
Dokter mengatakan bahwa bayi Valerie dan Arya sudah meninggal. sontak seluruh anggota keluarga Pratama sedikit sedih mendengar kabar kematian seorang bayi yang belum sempat lahir.
Valerie yang sudah mulai bangun dari ranjang, kembali kebingungan sampai menangis histeris saat melihat perutnya kini mengempis. Ia pikir bayinya sudah lahir secara prematur, namun keranjang bayi di sebelahnya kosong. Arya berusaha menenangkannya.
"Arya, apa yang terjadi dengan perutku? kenapa tidak membesar lagi? apa bayiku sudah lahir, lalu di mana dia kenapa kau tidak menggendongnya bersamamu dan menemui ibunya, hah?"
"Valerie, Tenangkan dirimu. semua keadaan sudah berbeda saat ini." Ujar Arya
"Kenapa? Apa yang membedakan? Karena bayi kita sudah lahir? Ayo bawa dia kehadapan ku!" Kata Valerie
"Aku harap kau bisa menerima kenyataan ini, aku sangat berat mengatakan ini tapi kenyataan tidak bisa disembunyikan darimu."
"Cepat! Apa yang ingin kau katakan?" Benak Valerie sudah mulai tak karuan
"Bayi kita sudah tiada!" Ketus Arya dengan sendu
Deg!
Tidakkk...
Histeris Valerie berteriak menangis mendengar bayinya meninggal dunia.
"Kau kejam! Kau sudah berani mengatakan bayiku meninggal. Di mana hati nurani mu?!" Teriak Valerie
"Maafkan aku, aku tidak bisa menjaga bayi kita." Ucap Arya
Huaaaa.....
"Bayiku tiada! Aku tidak percaya ini, kau pasti berbohong dan menyembunyikan dia, bukan?"
Arya hanya menggeleng akibat tak sanggup berkata lagi.
"Ini semua gara-gara wanita itu yang sudah membunuh bayiku. Kau harus melakukan sesuatu untuk membalas kematian bayiku."
"Aku tidak ingin kehilangan bayiku!" Teriak Valerie dengan mencabut infus yang terpasang di tangannya secara paksa
Arya berusaha menenangkan Valerie dengan memeluknya yang terus memberontak. Mendengar kericuhan, Dokter dan suster datang ke ruangan Valerie dan memberikannya suntikan bius obat tidur.
Hingga kini ia tidak sadarkan diri dari pengaruh suntikan itu.
"Ini masalah yang sangat berat, Tuan. Kami memahami perasaan seorang ibu yang kehilangan bayinya. Saya harap anda dan istri anda bisa tabah menerima takdir tuhan." Ujar Dokter dan setelahnya pergi
...***...
2 Hari kemudian~
Valerie sudah bisa pulang. Namun, ia hanya diam melamun duduk di atas ranjang.
"Sayang, Hari ini kau sudah bisa pulang.kau pasti bosan, kan? dan kau senang akhirnya bisa keluar dari tempat penjara seperti ini." Ucap Arya menghibur Valerie
__ADS_1
Tetap saja tatapan mata Valerie kosong.
Mengerti dan menatap Valerie dengan sendu.
"Baiklah, sepertinya istriku ini sedang marah pada suaminya.jadi bagaimana caraku agar istriku ini dapat kembali berbicara? Bagaimana jika kita pergi ke tempat hiburan?" Terus Arya menghibur
Tetap diam...
"Sayang, bagaimana caraku agar bisa mengembalikan dirimu seperti dulu? tolong jangan uji diriku seperti ini, aku tidak sanggup melihat dirimu seperti ini." Menggenggam tangan Valerie
"Bawa aku pulang!" Lirih Valerie dengan serak
"lya, aku akan membawamu pulang." Membantu Valerie bangkit dan membopongnya berjalan
Sampai di rumah~
"Istirahatlah! Aku akan membawakan mu makan, kau belum sempat sarapan tadi pagi." Hendak pergi Arya
"Arya, Bisakah kau melakukan sesuatu untukku." Bicara Valerie membuat Arya berbalik dan menghentikan langkahnya
"Jika aku bisa, aku akan melakukan apapun yang kau inginkan." Jawab Arya
"Bisakah kau memberikan bayi itu padaku." Lirih Valerie
"Bayi? Bayi siapa yang kau inginkan?" Linglung Arya
Arya diam untuk berpikir panjang.
"Untuk apa? Apa hubungan bayi itu dengan kita. jika bayi itu adalah darah daging ku, bisa saja aku mengambil anakku darinya. Tapi kau tahu sendiri jika itu anak orang lain." Kata Arya
"Aku hanya ingin membalaskan dendam kematian putraku. Aku ingin dia sama seperti ku yang kehilangan bayinya. Apa itu salah?" Tatap Valerie tajam pada Arya
"Apa yang bisa aku lakukan untuk menuruti keinginanmu?" Tanya Arya
Valerie mengocek laci di sebelah ranjangnya dan mencari sebuah dokumen yang sempat ia berikan dulu pada Dini, namun Dini sendiri menolaknya.
"Ini! Kau bisa membacanya sendiri." Kata Valerie
Dengan linglung Arya pun mengambil dan membacanya setiap huruf yang menjadi kalimat yang ada.
Setelah selesai membaca, Dia menatap Valerie mencari sebuah jawaban.
"Itu adalah sebuah kontrak di mana sudah jelas di sana. Aku ingin kau meminta dia untuk menandatangani nya dengan jaminan dia bisa bebas pergi seutuhnya dari rumah ini, setelah ia melahirkan dan kita membawa anaknya." Ujar Valerie
Arya hanya bisa terdiam meratapi dokumen berupa kontrak hamil itu. tandanya dia akan kehilangan Dini seutuhnya, dia masih bisa tenang karena Dini masih berada di mansion ibunya, tapi jika menyetujui kontrak ini, bisa saja dia pergi meninggalkan negaranya.
"Kenapa kau diam? Apa karena kau takut kehilangan dia selamanya." Ketus Valerie
"Akan ku coba untuk memaksa dia menyetujui kontrak ini bagaimanapun caranya demi dirimu." Jawab Arya
__ADS_1
"Aku ingin melihat tandatangannya sudah terpampang di atas materai 10000 itu saat kau pulang nanti." Ujar Valerie
"Dan satu lagi. Aku ingin kau membawa dia juga ke rumah ini kembali untuk tinggal di sini sampai ia melahirkan nanti." Pinta Valerie lagi
"Baiklah, Aku akan pergi." Jawab Arya langsung meninggalkan Valerie menunju mansion ibunya
"Rasakan itu Dini! Aku akan membuatmu merasakan bagaimana kehilangan anakmu sendiri. Aku akan menjadi seorang ibu yang kejam dengan melampiaskan dendam anakku pada bayimu nanti!" Rencana Valerie
...***...
Arya telah sampai di mansion Pratama. Tanpa ada orang yang menghalanginya masuk.
"Kenapa tak ada satu orang pun yang mencegah dia untuk masuk. aku sudah menjelaskan pada kalian agar pria ini tak sampai menginjakkan kakinya di mansion ku." Kata Bu Amira marah
"Jika bukan karena urusan pribadi, Aku tak ingin menginjakkan kakiku juga di mansion terkutuk ini." Jawab Arya tak sopan
Hal itu membuat Bu Amira sakit hati mendengar kini anaknya menjawab dengan tak sopan padanya.
"Untuk apa kau datang ke sini?" Ketus Darwin
"Aku memiliki urusan dengan wanita itu. bukan dengan kalian." Jawab Arya
Arya langsung menerobos lebih dalam mansion itu dan menuju kamar Dini berada yang selama ini ditempatkan di kamar Arya saat di mansion.
Melihat pemberontakan Arya yang seenaknya, Darwin dan Bu Amira pun mengikutinya.
Brakk!!
Arya membuka pintu kamar miliknya dulu dengan keras. Dan benar dugaannya, Dini berada di sana.
Akibat suara pintu yang dibuka keras itu, membuat Dini tercekat dan terkejut dibuatnya.
Sontak ia melirik ke arah pintu yang di mana sudah terdapat Arya berjalan menghampirinya.
"Kau?? Untuk apa kau di sini?" Bangkit Dini dari tempat tidur
"Tanda tangan kontrak ini sekarang juga!" Langsung Arya dengan sarkas
"Datang-datang kau sudah memaksa orang lain dengan tujuanmu yang tidak jelas. Apa kau tidak bisa bersikap lemah lembut sedikit saja." Hardik Dini
"Aku tak memiliki urusan untuk menjawab omong kosong mu. Karena kau sendiri sudah membacanya saat Valerie memberikan ini untukmu. dan aku datang untuk meminta keputusan yang sudah diberi waktu lama."
Seketika Dini mengingat isi kontrak itu.
"Jadi nona Valerie masih saja ingin aku mendatangi kontrak yang dibuatnya!" Gumamnya langsung murung
"Apa ini sudah saatnya aku mendapat kesedihan kembali dengan mengharuskan aku untuk memberikan bayiku pada orang lain. Di sisi lain mereka mengancam ku, dan di sisi lain jika aku memberikan bayiku pada mereka, anakku tidak akan aman karena isinya iblis di dalam rumah itu. Ayahnya sendiri yang seharusnya memberikan perlindungan, tidak akan menganggapnya." Gumam Dini sampai mengeluarkan air mata
"Kenapa dia menangis? Apa yang dia pikirkan? Saat ini aku paling tidak bisa jika harus melihat dia mengeluarkan air matanya." Gumam Arya yang menyadari air mata Dini keluar sampai benar-benar menyiksa batinnya
__ADS_1