Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 14 - Pertemuan Ansel


__ADS_3

2 Minggu Kemudian~


Waktu berjalan begitu sangat cepat dengan Dini yang sudah 2 Minggu berada di Jakarta. Syukurlah ia masih diberi keselamatan tidak pernah berpas-pasan dengan orang yang ia hindari di Jakarta ini.


Dia pun sudah diterima mendapatkan pekerjaan di sebuah instansi rumah sakit besar dan sudah mengemban tugas menjadi seorang dokter selama satu minggu ini.


Dini bekerja mengambil shift kerja pagi dari pukul 08.00 s.d 12.00. Keputusan yang diambil bukan tanpa alasan karena pagi hari ia harus melakukan kewajiban sebagai seorang ibu rumah tangga. Dan ketika pekerjaan selesai ia akan pergi untuk menjemput putranya pulang sekolah.


Dengan memiliki jam kerja lima jam, ia tetap diberikan gaji yang sangat tinggi, dan tidak akan sia-sia begitu saja.


Seperti biasa setelah pekerjaan selesai, Dini selalu menjemput Ansel dari sekolah.


Dan saat ini Ansel yang meminta untuk berjalan-jalan melihat suasana Jakarta. Karena pusat kota tidak jauh dari sekolah Ansel, Dini pun memutuskan untuk menyetujui keinginan Ansel dengan berjalan kaki menelusuri tempat itu, namun jika sewaktu Ansel lelah mereka akan menaiki taksi untuk melanjutkan perjalanan pulang.


"Ibu, Aku ingin itu..." Tunjuk Ansel pada sebuah pedagang hamburger di seberang jalan


"Kau ingin hamburger?" Tanya Dini menegaskan


"Iya." Jawab Ansel


"Baiklah, Ibu akan membelinya untukmu. Tapi kau tunggu di sini ya, jangan kemana-mana. Ibu akan menyebrang untuk membelinya." Ujar Dini


"Iya ibu, Aku juga lelah untuk berjalan lagi. Aku ingin istirahat sebentar sambil menunggu ibu."


"Hmm... Baiklah, Tunggu saja di sini jangan kemana-mana." Kata Dini yang mendudukkan Ansel di kursi tersedia yang diteduhi pohon


Dini pun menyebrang untuk membeli hamburger dan meninggalkan Ansel sendiri yang menunggu.


Ansel duduk dengan tenang sambil mengayunkan kakinya yang tak sampai di tanah. ia melihat-lihat sekitar dengan terkagum akan gedung yang menjulang tinggi.


"Wah tinggi sekali gedungnya... Di luar saja tampak indah. Bagaimana dengan isi dalamnya, Ya? Apa ini perusahaan milik ayah? Ayah juga mengatakan memiliki gedung yang tinggi. Mungkin ini adalah gedung milik ayah... Ayah ada di dalam. Ibu pasti tidak tahu jika ini perusahaan ayah. Aku akan masuk saja..." Duga Ansel yang polos dan lugu itu beranjak dari duduknya dan berlari masuk ke perusahaan itu


Ansel sudah berada di dalam lobby perusahaan, ia menatap dalamnya dengan interior yang mewah dan dinding yang tinggi itu.


"Wah bagus sekali perusahaan ayah. Aku bisa berlarian di sini karena sangat luas seperti lapangan... Tapi di mana ayah, Ya?" Ucap Ansel menelisik sekitar


"Ehh,,, Tuan muda, Kau ada di sini?" Sapa dua karyawan wanita yang melihat Ansel dan datang menghampiri

__ADS_1


"Bibi siapa?" Tanya lugu Ansel


"Agh,,, Saya adalah karyawan di sini. Tuan muda sendiri sedang apa di sini?" Tanyanya dengan lemah lembut


"Aku sedang mencari ayahku. Apa kau tahu ayah ku di mana?" Tanya Ansel


"Tentu saja saya tahu karena beliau adalah atasan kami. Tuan muda pasti ingin bertemu dengan Tuan Arya, Ya?" Jawab Karyawan 1


"Tuan Arya? Siapa dia?" Dengan polosnya


"Ah Tuan muda ini, masa tidak tahu dengan ayah sendiri. Ternyata Tuan muda bisa bercanda juga." Kata karyawan 2 demikian


"Nama ayahku Darwin! Aku tidak tahu siapa Tuan Arya..." Tegas Ansel


"Tuan muda Arsen masih saja bercanda. Jika begitu mari saya antarkan tuan muda menuju ruangan ayah tuan muda." Ujar Karyawan itu


"Bibi akan membawa aku ke ayahku? Baiklah, Aku akan ikut dengan kalian. Tapi ayahku adalah Darwin, bukan Tuan Arya!" Kata Ansel


Kedua Karyawan itu masih terkekeh karena mereka mengira jika Arsen sedang bercanda.


"Baik Tuan muda, kami akan antarkan anda ke ruangannya." Ujar Karyawan 1


Entah bagaimana kedua Karyawan itu bisa menganggap Ansel demikian. mereka mengira jika Ansel adalah Tuan muda mereka.


"Kecil-kecil wajahnya sudah tampan, Ya. Bagaimana jika dia sudah besar? Pasti tidak akan kalah tampan dengan ayahnya. Tapi wajahnya sedikit berbeda kali ini, Tuan muda yang kita kenal sangat dingin dan cuek seperti ayahnya yang jarang bicara, tapi kali ini dia banyak bicara dan lucu sekali." Demikian pembicaraan kedua Karyawan yang membawa Ansel


"Iya benar, bahkan dia bisa bercanda juga." Kekeh kedua karyawan


Di ruangan Arya~


"Damar, Apa kau benar-benar tidak bisa menemukan keberadaan di mana istriku? Aku sudah memberimu waktu yang sangat lama untuk menemukannya."


"Maaf Presdir, untuk saat ini saya benar-benar belum bisa menemukan Nona Dini." Jawab Damar mengecewakan


"Berapa lama lagi untuk aku bisa menemukan dia? Arsen sudah sering menanyakan keberadaan ibunya saat ini. Mungkin dia sudah besar dan memahami akan kehidupan dari lingkungan sekitarnya."


"Saya turut bersedih akan hal itu. Saya tahu jika Tuan Muda menjadi korban atas kepergian ibunya di sini. seharusnya Tuan Muda mendapatkan sosok peran dari seorang ibu untuknya. untuk menebus kesalahan ini, saya akan terus berusaha untuk menemukan informasi keberadaan Nona Dini." Kata Damar berambisi

__ADS_1


Tok...tok...tok


Pintu terdengar diketuk saat mereka sedang melakukan perbincangan.


"Masuk!" Titah Arya dari dalam


"Permisi Presdir, anda kedatangan Tuan muda Arsen yang datang dan ingin menemui anda." Ujar petugas keamanan penjaga pintu ruangan Arya


"Arsen datang?? Untuk apa dia kemari?" Tanya Arya bingung


"Baiklah, biarkan dia masuk!" Jawab Arya memberi izin


Kedua Karyawan wanita pun masuk dan terlihat canggung dihadapan Arya yang mengerutkan dahinya kebingungan melihat mereka berdua. Tak ada anak kecil satu pun yakni anaknya Arsen yang datang.


"Kenapa jadi kalian yang datang? Bukankah putraku ada di sini?" Tanya Arya


"Agh,,, lya Presdir itu memang benar." Kedua Karyawan pun melihat jika anak yang mereka bawa sedang bersembunyi dibelakang mereka


Mereka berdua memutuskan untuk minggir ke samping menunjukkan anak yang ternyata bersembunyi.


Jreng...


Seorang anak kecil yang samar dikenal berhadapan langsung dengan Arya saat ini.


Arya mengerutkan dahinya sangat dalam menelisik wajah anak itu dengan dalam.


"Anak siapa yang kalian bawa? Dia seperti bukan Ansel putraku!" Ucap Arya


Kedua Karyawan wanita itu pun sangat terkejut mendengar pengakuan dari Arya yang mencap anak itu bukanlah seperti putranya. Lalu, anak siapa yang mereka bawa?


"Presdir, anda pasti sedang bercanda. Kami membawa Tuan muda Arsen yang datang karena ia mengatakan ingin bertemu dengan anda." Jawab Karyawan 1


Arya yang tahu betul bagaimana anaknya itu, benar-benar tidak mengenali anak itu walaupun wajahnya memang sekilas mirip putranya. Tapi Arya mengetahui semua detail wajah putranya dan saat ini sedikit berbeda dan sama sekali tidak menampakkan Arsen.


"Bibi, Di mana ayahku? Katanya bibi akan membawa ku pada ayah ku. Tapi aku seperti pernah melihat paman ini, di mana dan siapa, Ya?" Ucap Ansel yang melupakan wajah Arya saat datang di sekolah dulu


Ucapan Ansel membuat kedua karyawan saling menatap tak percaya satu sama lain. mereka sudah membuat kesalahan dengan membawa anak orang lain. Tapi kenapa, wajahnya sekilas sangat mirip tadi, dan sekarang mereka sadar setelah menatap Ansel sangat dalam menunjukkan berbeda dari wajahnya.

__ADS_1


Arya sendiri sampai menyipitkan matanya mendengar Ansel berbicara.


Entah kenapa perasaan hangat muncul ke dalam relung hatinya mendengar gaya bicara dan suara Ansel mirip dengan orang yang ia kenal.


__ADS_2