
Masih berada di kamar pribadi Dini.
Setelah beberapa saat berdebat dengan dirinya sendiri, Arya naik ke atas ranjang, dia juga sedang kelelahan dan memutuskan untuk tidur di sana bersama Dini di ranjang yang sempit.
"Karena kau sudah tertidur pulas, dan aku juga sangat kelelahan tak mampu untuk jalan ke kamar ku, aku memutuskan untuk tidur di sini. Dasar wanita rubah!"
Arya masih menggerutu, dia tidak suka gairahnya yang meledak-ledak itu mengusiknya.
Dia juga tidak ingin merasakan hal itu, dia tidak ingin memiliki hubungan emosional dengan seorang wanita yakni Dini, seperti cinta misalnya, karena hal itu hanya akan merepotkan dan akan menjadi kelemahannya bahkan menjadi masalah baginya.
Jadi, sebisa mungkin Arya harus membatasi dirinya dan fokus dengan tujuan utama.
Eungghhhh....
Lenguh Dini. Yang merasa terusik dan sudah membuka matanya. Dini menatap langit langit ruangan yang sangat merasa berbeda padahal tetap sama. ia pun merasa posisi tidurnya kali ini berbeda padahal ia ingat jika terakhir berbaring di sofa.
"Aneh!" Ucapnya pada dirinya
Dini mendengar dengkuran halus di sampingnya. Melihat Arya berada disampingnya Dini pun langsung terjengkit dan menatap dirinya.
Huaaaa....
Teriakannya sangat keras sampai Arya yang baru saja terlelap langsung terbangun. Dini segera turun dari tempat tidurnya.
"Kau... Kenapa kau teriak?" Kecam Arya
"Tu-tuan, Tuan sendiri yang mengejutkanku di sini." Jawab Dini terbata
"Apa masalahnya? Seluruh bagian rumah ini adalah milikku. Terserah padaku ingin tidur di mana saja." Kata Arya
Dini hanya terdiam masih menstabilkan napasnya.
"Aku melihatmu tidur di sofa. Dan aku memindahkanmu agar tidur di ranjang. Wanita hamil tidak bisa sembarangan tidur di mana saja karena jika kau tidak dipindahkan, bisa saja kau terjatuh dari sofa dan berakibat fatal." Jelas Arya
"Agh,,, Saya ucapkan terima kasih padamu, Tuan. Mungkin saat saya berniat hanya untuk berbaring sebentar, saya malah sampai tertidur." Kata Dini
"Lain kali selain selesai mandi dan langsung tidur di ranjang, jangan sampai kau mengenakan pakaian tanpa dalaman." Ujar Arya
Blush...
Seketika Dini teringat sesuatu sampai wajahnya memerah akibat malu. Refleks menutup dadanya dengan kedua tangan dan meraba-raba.
"Aku heran kenapa bisa kau senyaman itu tanpa memakai pakaian dalam. Aku bertanya-tanya apakah setiap malam kau sering seperti ini?"
"Maaf Tuan, Ta-tapi ini baru pertama kalinya saya seperti ini. Entah perasaan apa yang muncul saat tadi untuk tidak mengenakannya." Jawab Dini gugup
__ADS_1
"Aneh! Mungkinkah karena kau ingin menggodaku?" Ujar Arya membuat Dini tertekan
"Tidak, Tidak,,, Mana mungkin saya memiliki niat seperti itu. Tahu Tuan akan melihatnya atau tidak pun saya tidak mengerti. Saya hanya sedang mengidam saja." Pungkasnya
"Apa? Mengidam? Ha, ha, ha..." Tawa Arya sangat keras sekali
Kali ini Dini benar-benar terlihat bodoh dihadapan Arya yang menertawakannya.
"Mana mungkin ada wanita hamil yang mengidam tidak ingin mengenakan pakaian dalam. Alasanmu itu tidak kuat." Ejek Arya
Dini sudah menduga jika Arya tidak akan mempercayai keinginan anehnya itu.
"Itu masalahnya, Saya pun tidak mengerti keinginan macam apa ini. Aneh dan sangat malu rasanya jika kelakuan saya kali ini dapat diketahui oleh Tuan." Dini menunduk
Arya pun terhenti dari tawanya ketika melihat Dini menunduk murung.
"Aku paham jika wanita hamil sering mengidam yang aneh-aneh. Dulu aku memiliki manager yang istrinya sedang hamil dan mengidam sesuatu, saat ia sedang bekerja, dia selalu disibukkan dengan telepon dari istrinya yang terus meminta sesuatu. Permintaan yang ku ingat saat itu istrinya menginginkan dia untuk memakan oreo dengan krim pasta gigi. Sungguh terdengar tak masuk akal, bukan? mengidam istrinya benar-benar aneh sampai menyiksa suaminya." Kekeh Arya di akhir
"Oreo dengan krim pasta gigi?" Tegun Dini terlihat berpikir
"Kenapa? Kau keanehan juga, Bukan?" Ucap Arya
"Tidak, Sepertinya itu menarik!" Jawab Dini dengan tawa kecil
Jleb!
"Bisakah aku meminta tolong pada Tuan untuk membelikan aku Oreo itu dengan pasta giginya?!"
"Sudah ku duga. Perkataan ku tadi menjadi perhatian baginya. Kenapa mulutmu tidak bisa diam dihadapan wanita hamil, Arya!?" Geram Arya dalam hati yang sangat menyesal
"Ka-kau tidak boleh memakan makanan itu. Itu tidak baik di makan untukmu yang sedang hamil." Jawab Arya terbata
"Siapa yang mengira seperti itu? Saya tidak akan memakannya untuk masuk ke dalam perutku, Tapi seperti yang dikatakan Tuan tadi jika istrinya meminta manager Tuan untuk memakannya. Maka dari itu, Tuan lah yang melakukannya untukku." Ucap Dini
"Kau bercanda??" Tanya Arya begitu gemetar. Matanya melotot tak menyangka
"Seorang wanita hamil yang sedang mengidam tidaklah pernah bercanda dengan keinginannya. Entah kenapa itu rasanya sangat menantang untuk dicoba, aku ingin melihat Tuan memakannya sekarang." Ujar Dini sudah geram untuk menyalurkan rasa mengidam nya
"Jangan aneh-aneh! Ini sudah malam dan waktunya tidur, bukan melakukan rasa mengidam seorang wanita hamil. lagipula mana mungkin pasta gigi bisa dimakan, jangan ingin seperti istri manager ku yang membuat suaminya menderita." Tolak Arya menghindar
"Tapi aku ingin itu sekarang." Rengek Dini dengan manja pada Arya, Akibat hormon wanita hamil
Arya semakin tersudutkan. Ia tidak bisa melihat Dini yang merengek dihadapannya seperti itu.
"Lagipula bukan aku yang menginginkannya, tapi anak Tuan sendiri di dalam yang ingin ayahnya seperti itu."
__ADS_1
"Kau ini aneh-aneh saja. Dari tidak ingin mengenakan pakaian dalam, dan sekarang kau ingin aku melakukan ngidam tak masuk akal itu, tapi kau mengatakan bayinya yang menginginkan. Memangnya bayi sudah bisa bicara di dalam perutmu itu, hah?" Kesal Arya
"Tidak bisa. Tapi ini ikatan batin antara ibu yang mengandung dan anak dalam rahimnya. Ayolah Tuan, lakukan itu demi anakmu!" Memelas Dini
"Sekali tidak, tetap tidak!" Jawabnya sarkas
"Kau memang ayah yang egois tidak ingin menuruti permintaan anaknya. Baru saja dalam kandungan sudah mendapatkan penolakan, bagaimana jika sudah lahir?!" Cela Dini tak segan dan langsung masam
Dini yang sedang mengidam pun membuat Arya kewalahan. Sebenarnya bukan masalah dan bukan Arya egois tidak ingin menuruti rasa ngidam, tapi masalahnya rasa ngidam Dini kali ini tidak masuk di akal sehatnya. ia tidak mungkin melakukan apa yang dilakukan sama persis seperti managernya itu, kali ini dia benar-benar terjebak dengan perkataannya.
Melihat Dini yang sudah terlihat masam dan marah itu pun tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ingin tak ingin Arya harus menjadi seorang calon ayah sejati yang menuruti keinginan ibu hamil yang sedang mengidam.
Dengan segera Arya mengambil biskuit Oreo yang kebetulan tersedia di lemari penyimpanan makanan sehingga ia tidak perlu keluar di larut malam mencari sepotong Oreo saja. Setelah bersamaan membawanya dengan pasta gigi, ia segera kembali ke kamar Dini.
"Aku sudah membawa Oreo dan pasta giginya. Setelah ini apa yang kau inginkan?" Gemetar Arya tidak bisa berpikir jernih
"Tuan malah bertanya. Lakukan saja seperti yang tadi aku katakan. karena Tuan terus bertanya, bisa saja membuatku pusing dan tekanan darahku naik tinggi." Kata Dini yang tidak kenal takut saat ini sudah membentak Tuan Arya
"Ibu hamil ini, rasanya aku ingin segera memukulnya jika tidak ada anakku di dalam perutnya. Sudah memerintah, dia malah membentak ku." Geram Arya menjadi jengkel
Dengan perlahan Arya mengambil satu Oreo dan siap mengoleskan pasta gigi yang akan diletakkan di sana. Dengan kemampuan kecerdasannya, Arya cukup jenius untuk mengelabui Dini sehingga tidak sampai mengoleskan pasta gigi itu. Dia berpura-pura mengoleskan, dan langsung memakannya tanpa pasta gigi.
Perkiraan dan kecerdasannya tidak berguna kali ini jika dihadapkan dengan kejelian mata Dini yang sedari terus memperhatikan Arya. Dia melihat semuanya, membuat Arya tidak lolos begitu saja.
"Sudah. Aku sudah menuruti keinginan mu, Puas??" Kata Arya
"Mana bisa. Tuan sudah berbohong dengan sama sekali tidak memakan bersamaan pasta giginya. Tuan sangat licik!" Kesal Dini
"Tck,,, Kau membuat tekanan darahku naik. Oreo dengan pasta gigi, bagaimana rasanya?"
"Coba saja sendiri, Tuan sedang memegang nya, bukan? Kenapa tidak memakannya untuk mengetahui rasanya. Bukankah Tuan penasaran." Ujar Dini
"Baiklah, baiklah, Aku akan menuruti keinginanmu. Tapi aku mohon hanya sekali gigitan saja." Pinta Arya
"Tapi dengan pasta giginya." Keras kepala Dini
"Iya, Iya, aku akan memakannya." Jawab kesal Arya
"Baiklah, senang bekerja sama dengan Tuan!" Ujar Dini terkekeh karena terhibur. Namun, membuat Arya kejengkelan
Sekali lagi dan kali ini benar-benar nyata, bukan hanya sekedar mengelabui. Arya terpaksa menelan pasta gigi dalam seumur hidupnya.
Kedua benda dengan satu benda yang merusak segalanya yakni pasta gigi, itu sudah masuk dalam mulutnya. Kali ini ia akan mengunyahnya. Baru saja perlahan mengunyah, Arya sudah dibuat mual dengan rasanya.
Kini lidahnya mengexplore berbagai jenis rasa yang ada. Jika melihat ke arah bahasa Sunda, rasanya Amarile. itulah yang sedang dirasakannya.
__ADS_1
Arya yang sudah kelimpungan dibuatnya, sudah merasakan mual bergejolak dalam perutnya. Arya yang tersiksa, Dini malah tertawa senang merasa terhibur bak sedang menonton stand up comedy.