Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
194. Susu Hangat


__ADS_3

Keesokan paginya~


Saat Arya bangun Valerie sudah berada di sampingnya yang sedang terbaring masih tertidur.


Tanpa ingin mengganggu ia segera pergi keluar tanpa bersiap-siap pergi ke perusahaan.


Ia lebih dulu pergi keluar dan menyempatkan untuk menengok Dini di kamarnya.


Sesampainya di luar kamar Dini, Arya membuka pelan pintu kamar istrinya, wajah yang tadi semringah di depan istrinya kini kembali datar.melirik Dini yang masih tertidur dari biasanya yang ia tahu selalu bangun sebelum fajar menyingsing. ia menutup pintu kamar itu kembali.


Sebelum pergi bersiap-siap, Arya menghampiri Bu Shani yang berada di dapur.


"Ohh, Tuan!! Tuan memerlukan sesuatu? akan saya buatkan. Nyonya Dini memang belum bangun dan tidak bisa menyiapkannya untuk Tuan." Kata Bu Shani


"Buatkan aku teh saja, dan antarkan juga susu hangat untuk Dini. jika dia belum makan, siapkan makanan." Kata Arya


"Ba-baik Tuan, akan saya siapkan dan antarkan segera." Jawab Bu Shani


Arya pergi begitu saja meninggalkan Bu Shani yang tidak mampu berbicara karena tidak paham dengan apa yang akan disampaikan lagi mendengar perintah Arya.


"Tuan kenapa ya?! Tumben sekali memikirkan makan Dini. tak biasanya dia seperti ini. kemasukan jin apa ya saat bangun tidur tadi?! atau kepalanya selesai terbentur tembok, sehingga dia kehilangan ingatannya, atau jangan-jangan tadi Tuan dan Di..." Terus bertanya Bu Shani


"BU SHANI CEPAT!!" Teriak Arya menunggu lebih dulu tehnya


"I-Iya Tuan!!" Teriaknya merespon


Bu Shani segera terburu-buru membuatkan teh untuk Arya dan pesanan lain.


Setelah mengantar teh untuk Arya dan langsung pergi ke kamarnya setelah selesai meminum. Bu Shani berada di depan kamar Dini.


Tok! tok! tok!


"Dini, ini ibu, Bu Shani!" Ujarnya


"Masuk!" Jawab Dini dari dalam


Bu Shani perlahan membuka pintu.


"Dini, ini susu hangat untuk mu." Ujar Bu Shani


"Tapi aku tidak memintanya Bu Shani." Ujar Dini


"Tapi Tuan Arya yang menyuruh ibu membuatkan susu hangat untuk mu. dan Tuan mengatakan, jika kau belum makan, ibu harus menyiapkannya. tapi perasaan tadi malam kau sudah makan kan ya? apa sekarang lapar lagi? akan ibu siapkan." Ujar Bu Shani


"Tuan Arya yang menyuruh ibu membuatkan ini untukku?" Kata Dini


Bu Shani mengangguk cepat.


"Apa Tuan Arya sudah sadar dan menyesali perbuatannya pada mu?! atau hanya pencitraan karena ada inginnya?! semoga saja tidak. Oh, iya. jadi bagaimana? kau ingin ibu siapkan makan?"


"Tidak Bu, Terima kasih. Aku masih kenyang." Jawab Dini


"Kau yakin?" Tanya Bu Shani


Dini mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah. nanti jika kau perlu sesuatu, panggil ibu saja ya?!" Titah Bu Shani


Dini kembali mengangguk.


"Jika begitu ibu pergi dulu, jangan lupa di minum susu hangat nya." Kata Bu Shani


"Terima kasih, Bu." Jawab Dini


Setelah kepergian Bu Shani. Dini termenung memikirkan ucapan Bu Shani apa benar Arya, aah,, Dini menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran positif untuk Arya. mana mungkin pria itu akan berubah secepat ini setelah sikapnya yang plin plan.


Tak ingin memikirkannya kembali, Dini segera mengunci pintu kamarnya untuk berjaga-jaga jika Valerie datang. kembali ke ranjang dan beristirahat. Karena akhir-akhir ini dia selalu merasakan kelelahan.


...***...


Saat selesai bersiap-siap dan akan pergi bekerja. Arya dihentikan oleh Darwin yang datang ke rumahnya.


"Maaf Tuan, saya sudah melarang Tuan Darwin untuk masuk. Tapi Tuan Darwin tetap memaksa." Ucap penjaga


"Kau bisa pergi." Arya yang duduk harus berdiri dan berhadapan dengan Darwin


Bugh, bugh, bugh...


Belum sampai Arya membalikan badan, pukulan bertubi-tubi lebih dulu Darwin layangkan pada Arya. rahangnya mengeras menatap Arya yang tak berbuat apa-apa.


"Kau brengsek Kak!! Bugh... dia istrimu, tapi kau malah menyakitinya. bugh... Jika kau tak mencintainya, cerai kan saja dia, daripada kau membuat luka yang semakin dalam padanya." bugh... bugh... bugh, Hardik Darwin terus menghajar


Pukulan Darwin bertubi-tubi. Arya yanv semula berada dibawahnya segera bangkit dan melayani pukulan Darwin.


Bugh...


"Aku tahu kak, aku tahu semuanya."


"Jangan kau kira aku akan diam saja saat kau menyakitinya.bugh... sudah cukup kau memperlakukannya seperti itu. Dulu kau malah menodongkan pistol padanya, kau pikir kau adalah seorang mafia yang bisa mengoperasikan pistol mu." Kata Darwin


"Kau membelanya? membela orang lain yang sejak awal bukan berasal dari keluarga kita?"


"Dia memang orang lain untukmu.tapi tidak untukku. dia sangat berarti bagiku." bugh...bugh....


"Aku tahu jika kau mencintainya..." Ujar Arya


"Ya, aku menyukainya. Aku menyukainya sejak pertama kami bertemu."


Lalu berkata,


"Aku tidak akan meminta maaf padamu karena aku mencintai istrimu. bugh. kau bahkan tak pantas untuk gadis sebaik Dini. bugh. aku akan lebih rela dia kembali dengan mantan kekasihnya jika dia memiliki, daripada denganmu. bugh. lepaskan dia, jika kau tak mampu membahagiakannya. bugh..."


Mereka terus saling memukul satu sama lain. tak sadar jika gadis yang di perebutkan menatap kosong pada keduanya. bahkan dia melupakan sakit pada tangannya yang terluka.


"Tuan, t-tolong hentikan..." Ujar Bu Shani


Darwin menghentikan aksinya, dan menoleh pada Bu Shani. mendapati Bu Shani yang memangku kepala Dini di atas pahanya. Darwin segera menghampiri keduanya dan mengambil alih Dini dan menggendongnya.


"Ambilkan p3k. bawa ke kamarnya!"


"Baik, Tuan." Jawab Bu Shani

__ADS_1


Bu Shani datang datang ke kamar Dini setelah Darwin membaringkan Dini di ranjangnya. Darwin perlahan membersihkan luka pada tangan Dini akibat ia sendiri yang menggenggam gelas sampai membuatnya pecah.


Eunghh..


Bu Shani yang duduk dipinggir ranjang menoleh, mendengar lenguhan Dini.


"Dini!" Lirihnya


"Tu-tuan Darwin, Nona Dini sudah bangun." Ujar Bu Shani


Darwin yang menunggu di sofa bangun dan segera menghampiriranjang Dini.


"Tuan Darwin??" Mencoba untuk bangun


"Hei,,, jangan bangun.cukup baring saja. lukamu belum kering."


Dini yang sudah mengangkat setengah badannya untuk duduk, kembalui berbaring di bantu Darwin.


"Apa ada yang sakit atau ada lagi yang terluka dibagian lain, hum? perlu ku panggilkan dokter? katakan jika kau merasakan sakit!" Ujar Darwin


Tak menjawab. Dini tersenyum tipis menatap Darwin yang terlihat khawatir padanya.


Tangan Dini terulur menyentuh luka memar disudut bibir Darwin,


ssshh...


"Uh, maaf, maaf."


Dini terkejut dan menarik kembali tangannya. sebelum itu, tangan Darwin lebih dulu menahan tangan Dini, dan meletakkan kembali pada pipinya, menuntun tangan Dini mengusap pipinya pelan. Manik keduanya saling menatap. Bu Shani yang masih di tempat, pergi meninggalkan keduanya dengan terkikik.


"Sungguh rumit percintaan anak muda zaman sekarang." Kekehnya


Pukul 23.00


Arya baru saja memasuki mansionnya setelah pagi tadi harus segera pergi ke perusahaan.


"Bu Shani!!" Panggil Arya


Bu Shani yang terpanggil, berlari kecil menghampiri Arya.


"Iya Tuan. Tuan Arya butuh sesuatu?"


"Darwin sudah pulang?" Tanyanya


"Tuan Darwin masih di dalam kamar nyonya Dini, Tuan." Jawab Bu Shani


"Dalam kamar?! Berdua?!" Tegun Arya


Bu Shani mengangguk.


"Nyonya tangannya terluka, jadi Tuan Darwin menemaninya." Kata Bu Shani


Arya mengingat kejadian tadi pagi.


kemudian Arya pergi begitu saja menaiki anak tangga.

__ADS_1


__ADS_2