
Matahari pagi hari saja yang belum menerbitkan diri lebih dulu didahului Dini yang selalu bangun sebelum fajar menyingsing, Hal yang dia lakukan biasanya sering menjalankan ketaatan pada Tuhannya sendiri dengan shalat.
Baru saja bangun dan menyelesaikan ibadahnya, muncul perasaan yang bergejolak dalam perutnya yang ingin segera untuk di keluarkan.
Dini yang tak kuat menahannya lagi segera pergi ke kamar mandi dengan berlari terburu-buru yang mengharuskan ia untuk pergi ke lantai pertama. Dikarenakan kamar miliknya itu kecil dan hanya terdiri ruangan tidur saja tak seperti kamar lain yang sudah satu paket dengan kamar mandi di dalamnya.
Hoeekk...Hoekk
Sejadi-jadinya dia mual dan memuntahkan isi perutnya sisa makanan kemarin. ia tak kuasa lagi membendung rasa pusing dan lemas nya itu yang melanda di saat ia muntah.
Walaupun jarang merasakan mual dan muntahnya lagi, ini pertama kalinya kembali ia mengalami morning sickness di pagi hari.
Seseorang datang membantu Dini yang sedang muntah. Ia mengusap lembut punggung Dini agar memberikan kenyamanan. Arya datang dengan sudah memakai pakaian kantornya memasuki kamar mandi itu dengan perasaan kasihan dan nanar melihat kondisi Dini saat ini.
"Apa kau tidak meminum obat vitamin mu?" Tanyanya setelah Dini selesai mulai mereda
"Aku tidak memiliki obat apapun yang dapat di minum saat kehamilanku." Jawab Dini sedikit sedih
Mendengar pernyataan itu membuat Arya syok.
"Kenapa bisa? Valerie sering sekali meminum obat vitamin agar mencegah rasa mual nya."
"Itu didapatkan dari resep dokter saat memeriksakan kehamilan." Jawab Dini
"Jadi, Kau tidak pernah mengecek kandungan mu pada dokter untuk setiap bulannya? Dan bulan kemarin kau tidak pergi ke dokter?!" Kata Arya yang terdengar membentak
"Tolong jangan marahi saya, Tuan. Saya tidak memiliki uang untuk pergi ke dokter."
Arya menghela napas panjang.
"Itu tandanya kau sering mual dan muntah seperti ini setiap hari?" Tanya Arya
"Tidak, Saya jarang sekali merasakan mual. Dan ini pertama kalinya lagi saya muntah. dulu-dulu saya tidak merasakan gejala ini."
"Kita akan pergi ke dokter." Tegas Arya
"Hum? Ke dokter?" Dini terkejut
"Iya. Untuk memeriksa kandungan mu apakah baik-baik saja atau tidak. Dokter akan memberikanmu edukasi kehamilan untuk mewanti-wanti jika saja mual dan muntah mu ini terjadi."
"Tidak perlu, Tuan. Mual dan muntah wajar saja dialami oleh wanita hamil." Jawabnya
"Aku tidak ingin mendengar kau membantah perintahku. Kau tahu jika aku tidak suka dibantah, kan? Sebelum pergi ke perusahaan aku akan menyempatkan diri untuk pergi ke rumah sakit nanti." Arya memaksa
"Tapi, Tuan?..."
"Tapi, Apa? Kau masih ingin membantah dan menderita sendiri terus menerus muntah seperti ini? Kau tenang saja aku akan mengantarkan mu kembali ke rumah bukan meninggalkan mu di tengah jalan setelah selesai nanti." Kata Arya sedikit penekanan dalam bicaranya yang membentak
Dini yang merasa tersentak pun hanya diam menunduk.
Arya pun berbicara kembali,
"Jangan selalu memancingku untuk bersikap kasar padamu. diuntungkan saja kau sedang hamil anakku saat ini, jika tidak aku akan melakukan kekerasan padamu lagi." Ujar Arya langsung pergi meninggalkan Dini
Dini dan Arya berjalan bersamaan dengan Dini yang dibelakangnya menuju luar rumah.
__ADS_1
Perjalanan mereka tak semudah saat ingin pergi keluar untuk menyiram tanaman. Di sana datang polisi yang sedang beroperasi menertibkan pasangan di rumah.
"Kalian akan pergi kemana?" Katanya menghentikan langkah mereka berdua
Sejenak mereka berhenti.
Lalu, Valerie bertanya kembali,
"Ini masih pagi dan kalian sudah rapi dengan pakaian kalian." Ujarnya berlanjut
"Em... Kami tidak akan lama untuk pergi menemui ibu. Dia baru menelepon untuk aku dan dia segera datang ke mansionnya." Ucap Arya menjadikan ibunya sebagai alasan
"Kenapa aku tidak diajak?" Iri nya
"Ibu hanya meminta kami berdua untuk datang. Ia menyarankan mu yang sedang tengah hamil besar untuk berdiam diri dan istirahat saja. Takut jika terjadi sesuatu pada kehamilanmu nanti." Kata Arya
"Aku hamil, bukan lumpuh! Aku masih bisa berjalan walaupun perutku membesar." Gertak Valerie
"Tapi kau akan lelah nanti. ibuku saja mengerti bagaimana kondisi saat hamil karena dia sudah berpengalaman darimu. lain kali kita akan pergi berdua ke sana jika kau sangat menginginkannya." Bujuk Arya menghampiri Valerie sambil memegang kedua bahunya
"Kau berjanji tidak akan macam-macam pergi berdua dengan dia?" Kata Valerie yang luluh
"Kau sangat tahu aku bagaimana, bukan? mana mungkin aku berani melakukan sesuatu dengan wanita kampungan itu, jika bukan hanya karena ibu aku tidak akan pergi bersama dia, dan memilih pergi denganmu saja." Kata Arya
"Aku percaya padamu. Kau bisa pergi." Memberi izin Valerie
Arya pun mengecup kening Valerie dan mengelus perutnya sekilas sebelum pergi setelah membohongi Valerie.
Dengan tatapan tajam ia melihat Dini yang sekilas melirik ke arahnya tadi. Hal itupun tak luput dari pandangan tajamnya saat punggung Arya dan Dini menjauh darinya.
Keduanya berada di mobil, dalam keadaan hening. tak ada yang ingin memulai pembicaraan lebih dulu selama perjalanan menuju rumah sakit.
Setelah menemui resepsionis untuk mendaftarkan nama Dini yang akan berobat. mereka menunggu lebih dulu di ruang tunggu sebelum mereka dipanggil untuk memasuki ruang pemeriksaan.
Pagi hari sekali dan baru saja dibuka, rumah sakit itu sudah sibuk melayani orang yang berobat. kebetulan Dini akan pergi ke dokter kandungan, selain dia di sana ada beberapa ibu hamil lain bersama suaminya yang menunggu giliran.
Hari ini ia sangat bahagia sekali. Karena melihat wanita hamil sama seperti dirinya ditemani pergi ke dokter kandungan bersama suaminya. Sama halnya dengan Dini yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya ia akan pergi ke dokter kandungan bersama Arya.
Dengan senyum manis ia melirik dan menatap wajah Arya yang terlihat dari samping sedang fokus berdiam duduk setia menunggu istrinya mendapatkan panggilan untuk masuk.
Arya yang memiliki wajah dingin dan cuek itu sama sekali tidak memiliki raut wajah apapun. Wajahnya sangat datar sekali di manapun dia berada.
Dini yang masih belum memalingkan tatapannya dan senyumannya yang terus mengembang menatap Arya. Kepergok oleh Arya yang melirik ke arah Dini dan terkejut kala ia sedang menatap dirinya begitu lekat dengan senyum manisnya itu.
"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu." Suara Arya memalingkan wajah Dini ke arah lain
"Agh... Maaf." Sepertinya dia melamun dan seketika wajahnya memerah akibat malu
"Apa ada yang salah dengan wajahku? Aku tahu wajahku sangat tampan dan kau tidak perlu menatapku seperti itu." Bukannya marah, Arya malah merespon dengan tawaan kecil
Dini masih menunduk dengan wajah memerahnya itu. Ia benar-benar malu saat ini.
"Nona Dini...!" Gema panggil suster yang tandanya memanggil Dini untuk segera masuk ke ruang pemeriksaan
Setelah gilirannya dipanggil untuk masuk, mereka berdiri dan segera masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
"Nyonya Dini!" Tekan Dokter saat mereka masuk
__ADS_1
"Saya Dokter." Jawabnya silakan
"Silakan duduk." Titah Dokter wanita muda itu
Mereka pun duduk.
"Eh, Sepertinya saya mengenali anda, Nona. Bukankah saat itu anda juga datang bersama ibu mertua dan suami anda saat belum mengetahui kehamilan." Ucap Dokter muda itu yang mengenali Dini karena ia saat itu dokter tersebut yang mendiagnosa jika Dini hamil
Dini yang mengingatnya pun mengangguk.
Sedangkan, Arya kebingungan suami apa yang dimaksud dokter itu. Padahal ini baru pertama kalinya ia pergi ke rumah sakit dan bahkan mengantar Dini ke dokter kandungan.
"Lho,,, Kenapa wajahnya berbeda? Saya ingat jika wajah suami anda bukan seperti ini, Nona Dini." Kata Dokter seketika membuat Arya tertekan dokter itu sudah berani mempermainkan wajahnya
"Em... Sebenarnya Dokter, kemarin itu adalah adik ipar saya. mungkin karena suami saya sibuk dan keluarga saya khawatir dalam keadaan genting, mereka beralasan dengan mengatakan pada dokter jika ia adalah suami saya. Tolong maafkan Keluarga kami..." Jelas Dini
"Owh, Baiklah, Tidak apa-apa. Itu tidak menjadi masalah sekarang karena saat itu orang pertama yang harus mendengar kabar baik itu adalah suami yang akan menjadi seorang ayah. Yang terpenting anda sudah memberitahukan pada suami anda tentang kehamilan saat ini padanya." Ujar dokter itu
Entah kenapa Arya sedikit mengepal tangannya saat mengetahui suami yang dimaksudkannya itu ternyata Darwin.
"Baiklah, kita akan memulai pemeriksaanya terlebih dahulu. Apa keluhan yang dirasakan saat ini, nona Dini?" Tanya dokter itu menganamnesis
"Tadi pagi dia mual dan muntah Dokter. Setelahnya dia pun lemas dan pusing. Apa kandungannya baik-baik saja?" Kata Arya yang menjawab
"Hmm... Sekarang silakan untuk berbaring. Saya akan mengecek terlebih dahulu, Apakah ada komplikasi masalah yang serius diderita." Titah Dokter
Dini pun langsung berbaring di ranjang pemeriksaan. Yang langsung dilakukan pemeriksaan oleh Dokter.
Tak lama kemudian dokter selesai memeriksa. mereka pun kembali duduk.
"Bagaimana apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Arya yang terlihat antusias untuk bertanya dan mengetahui jawabannya
"Tidak ada masalah yang serius pada kandungan, Nona Dini. Morning sickness atau emesis gravidarum adalah rasa mual yang muncul pada wanita hamil terutama di pagi hari atau diwaktu tertentu. Kondisi mual dan muntah yang dialami oleh ibu hamil trimester awal, 3 bulan pertama kehamilan adalah keluhan yang umum terjadi selama masa kehamilan, Tuan. Anda tidak perlu khawatir dengan kehamilan muda istri anda saat ini." Jelas Dokter
Perasaan Arya pun sangat lega mendengar pernyataan dari dokter.
Dokter pun menambahkan,
"Saat pemeriksaan tadi bayinya pun sehat dan kuat. Meski begitu, anggapan mengenai mual muntah saat hamil pertanda janin kuat tidaklah sepenuhnya benar. Sebab, ibu hammil yang jarang atau tak mengalami mual sama sekali belum tentu tidak memiliki janin yang kuat dan aktif. Begitupun sebaliknya, ibu yang mengalami morning sickness belum tentu memiliki janin yang kuat. Jika ada masalah lain yang timbul di masa kehamilan, sebagai calon ayah dan ibu harus sering memeriksakan kehamilan setiap bulannya agar kita bisa tahu bagaimana kondisi perkembangan dan pertumbuhan si janin." Ucap Dokter
"Saya akan usahakan untuk membawanya setiap bulan untuk mendapatkan pemeriksaan." Kata Arya
"Anda seorang calon ayah yang baik." Salut Dokter itu
Lanjutnya berkata,
"Jika kalian ingin melihat calon anak kalian saat ini, Kita bisa lakukan pemeriksaan USG pertama untuk mengetahui kondisi awal janin saat ini juga." Usul Dokter
Dini dan Arya saling bertukar pandangan.
"Emm... Tidak dulu. Saya belum siap untuk terharu seperti ayah lainnya." Jawab Arya bukan tak ingin, dia sangat ingin sekali namun tak bisa membayangkan bagaimana jadinya
"Baiklah, saya mengerti perasaan Tuan yang akan segera menjadi seorang ayah. Lain kali saja kita lakukan pemeriksaan USG selanjutnya yang bisa dilakukan saat usia kandungan memasuki usia 20 minggu." Ucap Dokter
Sepasang suami istri itu mengangguk.
"Baik, Ini resep obat untuk mencegah mual muntah dan menguatkan kandungan yang bisa ditebus di depan." Ucap Dokter memberikan resepnya
__ADS_1
"Baik, Terima Kasih, Dok." Jawab Dini
Keperluan mereka di rumah sakit pun selesai. Mereka pulang setelah menebus obat.