Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
155. Menjenguk Luna


__ADS_3

Dengan pelan Arya membuka pintu kamar Luna. Sebelum pintu itu terbuka penuh, Arya dan Dini di sampingnya yang membawa nampan makanan, sudah melihat kondisi Luna yang masih terduduk di atas ranjang dengan tatapan mata kosong dan sembap.


Arya sangat berjalan dengan pelan-pelan menghampiri Luna bahkan hampir suara sepatunya saja tidak terdengar. Mata yang menatap lirih dan sendu itu terpampang nyata di mata Arya yang sedih dan kasihan melihat adiknya dengan kondisi hancur.


Tanpa menyadari jika ada orang yang datang. Luna masih tetap dalam lamunannya.


Saat Arya duduk di samping Luna, Dia kembali terhenyak.


"Melvin aku mohon jangan lakukan ini!" Syok Luna bersembunyi dari balik selimut


Dini yang berada di sana pun sama terkejutnya tak tega melihat Luna.


"Luna, Ini aku kakak mu Arya!" Pegang kedua tangan Arya menyentuh bahu Luna


Luna yang sudah terisak dan mencoba menjauhi siapa saja yang datang ia anggap Melvin yang mencoba menodainya.


Mendengar itu adalah kakaknya, perlahan Luna membuka selimut yang menutupi matanya untuk memastikan.


"Kakak!!" Langsung Luna menerjang Arya dengan memeluknya erat dan menangis di dada bidangnya


Dengan erat Arya juga membalas pelukan Luna yang menghangatkan tubuhnya menyimpan sebuah ketenangan dengan mengelus kepalanya lembut.


Hiks... hiks...


Luna kembali menangis histeris di pelukan Arya.


"Apa yang sudah membuat adikku yang cantik ini bersedih, Heuh? Luna yang ku kenal selalu ceria dan menebar senyumnya."


"Kakak, Aku sudah kotor." Ucapnya


"Kau tidak kotor. memangnya kau sedang bermain di sawah?!" Usaha Arya menghibur Luna


Terdengar dari sela tangisnya Luna tertawa kecil.


"Tetaplah menjadi Luna yang selalu bahagia seperti tanpa masalah. Jika kau seperti ini kau terlihat tidak cantik." Cetus Arya hanya menghibur walaupun kondisinya tidak memungkinkan dan ia sendiri sebenarnya sangat terluka


"Tapi aku takut, Kak." Ujar Luna


"Apa yang membuatmu takut? Kakak mu ini ada di sini dan akan membantumu."


"Pria itu..." Ucap Luna terhenti


"Tidak, Aku tidak boleh mengatakan video itu pada siapapun. Aku takut jika Melvin lebih bertindak jauh padaku." Gumam Luna di sela bicaranya yang terhenti


"Ada apa, Luna? Pria itu, kenapa?" Menelisik Arya


"Tidak kakak, Aku tidak apa-apa." Jawabnya menyembunyikan sesuatu


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk menjelaskannya." Kata Arya


Seketika Luna kembali terlihat linglung.


"Kau belum makan sedari pagi, Bukan? Kau harus makan, jika tidak nanti kau akan semakin sakit. Kakak akan menyuapi mu, Ya?" Ujar Arya


Luna mengangguk ingin dan membuat semua bahagia akhirnya Luna ingin makan juga.


Sangat senang Arya mengambil mangkuk berisi bubur dari tangan Dini yang dibuat sengaja oleh Dini khusus untuk Luna yang sedang sakit.


Arya pun menyuapi Luna dan langsung disambut oleh mulut Luna yang membuka dan memakannya.


Perasaan Arya dan juga Dini dan Bu Amira yang sedari tadi mengintip di belakang dinding luar kamar Luna bernapas lega akhirnya putrinya makan.


"Bagaimana rasanya, Enak?" Tanya Arya tersenyum


"Aku belum merasakan bubur seperti ini. Rasanya sangat berbeda dari biasa yang ibu buat. Ini sangat enak! Apa ini ibu lagi yang memasak, atau Bu Ashna?" Tanpa ia tahu bahwa saat itu ia memuji Dini


Dini tersenyum kaku mendengar Luna mengatakan rasanya enak dan senang. Di mana bubur itu sendiri dibuat oleh nya.


"Iya, itu ibu yang memasak."


"Ini Dini yang membuatnya!"


Ucap Arya dan Dini bersamaan. Namun, lebih dominan terdengar perkataan Arya. Hal itu membuat Luna pusing.


"Apa yang Tuan katakan? Kenapa dia harus jujur jika aku yang memasak. Jika Luna tahu bahwa aku yang memasak, Dia pasti akan melepehkannya sampai tidak jadi makan." Gumam Dini


Arya pun yang mendengar bicaranya bersamaan dengan Dini dan apa yang dia katakan. Menatapnya tanpa arti dan ekspresi.


"Dia memang sangat mahir dalam memasak. Tak khayal jika dari dulu masakannya selalu enak dan orang lain baru mengetahuinya." Gumam Arya


"Ini Dini yang membuatnya." Ucap Arya malah menegaskan sekali lagi


Tanpa ingin berdebat dengan keadaan. Luna tidak tahu siapa yang harus ia percaya. Hanya saja muncul dalam benak Luna jika Dini sangat baik! Namun, berusaha di tepis langsung olehnya.


Tanpa melepehkannya kembali. Luna memakan habis bubur yang disuapi Arya padanya.


Dan hal itu membuat Dini berpikir bahwa Luna lebih percaya pada perkataannya dibandingkan kakaknya.


"Syukurlah Luna tidak melepehkan bubur itu. Tandanya dia percaya jika bubur itu buatan ibu. Jika dia percaya pada Tuan, dia akan melepehkan nya karena mana mungkin ingin memakan masakan ku." Gumam Dini


Kurang lebih 10 menit untuk bisa menghabiskan bubur itu. Akhirnya mangkuk itu bersih tanpa ada bubur yang tersisa.


Setelahnya Arya memberikan Luna minum yang sama halnya di suapi juga dengan mendekatkan gelasnya.


"Bagaimana, Kau sudah kenyang?" Tanya Arya


"Iya, karena kakak yang menyuapiku rasanya jadi berbeda semakin enak." Jawab Luna akhirnya terukir senyum kecilnya


Arya pun ikut tersenyum.


"Kau bisa berjanji pada kakakmu?" Ujar Arya


"Janji apa yang kakak inginkan dariku?" Tanya Luna


"Kau harus berjanji untuk tidak bersedih lagi. kembalilah pada Luna yang dulu. Kasihanilah ibu yang sedih melihatmu seperti ini diam mengurung diri dalam kamar." Kata Arya


"Kakak juga akan berjanji untukmu dengan menindaklanjuti kasus ini ke pengadilan agar pria itu dihukum seberat-beratnya." Lanjut Arya

__ADS_1


"Aku akan berjanji pada kakak. Tapi aku mohon jangan membawa kasus ini ke pengadilan." Sontak Luna


"Kenapa? Pria itu pantas untuk dihukum karena sudah memperkosa mu. Kau tidak perlu takut karena ada kakak."


"Aku mohon jangan, Kak. Aku yakin dia tidak sampai melakukan sesuatu di luar batas lain padaku."


"Walaupun tidak sampai melakukan hal lain. Tapi dia sudah menyentuh bagian tubuhmu yang lain. Dan harus tetap dibawa ke pengadilan." Debat Arya


"Tidak, Kak. Aku mohon! Ini demi kebaikanku tanpa harus membawa masalah ini ke pengadilan." Ujar Luna karena ia akan lebih terancam masuk penjara dan Melvin bisa saja menunjukkan video itu yang semua merujuk untuk menyudutkan bahwa Luna yang salah di sana


"Baiklah, jika kau tidak ingin membawa masalah ini ke ranah hukum. Kakak mengerti perasaan mu." Ujar Arya mengalah


Luna pun bernapas dengan lega.


"Karena kau sudah berjanji untuk melupakan kejadian itu. Kakak akan pulang sekarang juga." Ucap Arya


"Apa kakak tidak akan menginap untuk satu hari saja?" Tanya Luna


Sekilas Arya melirik ke arah Dini seperti mencari jawaban.


Dini yang menyadari Arya menatapnya pun hanya diam tidak tahu harus menjawab apa.


"Emm... Mungkin kakak akan menginap lain kali saja. Kakak ipar mu Valerie hanya berdua dengan ibunya di rumah." Jawab Arya


"Bisakah untuk hari ini saja kakak menginap di mansion. Aku rindu dengan kakak yang tinggal di sini. Kak Darwin pun belum pulang dari luar kota." Rengek nya


Mendengar nama Darwin, Dini pun bergemetar ketakutan.


Arya dihadapkan dua pilihan. Ia tidak tahu harus memilih antara Valerie yang pasti menunggu di rumah atau Luna yang meminta ditemani.


"Tidak apa jika Tuan akan menginap di sini. Tidak perlu khawatir mengenai nona Valerie. Aku akan pulang dan serahkan saja dia padaku dan juga akan menyampaikan pesan maaf dari Tuan padanya." Kata Dini


Usulan Dini bisa diterima oleh siapa saja. Tapi Arya berpikir hal lain yang mengkhawatirkan keadaan rumah hanya terdiri dari wanita saja tanpa seorang pria di dalamnya.


"Tidak. Aku bukan hanya meminta Kak Arya untuk menginap di sini. Tapi kau juga bisa menginap." Ujar Luna canggung


Pernyataan Luna tidak pernah ada yang menyangka. Bukan hanya Arya yang diminta menginap namun, Juga bersama Dini. hanya saja cara Luna meminta pada Dini sedikit berbeda.


"Aku mohon kak. Hanya satu malam saja untuk menginap." Mohon Luna pada Arya


Dini hanya menyerahkan semuanya pada Arya. Apapun itu keputusan yang Arya ambil, itu adalah keputusannya juga.


Setelah menimbang-nimbang dengan memikirkan panjang. Arya akhirnya menjawab.


"Baiklah, Untuk malam ini aku dan Dini akan menginap di sini." Kata Arya membuat Luna senang


"Terima Kasih, Kakak." Luna memeluk Arya


"Tapi, Jika aku menginap di sini. Apa keuntungannya bagimu? Aku juga pasti tidak akan tidur bersama denganmu." Ucap Arya bingung


"Memang kakak tidak akan tidur bersamaku. Tapi sekiranya kakak bisa kembali merasakan kamar kakak dengan ranjang besar nyaman kakak itu lagi. Ayah dan ibu juga pasti senang kalian menginap." Ucap Luna


Kata Luna ada benarnya juga. Arya memang sudah lama merindukan kamarnya dulu yang tak jauh berbeda dengan kamarnya saat ini di rumahnya sendiri. Tapi kamar itu menjadi saksi hidup saat Arya berada di puncak kejayaan masa lajangnya.


Dengan pelan Arya membuka pintu kamar Luna. Sebelum pintu itu terbuka penuh, Arya dan Dini di sampingnya yang membawa nampan makanan, sudah melihat kondisi Luna yang masih terduduk di atas ranjang dengan tatapan mata kosong dan sembap.


Arya sangat berjalan dengan pelan-pelan menghampiri Luna bahkan hampir suara sepatunya saja tidak terdengar. Mata yang menatap lirih dan sendu itu terpampang nyata di mata Arya yang sedih dan kasihan melihat adiknya dengan kondisi hancur.


Tanpa menyadari jika ada orang yang datang. Luna masih tetap dalam lamunannya.


Saat Arya duduk di samping Luna, Dia kembali terhenyak.


"Melvin aku mohon jangan lakukan ini!" Syok Luna bersembunyi dari balik selimut


Dini yang berada di sana pun sama terkejutnya tak tega melihat Luna.


"Luna, Ini aku kakak mu Arya!" Pegang kedua tangan Arya menyentuh bahu Luna


Luna yang sudah terisak dan mencoba menjauhi siapa saja yang datang ia anggap Melvin yang mencoba menodainya.


Mendengar itu adalah kakaknya, perlahan Luna membuka selimut yang menutupi matanya untuk memastikan.


"Kakak!!" Langsung Luna menerjang Arya dengan memeluknya erat dan menangis di dada bidangnya


Dengan erat Arya juga membalas pelukan Luna yang menghangatkan tubuhnya menyimpan sebuah ketenangan dengan mengelus kepalanya lembut.


Hiks... hiks...


Luna kembali menangis histeris di pelukan Arya.


"Apa yang sudah membuat adikku yang cantik ini bersedih, Heuh? Luna yang ku kenal selalu ceria dan menebar senyumnya."


"Kakak, Aku sudah kotor." Ucapnya


"Kau tidak kotor. memangnya kau sedang bermain di sawah?!" Usaha Arya menghibur Luna


Terdengar dari sela tangisnya Luna tertawa kecil.


"Tetaplah menjadi Luna yang selalu bahagia seperti tanpa masalah. Jika kau seperti ini kau terlihat tidak cantik." Cetus Arya hanya menghibur walaupun kondisinya tidak memungkinkan dan ia sendiri sebenarnya sangat terluka


"Tapi aku takut, Kak." Ujar Luna


"Apa yang membuatmu takut? Kakak mu ini ada di sini dan akan membantumu."


"Pria itu..." Ucap Luna terhenti


"Tidak, Aku tidak boleh mengatakan video itu pada siapapun. Aku takut jika Melvin lebih bertindak jauh padaku." Gumam Luna di sela bicaranya yang terhenti


"Ada apa, Luna? Pria itu, kenapa?" Menelisik Arya


"Tidak kakak, Aku tidak apa-apa." Jawabnya menyembunyikan sesuatu


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk menjelaskannya." Kata Arya


Seketika Luna kembali terlihat linglung.


"Kau belum makan sedari pagi, Bukan? Kau harus makan, jika tidak nanti kau akan semakin sakit. Kakak akan menyuapi mu, Ya?" Ujar Arya

__ADS_1


Luna mengangguk ingin dan membuat semua bahagia akhirnya Luna ingin makan juga.


Sangat senang Arya mengambil mangkuk berisi bubur dari tangan Dini yang dibuat sengaja oleh Dini khusus untuk Luna yang sedang sakit.


Arya pun menyuapi Luna dan langsung disambut oleh mulut Luna yang membuka dan memakannya.


Perasaan Arya dan juga Dini dan Bu Amira yang sedari tadi mengintip di belakang dinding luar kamar Luna bernapas lega akhirnya putrinya makan.


"Bagaimana rasanya, Enak?" Tanya Arya tersenyum


"Aku belum merasakan bubur seperti ini. Rasanya sangat berbeda dari biasa yang ibu buat. Ini sangat enak! Apa ini ibu lagi yang memasak, atau Bu Ashna?" Tanpa ia tahu bahwa saat itu ia memuji Dini


Dini tersenyum kaku mendengar Luna mengatakan rasanya enak dan senang. Di mana bubur itu sendiri dibuat oleh nya.


"Iya, itu ibu yang memasak."


"Ini Dini yang membuatnya!"


Ucap Arya dan Dini bersamaan. Namun, lebih dominan terdengar perkataan Arya. Hal itu membuat Luna pusing.


"Apa yang Tuan katakan? Kenapa dia harus jujur jika aku yang memasak. Jika Luna tahu bahwa aku yang memasak, Dia pasti akan melepehkannya sampai tidak jadi makan." Gumam Dini


Arya pun yang mendengar bicaranya bersamaan dengan Dini dan apa yang dia katakan. Menatapnya tanpa arti dan ekspresi.


"Dia memang sangat mahir dalam memasak. Tak khayal jika dari dulu masakannya selalu enak dan orang lain baru mengetahuinya." Gumam Arya


"Ini Dini yang membuatnya." Ucap Arya malah menegaskan sekali lagi


Tanpa ingin berdebat dengan keadaan. Luna tidak tahu siapa yang harus ia percaya. Hanya saja muncul dalam benak Luna jika Dini sangat baik! Namun, berusaha di tepis langsung olehnya.


Tanpa melepehkannya kembali. Luna memakan habis bubur yang disuapi Arya padanya.


Dan hal itu membuat Dini berpikir bahwa Luna lebih percaya pada perkataannya dibandingkan kakaknya.


"Syukurlah Luna tidak melepehkan bubur itu. Tandanya dia percaya jika bubur itu buatan ibu. Jika dia percaya pada Tuan, dia akan melepehkan nya karena mana mungkin ingin memakan masakan ku." Gumam Dini


Kurang lebih 10 menit untuk bisa menghabiskan bubur itu. Akhirnya mangkuk itu bersih tanpa ada bubur yang tersisa.


Setelahnya Arya memberikan Luna minum yang sama halnya di suapi juga dengan mendekatkan gelasnya.


"Bagaimana, Kau sudah kenyang?" Tanya Arya


"Iya, karena kakak yang menyuapiku rasanya jadi berbeda semakin enak." Jawab Luna akhirnya terukir senyum kecilnya


Arya pun ikut tersenyum.


"Kau bisa berjanji pada kakakmu?" Ujar Arya


"Janji apa yang kakak inginkan dariku?" Tanya Luna


"Kau harus berjanji untuk tidak bersedih lagi. kembalilah pada Luna yang dulu. Kasihanilah ibu yang sedih melihatmu seperti ini diam mengurung diri dalam kamar." Kata Arya


"Kakak juga akan berjanji untukmu dengan menindaklanjuti kasus ini ke pengadilan agar pria itu dihukum seberat-beratnya." Lanjut Arya


"Aku akan berjanji pada kakak. Tapi aku mohon jangan membawa kasus ini ke pengadilan." Sontak Luna


"Kenapa? Pria itu pantas untuk dihukum karena sudah memperkosa mu. Kau tidak perlu takut karena ada kakak."


"Aku mohon jangan, Kak. Aku yakin dia tidak sampai melakukan sesuatu di luar batas lain padaku."


"Walaupun tidak sampai melakukan hal lain. Tapi dia sudah menyentuh bagian tubuhmu yang lain. Dan harus tetap dibawa ke pengadilan." Debat Arya


"Tidak, Kak. Aku mohon! Ini demi kebaikanku tanpa harus membawa masalah ini ke pengadilan." Ujar Luna karena ia akan lebih terancam masuk penjara dan Melvin bisa saja menunjukkan video itu yang semua merujuk untuk menyudutkan bahwa Luna yang salah di sana


"Baiklah, jika kau tidak ingin membawa masalah ini ke ranah hukum. Kakak mengerti perasaan mu." Ujar Arya mengalah


Luna pun bernapas dengan lega.


"Karena kau sudah berjanji untuk melupakan kejadian itu. Kakak akan pulang sekarang juga." Ucap Arya


"Apa kakak tidak akan menginap untuk satu hari saja?" Tanya Luna


Sekilas Arya melirik ke arah Dini seperti mencari jawaban.


Dini yang menyadari Arya menatapnya pun hanya diam tidak tahu harus menjawab apa.


"Emm... Mungkin kakak akan menginap lain kali saja. Kakak ipar mu Valerie hanya berdua dengan ibunya di rumah." Jawab Arya


"Bisakah untuk hari ini saja kakak menginap di mansion. Aku rindu dengan kakak yang tinggal di sini. Kak Darwin pun belum pulang dari luar kota." Rengek nya


Mendengar nama Darwin, Dini pun bergemetar ketakutan.


Arya dihadapkan dua pilihan. Ia tidak tahu harus memilih antara Valerie yang pasti menunggu di rumah atau Luna yang meminta ditemani.


"Tidak apa jika Tuan akan menginap di sini. Tidak perlu khawatir mengenai nona Valerie. Aku akan pulang dan serahkan saja dia padaku dan juga akan menyampaikan pesan maaf dari Tuan padanya." Kata Dini


Usulan Dini bisa diterima oleh siapa saja. Tapi Arya berpikir hal lain yang mengkhawatirkan keadaan rumah hanya terdiri dari wanita saja tanpa seorang pria di dalamnya.


"Tidak. Aku bukan hanya meminta Kak Arya untuk menginap di sini. Tapi kau juga bisa menginap." Ujar Luna canggung


Pernyataan Luna tidak pernah ada yang menyangka. Bukan hanya Arya yang diminta menginap namun, Juga bersama Dini. hanya saja cara Luna meminta pada Dini sedikit berbeda.


"Aku mohon kak. Hanya satu malam saja untuk menginap." Mohon Luna pada Arya


Dini hanya menyerahkan semuanya pada Arya. Apapun itu keputusan yang Arya ambil, itu adalah keputusannya juga.


Setelah menimbang-nimbang dengan memikirkan panjang. Arya akhirnya menjawab.


"Baiklah, Untuk malam ini aku dan Dini akan menginap di sini." Kata Arya membuat Luna senang


"Terima Kasih, Kakak." Luna memeluk Arya


"Tapi, Jika aku menginap di sini. Apa keuntungannya bagimu? Aku juga pasti tidak akan tidur bersama denganmu." Ucap Arya bingung


"Memang kakak tidak akan tidur bersamaku. Tapi sekiranya kakak bisa kembali merasakan kamar kakak dengan ranjang besar nyaman kakak itu lagi. Ayah dan ibu juga pasti senang kalian menginap." Ucap Luna


Kata Luna ada benarnya juga. Arya memang sudah lama merindukan kamarnya dulu yang tak jauh berbeda dengan kamarnya saat ini di rumahnya sendiri. Tapi kamar itu menjadi saksi hidup saat Arya berada di puncak kejayaan masa lajangnya.

__ADS_1


__ADS_2