Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
116. Anak Peralihan Masalah


__ADS_3

Saat malam hari dengan pikiran yang begitu berkecamuk membuat Pak Malik tidak bisa tidur memikirkan masalah pekerjaan yang terjadi menimpa dirinya. Bukan hanya satu atau dua kali dia mengalami masalah yang sangat berat, namun ia bisa keluar dari masalahnya.


"Bapak tidak bisa tidur?" Tanya Bu Lia yang sendu melihat suaminya


"Jika merasa bahagia saat tidak memiliki masalah, mungkin tidak akan pernah bahagia, karena dalam hidup pasti ada masalah." Kata Pak Malik yang terdengar rintih


"Yang sabar ya, Pak. Kita yakin bisa melewati masalah ini. ini ujian dari Allah pada kita yang harus selalu bersyukur dan rendah hati."


"Ibu ada cara untuk bisa keluar dari masalah ini selain menyeimbangkan harga?" Tanya Pak Malik


"Sebenarnya ada cara agar kita bisa keluar dari masalah ini." Jawab ragu Bu Lia


"Apa? Kenapa ibu tidak memberitahu pada bapak?" Ujar Pak Malik yang antusias ingin mendengar usul dari istrinya


"Ibu pikir sebaiknya kita meminta Dini untuk mencoba berbicara pada suaminya untuk menurunkan harganya.jika masih ingin harganya mahal, kita akan sepakati bersama di kisaran Rp.25.000 saja."


"Ibu membawa Dini dalam masalah kita?" Tanya Pak Malik


"Bukan, Tapi mencoba meminta bantuan pada Dini agar bisa membujuk suaminya.mungkin dengan mendengarkan permintaan dari istrinya, Tuan Arya bisa mengurungkan kebijakan dan menyepakati kesepakatan bersama."


"Kita tahu jika hubungan mereka tidak semulus yang dibayangkan. Sedangkan kita tidak tahu bagaimana kehidupan Dini yang hidup dengan suaminya di sana, dan menganggap jika seolah hubungan mereka baik-baik saja. Bapak tidak yakin jika Dini bisa mengatasi masalah ini." Jawab Pak Malik yang sedikit tidak menyetujui usulan Bu Lia dengan mempertimbangkan segalanya


"Lalu, Bagaimana jika Dini berhasil? Ibu tahu jika mereka menikah karena sebuah perjodohan dan akan sulit untuk saling mencintai, apalagi dengan sifat menantu kita. Tapi mereka sudah lama menikah, mungkin banyak perubahan yang sudah mereka alami yang mendekatkan mereka satu sama lain. Jadi, hilangkan pikiran buruk bapak mengenai Dini tidak bahagia bersama suaminya." Bujuk Bu Lia


"Bapak tetap tidak menyetujuinya!" Jawab berpendirian Pak Malik


"Percayakan ini pada Dini, Pak. Coba pikirkan! Dengan cara ini kita bisa mengetahui bagaimana hubungan mereka sebenarnya? Apa seperti yang bapak kira, Atau ternyata memang hubungan mereka baik-baik saja? Cukup berpikir buruk pada menantu kita dan coba untuk berteman dengannya."


"Jika Dini berhasil, Apa itu tandanya Dini dan suaminya baik-baik saja?" Tanya Pak Malik mencoba menegaskan

__ADS_1


"Iya, Memang jika ternyata Tuan Arya menolak kesepakatan, itu artinya perkiraan bapak terhadap hubungan mereka benar." Kata Bu Lia


"Baiklah, Semoga ini untuk yang terakhir kalinya bapak merepotkan dan tidak akan meminta bantuan dari Dini lagi setelah ini."


Bu Lia mengukir senyum.


"Bapak tenang saja! Putri kita Dini adalah anak hebat, yang dibanggakan oleh kedua orang tuanya." Ujar Bu Lia


"Besok kita akan menghubungi Dini untuk berbicara dengannya. Ini sudah malam dan Dini pasti sudah tidur juga, kita tidak bisa menghubungi dia di waktu istirahat. Sekarang bapak tidur, ini sudah malam." Pinta Bu Lia


Setelah merasa sedikit tenang dan tidak terlalu terpuruk dalam sebuah masalah yang teramat dipikirkan. Pak Malik merebahkan tubuhnya di atas kasur di samping Bu Lia yang sudah merebahkan diri juga yang mengajak suaminya untuk tidur.


Waktu malam demi malam yang berganti menjadi pagi sudah dirasakan oleh semua makhluk hidup setiap harinya.


Pagi hari seperti biasa, para manusia kembali menjalankan aktivitas setiap harinya.


Seperti yang direncanakan tadi malam untuk menghubungi Dini dengan membicarakan masalah yang sedang terjadi dan berdalih meminta pertolongan darinya. Pagi hari sekali Bu Lia sudah menelpon Dini.


"Halo, Bu? Tidak biasanya ibu menelpon, apalagi di pagi hari. Ada apa? Ibu dan bapak baik-baik saja, kan?" Jawab Dini dalam telepon yang langsung tersambung walaupun harus menunggu waktu lama agar Dini mengangkatnya


"Ibu dan bapak baik-baik saja. Tapi sebenarnya ada masalah, Din. Jadi, bicara langsung dengan bapak saja, ya!"


"I-iya, Bu." Kata Dini yang suaranya terdengar berbeda sepersekian detik dan langsung menjadi tidak tenang setelah mendengar jika ada masalah yang terjadi dengan orang tuanya


"Halo, Din. Bagaimana kabarmu?" Tanya Pak Malik


"Iya, Pak. Alhamdulillah Dini baik-baik saja. Ibu mengatakan ada masalah, memangnya masalah apa, Pak?" Tanya Dini


"Begini Din, baru saja kemarin kebun bapak tertimpa musibah para petani yang berpindah untuk menjual tanamannya pada tempat lain. Padahal hari ini bapak harus mengirimkan 300.000 bunga ke pelanggan bapak di Makassar.Karena kebijakan baru perusahaan milik suamimu yang menaikkan harga menjadi 50.000 per pohonnya membuat mereka pasti langsung tergiur dan berbondong keluar dari kesepakatan dan lebih menjual tanaman mereka pada Perusahaan Tuan Arya."

__ADS_1


"Astaghfirullah, Dini ikut berduka mendengarnya ya, Pak. Lalu, apa yang bapak lakukan, Bagaimana dengan bunga yang harus bapak kirimkan hari ini?"


"Bapak juga tidak tahu harus bagaimana. Jumlahnya kurang dari permintaan, padahal jika terbantu oleh petani lain hari ini sudah dikirimkan ke Makassar." Pungkas Pak Malik


"Yang sabar ya, Pak. Dini yakin masalahnya akan segera selesai." Kata Dini menyemangati ayahnya


"Jika boleh, bapak ingin meminta bantuan darimu." Pungkas Pak Malik berlanjut


"Iya, Pak. Jika Dini bisa, Akan Dini usahakan untuk membantu bapak."


"Bapak ingin kau membicarakan hal ini dengan mencoba meyakinkan untuk menyepakati kesepakatan bersama dengan membandrol harga yang sama di rentang Rp.25.000 pada suamimu, Din." Pinta Pak Malik


Selama 10 detik tidak ada jawaban atau suara yang ditimbulkan dalam telepon.


"Emm...I-iya, Pak. Akan Dini coba untuk membicarakan hal ini dengan suamiku, Ya."


"Iya, Din. Mungkin Tuan Arya ingin mendengarkan permintaan dari istrinya.kami benar-benar berharap padamu, Nak."


"Iya, Pak. Akan Dini usahakan. Kebetulan saat ini suamiku belum bangun, aku akan segera berbicara dengannya setelah ia bangun nanti." Pungkas Dini


"Iya, Nak. Bapak akan tunggu kabar selanjutnya."


Setelahnya, panggilan telepon pun diakhiri.


Beban dan tanggung jawab yang besar untuk masa depan dan kebaikan kehidupan orang tuanya yang terjamin sudah beralih posisi yang berada di pundak Dini saat ini. Dia sedikit masih bingung bagaimana cara memulai pembicaraan apalagi meminta permintaan yang berhubungan dengan pekerjaan pada suaminya itu.


Walaupun demikian ia tahu jika hubungannya dengan Arya saat ini bisa dikatakan berjalan baik-baik saja, tapi tetap saja masih teringat kenangan bagaimana perlakuannya dahulu yang begitu terasa pedih dan menyakitkan.


Tandanya memang Dini belum bisa menghapus lukanya, ia hanya berusaha bersikap baik untuk membalas kebaikan seseorang padanya.

__ADS_1


__ADS_2