
Di Mansion Keluarga Pratama~
Bu Amira sedang berteleponan dengan adiknya yang berada di Singapore yakni Bu Alma. Dia mendapatkan kabar yang kurang mengenakkan
"Kakak, Bisakah kalian membawa Dini datang ke sini?"
"Ada apa Alma? Semuanya baik-baik saja?"
"Tidak, semuanya tidak sedang baik. di rumah ini semuanya kacau karena ibu sedang sakit saat ini."
"Apa, Ibu sakit, kenapa kau baru memberitahuku. Sejak kapan?" Kejutnya
"Sudah dari 5 hari kemarin." Jawabnya
"Apa yang membuat ibu sakit?" Tanya Bu Amira terdengar cemas
"Seperti biasa masalah pikiran yang stress sampai membuat imun tubuh ibu menurun."
"Memangnya apa yang selalu ibu pikirkan sampai drop seperti itu? Aku selalu memintamu untuk jangan membiarkan ibu sendiri atau melamun memikirkan hal yang tidak penting, Bukan?"
"Sejak kejadian yang sudah lama itu memang sebenarnya kondisi ibu berbeda dari biasanya. Ibu selalu menangis tanpa sebab walaupun keadaan rumah sangat ramai dengan cucu-cucunya. ia pernah mengatakan jika masih belum bisa menerima Dini yang diduakan oleh Arya. Sepertinya ibu sangat kecewa besar pada Arya sampai terus terpikirkan sampai saat ini."
"Lalu, Apa kami harus menjenguk ibu?"
"Aku harap seperti itu. sembari membawa Dini bersama kalian. mungkin dengan Dini datang ke sini bisa menjadi obat untuk kesembuhan ibu."
"Akan ku bicarakan dengan suamiku lebih dulu. nanti aku akan mengabari mu lagi." Pinta Bu Amira
"Baik, kakak. aku akan tunggu kabar darimu."
Panggilan diakhiri.
Di Singapore~
"Bagaimana Alma, Apa Dini akan kemari?" Tanya Nek Arini serak
"Jawaban belum bisa diputuskan, ibu. Aku masih berbicara dengan kakak, dia akan mendiskusikannya lebih dulu."
"Aku harap Amira bisa membawa Dini ke sini. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Kasihan sekali gadis malang itu." Ucap Nek Arini yang kembali menangis
"Ibu, Sudahlah cukup jangan menangis. Dini pasti akan datang ke sini." Bicara Alma yang menenangkan Nek Arini
Kejadian itu sudah sangat lama beberapa bulan yang lalu. Namun, kesan terakhir yang menyakitkan tak pernah hilang dari lubuk hati seseorang sebesar atau sekecil apapun rasa sakit yang dialami. Sehingga kini Nek Arini sangat merasa sedih seakan masalah itu baru terjadi kemarin hari padahal sudah lama.
Di sisi lain~
"Akan sulit bagi Dini saat ini jika harus berpergian jauh. Kondisinya sedang hamil jadi ibu sangat mengkhawatirkan kondisinya nanti dalam pesawat." Kata Bu Amira yang sudah membicarakan tentang ibunya yang sakit dan meminta ingin bertemu dengan Dini
"Toh kita akan pergi menggunakan jet pribadi. Usia kehamilan Dini pun masih cukup sesuai dengan syarat menaiki pesawat bagi ibu hamil." Kata Pak Barma
"Tapi, sama saja ingin itu jet pribadi atau pesawat terbang karena konteks nya sama bahwa itu pesawat terbang yang akan berada di atas ketinggian dan bisa saja membuat Dini pusing." Kata Bu Amira yang terlalu protektif
"Memangnya kau tidak kasihan dengan ibumu?" Lontar Pak Barma
"Bukannya aku tidak memperdulikan ibu tapi mereka tidak tahu jika Dini sedang hamil dan menuntutnya seperti ini." Sedikit sesal Bu Amira pada keluarganya di Singapore
"Kau ini terlalu berlebihan mengkhawatirkan kehamilan Dini. Dengan menaiki pesawat, tidak akan membuat Dini keguguran." Kecamnya
"Hush... Bapak ini tidak bisa menjaga ucapannya. Malah mendoakan Dini yang tidak baik." Kesal Bu Amira
__ADS_1
"Bapak bukan mendoakan Dini. Bapak juga sangat menantikan cucuku itu tapi tidak seperti ibu yang sangat protektif."
"Aku khawatir karena dia sedang mengandung cucuku. Aku tidak ingin ibu dan bayinya kenapa-kenapa."
"Semuanya terserah pada ibu." Ucap Pak Barma yang pergi karena kewalahan meladeni Bu Amira
Setelah perundingan yang lebih dalam dan beberapa keputusan dari berbagai Keluarga. Akhirnya keputusan sudah bulat jika semua keluarga Pratama termasuk orang tua Dini akan pergi ke Singapore untuk menjenguk Nek Arini.
Bu Amira yang sempat mengkhawatirkan kondisi Dini itu. Bertanya lebih dulu padanya karena anggota yang diharapkan untuk datang adalah Dini. ia menanyakan bagaimana kesiapan Dini.
Dini hanya menjawab, "Aku dan bayiku akan baik-baik saja, Ibu. Demi kesembuhan Nek Arini yang entah kenapa ingin bertemu dengan ku, Aku juga ingin sekali bertemu dengannya. Doakan saja tidak terjadi sesuatu padaku nanti." Itulah jawabannya yang membuat Bu Amira harus mengambil keputusan Dini walaupun hatinya tak begitu yakin
Yang awalnya Bu Amira hanya ingin pergi bertiga bersama suami dan Dini saja. Tapi Arya mengusulkan untuk semua keluarganya pergi ke Singapore sekaligus refreshing. Dan hal itu disetujui oleh semua keluarganya. Apalagi Bu Clara dan Valerie yang sangat antusias ingin pergi ke sana.
Kesepakatan itu berlaku dan esok harinya mereka pergi dengan menaiki jet pribadi.
Seperti biasa jet pribadi itu terbang di atas ketinggian langit biru yang cerah. mereka sudah menempuh perjalanan 45 menit yang berlalu.
Bu Amira yang duduk berada di dekat Dini yang sengaja memindahkan kursi itu menjadi di samping Dini senantiasa menjaga menantunya itu.
Di sana Dini mulai terlihat gelagat yang membuat Bu Amira dilanda kekhawatiran.
"Din, kau tidak apa-apa, Nak?" Tanyanya
"Iya, Ibu aku baik-baik saja." Jawab Dini terbata menahan sesuatu
Dari tadi tubuhnya tidak bisa diam mengusik merasakan ketidaknyamanan.
Hoeeek...
"Tidak Darwin, tidak untuk kali ini. Kau harus menjauh darinya. Tahan dirimu!" Ucap Darwin yang sempat ingin berdiri menghampiri Dini karena tidak pernah bisa menahan perasaanya
"Tuh, kan, apa yang ibu katakan. Tekanan dalam pesawat mempengaruhi bayimu." Bu Amira panik jadi kalang kabut
Melihat Bu Lia sebagai ibu kandung Dini yang tak jauh berada di sana, Sama halnya mengkhawatirkan anaknya itu. Namun, melihat perhatian Bu Amira yang sudah melebihi perannya sebagai ibu kandung yang begitu sangat khawatir membuat Bu Lia mengurungkan niatnya menghampiri Dini.
Diuntungkan saja saat itu Arya dan Valerie yang duduk di kursi belakang bari ke empat sedang tertidur dengan Valerie yang tidur di bahu Arya dan menggandeng tangannya. Pikirnya Bu Amira~
"Tidak, ibu, Jangan salahkan pesawat. Ini hanya aku saja yang terlalu lemah sebagai wanita. melihat nona Valerie yang tengah mengandung dan tidak menyusahkan orang membuat aku gagal sebagai wanita hamil yang kuat." Ucap Dini
"Sstttt... jangan berbicara seperti itu. Dari tadi ibu menyarankan sebaiknya kau berada di kamar saja supaya kau bisa tidur di sana, tapi kamar itu jadi dipakai oleh Bu Clara dan satu lagi oleh Luna." Ujarnya
"Ada apa?" Tanya Arya yang terbangun tidak dengan Valerie yang tertidur sangat lelap
"Agh... Tidak ada. Kau tidur saja kembali, maaf sudah mengganggu tidurmu." Ucap Bu Amira yang masih belum mengetahui jika Arya sudah mengetahui kehamilan Dini dan sedangkan dia masih sibuk untuk menutupinya
Arya yang tahu jalan pikir ibunya saat ini, tidak mengurungkan niatnya untuk mencemaskan Dini. Karena ia tahu tentang orang lain, dan orang lain tidak tahu tentang dirinya.
"Ini minumlah lebih dulu. Kau ingin muntah?" Ambil Arya air minum dan mendekati Dini lalu, berbicara berbisik sambil memberikan minum padanya. Terlihat kekhawatiran yang mendalam dari raut wajahnya
Dini hanya menggelengkan kepalanya.
Melihat sikap Arya yang perhatian membuat Bu Amira sangat mendambakan fenomena seperti ini.
Seketika saat Arya berada di dekat Dini yang sedari tadi terus mual-mual. Sedikit mereda dan berhenti saat itu juga.
Dini pun merasa aneh dengan mualnya ini. Baru saja dia merasa kewalahan, dan saat Arya datang mendekati langsung mereda.
__ADS_1
Bu Amira pun memahami kondisi saat itu. Ia bertanya-tanya keanehan juga.
"Mungkinkah cucuku di dalam tahu jika ayahnya berada didekatnya saat ini? Saat Dini mual dan Arya berada di dekatnya, mualnya mereda begitu saja. Apakah dia juga mengerti jika ingin ayah dan ibunya saling berdekatan?" Dilema Bu Amira
Bu Amira bangkit dari duduknya.
"Arya, Jika kau ingin bersama Dini silakan saja duduk di sini. Ibu akan menjaga Valerie di belakang." Ucapnya
Arya yang terkesan malu-malu tapi ingin, membuat dia tidak bisa menolak perasaan yang mendorongnya.
Kini Arya duduk di samping Dini menggantikan Bu Amira.
"Tidurlah, Akan lebih baik jika kau tidur." Saran Arya
Pegang tangan Arya pada Dini yang sungkan dan gugup.
Mendengar saran Arya yang menurutnya sangat baik dan setuju, ia pun menurutinya dan tertidur ke arah jendela.
"Kenapa ke sana?" Kecam Arya sedikit terkejut
Dini yang hendak menopangkan kepalanya, kembali terhenyak menatap Arya.
"Ada apa memangnya, Tuan?" Tanya Dini polos
"Tidur ke arah samping menghadap jendela tidaklah baik. Permukaannya sangat keras dan akan membuat kualitas tidurmu tidak nyaman."
"Lalu, Saya harus bagaimana?" Tanya Dini
"Kau bisa tidur di belakang karena ada kamar." Ujarnya
"Tidak, Ibu baru saja mengatakan kamar itu sudah dipakai Luna dan Bu Clara." Jawab Dini
Seketika Arya jadi bingung harus bagaimana.
Arya menepuk bahunya.
"Tidurlah di bahuku. Kau akan merasa nyaman." Ucapnya terdengar kaku
Dini membuka matanya lebar tidak menyangka.
"Maksud Tuan saya harus meletakkan kepala saya di bahu Tuan agar bisa tidur?" Tekannya mengulang
"Iya." Jawab Arya singkat. ia tahu bahwa sebenarnya tindakan ini salah, tapi entah apa yang mendorongnya saat itu
Dini yang sungkan dengan pelan-pelan menerima tawaran dari Arya yang mengikhlaskan bahunya.
Ia sangat gugup harus menopangkan kepalanya di bahu Arya.
Tap!
Dini sudah bersandar. Perasaan hangat dan jantung berdebar tak sesuai irama muncul dengan perasaan yang susah untuk diartikan. Mencium aroma tubuh Arya dengan parfum membuatnya merasa lebih jadi rileks. Ia sungguh merasa nyaman menghirup aroma tubuh Arya itu.
(Contoh)
Arya yang tidak bisa menetralkan dirinya sendiri. Terjebak dalam sebuah sandaran yang terasa hangat dan nyaman.
Darwin yang berada di samping belakang mereka berdua. Cemburu dan iri melihat kedekatan mereka apalagi ditambah Dini yang bersandar di bahu kakaknya. Darwin yang menjadi salah satu orang yang termasuk mengetahui jika sebenarnya Arya sudah mengetahui Dini hamil saat pengakuan kemarin dihadapannya, membuat dia tidak berdaya dan lebih dingin dari sifat aslinya beberapa hari ini.
__ADS_1