menyuruh bawahannya untuk menculik ku agar bisa tinggal bersamanya." Jelas Dini


Kedua orang tuanya pun tidak menyangka. Mereka tidak habis pikir Arya akan senekat itu membawa Dini kembali.


Nek Arini tidak bergabung menyambut Dini. Dia sedang mematung, menatap dari kedua cucunya yang berada di depan pintu, Yakni Arya.


Arya pun sama halnya terkejut melihat neneknya yang berada di rumah Darwin. la hanya tahu jika neneknya pasti berada di Singapore, mungkin itulah alasannya selama tujuh tahun ini Nek Arini meminta keluarga Arya untuk tidak datang ke Singapore. Karena ternyata Nek Arini berada di pihak Darwin sampai ikut menjadi anggota persembunyian mereka.

__ADS_1


"Nenekk...." Gumam Arya


"Arya datang bersama Dini??" Batin Nek Arini


"Kau sudah memberitahu keluargamu? Tidak perlu berlama-lama di sini. Kita harus segera pergi dari sini, ini bukanlah tempat tinggal mu." Kata Arya


"Kau tidak bisa membawanya pergi. Sudah tujuh tahun ia tinggal bersamaku." Gertak Darwin menahan tangan Arya


"Tujuh tahun sudah cukup bagimu untuk merasakan bagaimana hidup bersama dengannya tanpa status yang jelas. Statusnya adalah istriku, dia berhak tinggal bersamaku yang merupakan suaminya." Kecam Arya menghempaskan tangan Darwin


"Dan Ya, Aku tahu Ansel adalah anakku. Hal yang membuatku sedih adalah dia menganggap mu sebagai ayahnya, dia tidak memanggilku ayah dan malah memanggil paman tampan, aku tidak bisa memberikan hak ku pada orang lain. Maka berhentilah untuk berpura-pura menjadi ayahnya!" Lanjut Arya


Dua kebenaran terdengar dalam telinganya begitu jelas. Darwin sangat terpukul Arya sudah mengetahui kebenarannya.


"Kau pikir di dunia ini adalah kau yang hebat. Kau bisa membawa dia pergi dan menyembunyikan dia dariku. Takdir saja tidak mendukungmu untuk berlama-lama dengannya. Buktinya dia kembali pada genggaman ku. Dini pun tidak pernah menerima tawaran menikah denganmu." Ketus Arya mengejek


"Itu karena keserakahan mu. Jika kau tidak serakah, dia tidak akan pernah kembali karena ancaman mu. Kau hanya berani mengancam untuk mendapatkan apa yang kau inginkan." Lawan Darwin


Lalu, menambahkan


"Mengenai Ansel, Kau tidak pantas memilikinya." Lanjut Darwin


"Kau sendiri yang sudah menamainya dengan memberikan nama marga keluarga kita di belakang namanya. Tapi itu tidak mengubah siapa yang menjadi ayahnya."


"Kau sendiri bukanlah ayah yang bertanggung jawab. Awalnya kau sendiri tidak mengakui anak yang ada dalam rahim Dini. Dan sekarang kau mengemis untuk aku memberitahu dia agar menganggap mu sebagai ayahnya."


Di luar Arya dan Darwin saling bertengkar. Dan di dalam Dini sedang menjelaskan semua pada orang tuanya.


"Sampai kapan kau akan berada di rumah itu?" Tanya Bu Lia


"Aku tidak tahu. Sampai aku bisa kembali pada kalian, Aku pasti akan kembali ke rumah ini." Ujar Dini


"Jangan berlama-lama. Ibu sangat rindu pada Ansel. segeralah kembali jika urusanmu dengan Tuan Arya sudah selesai." Kata Pak Malik


"Iya Pak, siapa yang ingin berlama-lama tinggal di dalam rumah yang memberikan ketraumaan. Aku pasti akan segera kembali." Jawab Dini


Sebelum pamit, Dini berpelukan erat dengan kedua orang tuanya dan juga Nek Arini yang sedari tadi berdiam diri tak mampu menghampiri.


Dini berjalan dengan gusar keluar menghampiri Arya yang sudah menunggunya.


"Ayo kita pergi! Aku sudah memberitahu keluarga ku. Setelah bertemu, aku dan mereka merasa lebih lega." Ujar Dini


"Kau yakin lebih memilih dia? Kau akan pergi dan tinggal bersama di rumahnya?" Tanya Darwin dengan tatapan sendu


"Maafkan aku Tuan Darwin, sebenarnya aku sendiri tidak ingin tinggal di rumah itu. Hanya saja aku selalu menjadi wanita lemah dihadapannya." Batin Dini ingin menjawab seperti itu


Namun, Dini memilih untuk menghiraukan Darwin. Dia memegang tangan Arya dihadapan Darwin dan menariknya pergi dari sana.

__ADS_1


Darwin merasa terpukul melihat Dini yang tidak peduli dengannya. Dini hanya menatap, dan pergi begitu saja saat ia bertanya. Darwin sedih dan tidak berharap apapun selain ia bisa merebut Dini sepenuhnya dari Arya!


__ADS_2