
Di Rumah Arya~
Semakin lama waktu berjalan semakin larut dan saat ini jam menunjukkan pukul 01.15 Wib. Sepanjang malam Dini dan yang lain berjaga sepanjang hari hanya untuk menunggu kedatangan Arya yang berhasil membawa pulang Arsen.
Dini merasa semakin merana. Yang di lakukannya hanyalah menangis sembari menciumi foto Arsen. Dia ingin Arya segera datang dan membawa Arsen pulang bersamanya. Dia ingin bertemu dengan Arsen dalam keadaan selamat. Anak laki-laki yang sangat ia rindukan!
Waktu satu minggu bukanlah waktu yang singkat mereka kehilangan Arsen dan membuat khawatir keadaan. Mereka tidak bisa mengawasi bagaimana keadaan anak mereka tanpa jangkauannya. Apakah dia diberi makan, minum, tidur yang nyaman, atau sama sekali tidak? Memikirkannya saja sudah membuatnya sangat sedih.
Sayup-sayup Dini mendengar suara mobil berdecit mengerem untuk berhenti dalam keheningan malam. Apakah Arya sudah datang? Dini berlari ke arah pintu utama untuk melihat siapa yang datang.
Ya, Arya berhasil menemukan Arsen dan membawanya kembali ke rumah. Arya yang membawa Arsen tengah berjalan bersama masuk ke dalam rumah.
Pakaian mereka penuh dengan darah. Apalagi melihat Arya yang berjalan terpincang-pincang yang dipastikan semua orang menduga ia terkena tembakan. Ternyata begitu berat perjuangannya untuk menyelamatkan Arsen. Sedangkan Arsen, ia berjalan menunduk ke bawah tanpa ekspresi dan lelah tidak mampu melihat siapa yang sudah menunggunya di depan sana.
Dini segera berlari lebih depan. Ingin cepat-cepat merengkuh Arsen dengan pelukannya.
"Ar-Arsen?" Suara Dini tampak tercekat.
Mendengar namanya di panggil, Arsen sama sekali tidak menoleh. Raut wajah Dini tiba-tiba menjadi ceria. Senyum lebar merekah di bibir mungilnya melihat putranya kini berada di hadapannya.
__ADS_1
"Arsen!! Kau ditemukan!!" Dini berteriak sembari berlari dan memeluk anaknya. Dini merentangkan tangannya lebar-lebar, membuat bocah kecil itu masuk ke dalam pelukannya. Dini memeluk Arsen dengan erat. Airmata tampak mengalir di wajah cantiknya.
Ini adalah pertama kalinya Dini dan juga Arsen berpelukan. Rasanya begitu menentramkan hati masing-masing dan membuat nyaman satu sama lain dengan perasaan hangat yang ditimbulkan.
"Arsen...Arsen...Arsen." Tak henti-hentinya Dini memanggil-manggil nama itu. Tubuhnya gemetar karena tangis.
"Ini pertama kalinya Arsen dapat merasakan pelukan dari ibunya. Pelukan yang sangat ia impikan dari dulu dan Dini sudah mewujudkannya. Entah bagaimana perasaan Arsen kali ini, dia pasti merasa sangat senang..." Ujar Bu Amira merasa terharu
"Ibu merasa bahagia, Nak. Ibu senang sekali Arsen bisa ditemukan. Ibu sangat rindu denganmu. Saat kami tahu kau diculik kami semua sangat khawatir denganmu yang dibawa pergi oleh wanita itu..."
Arsen hanya diam walaupun melihat betapa banyak tersirat dari wajah ibunya yang begitu mengkhawatirkan dia.
"Kau baik-baik saja, Kan? Tidak ada luka apapun di badanmu? Mereka tidak melakukan sesuatu padamu, Kan? Kau sudah makan, kau pasti lapar, Kan?" Ujar Dini terus menerus bertanya dengan sedih
Dini menangis terisak-isak, membuat Dini semakin menangis. Hah, kasian sekali nasib putranya. Tatapan Arsen terlihat kosong.
Arsen memutuskan untuk pergi. Meninggalkan semua orang masuk ke dalam dan menuju kamarnya.
Sembari melihat sendu Arsen yang berlalu, Dini menatap Arya yang berdiri tak jauh dari tempat mereka. Ekpresi laki-laki itu tampak tak terbaca dengan wajahnya yang penuh dengan noda darah.
__ADS_1
"Tuan, Ada apa dengan Arsen? Kenapa dia diam saja?" Tanya Dini
Barulah Arya mengangkat kepalanya dan menatap Dini.
"Arsen masih trauma. Banyak sekali kejadian menakutkan yang dilihat oleh matanya sendiri dihadapannya langsung. Mungkin itulah sebab Arsen tidak ingin membuka diri lebih dulu pada orang lain. Biarkan dia sendiri dulu, setelah dia tenang kita akan mencoba mendekatinya." Ujar Arya pada istrinya
Mendapatkan pengertian dari Arya, Dini baru mengerti. Terlalu sibuk dengan anaknya membuat Dini melupakan keberadaan Arya dan memperhatikan keadaannya. Ia menatap pria itu dengan sedih melihatnya dengan tubuh yang tak karuan penuh dengan darah. Pria yang sudah sangat berjasa dan berjuang untuk menyelamatkan anaknya.
"Maafkan aku... Kau seperti ini karena diri ku. Terima Kasih sudah menyelamatkan Arsen dan membawa dia kembali pada kita. Ayo, Aku akan mengobati lukamu!" Kata Dini memapah Arya untuk masuk dan diobati lukanya
Arya terlihat sangat lelah. Di malam hari saat orang lain tidur, Ia malah berperang pertumpahan darah.
Arsen sedang berdiam diri di tangga saat orang lain masih sibuk di luar.
Ia sedang termenung mengingat ekspresi Dini yang sangat mengkhawatirkannya. Ia juga tengah merasakan kembali bagaimana hangatnya pelukan dari ibu padanya tadi.
"Aku sangat malu pada Ibu. Ibu terlalu baik untuk menjadi orang tuaku yang memiliki anak durhaka sepertiku. Andai aku berani dan tidak pernah membuatnya terluka, Aku ingin sekali lebih lama tinggal dalam pelukanmu tadi. Menghirup aroma tubuhmu yang menyejukkan hatiku. Aku juga bisa datang berlari pada ibu, dan mungkin mengatakan, Ibu, Aku pulang!!" Ujar Arsen bersedih hati
Dalam kamar ia melihat Ansel yang tengah tertidur pulas di ranjangnya. Untuk satu minggu akhirnya Arsen kembali ke rumah itu lagi dan kamar miliknya yang sangat nyaman.
__ADS_1
Ia juga bisa melihat Ansel teman baik yang selalu membuat onar itu kembali, namun setelah dipikirkan Ansel menjadi warna dalam hidupnya. Arsen pikir, Walaupun ia terlalu masih bersikap anak kecil Ansel selalu ceria dan mampu menghiburnya di mana pun.
"Ansel aku kembali! Apakah kita bisa menjadi teman baik setelah aku terlalu banyak menyakiti dirimu? Kau dan aku memiliki satu ibu yang sama, kita adalah anaknya. Namun, Apa hubunganku denganmu? Apakah kita saudara tiri?" Kata Arsen yang berbicara sendiri di saat Ansel tertidur