
Menunggu 5 menit setelah perdebatan, Akhirnya hujan reda dan warga segera membawa Luna dan Zayn saat itu juga.
Di Balai desa semua orang desa di sana berkumpul. Desa ini berbeda jauh dengan desa yang Luna kunjungi untuk bertugas, Sangat ramai, dan sedikit modern. Mereka menatap hina Zayn dan juga Luna. Mereka mencaci orang kota itu yang terlalu murahan berbuat mesum di desa yang mencemarkan nama baik desa itu sendiri.
"Tidak pak... sumpah! Demi Apapun, kami tidak sedang berbuat mesum." Ucap Luna panik. Dia benar-benar ketakutan, ketika semakin banyak warga yang berduyun-duyun datang, menyoroti mereka.
Salah satu pria bertubuh gempal, mengarahkan senter ke arah pria di sebelah Luna.
"Tidak berbuat mesum, katamu? Lantas ini apa!! gespernya saja belum sempat terpasang.... masih ingin mengelak?" Tuding pria bertubuh gemuk tersebut saat di balai desa.
"A... apa? Astaga!" Zayn panik, segera memasangnya dengan benar. Saking tidak konsentrasinya tadi akibat warga yang terus merundung, membuat ia lupa meninggalkan fungsi satu benda itu.
Luna membulatkan bola matanya, ia menggeleng sekali lagi sembari mengangkat kedua tangannya di depan dahinya. Terlebih saat para warga sudah saling melontarkan opini mereka, yang menyakini jika keduanya telah melakukan mesum.
"Pantas saja wanita kota ini ingin di buat seperti itu oleh lakinya, orang lakinya setampan itu." Bisik-bisik warga
"Seharusnya orang kota yang melakukan mesum dengan kembang desa di sini. Itukan lebih menantang dan menarik. Jika sama-sama orang kota apa hubungannya dengan kita." Bisik warga lagi
"Aku sih malu sekali jadi dia. Walaupun orang kota seharusnya dia memiliki harga diri. Masa sih pendidikannya di bawah orang desa, orang desa saja masih menjaga kehormatan walaupun lulusan SD, seperti tidak belajar saja. Wanita mana yang ingin di ajak gelap-gelapan. Kabarnya sih mereka melakukan mesum di gubuk kosong ujung itu, di sana kan memang tidak ada pencahayaan. Setan juga pasti banyak yang menghasut mereka." Bisik warga lagi
Luna yang mendengar itu hanya bisa menahan tangisnya, ia ingin menangis namun ia tak ingin terlihat lemah. Toh dia tidak salah dan semua perkataan warga itu tidak benar. Zayn yang melihat itu merasa kesal seketika.
"DIAM! Jika kalian tidak tahu kebenarannya sebaiknya jangan asal berucap." Bentak Zayn, sukses membuat satu Desa terdiam.
"Hello, di sini yang salah kalian ya. Kebenaran sudah di depan mata, masih ingin beralasan?" Ucap Kembang Desa yang kecentilan. Ia tersenyum mengejek.
"Ya Tuhan, Masalah apa yang terjadi hari ini padaku. Berilah hamba petunjuk. Apa benar ini petunjuk yang kau berikan, dinikahkan oleh warga desa dengan Zayn. Apa ini adalah jalan terbaik, yaitu menikah dengan Tuan Zayn?" Batin Luna, meraung kesedihan.
"Tenang! Tenang semuanya, bapak-bapak dan Ibu-ibu, adik-adik sekalian, harap tenang!" Teriak Pak Kades
"Sungguh Pak. Demi Tuhan, kita tidak berbuat apa-apa. Tadi itu?" Ucap Zayn baru mengeluarkan pembelaannya
"Alaaahhh, tidak perlu berkelit lagi... Sepertinya kalian datang dari kota, orang kota kok tidak berpendidikan mesum di tempat kosong. Seharusnya di hotel atau apartemen mewah kalian." Sang pria gemuk itu terus saja melontarkan kalimat provokasi, pada para warga membuat Luna dan Zayn semakin kalang kabut.
"Tolong tenang, bapak-bapak. Saya mohon, untuk mempercayai kami. Sungguh kami tidak berbuat apa-apa, gesper saya tak terpasang karena saya lupa memasangnya akibat kalian yang terus menyudutkan kami." Kata Zayn
"Diam kau! Sudah kepergok mesum masih berusaha mengelak lagi..."
Buaaaaaakkk....
Salah satu pria lain, menghajar wajah Zayn sekali lagi tepat di pipinya.
__ADS_1
"Tidaaakkk...! Bapak-bapak, tolong jangan pukul Tuan ini. Kami bersumpah... demi Tuhan. Kami benar-benar tidak berbuat apa-apa pak." Teriak Luna
Tak ada yang mendengar rintihan Luna.
Salah seorang bapak-bapak lainnya lagi, menarik kerah kemeja Zayn, mencengkeram erat.
"Pilih yang mana? Kau ingin kami membawamu ke kantor polisi, atau pertanggungjawabkan perbuatan mu? Di desa kami ada kantor polisi yang lebih kejam bagi penjahat daripada di kota."
"Saya benar-benar tidak melakukan apapun pak... Namun jika saya di minta untuk bertanggung jawab? Maka saya akan mempertanggungjawabkannya." Jawab Zayn
Luna menoleh, apa maksudnya tentang bertanggung jawab? Itu artinya semua orang akan berpikir jika memang terjadi sesuatu pada mereka. Apa Zayn tidak berpikir jernih?
"Jika begitu, kalian berdua ikut kami." Tarik bapak-bapak dan ibu-ibu menyeret Luna dan Zayn
"Ki-kita ingin di bawa kemana, pak? Sungguh jangan apa-apakan kami. Kami tidak berbuat mesum Pak, Demi Tuhan." Luna memundurkan langkahnya, menolak. Namun, pria bertubuh gemuk itu menyeretnya paksa.
...***...
Semua sudah bersiap-siap. Luna diboyong ke dalam untuk didandani dan dipakaikan kebaya. Sehingga membuat kades tersebut meminta Zayn untuk menikahi Luna malam ini juga. Sesuai dengan musyawarah yang di setujui para warga tanpa kesepakatan dan belum mendengarkan keputusan Zayn dengan tuntutan menikah itu sendiri. Mereka memiliki niat baik untuk menikahkan Zayn dan Luna agar tidak seenaknya berbuat maksiat seperti mereka yang beranggapan.
Zayn sendiri sudah dipinjamkan pakaian layak untuk menikah hari ini. Tidak berbentuk Jas atau Tuxedo, hanya seperti baju pangsi hitam khas pakaian kebudayaan desa itu sendiri yang sering dipakai bujang desa mereka yang akan menikah.
Zayn yang duduk di sebelah Luna nampak pucat pasi. Terdiam cukup lama untuk menjawab tuntutan itu.
"Bagaimana? Kami tidak perlu menjelaskan lebih detail karena semua pakaian ini sudah menjawab pertanyaan kalian. Kalian harus menikah malam ini juga." Tanya Kades tersebut. Zayn pun mengangkat kepalanya.
"Baiklah. Saya akan menikahinya malam ini." Jawab Zayn
Luna melirik ke arah Zayn. Dahinya berkerut. Kebingungan kenapa Zayn menerima tuntutan warga padahal mereka tidak bersalah. Masalah akan selesai, hujan sudah reda, mereka pergi masuk ke mobil mereka dan pulang! Kenapa menikah?
Luna dan Zayn sudah duduk berhadapan dengan Pak penghulu. Disaksikan oleh semua warga atas Pernikahan mereka. Dan Pak Kades yang bertanggung jawab atas pernikahan ini. Zayn dan Luna seperti bermimpi menikah hari ini.
Zayn telah menjabat tangan Pak Penghulu. Ijab sudah dikumandangkan dan Qabul akan diucapkan Zayn.
"Saya terima nikah dan kawinnya Luna Rosalie Pratama binti Barma Pratama dengan mas kawin sejumlah uang sepuluh juta dibayar tunai!" Ucap Zayn lantang, Tidak ada rasa terbata sekalipun walau ia sendiri baru menggerakkan mulutnya mengucap Qabul Pernikahan
"Bagaimana para saksi, Sah?" Tanya Pak Penghulu
Sahhh...
Serentak warga yang hadir mengatakan sah bersamaan hingga menggema.
__ADS_1
"Kalian baru sah secara agama ya? Belum secara hukum. Akan lebih baik jika kalian mengurus ini ke KUA." Ucap Pak Penghulu desa itu
"Terima Kasih, Pak!" Jawab Zayn, lantas menoleh ke arah Luna dengan tatapan merasa bersalah.
Pernikahan mereka tidak mewah walaupun berasal dari keluarga konglomerat. Alam membuat mereka mendadak menikah, tidak pernah terencana, dan belum mempersiapkan segalanya, Zayn hanya mengandalkan uang 10 juta yang ia bawa tunai itupun basah tersimpan dalam dompet akibat hujan sebagai mahar untuk menikahi Luna dihadapan warga desa.
Air mata Luna telah berhenti, namun di saat ia mendengar ijab qabul telah dilontarkan pria yang dekat dengannya, pria yang membuatnya jatuh cinta. Namun, ia hanya bisa menangis dan terdiam tanpa mengucapkan apapun. Bingung, harus sedih atau senang saat ia sendiri bisa menikah dengan Zayn yang dicintainya.
"Aku mencintai Tuan Zayn. Tapi apakah aku harus menikah seperti ini dengannya? Aku tidak tahu apakah Tuan Zayn menyukaiku atau tidak, bagaimana jika dia tertekan dengan pernikahan ini? Sudahlah. Semuanya sudah terjadi... Aku harap bisa menjadi Istri yang baik. Walaupun kami menikah secara mendadak dan Tuan Zayn bukanlah orang asing bagi ku, dia sudah menjadi Suamiku sekarang dan selamanya yang harus bertanggung jawab padanya." Batin Luna
Deg!
Rasa sakit di hatinya, terasa seperti tersayat pisau. Selamanya? Kata itu terasa begitu ambigu, apa iya pernikahan ini akan bertahan selamanya seperti yang ia inginkan? Apa Zayn bisa mempertahankan pernikahan ini pada Luna, Dan menerima Pernikahan dadakan ini bersama Luna lapang dada? Ia merasa bingung juga sedih. Harusnya ini adalah momen bahagia untuk Luna, akan tetapi dirinya harus memikirkan bagaimana ke depannya, apa mereka akan berpisah setelah ini? Masalahnya ia tidak tahu bagaimana isi hati Zayn padanya.
"Nah, sekarang kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Kalian sudah memiliki hak dan kewajiban legal. Terserah pada kalian ingin melakukan apapun karena kalian sudah halal, tidak akan ada yang melarang ataupun berprasangka buruk pada kalian. Terutama kau sebagai laki-laki harus berani bertanggung jawab atas apa yang kau perbuat pada wanita ini." Ucap Warga
"Konyol!! Puncak Dunia Komedi!! Bukan dengan cara ini aku ingin menikahi dokter Luna." Batin Zayn hingga ia tertawa karena baginya ini terlalu lucu
Setelah acara itu selesai, Luna dan Zayn diajak warga menuju penginapan. Warga meminta mereka untuk tinggal saja menginap semalam dan kembali pulang ke kota esok hari. Waktu sudah malam dan tidak mungkin mereka memaksakan diri untuk pulang yang harus menempuh perjalanan ke kota selama 4 jam dari desa ini, mereka sendiri sudah lelah dan memutuskan menuruti usulan warga.
...***...
Di sebuah penginapan milik desa tersebut~
Penginapan yang asri dan juga sejuk udara malam khas pedesaan. Desa itu memang membuat penginapan khusus orang luar yang berkunjung ke desa mereka untuk yang ingin bermalam. Kamar dan juga barang yang ada di dalam sangat bersih dan nyaman. Zayn dan Luna terkagum dengan suasana penginapan itu.
Dengan gontai Luna berjalan menuju Zayn, pria itu terlihat sangat gagah dan tampan menggunakan pakaian desa mereka. Jika saja... Ini bukan karena paksaan, ia pasti akan merasa sangat bahagia dan terpesona dengan sosok Suaminya.
"Sayangnya, pernikahan kita bukan karena cinta... Aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaan mu padaku dan sedangkan aku menyukaimu. Aku harap suatu hari nanti kau merasakan hal itu terhadap ku." Batin Luna, memandang lurus pada Zayn
Luna tidak ingin melihat sekitar yang terdapat kembang desa ikut serta mengantar melihat orang-orang yang terlihat jijik, kesal, terpesona, juga iri dengan tampilan Luna.
Luna tampil sangat cantik dengan kebaya yang memperlihatkan sedikit punggung mulusnya yang putih, juga rambut panjangnya yang di sanggul, serta make up yang tidak terlalu menor. Perubahan Luna setelah kebasahan hujan membuat semua orang terkejut, mereka memang tahu Luna cantik, namun sekarang mereka merasa Luna sangat cantik. "Wanita kota memang tidak ada duanya!" Pendapat Bujang desa di sana
Para gadis mengagumi sosok Zayn, sedangkan para pria mengagumi sosok Luna. Terlintas dipikiran warga Desa bahwa Zayn dan Luna memang ditakdirkan bersama.
Cobalah kalian datang ke desa dan temui kakak pria si wanita, dia orang yang hebat dan berkuasa di kota, mungkin saat kalian sendiri baru melihatnya pertama akan mematahkan pendapat kalian sendiri bahwa pria itu yang lebih tampan!
Tapi sepertinya orang desa itu lebih dulu akan menyelam ke laut berisi cabai pedas akibat mulutnya yang ketus menyakiti hati. Dan mata kalian yang akan terpatuk oleh mata elangnya! 55555...
Bagaimana ini? Tiba-tiba saja aku sudah menjadi istri??
__ADS_1