
Waktu terus berjalan kini sudah menginjak 1 bulan, Dini sudah tinggal di rumah Arya.
Dini berjalan meninggalkan rumah sakit. Seperti biasa setiap hari ia bekerja sebagai dokter dengan mengambil waktu kerja setengah hari. Mobil terus berjalan melewati jalan raya, siang itu terik matahari sangat menyengat. mobil sudah sampai di depan rumah, ia turun dari mobil bersama Arsen dan Ansel yang baru pulang sekolah dan dijemput.
"Nyonya,, ini minum lah,," Bu Shani yang diperintahkan untuk bekerja di rumah Arya pu kembali. Dia masuk ke dalam kamar membawakan jus mangga untuk Dini minum, ia baru saja pulang karena siang itu cuaca sangat panas
"Terima Kasih, Ya Bu. Padahal tidak perlu repot-repot." Menerima jus itu dan meminumnya
"Ingin makan sekarang, Nyonya?" Tanya Bu Shani
"Nanti saja Bu, aku ingin mandi dulu cuaca hari ini sangat panas, selesai mandi aku baru ke ruang makan. Mungkin biarkan anak-anak yang makan lebih dulu." Titah Dini
"Baik, Nyonya. Saya akan panggilkan Tuan muda untuk makan siang." Jawab Bu Shani
Dari kejauhan, Bu Shani yang tengah berjalan menuju kamar Arsen sudah terdengar terjadi pertengkaran diantara mereka. Mengetahui hal tersebut ia segera memberitahu Dini yang tidak sempat untuk mandi dan segera menuju kamar Arsen.
Di Kamar Arsen.
Pertengkaran kedua anak kecil itu terjadi di sebuah ruang ganti pakaian.
"Ini baju milik ku! Kau tidak pernah memiliki baju model seperti ini." Rebut Arsen
"Tapi ini baju yang dibelikan paman tampan untuk ku. Kita sama-sama dibelikan baju baru kemarin." Rebut Ansel juga yang saling terjadi tarik menarik
"Tapi ayahku yang memberikan ini untukku. Kau mengambil baju ini dalam lemari ku. Apa kau tidak bisa melihat lemari mu yang mana?"
"Itu adalah lemari ku. Dan pakaian ini aku ambil dari sana." Tunjuk Ansel pada sebuah lemari di sana
"Tck,,, Itu adalah lemari ku. Lemari mu ada di sebelah kiri jika berdiri dari sini. Kau belum bisa membedakan mana kanan dan kiri, Ya." Cela Arsen
"Arsen, Ansel ada apa, Nak? Kenapa kalian ribut?" Tanya Dini yang mendatangi mereka
"Ibu, Coba katakan baju ini dibelikan paman tampan untuk siapa? Arsen bersikeras jika baju ini miliknya. Hari ini aku ingin memakainya, Bu." Mengadu Ansel menjelaskan semuanya
Dini pun menelisik baju yang sedang diperebutkan oleh kedua anaknya.
"Aku yakin dia akan lebih memihak Ansel walaupun dia tahu ini adalah bajuku. la pasti akan memintaku untuk mengalah pada anaknya." Batin Arsen
__ADS_1
"Ansel, baju ini milik Arsen, Nak. Kau tidak memiliki baju seperti ini. Lihat saja baju ini sedikit besar, bukan? Badan mu cukup kecil dari Arsen. sekarang ibu saja yang akan memilih baju untuk mengganti pakaian mu hari ini, Ya." Ucap Dini
"Ternyata ini bukan baju milikku, Ya. Aku pikir ini baju milikku yang dibelikan paman. Maaf Arsen, Aku sudah membuat kesalahan." Kata Ansel menyesali perbuatannya
Ansel pun pergi ke sebelah lemari yang terdapat semua barang-barang dan pakaiannya. Ia sendiri baru menyadari jika itu adalah lemarinya. Ansel sudah satu bulan tinggal di sana, namun ia sering terkecoh dan hampir lupa dengan ruangan di rumah itu.
"Arsen, Tolong maafkan perlakuan Ansel tadi, Ya. Dia masih kerap kali lupa mengenali barang miliknya. Ibu ingin meminta maaf atas nama Ansel jika dia sering membuat mu kesal." Kata Dini
Arsen tidak menjawab. Dia hanya menatap ibunya dengan nanar. perasaan hangat berkecamuk saat Dini tidak seperti dugaannya. Arsen pikir jika Dini akan menyalahkannya akan sikapnya yang tidak berbagi pada Ansel.
"Ini bajumu. Sekarang kau segera mengganti pakaian mu itu, Ya. Setelah itu, kita akan makan siang bersama, Hem..." Ucap Dini dengan lembut, mengukir senyumnya, dan mengelus pucuk rambut Arsen
"Kenapa? Kenapa dia tidak memarahiku? Dia wanita yang jahat. Dia membuang ku dan ibu Nadine yang membawaku kembali. Tapi kenapa, kenapa aku melihat dia ibu yang baik selama di sini?" Batin Arsen
Arsen pun menatap kepergian Dini dengan nanar. matanya berkaca-kaca seolah hidayah datang untuk menyesali keburukannya yang tidak menyukai ibunya sendiri. Namun, jin jahat selalu datang disaat manusia ingin berbuat kebaikan dan selalu membisikkan kejahatan. Arsen segera menepis pikiran menyesali perbuatannya.
***
Pukul 18.30 WIB.
Arya sudah pulang dari bekerja. Akhir-akhir ini dia selalu pulang lebih awal tidak seperti dulu yang gila kerja dan lebih memilih untuk bekerja sampai tengah malam. Saat ini keluarganya lah yang lebih penting, di rumah ia memiliki istri dan juga anak-anaknya yang ia perjuangkan mati-matian untuk berkumpul bersama. Terutama Dini wanita yang dia cintai, Arya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan menelantarkannya kembali.
"Aku dengar dari Bu Shani jika siang tadi kedua anak kita bertengkar. Apa yang mereka rebutkan?" Tanya Arya
"Ini masalah baju. Saat akan berganti pakaian sepulang sekolah tadi, Ansel mengambil baju milik Arsen untuk dipakai olehnya, saat itu juga Arsen berargumen bahwa itu adalah pakaiannya. Tapi Ansel bersikeras mengatakan itu pakaiannya. Dan untung saja aku bisa melerai pertengkaran mereka, Ansel mengakui kesalahan dengan menyadari itu pakaian kakaknya." Jawab Dini menjelaskan
Arya tertawa kecil. Perbincangannya kali ini sangat menarik untuk di dengar. perlahan Dini mulai membuka diri, Apalagi cerita menyangkut anak-anaknya.
"Ini Bu, Tolong lihatlah!" Ucap Ansel sesampai dihadapan ibunya
"Coba perlihatkan! Apa yang harus ibu lihat?" Sedia Dini membungkuk menyeimbangi tubuh Ansel
"Mainan pesawat terbang ku sayapnya patah." Ungkap Ansel mengadu
"Kenapa bisa?" Timpal Arya bertanya
"Arsen yang mematahkannya!" Mengadu Ansel dengan wajah masam
__ADS_1
Arya malah tertawa melihat raut wajah Ansel yang menggemaskan.
"Apa yang Arsen lakukan pada mainan pesawat terbang itu, Hem?" Tanya Arya sambil tergelak
"Aku memang sengaja menjatuhkan mainannya. Itu sendiri adalah kesalahannya yang menggangguku saat mengerjakan tugas sekolah." Ucap Arsen yang ikut turun dan menjawab pertanyaan Arya
Lalu, menambahkan
"Jika kalian ingin marah, Marahi saja aku. Aku memang anak nakal yang tidak memiliki sopan Arya dan Dini santun." Lanjut Arsen pada
"Kenapa kami harus marah? Di sini bukanlah Arsen yang salah. Ansel sudah banyak mengganggumu setiap kali kau sedang mengerjakan kegiatan mu. Tolong maafkan Ansel sekali lagi, Ya." Bicara Dini
"Ansel, Ayo minta maaf pada Arsen! Kau bersalah karena sudah mengganggu Arsen saat belajar." Lanjut Dini
"Iya benar. Aku yang salah sudah bermain-main di kamar Arsen dengan pesawat terbang ku. Aku juga memiliki tugas dari sekolah, bukannya mengerjakan malah bermain." Menyesal Ansel
"Arsen maafkan aku. Aku sudah mengganggu mu saat belajar." Hampiri Ansel dan mengulurkan tangannya untuk meminta maaf
Arsen hanya melihat tangan yang diulurkan Ansel padanya. Arsen pun menganggap dia juga telah bersalah pada Ansel dengan merusak mainannya itu. ia hanya memberikan tatapan kosong dan setelah itu pergi menaiki tangga kembali ke kamarnya.
"Arsen Tunggu! Ayo kita kerjakan tugas sekolah bersama." Lari Ansel mengikuti dan merangkul Arsen
"Tidak. Nanti bukannya bekerja sama kau yang malah mencontek jawaban ku." Ujar Arsen
"Aku juga sama pintarnya denganmu. Tapi aku akui kau yang paling terhebat. Aku sangat senang bisa berteman dengan mu dan tinggal di sini. Aku baru tahu jika kau tidur tidak bergerak seperti mayat, hehehe..." Pungkas Ansel bercanda
"Kau pikir saat tidur pun harus bermain sepak bola. Aku juga baru tahu jika tidurmu itu tidak bisa diam dan selalu berguling kesana-kemari. Di sekolah dan di rumah kau sama saja tidak bisa diam." Balas Arsen dengan dingin
"Lain kali kau juga harus seperti itu. Tidak baik terlalu kaku seperti ini. Gino pun sering kali mengomentari kepribadian mu."
"Memangnya siapa dirimu yang mengatur hidup ku? Terserah padaku ingin seperti apa. Karena aku sama seperti ayahku!" Ketus Arsen
Ansel hanya tertawa, Dia sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan Arsen yang selalu serius.
Dini dan Arya melihat interaksi mereka tidak luput dari pandangan yang melihat mereka dengan senyuman bahagia.
"Kau lihat itu? Kelakuan anak-anak kita yang sedang bersenda gurau. Ansel mengomentari kepribadian kakaknya yang ku turunkan padanya. Sama seperti yang sering dilakukan Darwin padaku..." Ucap Arya mengingat kenangan indah bersama Darwin saat menjadi keluarga yang baik-baik saja tanpa dihadapkan dengan masalah wanita
__ADS_1
Dini pun ikut tersenyum lebar. Namun, senyumnya pudar kala Arya terlihat sedih mengingat Darwin yang membuatnya merasa bersalah juga.