
Akibat pergulatannya bersama Arya malam hari kemarin hingga dini hari. Dini yang terbiasa bangun pukul 04.30 Wib itu, kini tidak biasanya dia terbangun di pukul 10.00 Wib.
Dalam keadaan sudah berpakaian dress nya dan sudah mandi dini hari tadi. Dia terbangun dalam keterkejutan melihat jam yang terpampang nyata menunjukkan waktu yang tidak biasa.
Sesegera mungkin Dini bangun dan turun ke bawah dengan tergesa-gesa kala di kamar ia tidak melihat Arya di sampingnya. Dan juga ia berpikir jika Anak-anaknya pun pastinya sudah pergi ke sekolah. Ia beranggapan lalai dalam menjalankan tanggung jawabnya mengurus semua perlengkapan anak-anaknya sebelum pergi ke sekolah.
"Nyonya sudah bangun? Syukurlah. Saya terus menerus mengecek pergi ke kamar Tuan apakah nyonya sudah bangun atau belum. Sekarang nyonya sudah bangun dan ayo silakan makan dulu, pasti nyonya sudah lapar." Ujar Bu Shani
"Bu Shani, Apa benar ini sudah pukul 10.00?" Ujar Dini masih sepenuhnya mengumpulkan jiwa
"Benar Nyonya. Saya saja sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah. Saya juga heran kenapa nyonya tidak turun, karena biasanya pagi hari sekali sebelum ayam berkokok sudah bangun." Kata Bu Shani menegaskan
"Ini masalah yang besar. Aku bangun kesiangan, padahal pukul dua tadi aku berencana tidak akan tidur setelahnya." Kecewa Dini pada dirinya sendiri
"Nyonya tidak perlu khawatir. Tadi pagi Tuan Arya dan juga Tuan muda keduanya sudah saya yang membantu kebutuhan mereka. Mereka juga sudah sarapan, buku dan pakaian anak-anak sudah saya siapkan. mereka sudah berangkat bersama diantar oleh Tuan." Jelas Bu Shani
"Syukurlah jika Bu Shani yang sudah membantu kebutuhan mereka. Aku ucapkan banyak terima kasih sudah membantu diriku." Balas Dini
"Tidak masalah Nyonya. Tuan Arya sendiri yang melarang siapapun untuk membangunkan nyonya yang masih tertidur. Beliau mengatakan nyonya pasti kelelahan akibat malam hari tadi." Ucap Bu Shani sambil terkekeh
Bukan tanpa alasan Dini memahami kata ambigu itu. Apalagi melihat Bu Shani yang menahan senyumnya seolah tahu apa yang terjadi kemarin malam.
"Dia benar-benar berkata seperti itu?" Pekik Dini
"Agh,,, Saya juga tidak mengerti apa yang dilakukan nyonya malam hari tadi. Tapi Tuan beranggapan jika nyonya sangat kelelahan. Mungkin setelah pergi berlibur dengan perjalanan jauh, itu akibat dari kelelahan yang nyonya rasakan." Ucap Bu Shani memutar pernyataan
"Dasar pria itu! Dengan terang-terangan dia membuatku malu dihadapan Bu Shani. Dia pikir Bu Shani tidak akan tahu apa maksudnya." Kesal Dini dalam hati
...***...
__ADS_1
Tepat pukul 12.00 Wib, Seperti biasa Dini selalu menjemput kedua anaknya pulang sekolah.
Ansel yang senang berbicara itu selalu menceritakan pengalaman sekolahnya hari ini setiap hari saat sudah pulang pada ibunya. Senantiasa Dini selalu menjadi pendengar yang baik kala Ansel bercerita. Terlepas dari perbincangan mereka ada Arsen yang selalu diam menatap jalan dari jendela mobil.
"Hari ini ibu tidak menjemput kami dengan mengendarai mobil sendiri?" Tanya Ansel setelah selesai bercerita pada ibunya
"Tidak, Ibu meminta Pak Ari yang mengantar." Balas Dini
"Oh Baiklah. Pasti ibu lelah akibat liburan kita kemarin yang sangat menyenangkan. Ibu juga sampai bangun kesiangan, tadi pagi Bu Shani yang mengurus semua keperluan." Ujar Ansel
"Iya. Maafkan ibu ya. Ibu berjanji tidak akan mengulangi kesalahan lagi." Jawab Din
Arsen yang mendengarkan perbincangan mereka pun memutar bola matanya malas. Ia pikir Dini hanya mencari alasan untuk berleha-leha di rumah ayahnya.
"Ibu... Kenapa leher ibu merah-merah?" Tanya Ansel melihat bagian leher Dini
Sontak Dini menatap Ansel dengan terkejut. Dini lupa jika semalam Arya membuat banyak tanda di tubuhnya.
"Ibu sedang sakit?" Tanya Ansel menelisik mata ibunya
Dini yang tidak sanggup menatap mata Ansel pun menghindari kontak matanya dan terlihat gugup.
"Ti-tidak, Mungkin kemarin malam banyak nyamuk yang menghisap darah ibu." Jawab Dini terbata lagi
"Aku juga pernah digigit nyamuk sampai gatal dan muncul bentol-bentol. Tapi rupanya tidak seperti ini, gatal ibu sangat merah sekali." Kata Ansel
"ITU CUPANGAN!" Tegas Arsen menimpali
Ckitt...
__ADS_1
Pak Ari yang sedang mengendarai mobil pun tiba-tiba mengerem mobil secara mendadak setelah mendengar Arsen membuat pernyataan yang tidak terduga.
Sontak Dini pun sangat terkejut mendengar Arsen yang tahu dan terus terang begitu. Ia sangat malu pada seorang anak kecil. Akan ditaruh di mana wajahnya?
"Maaf Nyonya, Sa-saya akan lanjutkan." Ucap Pak Ari melihat dari kaca spion
Pembahasan Cupangan itu belumlah selesai. Ansel masih penasaran dan terus bertanya.
"Apa itu Cupangan?"
Ansel melirik Arsen yang sama sekali tidak ingin menoleh padanya. Pandangannya tetap lurus ke depan.
"Jika pun aku akan menjelaskan, Apa kau akan mengerti? Itu adalah kata yang hanya dipahami oleh orang dewasa." Ketus Arsen
Dini membeku. Apa yang dikatakan Arsen itu memang ada benarnya. Ansel tidak akan paham dan seharusnya tidak tahu akan hal itu. Ia masih anak kecil yang membutuhkan bimbingan mendasar, tidak seperti Arsen yang sudah dewasa sebelum usia dan bahkan sudah mengetahui *** education.
"Apakah Cupangan itu menarik? Kau juga pernah seperti ibuku, Arsen?" Bertanya Ansel demikian
"Tidak. Saat dewasa aku akan membuatnya!" Ucap Arsen membuat Dini dan Pak Ari ambigu
"Kenapa harus dewasa? Ini hanya gatal-gatal. Kita hanya tinggal mencari nyamuk untuk menggigit leher kita. Jika kau ingin membuatnya, Aku juga ingin membuat Cupangan juga. Ayo kita buat bersama saat sampai di rumah nanti!"
"Tck,,, Cupangan bukanlah permainan mencari nyamuk. Bisa-bisa kita akan gatal." Kata Arsen
"Tapi sepertinya ibu tidak gatal. Dia pun tidak menggaruknya." Kata Ansel melirik ke arah Dini
"Jadi, berhenti memikirkan cupangan, dan berusahalah untuk tidak bertanya mengenai hal itu lagi. Ibumu sendiri pasti akan malu." Sambung Arsen
"Ansel, yang dikatakan Arsen itu benar. Tidak perlu memikirkan arti dari kata itu lagi, Ya. Ibu sungguh tidak apa-apa, karena ini hanya kemerahan saja." Ujar Dini mengarahkan Ansel
__ADS_1
"Lain kali jangan buat tanda lagi atau Ansel akan bertanya terus." Ucap Arsen pelan pada Dini