
"Pergilah... Hati-hati di jalan..." Ucap Bu Lia sambil mengelus kepala putrinya
"Baik, Bu." Balas Dini
Dini pun mengalihkan pandangannya pada Ansel yang tengah berbaring di ranjangnya dan akan tertidur.
"Ansel, Malam ini tidur ditemani oleh nenek, Ya." Ucapnya sambil mengelus puncak kepala putranya
Ansel mengangguk-angguk dengan mata yang sudah nampak sayu.
Setelah berpamitan pada seluruh anggota keluarganya, Dini pun berangkat tanpa diantar oleh Darwin sebab belum pulang yang masih bekerja di malam hari. Dini menuju rumah sakit karena ia mendapatkan panggilan dari orang yang akan melahirkan dan memintanya untuk datang.
"Apa ibu tidak jadi ikut?" Wajah Pak Malik berubah muram saat melihat Dini harus pergi malam-malam sendiri
"Dini tiba-tiba saja mendapatkan panggilan dari rumah sakit jika ada pasien yang ingin melahirkan dan hanya ingin dibantu olehnya." Jelas Nek Arini menimpal
"Lalu, kenapa ibu tidak ikut saja? Atau bapak juga bisa menemani dia untuk sekedar menemani Dini yang pergi malam-malam begini. Tuan Darwin pun belum pulang juga." Tanya Pak Malik lagi merasa tidak puas
"Dini sendiri yang melarang ibu untuk ikut, dan mengatakan tidak perlu khawatir ini adalah kota dan masih banyak kendaraan yang berlelangan. Dia hanya menyarankan untuk menjaga Ansel." Jelas Bu Lia
"Baiklah..." Jawab Pak Malik singkat dan tetap saja ia khawatir pada putrinya
...***...
Di Rumah Sakit.
"Aaaahhhgggkkk,,, sakittttttt..."
Suara teriakan wanita yang akan melahirkan membuat semua orang panik.
"Bagaimana ini? Istriku sudah mengalami pendarahan! Kenapa dokter Dini belum juga datang?" Kata suaminya gelisah
"Daripada harus menunggu lama, sebaiknya kita segera lakukan persalinan tanpa harus menunggu dokter Dini." Kata Dokter lain
"Tidak! Aku hanya ingin dibantu melahirkan oleh dia!" ujar seorang wanita melahirkan itu
Dini masuk ke dalam ruangan persalinan, ia melihat keadaan wanita itu yang kehabisan tenaga.
__ADS_1
"Apa air ketuban nya sudah pecah?!" Tanya Dini dengan nafas tidak stabil
"Sudah Dok,,," Jawab Suster
"Cepat ambil baskom berisi air hangat, dan persiapkan alat dan barang lainnya." Titah Dini segera memakai pakaian sterilnya
Semua berhamburan menyiapkan apa yang Dini minta. Dini mulai memberi aba-aba untuk si ibu yang sedang mengerang kesakitan.
"Tarik nafas dalam, hembuskan dan langsung mengejan!" Dini terus memberi semangat dan motivasi agar si ibu kuat untuk melahirkan. Ia sendiri adalah seorang ibu dan pasti pernah mengalami yang namanya melahirkan, ia tahu pasti bagaimana rasa proses melahirkan itu.
"Terus, Ayo mengejan sedikit lagi! Tarik nafas lagi dan keluar kan,," Ucap Dini sambil memastikan dan menarik kepala bayi itu
Ooooekk,, Ooekk,, Oekk,,,
Dengan cepat Dini memutuskan tali pusar dan memberikan si bayi pada susternya untuk dibersihkan.
"Laki laki atau perempuan?!" Tanya suaminya, Ayah dari bayi yang baru terlahir kedunia.
"Perempuan, Tuan." Kata Dini
"Cuihh... Perempuan?? Apa kau tidak salah sudah melahirkan anak perempuan untukku ke dunia ini? Aku sudah memintamu untuk melahirkan bayi laki-laki, bukan." Hardik suami itu pada istrinya yang masih terkulai lemas
"Tuan, Laki-laki ataupun perempuan sama saja. Mereka adalah bentuk rezeki yang diberikan Tuhan untuk pasangan suami istri." Ujar Dini
"Apa yang bisa aku andalkan dari memiliki seorang anak perempuan? ketika dewasa mereka hanya akan menikah yang tunduk pada suami di selingi dengan mengurus rumah dan juga memasak. Dia tidak akan bisa meneruskan perusahaan ku." Ketusnya
"Anda salah, Seorang wanita tidaklah serendah itu. Mereka bisa berjalan di lintasannya terlepas dari yang namanya pemikiran kuno masyarakat yang menganggap seorang wanita harus pergi ke dapur. Seharusnya anda bersyukur telah diberikan seorang anak, banyak dari kalian yang merupakan seorang pasangan suami istri, namun belum dikaruniai seorang anak bahkan tidak bisa mendapatkan seorang anak." Jelas Dini
"Apa yang kau tahu dokter? Kau hanya memposisikan sebagai wanita yang tidak tahu seberapa besar keinginan pria untuk memiliki anak laki-laki. Otomatis kau sendiri akan membela derajat mu." Bentak pria itu
Suami kali ini sangat keterlaluan. la sangat terobsesi untuk memiliki seorang anak laki-laki yang menghina kelahiran seorang anak perempuan.
"Ibumu adalah seorang wanita, Bukan? Apa anda pikir seorang anak laki-laki dilahirkan dari seorang pria? Tidak ada kuadrat seperti itu, Bukan? Kau bisa lahir ke dunia ini oleh seorang wanita, seharusnya kau paham bagaimana menghargai seorang wanita dari ibumu sendiri." Bentak Dini
Pernyataan Dini membuat pria itu terdiam tidak bisa berkutik lagi. Raut wajahnya berubah memerah dan sangat kesal menatap Dini. Bukannya menyesal, pria itu malah pergi keluar meninggalkan ruangan itu.
Wanita yang baru melahirkan itu menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
"Bersabarlah! Tidak ada yang membedakan antara seorang perempuan dan laki-laki. Kau sudah berhasil melahirkan seorang bayi yang sangat cantik, kau tidak boleh menyesal dan harus berbangga karena Tuhan telah memberimu seorang anak perempuan yang derajatnya 3 kali lebih tinggi dari laki-laki." Jelas Dini memberi pengertian
Lalu, kembali berkata
"Suatu saat nanti, perlahan-lahan suamimu pasti akan menerima anaknya. Itu pasti! Tidak ada seorang ayah yang membenci putri tersayangnya." Ucap Dini
"Terima Kasih Dokter, Kau baik sekali. Sejak awal kehamilan, suamiku memang menegaskan agar aku bisa melahirkan seorang anak laki-laki untuk penerus keluarga dan perusahaan mereka. Tapi sayangnya tuhan memberikan kami seorang anak perempuan." Jawab Wanita itu
"Aku percaya jika pun kau melahirkan seorang anak laki-laki, ketika ia dewasa tidak akan menjadi penerus seperti diharapkan keluargamu. la pasti akan menjemput takdirnya sendiri terlepas dari keinginan ayahnya." Ucap Dini
Wanita itu mulai tenang mendengarkan makna yang tersirat keluar dari Dini berdampak pada kenyataannya untuk merawat bayi perempuan saat ini. Ia harus percaya dan berbangga diri memiliki anak yang sudah ia lahirkan tadi.
Dini pergi setelah urusannya selesai. la mengendarai mobilnya di tengah jalan raya sepi yang tidak terdapat kendaraan satu pun. Kemudian dengan cepat-cepat dia melajukan mobil itu. Namun, masalah besar terjadi, mobilnya tiba-tiba berhenti akibat bannya kempes.
"Bannya kempes. Bagaimana bisa mencari bengkel atau meminta bantuan di jalan raya yang sepi ini?" Ujar Dini yang terkena musibah
Dia berusaha mandiri untuk memasang ban dengan ban serep dan kesusahan sendiri akan hal itu.
Tak berselang lama sebuah mobil hitam melaju ke arahnya. Dari dalam mobil itu keluar dua orang laki-laki.
"Nona, Sedang apa sendirian di malam-malam begini ditambah jalan yang sepi ini?" Tanya pria itu
"Saya baru saja selesai bekerja, Namun saat perjalanan pulang, ban mobil saya kempes." Jawab Dini tanpa menaruh curiga
Pria itu mengangguk-angguk dan pertanyaannya pun hanya sekedar basa-basi.
Secepat kilat kedua orang itu menarik tubuhnya hingga masuk ke dalam mobil.
"Lepaskan!! Apa-apaan ini!!" Dini berteriak dengan kencang. Tubuhnya di apit oleh kedua laki-laki yang bertubuh kekar.
"Maafkan kami Nyonya. Kami mohon untuk kerjasamanya." Ujar salah satu pria itu
"Kalian siapa?! Berani-beraninya kalian menculik seorang wanita di tengah malam yang sepi ini!! Akan kupastikan jika aku selamat kalian akan dilaporkan ke polisi dan mendekam di penjara!!" Dini menggertak
"Kami hanya meminta kerjasama dari anda, Nyonya. Kami berjanji tidak akan menyakiti Anda." Jawabnya lagi
"Tidak! Lepaskan Aku!!" Dini masih berteriak dan memberontak
__ADS_1
Kedua laki-laki itu saling berpandangan. Salah satunya memberi kode dengan mata. Karena menganggap Dini berisik, akhirnya mereka berdua menggunakan sapu tangan yang sudah di tetesi oleh obat bius untuk menghilangkan kesadaran Dini.
"Emmmmpppp!!" Dini meronta-ronta. Awalnya rontaannya kuat, namun lambat laun menjadi semakin lemah. Kemudian dunia di sekitarnya menjadi gelap, pandangannya buram dan perlahan dia menjadi tak sadarkan diri.