
Arya kini tengah berada tepat di ranjang kamarnya. Akibat ia mengalami efek samping dari menelan pasta gigi itu, dia pulang lebih awal untuk mengistirahatkan dirinya.
Ia berbaring tanpa ada Valerie di kamarnya. Valerie entah pergi kemana bersama Bu Clara saat Arya pulang pun mereka sudah tidak ada di rumah.
Mendengar kabar dari Bu Shani yang memberitahu jika Arya sedang diare, membuat Dini pergi mengunjungi Arya di kamarnya.
"Tuan, Bu Shani mengatakan jika Tuan sedang diare. Apakah itu benar?" Ujar Dini yang langsung masuk begitu saja ke kamar Arya dan terlihat khawatir
"Hahh,,, Bagaimana lagi. Akibat menelan pasta gigi kemarin aku harus dengan ikhlas menerima risiko ini." Jawab Arya terlihat pasrah sampai menghela napas diawal
"Aku benar-benar minta maaf padamu, Tuan. Aku tidak tahu jika kau ternyata akan menderita seperti ini. Apalagi Bu Shani mengatakan Tuan terus berbolak-balik pergi ke toilet. Aku benar-benar bersalah." Ujar Dini menyesal
Arya sungguh kebingungan dengan dirinya sendiri, sejak pertama kali ia melihat wanita ini dia selalu tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri untuk tetap mengkasarinya. Tapi kali ini dia terlihat lemah di hadapan wanita ini dan terus terpesona padanya.
Sedangkan Dini yang melihat tatapan Arya malah menangkap sinyal yang berbeda, Dini tidak tahu jika suaminya sedang terpesona kepadanya, yang Dini tahu sekarang Arya pasti marah besar karena dengan tidak tahu diri berani meminta suatu darinya bahkan tak masuk di akal.
"Tuan..." Dini berbicara pelan, sembari memejamkan matanya, dia sudah pasrah jika akan ditindas
"Hmmm?" Arya menyahuti juga, dan sedang menahan segala gejolak gairah yang ada pada dirinya kali ini setiap melihat Dini
"Maafkan aku, aku tidak tahu mengapa aku bisa berani memerintah padamu, sungguh ... percayalah padaku, tadi malam aku benar-benar tidak paham dengan apa yang menarik ku bisa seperti itu, tapi anehnya saat Tuan rela melakukan itu untukku, keinginan ku sudah tercapai dan menjadi lebih tenang. mungkin itu yang dinamakan mengidam," Kata Dini
"Mungkin sulit di percaya akan tetapi aku mengatakan kebenaran, aku tidak berbohong, tolong jangan marah kepadaku, Aku bukan dengan sengaja ingin memberimu sebuah pelajaran." Lanjut Dini
Dini mencoba meyakinkan Arya, berusaha sekuat tenaganya agar Arya tidak segera mengkasari atau mengucilkannya seperti dulu.
Tapi saat Dini terlihat seperti sedang memohon dan memejamkan matanya, Arya langsung berada diluar kendalinya sekarang ini.
Dimata Arya kini Dini benar-benar terlihat menggoda sekali, seperti mengasah kesabarannya, sejak tadi malam Arya sudah menahan dirinya sekuat mungkin, dan sore ini dia harus melihat keindahan itu lagi, tubuh yang masih teringat hanya menggunakan piyama Navy menunjukkan lekuk tubuhnya yang tak memakai pakaian dalam kala itu dan kelihatan sangat seksi di matanya kemarin bahkan sekarang.
Apalagi saat Dini memohon dan menjelaskan bagaimana dia memiliki rasa mengidam, hal itu sangat lucu dan imut.
Kepolosan dan keluguan wanita ini terkadang membuat Arya kesal namun, juga di saat yang bersamaan gemas juga.
__ADS_1
"Haahhh!" Napas Arya menjadi berat dan panas, dia secara perlahan tanpa sadar bangkit dari berbaring nya dan menghampiri Dini, dia mendekatkan wajahnya dengan Dini
Tubuhnya juga ia dekatkan, hingga menempel dengan tubuh Dini, matanya hanya tertuju ke arah bibir mungil merah cerry milik Dini.
Sekarang tubuhnya bergerak sendiri di luar kendalinya.
Napasnya yang panas dan tubuhnya yang sudah bersentuhan dengan tubuh Dini sungguh memberikan sensasi hangat yang menggairahkan baginya. Wanita hamil ini benar-benar sudah membuatnya tergoda.
Padahal belum melakukan apa-apa akan tetapi sesuatu seperti bergejolak dalam dirinya.
Dini yang menyadari tubuhnya sedikit berat dan merasakan napas Arya benar-benar ada di hadapannya, segera membuka mata lebar-lebar, dia mengedipkan matanya berkali-kali, kebingungan mengapa Arya sangat dekat dengannya sekarang ini.
"Tuan, apakah kau baik-baik saja? kenapa kau dekat sekali? wajahmu juga terlihat merah, apakah kau marah besar karena aku berani memerintah mu?" Ujar Dini yang panik
Yang ia tahu, Arya sekarang sedang marah.
Arya yang sudah dekat sekali dengan bibir Dini langsung terhenti, dia menatap mata Dini sekarang yang terlihat begitu polos dan murni.
"Aku ingin bercinta dengannya sekarang juga, tapi matanya sangat polos, kenapa dia memiliki tubuh dan wajah yang sangat indah dan di sisi yang sama dia memiliki kepolosan dan kemurnian itu? tidak adil! Dia sudah berani menggodaku." Geram Arya berdebat lagi dalam dirinya
Dia segera melepaskan Dini dan berbaring kembali, masih terdiam dan menelan salivanya.
Arya menenangkan dirinya sendiri sejenak, jantungnya yang berpacu tidak karuan harus ia tenangkan.
la juga berencana akan memeriksa jantungnya ke Mayo, memeriksa apakah ada sesuatu yang salah.
Hal ini sungguh sedikit mengganggunya, bagaimana jantungnya berpacu tak karuan tanpa sebab yang ia ketahui pada wanita yang ia bencinya.
"Hei kau!" setelah beberapa saat, Arya memecah keheningan itu lagi
"Ya... Tuan?" Dengan sigap Dink langsung duduk dan siap menerima perintah apapun yang akan diberikan oleh Arya untuknya
"Aku tidak tahu apakah kau sengaja menggodaku atau tidak, akan tetapi jika kau masih menunjukkan tubuhmu kepadaku seperti ini, kau akan merasakan apa yang tidak pernah kau rasakan, dan aku tidak akan menahan diri lagi!" Arya berbicara ketus, dia menutup wajahnya berpura-pura sedang menggigit kuku menggunakan tangan, juga sebenarnya untuk menutupi seberapa merah wajahnya sekarang
__ADS_1
Sungguh, jika ada orang yang tahu Tuan Arya malu dihadapan istrinya sendiri, maka orang itu pasti pingsan, karena ini merupakan kali pertama.
Ya, bukan hanya Dini saja yang merasakan banyak kali pertama, Arya juga merasakan hal yang sama, merasakan banyak kali pertama sejak ia bertemu dengan Dini yang kini merubah sisi tujuannya.
Seperti misalnya menjadi malu, jantungnya berdegup kencang dan gairahnya meledak-ledak.
"Menggoda?"
"Menunjukkan tubuh?"
Dini kebingungan dengan segala ucapan Arya, dan bingung mengapa Arya menutupi wajahnya saat mengatakan itu.
Dini yang mendengar ucapan aneh Arya itu segera melihat ke bawahnya melihat tubuhnya yang hanya mengenakan kemeja putih.
"Kyaa!" Dini berteriak kecil ketika melihat jika tubuhnya benar-benar terlihat transparan, dan itu semua karena sinar matahari terbenam yang membuat tubuhnya terlihat dengan jelas
Dini langsung dengan refleks menutupi dadanya menggunakan kedua tangan, dia menunduk malu sekali, pipinya merah dan dia membeku tak bisa melakukan apapun.
"Kau baru menyadarinya? Jika sedari tadi dihadapan ku kau hanya memakai kemeja. Apalagi sepertinya kemeja itu adalah milikku." Ujar Arya yang baru terus terang
"Aku ceroboh sekali, karena diri sendiri yang tidak sadar membuatku tidak memperhatikan jika aku hanya mengenakan baju tipis ini saja, huhu ... Aku juga tidak tahu kapan memakai kemeja ini dan berapa lama. Apa yang dipikirkan oleh orang lain sedari tadi dengan melihat ku seperti ini? Aku benar-benar bukan seorang pencuri yang menyelusup masuk ke kamarmu Tuan. Sebenarnya apa yang terjadi denganku akhir-akhir ini? Kemarin tidak memakai pakaian dalam, dan sekarang memakai kemeja Tuan."
Dini menangisi kecerobohannya.
Namun di sisi lain, ia segera sadar tidak ada intensitas kemarahan dari Arya dari sejak dia meminta maaf dan merasa bersalah ketika kejadian kemarin malam sampai membuat Arya diare.
"Pffttt, kenapa dia menggemaskan sekali saat ia malu dan berteriak kecil seperti itu? wanita ini kelihatan begitu kecil, lemah namun sangat menggemaskan!" Terus terang dalam hatinya
Arya terkekeh sendiri, dan dalam waktu singkat langsung menepisnya kembali.
"Apa yang baru saja aku katakan? menggemaskan? dia? hahaha... kau pasti sudah gila Arya! lupakan! lupakan!" Geram Arya menggelengkan kepalanya
Arya juga segera bangkit, menarik selimut dan menutupi tubuh Dini. Dini sudah terlihat seperti gundukan selimut sekarang dengan seluruh tubuh termasuk wajahnya di tutupi oleh selimut.
__ADS_1