Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 113 - End : Akhir Dari Segalanya


__ADS_3

2 Tahun Kemudian...


"Lakukan misi terakhir mu, Lucas!" Suara orang bersiasat terdengar kembali


Cekrekk...


Suara pelatuk yang ditarik yang bersiap untuk menjalankan asal muasal bagaimana ia diciptakan manusia.


Lucas keluar dari markas dan segera menghubungi bawahannya.


Kill...


Suara perintah dari walkie talkie yang memberikan informasi selanjutnya.


Di suatu tempat, mereka sedang menjalankan aksi membawa seseorang untuk di bawa kehadapan Tuannya.


"Buka penutup kepalanya!" Titah Lucas


Penutup sudah terbuka dan mendapati Arya yang terdapat luka sobek di pipi kirinya.


Di saat itu juga, Anak buah lain membawa seorang wanita masuk.


Masuk!


Dini. Terpisah hampir 2 tahun lebih lamanya dengan Arya. Ia terperangkap dan Arya terkurung dalam penjara. Perasaan hangat, rindu, ingin memeluk ada! Apa daya Dini sudah tidak berarti lagi bagi Arya, ia sudah tak bisa memeluk suaminya yang akan kesakitan dibuatnya.


Saat penutup kepala itu berhasil dibuka, Arya mendongakkan kepalanya dan menatap siapa yang datang. Ia terkejut, Wanita yang sangat dirindukan berbulan-bulan lamanya hingga genap 2 tahun. Mereka saling menatap dengan sedih.


Dengan mata yang sendu, bercucuran air mata mereka saling menatap haru satu sama lain. Tatapan mereka masih berarti dan ada artinya lagi. Tapi tubuh mereka, saling menolak tak berarti.


"A-Arya!!?" Lirih Dini pelan


Muncul lah memori ingatan Dini bersama Arya, dari penghinaan, kekerasan, kekejaman, bahkan memori yang berharga, ia mendapatkan cinta dari Arya. Namun, sekarang terpatahkan kembali.


"Ayo kita menikah!" Momen pada saat Arya di bandara, dan ingin memulai hubungan mereka dari awal dengan mengajaknya kembali menikah


"Ayo nikah!" Ujar Arya dengan tersenyum padanya


Dini beralih menatap Lucas dengan air mata dan Lucas yang menatapnya dengan Smirk.


"Siapa yang sudah menyuruhmu melibatkan dia, Hah?" Teriak keras Dini dengan aliran air matanya


Arya hanya menatap Dini yang sedang membela kepedulian padanya. Ia tengah berusaha memberontak ingin dilepaskan.


Lucas tersulut emosi karena dia sudah dibentak. Dia berdiri dengan amarah dan menodongkan pistol pada wajah Dini.


Arya memberontak agar bisa lepas dari ikatan. Ia tahu bahwa Dini dalam bahaya saat Lucas menodongkan pistol padanya. Apalagi jaraknya sangat dekat sekitar 4 cm dari wajahnya. Ia ingin menolong cintanya walaupun tidak akan bisa menyentuhnya.


"Lepaskan dia sekarang!!" Teriak Dini lagi


Todongan pistol itu semakin dekat di wajah Dini hingga terasa dinginnya benda itu.


"Arrrrghhh...!! Jangan sentuh dia!!" Teriak Arya terus memberontak agar bisa lepas


Lucas mundur dan duduk kembali di singgasananya. Tertawa Smirk pada kedua orang dihadapannya yang tengah menderita tersudutkan.


"Emm... Suamimu akan dilepaskan setelah dia mengeksekusi mu!" Ujar Lucas duduk dan tidak menodongkan pistol nya lagi


"Apaa??" Pekik Arya tidak akan mungkin


Lucas menatap ke arah Arya dengan tatapan angkuh. Wajahnya terlihat linglung, dan Lucas senang akan hal itu.


Dini sempat terkejut, namun ia rela dan segera menepisnya.


"Lalu, tunggu apa lagi. Ayo selesaikan ini dengan cepat!" Nada nanar Dini berkata


"Apa kau gila?" Teriak Arya tak habis pikir pada istrinya


"Kenapa? Sudah ku katakan jangan jatuh cinta padaku!" Kata Dini beralih menatap pria yang masih menjadi suaminya


Lucas menatap mereka dengan tatapan mengejek. Melihat kedua insan yang sedang berdebat dan sebentar lagi akan berpisah. Ia akan berhasil memisahkan cinta diantara mereka.


Lucas memeletkan lidahnya, menghina. Suatu kesaksian yang penuh dengan cinta di dalamnya ia saksikan secara langsung.


"Karena kau pasti akan terluka seperti saat ini!" Ujar Dini menatap Arya dengan berbinar-binar

__ADS_1


"Selama aku masih bisa melihatmu! Aku baik-baik saja." Ujar Arya menyentuh hati


Dini tertegun. Tersentuh hati atas ucapan Arya. Namun, tidak ada gunanya lagi.


"Tolong jangan menambah beban ku, dan segera lakukan ini dengan cepat!" Geram Dini dengan sedih, dan wajah yang sudah penuh dengan basah air mata


"Tolong akhiri penderitaan ku! Aku mohon!" Lirih Dini meminta terdengar sesak


"Ini yang terbaik dan demi anak kita." Lirihnya kembali


Arya hanya menatap Dini dengan napas yang tidak stabil. Sehingga terlihat dari mulutnya yang terbuka kecil, merasa sakit dan sesak, sampai bernafas melalui mulut. Menatap Dini nanar. Bagaimana mungkin ia mengeksekusi wanita yang dicintainya.


Selagi mereka tidak bersama, dan asalkan Arya masih bisa melihat Dini, Ia akan baik-baik saja. Lalu, bagaimana jika Dini tiada, artinya Arya tidak akan bisa melihatnya. Pertanyaannya, Apakah Arya akan baik-baik saja?


Seseorang membuka ikatan tali yang mengikat tangannya di kursi. Lalu, menyeretnya ke hadapan Lucas dan Dini jarak jauh darinya.


Lucas berdiri dengan angkuh mengibaskan jasnya. Dan memberikan pistol pada Arya.


"Pegang ini! Tarik pegasnya tepat pada sasaran. Kau harus melakukan ini anak baik!" Menatap Arya dengan sombong, dan menyunggingkan bibirnya


Arya hanya menatap Lucas dengan Elang. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya.


"Cepat lakukan sekarang juga!" Setelah itu, Lucas mengundurkan diri menyisi ke samping untuk memberi ruang luas agar Arya bisa menembak


Arya menaikkan pistolnya sangat berat dan gemetar dengan tangan kiri membuat bidik sasaran tepat mengarah pada Dini.


Dini sudah bersiap dari tadi. Ia tak hentinya bercucuran air mata. Dan wajah terlihat basah oleh tangisannya sendiri.


Saat ini semua orang sedang meminggirkan diri untuk menyaksikan mereka. Mereka sedang melihat, antusias bak tontonan acara televisi adegan action.


Arya dan Dini saling berhadapan dan saling menatap satu sama lain, mengenang masa-masa bersama mereka yang indah, berlalu selama bertahun-tahun terasa singkat.


Cukup lama tidak terdengar sama sekali suara tembakan karena Arya enggan untuk melakukannya. Dia masih menatap wajah wanita yang masih menjadi istrinya saat ini, mungkin untuk dikenang terakhir kali menatap raga istrinya, betapa cantik wajah istrinya.


Linangan air mata terus membasahi antar mereka.


Satu sedang bersiap untuk merasakan kesakitan akhir demi kedamaian, dan yang satu bersiap untuk mengeksekusi nya.


Manusia yang tidak berguna hanya sebagai penonton, cukup merasakan ketegangan. Sedangkan Lucas sangat geram, Arya belum melakukan tembakannya.


Dengan memberikan isyarat menggerakkan alisnya naik turun, menganggukkan-anggukan kepala tanpa merasa perbuatan ini tidak berperilaku kemanusiaan. Lucas terus mendorong Arya agar segera menembak dari kejauhan.


Suasana semakin sunyi dan mencekam. Dunia malam dan dingin di atas Rooftop, mendinginkan tubuh mereka.


Pada akhirnya...


Tidak ada pilihan lain...


DOORR...!!


Bunyi tembakan sudah terdengar dan mengenai tepat sasaran.


Arya sudah menembak!


Senjata Api itu ternyata ditarik juga hingga mengeluarkan peluru!


Burung-burung yang tengah tidur, langit yang membentang, awan yang tengah maju dalam kegelapan, angin malam yang seliweran, Rooftop yang menjadi saksi, menyaksikan betapa kejamnya pistol itu.


Peluru itu tepat mengenai area T-Zone. T-Zone adalah area pada wajah yang membentang di bagian dahi serta hidung dan berakhir di dagu. Inilah bagian yang disebut 'T-Zone'. Yaitu bagian tubuh yang tidak akan merasa sakit saat ditembak. Jika ditembak di area itu, Akan menghancurkan medulla oblongata. Begitu medulla tersebut hancur, orang yang ditembak akan langsung pindah alam tanpa merasa sakit.


Arya sengaja tidak menembak Dini di anggota tubuh area lainnya karena istrinya nanti akan merasakan sakit. Ia tahu akan hal itu!


Sekilas darah memuncrat keluar dari area wajahnya. Wajahnya bersimbah akan darah segar yang mengalir. Wajah cantik yang tak bosan untuk dipandangi itu, kini telah penuh dengan darah!


Matanya berkunang-kunang hingga buram tak dapat nampak jelas seisi dunia lagi. Hanya merasakan bayangan pria yang tengah berlari menghampirinya.


Dini terkulai lemas, tubuhnya melayang untuk tumbang. Tergeletak di lantai merasakan dinginnya angin malam.


Prakk...


Pistol dijatuhkan begitu saja saat sudah digunakan dosa untuk menembak.


Arya berlari dengan cepat untuk menangkap Dini.


Lucas dan anak buahnya pergi meninggalkan tempat itu, tak peduli, dengan angkuh dan puas.

__ADS_1


Dini tersesak-sesak, untuk sakaratul maut, sudah tergeletak di lantai. Dia dalam setengah kesadaran. Untuk terakhir kalinya Dini senang masih bisa melihat wajah Arya dengan jarak dekat. Dan pangkuan yang membuatnya nyaman.


"Hh--ha-haahh..." Suara napas Dini terdengar sesak. Namun, terdengar lega.


Arya sedang memegang wajah istrinya. Tak peduli rasa sakit saat menyentuhnya. Ia terus mengelus lembut wajah Dini. Tanpa ekspresi dan menangis, penuh penghayatan ia masih menangkap situasi kondisi saat ini. Apakah ini benar terjadi? Aku harap segera terbangun dari mimpi tidurku.


Dini semakin tidak kuat menahan rasa sakit ini, dan tidak bisa lagi menahan kesadaran untuk tetap menatap suaminya. Ia harus segera berpindah alam.


"Selamat tinggal! Terima kasih untuk hari-hari mu! Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu dalam hidupku. Aku mencintaimu, ARYA!" Ucap Dini dalam hati tidak kuat lagi. Sayangnya Arya tidak bisa mendengar ucapan terakhir istrinya. Namun, sedari tadi Dini terus berusaha untuk mengeluarkan suara, tapi diakhir dia hanya memberikan senyum lebar untuk terakhir kalinya pada dunia.


Srett...


Perlahan... Dia menutup mata! Dan tidak bernapas lagi. Kepalanya terjatuh menoleh ke samping di pangkuan Arya. Tangan yang sempat berat diangkat untuk menyentuh pipi suaminya, jatuh seketika belum sempat menyentuh tergeletak di lantai yang dingin.


Melihat Dini tak membuka mata lagi, napas di perut yang tak naik turun lagi, Tubuh yang semakin dingin, lemas terbujur kaku. Arya masih menepis situasi kondisi ini. Hingga ia tersadar, Dini sudah pergi selamanya. Membuat tangis Arya pecah dan berteriak.


"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA....!" Sesalnya berteriak sangat panjang, terpukul, rasa sesak, dan sakit hati menyerang ditinggalnya Sang Istri


Teriak dan tangis histeris meratapi kepergian Dini. Berteriak pada dunia, mengapa sekejam ini. Teriakannya sangat mengkhawatirkan, dunia pun akan ikut sedih mendengarnya.


...***...


3 Tahun Kemudian~


Sudah 3 tahun kepergian Dini.


Arya sedang berdiri di makam Dini. Menatapnya penuh makna dengan atasnya penuh bunga, dan bunga mawar bouqet di depan nisannya.


Bunga mawar menjadi identik cinta mereka. Mereka berawal bertemu dari sebuah bunga mawar yang mengantarkan pertemuan mereka menjadi menikah, bunga mawar adalah ciri khas keluarga Dini, menjadi mata pencaharian keluarganya dulu untuk bertopang hidup.


Siapa sangka, Bunga mawar itu sekarang mengantarkan tuannya dengan menaburinya yang sedang ada di bawah terkubur oleh tanah, menjadi lebih tinggi bisa menapak tanah di atasnya. Menemani siang dan malam bersama rumput liar yang sewaktu akan dibersihkan.


Makam keluarga. Di buat, dan akan dikunjungi setiap kali merindukannya, ingin segera berkumpul bersama mereka di bawah. Ke rumah mereka yang indah sebenarnya. Arya, tak bosan berdoa untuk segera berharap menyusul istri dan keluarga yang lain.


Tak ada yang bisa ia lakukan, tak bergairah menjalankan harinya, hanya menyisakan orang tuanya, ia, dan anak-anak. Hanya anaknya lah yang menjadikan alasan untuk bertahan hidup, bersabar hingga mimpi satu-satunya di dunia ini untuk meninggal segera tercapai!


Tak ingin lagi bermimpi menjadikan perusahaannya lebih besar dan memiliki banyak uang. Semua itu sudah tidak berharga lagi baginya.


"Ayahh...!!" Suara anak kecil yang menghampiri


Arya tersenyum menatap anak kecil yang tengah berlari itu. Berlutut untuk menyeimbangi ukuran tinggi badannya.


Arya menatap 2 putra beranjak remaja dan satu putri kecil dengan senang, tersenyum pada mereka.


Mengelus lembut pucuk rambut 3 anaknya. Menatap masa depan di manik mereka yang akan dihadapi tanpa dampingan seorang ibu.


Saat melihat putri kecilnya yang masih berusia 5 tahun. Arya memandanginya dengan tersenyum bahagia. Ia melihat Dini di wajah putrinya.


"Kau sangat cantik seperti ibu mu!" Ucap Arya pada putri kecilnya


Putri kecilnya, Aleena. Itu hanya menatap Ayahnya tanpa berbicara dan hanya tersenyum memegang boneka kesayangannya.


Seperti menghadiri kehadiran mereka, bayangan nyata atau tidak. Tatapan Arya beralih pada sisi lain yang seolah Dini hadir di sana, seorang wanita berbaju putih yang tengah berjalan dengan senyum manisnya menatap Arya, menyaksikan kedatangan suami beserta ketiga anaknya di sana dengan tersenyum penuh bahagia menatap mereka. Ia terlihat sehat, tidak sedih, tidak sakit, tidak menderita, dan sangat bahagia. Bahkan sangat cantik wajahnya bercahaya.


Arya yang melihat kehadiran Dini yang seolah nyata, tersenyum bahagia juga melihat istrinya.


Dini seolah tersenyum bangga pada Arya. Dari atas dia sudah melihat perubahan Arya yang sudah berusaha menjadi ayah yang baik untuk ketiga anak tanpa kehadiran seorang istri untuk merawatnya bersama-sama. Seolah dia datang untuk memberikan apresiasi pada suaminya.


Selamat! Kau berhasil melalui semua perjalanan di dunia ini.


Nyata atau tidak, wujud asli atau bukan, Arya senang bisa melihat istrinya hadir dan tersenyum padanya.


"Ayo kita pulang!" Bicara lembut Arya mengalihkan pandangan menatap pada ketiga anaknya


Berjalan saling menuntun satu sama lain. Meninggalkan makam Dini pergi pulang dari tempat itu. Berjalan menghampiri masa depan yang masih banyak harus dilaluinya hingga ajal menjemput membuat mereka berkumpul kembali di tempat yang abadi.


Arya bersiap untuk memulai hidup yang baru bersama anak-anaknya tanpa seorang istri dan ibu.


Perlahan ia bisa menerima kenyataan bahwa istrinya saat ini sudah tiada untuk selamanya. Namun, kehadiran, kenangan, dan kebersamaan yang sempat mereka ukir, Tidak akan hilang. Senantiasa akan Arya kenang untuk selamanya!


Seorang Ibu menutup mata untuk terakhir kalinya, tetapi hari itu juga seorang anaknya membuka mata untuk pertama kalinya.


"Inilah akhir dari perjalanan hidup ku!"


"Akhir untuk segalanya..."

__ADS_1



...~End~...


__ADS_2