Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 98 - Pemberontak


__ADS_3

Brakk!


Suara dobrakan pintu, membuat Bu Shani dan pelayan lainnya yang sedang membersihkan rumah di ruang utama merasa terkejut.


"Siapa kalian?!" Geram Bu Shani, saat melihat kelompok berbaju hitam menyerang rumah majikannya mereka membawa senjata api.


"Siapa kalian sebenarnya!" Teriak Bu Shani lagi, Banyak pelayan yang ketakutan bersembunyi di belakang Bu Shani


"Bu Shani, siapa mereka? Apa mereka anak buah Tuan Arya, tapi pakaian mereka tak seperti itu." Tanya pelayan wanita yang masih muda gemetar ketakutan


"Entahlah, ibu juga tidak tahu. Jika mereka penjahat, mereka tidak bisa masuk ke rumah, di luar sudah banyak anak buah yang dikerahkan Tuan untuk menjaga rumah ini." Jawab Bu Shani tidak mengetahui kelompok berbaju hitam tersebut.


Dorr! Dorr! Dorr!


Tiga tembakan dari arah luar, melesat mengenai dada kiri sang pelayan yang sudah dianggap keluarga, Bu Shani. Sepuluh pelayan muda lain pun teriak histeris saat melihat ketua pelayan mereka jatuh tak sadarkan diri lagi. Bu Shani sudah meninggal!


"Bu Shani! Bangun Bu! Bangun!" Teriak mereka histeris


"Bu Shani sudah tiada, Kak." Ucap Pelayan lain menangis histeris


Dor...


Dor...


Dor...


Tembakan sebanyak 10 kali sesuai jumlah pelayan muda ditembak ke arah mereka satu persatu tepat sasaran. Mereka tumbang tidak bernyawa lagi. Dalam dua menit semuanya sudah meninggal, ini akibat kelompok pemberontakan itu.


Mendengar suara tembakan yang menggema beberapa kali. Dini yang tengah tertidur, dibangunkan oleh suara tembakan itu. Ia tercekat mendengar suara keributan dan teriakan histeris tak jauh dalam rumahnya.


Dini bergegas pergi keluar. Di atas balkon ia melihat kelompok pria berbaju hitam bertopeng dan membawa senjata api sedang berkeliaran tengah menaiki tangga seolah mencari seseorang. Yang membuatnya tak bisa berkata-kata lagi adalah melihat Bu Shani dan semua pelayannya berlumuran darah tak bernyawa lagi.


Mengetahui sedang berada dalam masalah, Dini berlari masuk ke kamar membangunkan kedua putranya untuk melarikan diri dari kelompok pemberontak itu.


"Arsen,,, Ansel,,, Nak, Ayo bangun!!" Guncang Dini membangunkan kedua putranya


Merasa terusik, Arsen dan Ansel akhirnya terbangun. Mereka terkejut mengapa ibunya sangat khawatir seperti itu, pagi hari sekali ibunya sudah berkeringat.


"Ada apa ibu? Apakah sudah waktunya pergi ke sekolah?" Tanya Ansel khas orang baru bangun tidur yang masih mengantuk


"Nak, Kita harus segera pergi dari rumah ini. Se-semua orang sudah meninggal, mereka sudah ditembak. Di luar, ada kelompok orang bersenjata api mencari kita!!" Kata Dini menjelaskannya terburu-buru


"Semua meninggal? Senjata Api? Ibu, aku sangat takut!" Tangis Ansel


"Iya, kita harus cepat pergi dari sini." Ajak Dini memegang tangan kedua putranya

__ADS_1


"Ibu, kita pergi lewat jendela saja. Tapi ibu sedang hamil, bagaimana ibu bisa menuruninya?" Ucap Arsen memberi usul, namun ia ragu melihat kondisi Dini


"Tidak masalah Arsen, Ibu akan berusaha untuk menuruninya. Lebih baik ibu mengikuti saran mu daripada kita tertangkap oleh pemberontak itu." Ujar Dini


Arsen pun bergegas mencari kain, menyambungkannya menjadi satu, mengikat dengan kuat di balkon kamarnya untuk melarikan diri dari kelompok pemberontak.


Satu persatu Arsen dan Ansel telah berada di bawah berhasil menuruninya. Kini hanya tinggal Dini yang masih ragu-ragu untuk turun takut membahayakan bayinya. Tapi ia rela mengambil risiko, perlahan dan berhati-hati, ketakutan dan berjaga, akhirnya Dini berhasil menuruni ikatan kain membentang panjang menjuntai ke bawah.


"Ayo cepat kita lari!" Ajak Dini


Benar saja, saat melawati halaman rumah menuju gerbang utama, ternyata mereka sendiri. Anak buah yang dikerahkan Arya sudah terdampar tak bernyawa berhamburan tergeletak di tanah dari segala penjuru rumahnya.


Anak buah dan pelayan yang malang. Apa salah mereka, kenapa mereka bisa kalah melawan pemberontak yang tidak ada tandingannya. Anak buah Arya sangat hebat bahkan tidak ada satupun yang bisa melawan mereka, tapi kenapa dengan hari ini?


Di Dalam.


"Kalian habisi mereka sekarang juga, jangan sampai ada yang tersisa. Cari wanita itu secepatnya di seluruh penjuru rumah ini. Cepat!" Titah Lucas dengan tegas tanpa bantahan sedikit pun.


"Bos,,, Mereka melarikan diri lewat jendela!" Teriak salah satu pemberontak itu di dalam kamar Arsen


"Cepat kejar mereka!!" Titah seorang pria yang statusnya memiliki pangkat tinggi sebagai ketua kelompok, namanya Lucas!


Di sisi lain.


Ketiga orang tengah berlari menjauh dari rumah mereka yang diserang. Dini sudah tak bisa menahan rasa lelahnya lagi, larinya semakin lambat, ia tak sanggup lagi untuk berlari. Perutnya pun keram, dadanya sesak tersengal-sengal.


"Ibu sepertinya kelelahan. Kita juga lelah, sebaiknya kita beristirahat saja di sini. Penjahat itu sepertinya tidak mengejar kita." Kata Arsen


"Ibu, aku akan mencari air agar ibu bisa minum." Ucap Arsen lagi


"Tidak Arsen, ibu sungguh tidak apa-apa. Ini masih pagi nak, tidak ada penjual yang sudah membuka dagangnya." Ucap Dini berbicara tidak beraturan


"Tapi ibu..." Lirih Arsen


"Kau membawa handphone mu? Telepon nenek atau kakek... Tanya pada mereka apakah baik-baik saja?" Titah Dini


"Iya Ibu, aku akan menelepon nenek." Ucap Arsen mengocek saku celananya


Arsen segera mencari kontak neneknya. Namun, sebelum ia menekan panggilan, sosok pria berbaju hitam kekar sudah menodongkan pistol tepat di tangan Arsen yang memegang handphonenya.


Semua mata tertuju pada pria itu. Pria itu tidak memakai topeng dan tengah menyeringai ke arah mereka.


"Rupanya kalian sedang bermain petak umpat denganku. Dan sekarang aku sudah menemukan kalian. Apakah sudah saatnya kita mengganti pemain untuk melanjutkan petak umpat ini." Ucapnya mengejek


Semua bergemetar hebat. Mereka sudah terkepung tak bisa melarikan diri. Pria itu merebut handphone Arsen dan menghancurkannya.

__ADS_1


"Bedebbbahh! Siapa kalian sebenarnya?!" Teriak Dini dengan mata yang sudah memerah dipenuhi kabut amarah. Ia tak sanggup melihat putranya diperlakukan kasar seperti itu.


HAHAHA!!


Suara tawa menggelegar dari seorang pria yang baru saja berhasil menemukan mereka di jalan yang kosong melompong sepi, tak ada satupun yang berlelangan. Mereka benar-benar sendirian bersama orang jahat. Alam seolah mendukung penjahat sehingga tidak ada satupun dapat menolong mereka.


"Apa kau puas melihat kejutan dariku?" Tanya seorang pria dengan senyum devil nya.


"Siapa kau! Berani sekali kau membunuh orang yang tidak berdosa!" Geram Dini saat melihat seorang pria, yang ia yakini sebagai ketua kelompok baju hitam itu.


"Tanyakan pada suami mu. Dia yang sudah memulainya dari awal!" Gertak seorang pria tersebut dengan tatapan mautnya


"Siapa kau? Di mana suamiku? Kalian pasti menyembunyikannya, Kan. Suamiku pasti ada dalam bahaya." Gertak Dini pada sosok pria yang tidak tahu asal muasalnya.


"Aku Lucas, anak buah Antonio, yang sudah suamimu rebut anak buah kesayangan dan anak angkatnya!" Ucap Lucas dengan penuh tekanan.


Mendengar hal itu, Dini menggelengkan kepala, karena merasa hal itu tidak lah dilakukan oleh suaminya yang dan tindakannya selalu benar memberantas orang jahat.


"Kau lupa siapa Richo? Kau sendiri sudah mengenalnya sejak dulu. Richo adalah sahabatku dan anak buah kesayangan Tuan Antonio, kehilangan anak buah yang berjasa baginya sudah dianggap anak sendiri membuat seekor singa yang tengah tidur akhirnya terbangun untuk membalaskan dendam pada suamimu." Ucap Lucas lagi penuh tekanan


"Semua tidak mungkin! Tindakan suamiku sudah benar. Orang jahat memang tidak pantas untuk hidup. Tidak ada kejahatan dalam membunuh orang jahat seperti kalian." Gertak Dini


Lucas semakin geram mendengar penghinaan yang keluar dari mulut Dini.


Plaak! Plaak! Plaak!


Tanpa berbasa-basi lagi, Lucas menampar wanita hambil tersebut, hingga tak berkutik dan megeluarkan banyak darah dari sudut bibirnya.


Tamparan dilayangkan sebanyak tiga kali cukup keras di pipi Dini. Dini sampai terpaksa memalingkan wajahnya ke kanan dan kiri menerima tamparan ibu.


"Ibu..." Pekik Arsen dan Ansel sedih dan kasihan melihat ibunya diperlakukan buruk


"Pria yang tak memiliki hati. Kau iblis yang menyakiti wanita bahkan sedang hamil!" Teriak Dini


"Kau bisa lihat wajahku? Apakah tampak ada kepedulian?" Hardik Lucas


"Cepat bawa wanita ini. Dan amankan kedua bocah tengil ini!" Titah Lucas pada bawahannya


"Apa yang akan kalian lakukan! Lepaskan aku! Arsen! Ansel!" Teriak Dini melihat putranya dibawa paksa


"Ibuuu... Tolong kami!" Teriak Ansel terseret


"Lepas! Kalian akan membawaku kemana? Jangan bawa aku pergi jauh dari ibu kami." Teriak Arsen memberontak


"Lepaskan mereka! Aku mohon padamu. Kalian akan membawa putraku kemana?" Isak Dini ingin mengejar kedua putranya yang menjauh tapi Lucas mencengkeramnya

__ADS_1


"Ibuuuuu..." Panggil Kedua putranya teriak, mereka semakin menjauh dibawa oleh mobil hitam yang entah akan kemana


Dini tak berdaya. Ia tidak bisa menolong Kedua putranya. Ia hanya bisa terduduk meratapi tangisan putranya.


__ADS_2