
Arya sudah bertekad akan membuat hari ini menjadi hari paling menakjubkan bagi Dini.
Setelah selesai memakan puding kelincinya, Arya berdiri dan meraih tangan istrinya lagi, "Ayo kita naik bianglala sekarang, ini sudah giliran kita." Serunya dengan senyuman. Entah kenapa kali ini Arya banyak tersenyum
Arya penasaran bagaimana reaksi Dini nanti saat menaiki bianglala itu, pasti Dini akan berteriak dan mencengkeram tangannya, bersandar di pundaknya dan hal itu sangat dinantikan oleh Arya tentunya.
Satu-satunya keinginan Arya dalam segala rencananya hanyalah agar Dini menempel padanya atau bersandar dan membutuhkan nya.
Mungkin karena ini kali pertama bagi Arya merasakan ketertarikan yang begitu besar kepada seorang wanita bahkan saat mereka saling membenci, Arya membuat semuanya terasa sulit.
"Ayo cepat kita naik ..." Seru Arya sembari menuntun Dini memasuki rumah hantu
Apalagi saat mereka berada di puncak, lalu bianglala tiba-tiba berhenti, memang disengaja oleh Arya.
Lalu ...
Kreatt...
Terdengar suara dari bianglala yang mereka naiki dan mengguncang mereka akibat bergetar.
"Sempurna, bagus sekali!" Gumam Arya bersemangat
Ya, tadi Arya sembari membeli tiket berpesan kepada pihak tukang untuk bekerja sama membuat bianglala nya berhenti sejenak saat dipuncak dan sedikit diberikan guncangan.
Setelah beberapa saat berada di puncak.
bianglala mereka langsung turun ke bawah dengan sangat tiba-tiba.
"AAAAAAA!" semua orang yang juga menaiki langsung berteriak sekuat yang mereka bisa
Arya menyeringai, dia bersemangat juga, dia mengharapkan Dini akan bersandar dan bergantung padanya, tapi saat ia melihat ke sisi Dini, Dini terlihat biasa saja, tidak ketakutan sama sekali.
Arya sampai kebingungan, rencana dan angan-angannya ingin melihat sikap manja Dini sirna bagaikan debu.
Tangan Dini sampai gemetaran, bukan karena takut tetapi karena terlalu takjub karena ia anggap menantang.
Sedangkan Arya kelihatan muram sekali, berbeda dengan Dini yang kelihatan malah senang menaiki bianglala, dia malah tersenyum dan bersemangat sekali, ingin mencoba wahana yang lebih menantang.
Arya duduk dengan perasaan bad mood, dia memalingkan pandangannya dari Dini dan wajahnya masam.
"Tuan, ada apa? apakah ada yang salah?" Tanya Dini kebingungan, apakah bianglala nya tidak menyenangkan bagi Tuan Arya. Padahal tadi sempat menegangkan." Ujar Dini
Arya menoleh ke arah Dini, lalu dengan wajah yang masam, "Kenapa kau tidak takut dan bersandar dipundaknya?" Ketusnya benar-benar serius
__ADS_1
Dini tentu kebingungan mendengar hal itu, "Kenapa aku harus takut, Tuan? tapi wahana ini sangat menyenangkan, Tuan tidak akan merasakan bagaimana tadi kita berada di puncak dan tiba-tiba berhenti." Jawab Dini jujur
"Cih, Dasar wanita aneh. begitu saja dia senang. rencana ku gagal jadinya." Ketusnya menjitak jidat Dini menggunakan telunjuk jarinya
Namun, setelah itu Arya kembali menggenggam tangan Dini, dia mengajak Dini menuju wahana yang lain setelah bianglala nya berhenti dan mereka turun, menuju rumah hantu.
Saat berada di depan rumah hantu dan sebentar lagi akan masuk. Dini menarik tangan Arya karena baru saja merinding di buatnya.
Apalagi di dalam sana sangatlah gelap dan Dini takut dengan kegelapan walaupun waktu di luar adalah siang hari.
"Tuan, Jangan bercanda." Ucap Dini
"Ada apa? Kau takut?" Tanya Arya
"Bukan itu masalahnya, Tapi di dalam sana sangat gelap walaupun ini siang hari. Lebih baik kita pergi menaiki permainan yang lain saja." Kata Dini
"Tapi aku ingin sekali memasuki rumah hantu ini denganmu." Ucap Arya
"Percuma saja! Karena Tuan tidak memiliki ekspresi ataupun perasaan. Tuan tidak akan sampai terkejut jika nanti berhadapan langsung dengan hantunya. mungkin kondisinya akan berbalik malah hantunya yang takut dengan Tuan." Ejek Dini membuat Arya jengkel
Akibat jengkel Arya ingin memberikan pelajaran pada Dini dengan menarik paksa ia untuk masuk.
Suasana di dalam gelap mencekam, sepi dan sunyi. Dari keramaian dan cahaya, seketika Dini ditakutkan dengan suasana di dalam.
"Jangan bermain-main di sini. Ini gelap!" Ucap Dini
Suasana masih dalam keheningan dan sedikit teriakan akan pengunjung lain yang memasuki rumah hantu juga.
Aaaaa...
Mendengar teriakan pengunjung lain, membuat bulu kuduk Dini merinding. Walaupun ia tahu jika hantu di permainan rumah hantu bukan yang asli, Tetap saja ia dilanda ketakutan akibat phobia gelap.
"Hahh... Tu-tuan kau masih bersamaku tidak. Kenapa aku tidak merasakan kehadiran mu." Ucap Dini
Wuaarr...
Suara mengejutkan Dini dari belakang.
Kyaa...
Dini sekuat tenaga berteriak.
Seperti rencana dan sesuai harapan. Saat itu juga Arya yang mengejutkan Dini, mendapatkan pelukan erat dengan gemetar yang melanda. Rupanya rencana kedua Arya ini berhasil.
__ADS_1
Perasaannya menjadi campur aduk antara senang, hangat dan gengsi itulah ia saat ini.
"Apakah kau senang?" Bisik Arya menyeringai nakal, ke arah istrinya yang bahkan tak bisa menggambarkan keindahan posisi mereka akibat kegelapan
Dini menggeleng, dan terisak menangis.
Arya menarik tubuh istrinya agar lebih dekat memeluknya.
"Ini baru permulaan, masih banyak hal yang ingin aku lakukan untukmu." Bisik Arya
"Apa? Apa Tuan sedang berbicara? Aku tidak mendengarnya." Dini terisak
Tangan kokoh Arya mulai menarik tubuh Dini, agar berhadapan dengannya, dia mengusap pipi Dini dan mengusap air matanya dalam kegelapan.
"Kau cantik dan bercahaya sekali walaupun dalam kegelapan." bisik Arya kemudian dengan sangat lembut mulai mencium bibir istrinya di tengah kegelapan itu.
Rasanya sempurna, hangat dan indah sekali. Dengan suasana gelap-gelapan.
Dini pun sontak syok dengan benda kenyal yang terletak di bibirnya. Dorongan yang susah dipahami pun menariknya untuk menyambut ciuman dari bibir Arya sehingga saling bertaut.
Decakan terdengar disisi kegelapan dan mungkin dilihat oleh hantu jadi-jadian.
Saat Arya menyesap bibir istrinya, bisa ia rasakan rasa manis puding di lidah Dini yang terasa, rasanya manis sekali, tetapi tidak lebih manis dari rasa bibir istrinya, semakin ia mencium semakin ketagihan dirinya.
Tangannya melingkar erat di pinggang istrinya, ciumannya semakin dalam, hingga Dini mundur karena tekanan.
“Tu ... Tuan, kau menarik ku terlalu dalam." Dini mencoba melepaskan dirinya
Saat Arya mendengar itu, Arya membuka matanya, tepat di hadapannya terdengar Dini sudah sedikit sesak napas.
Arya kemudian melonggarkan pelukannya, lalu kembali menarik tubuh Dini untuk di dekapnya begitu erat lagi.
"Karena bibirmu terlalu manis, Apalagi masih tersisa rasa puding yang kau makan tadi. Lagipula aku tidak tahu mengapa akhir-akhir ini aku tidak bisa menahan diriku jika melihatmu." Terlalu terus terang Arya mendekapnya erat sekali dan menyadarkan wajahnya di tengkuk Dini
Berbeda dengan Dini yang kebingungan, apa inti ucapan dari Arya.
"Menahan diri? Apakah Tuan menahan diri jika berada di dekatku, tetapi apa maksud menahan diri ini? Apa karena ia membenciku, tapi kenapa dia malah dekat denganku seperti ini." Gumam Dini saat dirinya masih belum lepas dari dekapan Arya
Benak Dini memiliki banyak pertanyaan di kepalanya.
Awalnya karena terlalu sibuk pada tujuan utama membalas dendam pada Dini, tetapi saat sudah menikah dengan Dini dan di jari manisnya tertoreh cincin pernikahan, Serta mereka sudah hidup bersama selama 1 tahun lebih dengan penuh duka dan kini Dini sedang mengandung anaknya. Seolah ia terkunci dan melupakan misi utamanya dahulu. ia semakin tidak sadar dan lupa diri dengan tujuan hidupnya.
Karena sekarang ini Arya terlalu berbeda dan bahagia, hatinya terlalu hangat, dia merasa seperti tengah mabuk oleh istrinya sendiri, jadi dia tidak bisa memposisikan dirinya seperti garis dilahirkannya Arya ke dunia ini.
__ADS_1