Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
198. Melahirkan (Part 1)


__ADS_3

1 Bulan kemudian~


Ganjil penuh sudah kini usia kehamilannya 9 bulan mengandung. Tandanya dihari tertentu ia akan melahirkan.


setelah persalinan itu selesai, ia akan terbebas dari yang namanya keterbelengguan. Namun, sayang dia menjadikan bayinya sebagai jaminan kebebasannya.


Kini Dini berdiri dihadapan kalender dengan melihat tanggal perkiraan persalinannya yang sudah dibulati besar itu dengan dikira kan dokter 3 hari ke depan pada tanggal 31, tandanya akhir bulan. ia tinggal menghitung hari untuk sampai pada tanggal tersebut.


Perasaan sedih bermunculan yang mengguncang dirinya. Dia belum siap untuk pergi meninggalkan bayinya. walaupun demikian ia menginginkan kebebasan.


Hiks ... hiks ... hiks


"Hanya demi kebebasan ibu, apa ibu harus menelantarkan mu di sini sendirian."


Akkhhh...


Dini langsung terduduk di lantai dalam sekejap akibat rasa sakit di perutnya yang tiba-tiba.


Dini terus mengerang kesakitan, sambil memegang perutnya yang terasa sakit, keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya.


"Aaakkhh... Perutku!" Teriak Dini meringis kesakitan


"Nyonya Dini ada apa?" Salah satu pelayan yang mendengar teriakan dari dalam kamar Dini langsung menghampirinya


"Perutku sakit, sepertinya akan melahirkan. Akkhh..." Ucap Dini


"Me-melahirkan?! Akan saya panggilkan Tuan untuk nyonya." Pelayan itu panik


Pelayan itu segera meraih handphone Dini dan melakukan panggilan untuknya menelepon Arya.


Di perusahaan~


Meeting penting bersama klien sedang dilakukan oleh Arya. selama meeting itu berjalan, perasaannya menjadi tak tenang, ia merasa gundah.


"Ada apa denganku? kenapa aku menjadi teringat dengan Dini. Apa di rumah Dini baik-baik saja?" Gumamnya cemas


Selama penyampaian yang di tayangkan melalui layar besar pun Arya tidak memerhatikan kliennya. pikiran dan penglihatannya buyar, memfokuskan diri untuk melamun mengkhawatirkan perasaan cemas yang muncul.


derrtt... derrtt..


Ponsel Arya berbunyi di tengah-tengah pembicaraan yang mengganggu konsentrasi.


"Maaf,,, lanjutkan!" Kata Arya


Arya mematikan panggilan itu tanpa melihat siapa yang menelepon.

__ADS_1


Di sisi lain,


"Tuan tidak mengangkat teleponnya, Nyonya. Apa nyonya masih bisa bertahan?"


"Aku sudah tidak kuat lagi. Perutku sangat sakit,,, tolong minta dia untuk segera datang... Jika masih tetap tidak bisa, panggil saja Tuan Darwin."


"Akan saya coba sekali lagi nyonya." Ujarnya


Pelayan itu kembali menelepon Arya.


Syukurlah kali ini ia mengangkatnya.


"Sepertinya telepon itu penting, Tuan Arya. anda bisa mengangkatnya lebih dulu." Ujar kliennya


" Dini!!" Melihat yang menelepon adalah Dini


Arya tergesa menerima telepon itu. menerimanya jauh dari permeetingan.


"Ya, Ada apa, Din?"


"Tuan, ini saya bukan nyonya. Tuan, perut nyonya kesakitan, sepertinya akan melahirkan."


"Apa melahirkan?? Di mana dia sekarang?" Jawab Arya jadi panik


Terdengar suara ringisan kesakitan Dini dari dalam telepon.


"Aku akan pulang sekarang. Sebelum itu, panggil siapa saja untuk membantunya."


"Di rumah tidak ada siapa-siapa, Tuan. Bu Shani sedang pergi ke supermarket, nyonya Valerie beserta ibunya sudah pergi dari waktu pagi, dan supir pergi mengantarkan Bu Shani. hanya ada saya, pelayan lain, dan nyonya di rumah." Ujar pelayan


"Baiklah, secepat mungkin aku akan pulang. Aku minta padamu untuk bersama dia menjaganya." Ujar Arya


"Baik, Tuan." Jawab pelayan


Panggilan pun diakhiri.


"Maaf, Aku harus pergi meninggalkan meeting ini." Kata Arya tergesa-gesa


Saking paniknya ia rela meninggalkan meeting bersama klien yang penting itu. Hingga pada akhirnya klien itu kecewa dengan Arya meninggalkan meeting begitu saja secara tidak terhormat.


"Tuan Arya, anda tidak bisa meninggalkan meeting ini begitu saja."


"Tuan, tolong maafkan atas ketidaknyamanan ini. mungkin saja Tuan Arya memiliki urusan pribadi yang lebih penting. mohon untuk tidak membatalkan proyek ini."


"Hanya saja perusahaan memiliki kontribusi yang baik. saya tetap mempertahankan kerja sama ini walaupun dibuat malu oleh atasan kalian. Ayo kita pergi!" Ajak klien itu marah

__ADS_1


Sampai di rumah, ringisan kesakitan Dini terdengar sampai keluar. Arya segera berlari menuju kamar Dini berada.


Arya Iangsung panik dan berlari ke arah Dini yang terduduk di bawah lantai


"Dini,,, Apanya yang sakit,,,? Tanya Arya khawatir "Ayo kita ke rumah sakit." Merangkul pundak Dini


"Aaaakkk,,, Perutku rasanya mulas." pekik Nadine


Dengan bersamaan Darwin pun datang setelah mendapatkan panggilan dari Dini melalui pelayan yang mengatakan Dini sedang kesakitan di perutnya.


"Din,,, kau pasti ingin melahirkan. kau harus ke rumah sakit secepatnya." Ucap Darwin memegangi tangan Dini


"Jangan kau sentuh istriku!" Seru Arya emosi, dengan kesal ia menepis tangan Darwin dari tangan istrinya


"Kak jangan egois, bukan saatnya kita berdebat, lihatlah Dini sudah kesakitan, apa kau tega melihat Dini menderita?!" Ucap Darwin


"Jaga bicaramu Darwin, tidak mungkin aku membuat istriku menderita, aku hanya tidak ingin kau menyentuh tangan atau apapun yang ada pada diri istriku!" Hardik Arya mengancam dengan sorot mata tajam


"Aaaaaakkkhhh,,," Dini mengerang lagi dengan napas tersengal-sengal


"Jika kalian terus berdebat di depan ku, lebih baik kalian pergi dariku!" Ucapnya Dini dengan suara tercekat


Arya mengangkat tubuh Dini yang terus berteriak kesakitan, dan membawanya keluar dari rumahnya menuju mobil, Darwin mengikuti langkah Arya dan membukakan pintu mobil miliknya untuk Arya.


"Pakai mobil ku saja!" Kata Arya


"Sudah lah,,, Ini bukan saatnya memamerkan mobil mewah mu di parkiran rumah sakit. ini keadaan darurat, pakai mobil apa saja yang penting Dini selamat, biar aku yang membawa mobilnya." Kata Darwin


Arya masuk ke dalam mobil Darwin, mereka duduk di jok belakang, ia mendudukkan tubuh Dini dan Arya duduk disampingnya, mobil berjalan meninggalkan kediaman Arya. Arya merangkul pundak Dini, ia tidak peduli walau Dini berusaha berontak, hingga akhirnya ia tidak berontak lagi karena tubuhnya seakan tidak ada tenaga. Arya menarik Dini dalam pelukan nya dan mengelus perutnya yang kian terasa kencang menegang.


"Aaaaaaaaa,,, Tuan perutku sakit. tolong hentikan rasa sakit ini..." Ujar Dini


"Yang mana yang sakit? sebelah sini? (Arya menyentuh perut Dini sebelah kiri), "Atau yang sebelah sini?" Tangan nya pindah sebelah kanan, mencoba memahami rasa sakit yang Dini alami


"Semuanya sakit,,," Dini mulai menangis dalam dekapan Arya


Kontraksi merupakan tanda akan melahirkan yang paling lazim terjadi. Saat kontraksi, rahim akan mengencang dan mengendur untuk mempersiapkan kelahiran sang bayi. Proses mengencang-mengendur inilah yang disebut dengan kontraksi dan menyebabkan rasa sakit.


"Din,, kau pernah menempuh pendidikan Dokter, bukan? tarik napas dalam lalu hembuskan perlahan agar sakit diperut mu berkurang." Kata Darwin mengingat kan, ia sesekali melihat melalui kaca sepion


"Fokus saja mata mu ke depan, agar kita selamat sampai tujuan. Kau pun sangat lambat mengendarai mobil." Seru Arya geram


"Aku hanya memberitahu kak, kakak saja pengetahuannya tidak luas. sudah jelas Dini kesakitan, tapi kakak malah bertanya rasa sakitnya di mana. walau aku bukan Dokter kandungan tapi aku memahami sisi wanita yang hamil dan akan melahirkan,,, menangis dan rasa khawatir, akan menambah rasa sakitnya." Kata Darwin


Darwin memang pria baik yang memahami wanita, ia sangat pengertian, dan tindakannya tidak pernah salah. ia selalu berpikiran terbuka dan santai walaupun keadaan sekitar sangat panik.

__ADS_1


__ADS_2