Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
179. Kerajinan Pahat


__ADS_3

Di luar Rumah Sakit.


"Sebagai ganti agar kau tidak stres terus berada dalam rumah. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Bicara Arya setelah keluar dari rumah sakit


"Maksud Tuan?" Tanya Dini bingung


"Tck, Berapa kali aku harus berbicara denganmu sampai kau bisa mengerti. Aku akan mengajakmu jalan-jalan." Kesalnya


"Jalan-jalan? Tapi Tuan sendiri harus pergi ke kantor." Cetus Dini


"Aku adalah pemimpin di sana. Aku bebas ingin masuk atau tidak. bahkan jika perlu, seumur hidup aku tidak menginjakkan kaki di sana lagi."


"Apa alasan Tuan ingin mengajakku pergi?"


"Kau cerewet sekali, ya! Apa susahnya kau tinggal menyetujui ini dan ikut denganku. Tidak perlu banyak bicara, Ayo!" Hardik Arya. Langsung menarik tangan Dini memasukannya ke dalam mobil


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di tempat Arya tuju.


Taman Hiburan~



"Baiklah, sekarang waktunya untuk kita bersenang-senang, mulai hari ini, aku akan menunjukkan dunia kepadamu, akan aku tunjukkan semuanya jika di dunia ini terdapat tempat yang begitu menyenangkan." Seru Arya membawa Dini memasuki tempat itu


Kini di hadapan Dini terlihatlah taman hiburan yang paling besar di negaranya.


Ada rollercoaster melingkar, Ada bianglala lingkaran terlihat dari jauh yang begitu besar menjulang tinggi, banyak hal-hal lucu dijual di pinggiran jalan, banyak sekali hal-hal menarik seperti permainan yang baru pertama kali dilihat oleh Dini, dan banyak wahana lainnya.


Baru saja pagi hari dan buka di pukul 09.00 tempat itu sudah ramai pengunjung walaupun di hari biasa.


Mata Dini berbinar dan jantungnya berpacu, ini sangat spektakuler baginya.


Arya membawa Dini ke taman hiburan, Arya akan menunjukkan hal-hal menarik yang mungkin belum pernah dilihat Dini sebelumnya bahkan setelah menikah dengannya.


"Tunggu sebentar di sini jangan pergi kemana-mana, aku akan membeli tiket dulu." Arya pergi meninggalkan Dini, dan Dini mengangguk dan matanya hanya terkunci ke arah sebuah pemandangan puding yang lucu berbentuk itu


"Glek!"


Dini menelan salivanya karena ingin sekali memakan dan merasakan puding lucu yang dimakan oleh anak-anak yang berlalu lalang di hadapannya sejak tadi.


"Apa itu makanan atau sebuah kerajinan yang dipahat? Tapi, dari tadi anak-anak memakan itu, tandanya bisa dimakan." Ucap Dini terlalu polos untuk mengira


Setiap kali ada seseorang membawa puding itu, matanya akan mengikuti orang itu, begitu terus sampai ia penasaran sekali, mengapa bentuknya bisa terlihat seperti kerajinan pahat dan berwarna-warni.


Kebetulan, di hadapannya banyak sekali penjual yang menjajakan jualan yang bisa menjadi pencuci mata, yang relatif dipenuhi para pembeli di setiap toko mereka.


"Waahhhh...." Mulut Dini sampai melebarkan mulut, ia melangkah sendiri, seolah tubuhnya terpanggil lucunya puding yang sejak tadi menarik perhatian sampai menginginkannya


Dini berdiri di depan salah satu penjual dengan mata yang terpaku ke salah satu bentuk puding yang di pajang untuk menarik pembeli, dengan ekspresi yang sangat polos dan lugu.


"Nona, apakah anda menyukainya? anda bisa membelinya jika ingin." Penjual yang memperhatikan gadis cantik jelita di depan tokonya


"Be ... beli?" Dini berbicara pelan sembari merogoh saku dress nya yang kosong melompong


Dini tahu jika dirinya miskin dan tidak memiliki uang sepeser pun yang ia bawa.

__ADS_1


Setelah menyadari tak ada uang sepeser pun di kantungnya, Dini langsung menunduk lesu, dia melirik sedih ke arah puding itu.


Lalu, ia menggelengkan kepalanya ke arah penjual dengan ekspresi yang sangat menyedihkan, mengatakan jika dia tidak bisa membelinya.


"Tidak Pak, Saya tidak memiliki uang." Jawab Dini


Disisi lain, Arya yang sengaja pergi tanpa pengawal itu sedang membeli tiket untuk nya dan istrinya menaiki bianglala, saat ia kembali dia tidak menemukan Dini, tentu dia langsung panik.


Wajahnya tiba-tiba pucat, " Di... Dini," Serunya gemetaran, dia hendak berlari namun saat ia menoleh ke depan tepatnya di seberang, dia melihat Dini berdiri begitu lucu di depan penjual puding berwarna-warni


"Hahhh!"


Arya menghela napasnya dalam-dalam, dia lega sekali ternyata Dini tidak hilang atau malah diculik.


Arya langsung melangkah dengan cepat ke arah Dini, tiket yang sudah ia beli di masukkan ke dalam saku celana agar tidak hilang.


Srek!


Arya segera menarik tangan Dini dan menggenggamnya kuat.


"Bukankah aku sudah mengatakan jangan pergi kemanapun? kenapa kau berpindah ke sini? bagaimana jika kau hilang atau tersesat?" Arya langsung mengomel, mencubit pipi istrinya pelan


Namun saat Arya memarahi Dini, saat itulah Arya melihat bibir Dini telah berair dan baru saja Dini menelan salivanya dengan berat, seperti hendak memakan sesuatu.


Arya mengenyitkan dahinya bingung, mengapa wajah Dini terlihat merah dan bibirnya basah.


Lalu, Arya melihat puding yang ada di hadapannya.


"Pffftt ...." Arya terkekeh lucu, dia sampai harus memiringkan wajahnya karena merasa Dini benar-benar selucu dan selugu itu


"Glek!" Dini menalan salivanya namun dia menggelengkan kepala, menolak tawaran Arya


Dini tidak ingin merepotkan Arya, di mana harus mengeluarkan uang untuk membeli kerajinan pahat itu.


Namun, tatapannya masih belum bisa ia palingkan dari puding itu.


Sisi lain Arya yang kejam dan juga angkuh, ia pun memiliki sisi jahil saat melihat wajah super lucu Dini tiba-tiba saja membara.


"Aku kerjai saja dia." Benak Arya dengan tatapan yang membara


"Ooh, tidak ingin, yasudah kita pergi ke tempat lain, kita naik bianglala nya 20 menit lagi, sedang banyak yang membeli tiket tadi." Seru Arya hendak berlalu


Dini yang terkejut setelah Arya hendak pergi meninggalkan kerajinan pahat nya itu langsung panik.


Dengan hanya menggunakan jari jempol dan telunjuk, Dini memberanikan dirinya menarik jas Arya yang berpakaian setelan kantor ke taman hiburan itu, lalu ia menunduk dengan pipi yang sudah merah sekali.


"Umm, aku... aku ingin, Tapi Tuan bagaimana jika harganya mahal, aku tidak ingin merepotkan mu." Seru Dini seperti ingin menangis


Hanya ingin meminta puding saja, dia seperti tengah mempertaruhkan hidupnya.


Arya yang sudah puas mengerjai istrinya dan telah melihat wajah menggemaskan itu segera menarik tangan Dini dan mendekapnya, di hadapan banyak sekali orang, namun wajahnya ia hadapkan ke wajah Dini agar ia tetap bisa melihat wajah merona istrinya ini.


"Berapa lama kau hidup bersamaku sampai tidak mengetahui keunggulan suamimu ini. Kau tahu, aku ini sangat kaya, aku bahkan bisa membelikanmu apapun yang kau inginkan, mulai hari ini jika ada yang kau inginkan, atau kau perlukan, katakan saja padaku, aku akan membelikannya untukmu, jadi jangan takut untuk meminta sesuatu."


Mendengar ucapan itu, Dini langsung tersenyum lebar, dia mengangguk bersemangat.

__ADS_1


"Humm,,," Seru Dini bersemangat, walau sebenarnya tentu saja Dini tetap heran dengan sikap Arya akhir ini. Dan pastinya dia tidak akan meminta apapun selain keinginannya kali ini


Arya segera membelikan puding itu untuk Dini.


"Bentuk mana yang kau inginkan?" Tanya Arya


Dini pun langsung bersemangat menunjuk bentuk puding yang menjadi pusat perhatian sejak tadi.


"Ini..." Tunjuk nya antusias



Ya, Bentuk yang ia pilih adalah kelinci.


"Berikan bentuk ini untuk kami." Ucap Arya pada pedagang nya


Pedagang itu pun langsung memberikan 2 buah puding yang lucu itu pada Dini. Dia mengambil kerajinan pahat nya dari tangan pedagang dengan sangat antusias.


"Berapa semuanya?" Tanya Arya ingin membayar. Namun, ia lebih mendekatkan diri pada pedagang agar menjawab harganya di bisikan ke telinganya saja


"Hanya 745 ribu!" Jawab santai pedagang berbisik


Puding biasa dan bentuknya kecil, dan mungkin hanya sekali suapan, entah berbahan apa sampai menjadikannya puding mahal.


Arya pun segera mengocek sejumlah uang itu di dompetnya tanpa memperlihatkan pada Dini.


Mereka segera pergi dari sana dan duduk di kursi yang tersedia sambil menunggu giliran mereka menaiki bianglala.


Dini sungguh senang dan ceria kali ini. Dia terus menilik puding itu ke kanan dan ke kiri. sangat penasaran bagaimana rasanya kerajinan pahat itu namun, sangat sayang untuk dimakannya.


"Aku jadi tidak tega memakannya. Bentuknya sangat lucu pantas untuk dipajang." Ujar Dini


"Makanlah! Itu bukan foto untuk dilihat dan dipajang, lama-lama akan busuk dan akhirnya tidak bisa dimakan." Kata Arya


"Berapa Tuan tadi membayar ini?" Tanya Dini


"Heuh! Kau salah mengira. Tadi aku membayar hanya 75 ribu, itu tandanya hanya 32.500 per buah. Ini adalah barang murah yang baru pertama kali aku membelinya, Jika tahu semurah itu, aku pasti akan langsung memborong nya." Picik Arya dengan angka 4 nya dihilangkan


"Murah sekali. Jika tahu harganya murah, aku akan sering mengunjungi tempat ini hanya untuk membeli yang menggemaskan ini." Kata Dini


"Dasar wanita aneh! Aku sedang bercanda, tapi dia menanggapinya dengan serius." Gumam Arya terhibur


"Lihat! Bentuk kelinci ini wajahnya mirip dengan Tuan." Ketus Dini menyandingkan puding itu di sisi wajah Arya dan menyamakannya


Terlihat wajah Arya yang datar tanpa ekspresi itu begitu kaku dilihatnya.


"Kau mengejekku?" Geramnya


"Ha, ha, ha... Ternyata kelinci besar ini bisa berbicara." Ejek Dini


"Hufftt... Cicipilah! Dan beri tahu bagaimana rasanya." Ujar Arya


Dini pun mulai mencicipinya sedikit, lalu ia sedikit menyipit saat memakan sedikit, "Rasanya terlalu manis, tapi enak, terima kasih ya, Tuan, sudah membelikan aku kerajinan pahat ini." Ucap Dini tersenyum begitu lepas dan lebar


"Kerajinan pahat? hahahah, lucu sekali, kenapa kau mengira puding ini kerajinan, hahaha..." Seru Arya tertawa lepas

__ADS_1


Kini Arya suka sekali menghabiskan waktu bersama Dini karena kepolosan dan betapa berterus terangnya Dini dengan segala hal yang ia rasakan. dia benar-benar wanita yang polos, menarik, dan berbeda dari yang lainnya.


__ADS_2