
"Ini adalah hari pertamaku bekerja menjabat sebagai CEO di perusahaan milik kakak. Kontribusi apa yang akan ku lakukan agar bisa membuat kakak yakin akan kemampuan diriku?"
"Masalah gawat, Presdir." Ujar sekretaris yang tiba-tiba masuk dengan napas menderu-deru dan raut wajah khawatir
"Kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Darwin terkejut
"Ini masalah yang sulit, Presdir. Para petani berdemo tidak ingin menjual tanaman mereka pada perusahaan kita, itu akan berdampak buruk bagi pemasokan barang pada perusahaan ini. Jika para petani tidak menjual tanaman mereka lagi pada kita, lantas selain pendapatan kita akan berkurang, perusahaan akan mendapat kesenjangan, Para klien yang sudah tergabung akan komplain pada kita."
"Apa yang membuat mereka mengundurkan diri untuk tidak menjual tanaman mereka pada kita?"
"Ini disebabkan oleh pemilik usaha kecil-kecilan yang sukses di bidang pertanian yang sama menjual bunga mawar dan bunga lainnya. Dikabarkan peningkatan permintaan dari konsumennya meningkat, sehingga mereka keteteran tidak bisa memenuhi permintaan mereka karena kekurangan petani yang ingin menjualnya pada mereka.sehingga agar mereka bisa memenuhi permintaan itu, kemarin baru saja dibuat ultimatum bahwa mereka berani membeli bunga mereka yang di bandrol 25.000 per pohonnya.itu yang menjadikan petani kita berbondong-bondong untuk menjual tanaman mereka pada orang lain."
"Berapa perusahaan membeli tanaman mereka?"
"Sebelumnya tidak ada pembisnis lain yang membeli dengan melebihi harga dibadrol sekitar 10.000 untuk per pohonnya."
"Untuk mengatasi kesenjangan ini, kita akan menaikkan harga yang sama agar tidak membuat mereka terkecoh dengan harga yang lebih tinggi."
"Kenapa Presdir tidak membandrolnya dengan harga yang lebih tinggi di atas 25.000? Dengan begitu semua petani akan menjual barangnya pada kita, dan pendapatan perusahaan akan meningkat, kebutuhan konsumen pun terpenuhi."
"Ini adalah keuntungan yang adil. semua pembisnis pantas untuk mendapatkan pelanggan dan distributor pada mereka. Jika kita hanya mengandalkan perusahaan kita sendiri tanpa melihat pengusaha lain, apa bedanya kita dengan orang serakah? Walau bagaimanapun kita harus bersaing secara sehat."
"Anda benar-benar baik hati dan sangat mengagumkan, Presdir. Jarang sekali seorang pemimpin memiliki pemikiran yang realistis sampai masih memikirkan orang lain." Puji sekretarisnya
"Itu hal biasa. Di luaran sana banyak sekali para pemimpin perusahaan yang sangat cerdas dalam setiap tindakannya untuk membangun perusahaan milik mereka." Rendah hati Darwin
"Saya salut dengan anda." Kagum sekretarisnya
"Tapi sebelum itu, aku akan mendiskusikan hal ini dengan kakakku. Walau bagaimanapun dia adalah pemilik perusahaan ini yang sebenarnya, dan dia masih paling berwewenang. walaupun secara kenyataan aku adalah CEO di sini, tapi dia yang paling berhak. Akan ku tanyakan masalah ini dan keputusan ku pada Presdir kalian dulu Arya. Setelah itu, kita akan mengambil tindakan sesuai keputusannya nanti."
"Baik, Presdir. Dan sebelum itu, saya akan mencoba meyakinkan dengan mengatasi masalah ini sambil menunggu perintah dari anda kembali."
"Tidak Perlu! Dalam waktu 24 jam, semua petani tidak akan mungkin bergabung dengan orang lain.sebelum bertemu Presdir utama kalian, Aku ingin mencoba untuk berbicara pada pemilik perusahaan itu agar mereka bisa menstabilkan harga kembali walaupun ditengah permintaan yang tinggi. Aku ingin tahu dengan mengunjungi perusahaan itu." Pinta Darwin
__ADS_1
"Pengusaha itu bukan berbentuk perusahaan dengan gedung tinggi seperti kita.tapi, hanya sebuah lahan luas yang ia garap dengan mempekerjakan orang di dalamnya."
"Aku akan ke sana untuk terjun langsung melihat tempat yang kau maksud itu."
"Baik, Presdir. Mari saya akan antar, dari sini tidak begitu jauh."
"Iya, Ayo!" Pergi Darwin
...***...
"Jalannya sangat becek karena tidak beraspal. Maka dari itu hati-hati, Presdir. Sepatu dan jas anda jadi kotor." Ujar Sekretaris yang mengantar Darwin pergi ke tempat yang akan membawanya dalam takdir baru
"Tidak masalah, Namanya kebun pasti Seperti ini. Aku bisa menggantinya nanti." Ujar Darwin
"Itu dia tempatnya, Presdir." Sambil tunjuk nya yang direspon Darwin dengan dingin dan segera terus berjalan untuk berada di tempat itu
"Permisi!" Bicara awal Darwin menyapa
Darwin mengenali wanita orangtua itu saat menampakkan wajah yang sangat jelas dilihat olehnya.
"Ibu Lia??" Kata Darwin tertegun
"Nak Darwin? Anda ada di sini?" Kata Bu Lia yang masih mengenalinya juga
"Ibu sedang apa di sini?" Tanya Darwin balik bertanya
"Kebetulan ini kebun milik suami ibu. Sesekali ibu sering datang ke sini untuk melihat usaha yang Alhamdulillah sedang naik." Ujar Bu Lia
Darwin beralih pada sekretarisnya dengan berbicara.
"Apa kau yakin kebun ini yang kau maksud tadi, pengusaha yang menaikkan harga pembelian itu?" Bisik Darwin pada asistennya
"Iya, Presdir. ini tempatnya. Memangnya ada apa?" Jawab sekretaris itu berbisik
__ADS_1
Bu Lia hanya mengerutkan dahinya karena heran dengan kedua perbincangan anak muda yang saling berbisik.
"Ada apa, Nak Darwin? Belum saja lama saya bertemu dengan anda, Hari ini saya bertemu lagi dengan anda. Bahkan di kebun seperti ini, Bagaimana anda bisa di sini?"
"Bu Lia adalah ibunya Dini. Dia belum mengenal siapa aku sebenarnya yang merupakan adik dari menantunya.masalah yang ku hadapi saat ini sangat sulit, aku tidak mungkin mendiskusikan masalah harga yang mereka tawari pada petani di saat kami saling terikat akan hubungan keluarga." Gumam Darwin
"Nak Darwin? Anda seperti melamun, Ada apa?" Tanya Bu Lia lemah lembut
"Ah,,, Tidak ada. Saya kebetulan tidak sengaja mengunjungi tempat ini.karena suasana sekaligus pemandangannya sangat indah dan asri, saya dengan ditemani Sekretaris mencoba untuk berjalan-jalan sebentar melihat pemandangan di sini." Ujar Darwin lain kata lain hati
"Oh seperti itu. Dan kebetulan dari sebuah jalan-jalan sebentar, Saya bertemu dengan anda kembali." Ujar Bu Lia
"Iya. Saya tidak menyangka akan hal ini dapat bertemu dengan ibu."
"Sayangnya Dini tidak ada bersama kami di sini, Dia sudah men--." Bicara Bu Lia terhenti karena Darwin menyela bicaranya
"Saya tahu! Ibu tidak perlu menjelaskannya." Sela Darwin dengan spontan nada sedikit tinggi karena sudah menyangka jika Bu Lia akan berusaha menjelaskan padanya jika Dini sudah menikah dan bersama dengan suaminya yang tidak melainkan kakaknya sendiri
Mendengar kata menikah dan sudah memiliki suami yang sudah tersematkan pada Dini.membuat perasaannya sendiri tidak bisa menerima kenyataan itu, pasti saja akan membuat dirinya sangat sakit hati hancur berkeping-keping.
"Rupanya anda sudah mengetahui segalanya.mungkin karena kalian saling mengenal dan dekat, sehingga Dini sudah menceritakan banyak hal pada anda." Kata Bu Lia yang semakin membuat Darwin murung
Bu Lia tidak tahu jika mereka sama sekali tidak dekat, dan Dini tidak bercerita apapun padanya. Pertemuan mereka terlalu singkat, Sampai ingin bersatu pun sudah didahului oleh orang lain.
"Emm,,, sepertinya saya sudah puas menikmati pemandangan di sini. Jika begitu saya akan kembali saja untuk melanjutkan keperluan lain." Kata Darwin berpamitan akan pergi
"Iya, Nak Darwin. Saya senang bertemu dengan anda yang tidak sengaja ini." Kata Bu Lia
"Saya juga senang bertemu Bu Lia.saya sudah tahu ini adalah kebun ibu dan suami, kapan-kapan saya akan datang untuk berkunjung."
"Saya tunggu, Nak Darwin." Jawab Bu Lia yang ramah dan terbuka memberi kesempatan pada siapapun
Darwin pun memutuskan untuk pergi setelah perjalanan yang lumayan cukup jauh dari perusahaannya. Dan setelah sampai pada tempat yang ia ingin tuju, seketika dia mengetahui kenyataan baru yang datang terus bertubi-tubi menghampiri sampai melupakan tujuan sebenarnya dia datang.
__ADS_1