
Untuk mengambil makan yang akan diberikan pada Luna, mengharuskan Dini untuk pergi ke dapur. Ia sangat bersyukur dan senang di rumah Arya kali ini terdapat seorang pembantu, Sopir, tukang kebun, dan pekerja lain yang di rekrut untuk bekerja.
Sekiranya kehidupan di rumah ini cukup berbeda dari sebelumnya yang lebih ramai dengan banyak orang. Hal itupun berpengaruh bagi pekerjaan di rumah itu yang selalu ia lakukan dengan sedikit mengurangi bebannya.
Tap!
Sebuah tangan berada di bahu Dini saat ia sibuk mengambil makan untuk Luna.
Sontak Dini terhenyak dan menoleh ke belakang.
Deg!
"Kau Dini?!" Lontarnya
"Bu Shani!" Katanya terbata
Bu Shani adalah kepala kantin di perusahaan Arya saat bekerja di sana. Saat itu Dini pun bekerja di sana yang ditugaskan Arya menjadi juru masak makan siang bagi karyawannya. Dan kini Bu Shani sendiri ditugaskan untuk bekerja di rumah Arya menjadi kepala pelayan.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanya Bu Shani
"Bu Shani pun ada di sini?" Kata Dini bukannya menjawab malah kembali bertanya
"Ibu ditugaskan Tuan Arya untuk menjadi kepala pelayan saat membuka lowongan pekerjaan di rumahnya."
"Aku senang bisa bertemu denganmu kembali."
"Dan saat itu kau menghilang tidak bekerja lagi dalam waktu bekerja yang sangat singkat. Apa yang terjadi? Para karyawan protes akibat rasa makanannya yang tak selezat masakan mu."
Saat itu Dini berhenti karena sikap Arya yang sudah baik, mengganggap ia sebagai istrinya, dan ingin menerima dia apa adanya. Bahkan memintanya untuk menjadi istri yang patuh saja melayani suami di rumah. Namun, ternyata hanya sebuah siasat sampai hatinya terpatahkan kembali setelah mengetahui kebenarannya.
Dini hanya melamun mengenang masa itu.
"Baiklah, mungkin itu masalah pribadimu. Tapi kenapa bisa ada di sini? Ibu terkejut saat tadi melihatmu datang bersama Tuan Arya dan adiknya."
"A-aku di sini sudah lama bekerja dengan Tuan Arya dan Nyonya Valerie. Mereka mempekerjakan ku di sini sebagai pembantu sebelum kalian." Jawab Dini terbata
"Owh, Jadi kau bekerja di sini. Ibu sangat senang bisa menjadi se-rekan kerja kembali denganmu. Kita bisa saling bertukar pikiran saat memasak nanti." Senang Bu Shani
__ADS_1
"I-iya, Bu Shani." Jawabnya kaku
...***...
2 Minggu kemudian~
Selama Luna berada di rumah Arya, Dini sangat berperan banyak membantu dan mendorong Luna untuk bisa bangkit.
Tak khayal Arya yang jarang sekali di rumah. Hanya Dini yang memperdulikan Luna saat itu.
Di kamar~
Luna benar-benar merasa hancur setelah keluarganya kini mendapatkan aib akibat perbuatannya.
Ia terlihat meneteskan air mata dengan semua yang telah ia perbuat, dan membuat semua keluarga terkena imbasnya.
"Maafkan aku, karena telah menyakiti kalian, aku tidak pantas mendapatkan cinta dari kalian, aku tidak bisa menghadapi dunia ini, kalian akan diejek dan harus menghadapi penghinaan denganku, aku tidak bisa melihat semua ini." Ujar Luna dalam lamunannya sambil meneteskan air mata
Dalam lamunannya, Luna terlihat ingin mengakhiri hidupnya karena tak sanggup menanggung rasa malu yang telah ia diperbuat dan berpikir akan membuat susah kakaknya.
Dalam rasa kesedihannya yang mendalam, Luna berjalan menuju ruangan paling atas rumahnya dan sambil membawa sebilah pisau.
Ketika hendak melakukan niatnya, Luna teringat semua kata-kata Dini agar tidak melakukan hal buruk terhadap dirinya sendiri.
Seketika itu juga, Luna yang mulai ingat dengan semua kata-kata Dini, ia langsung melepaskan pisaunya sambil menangis.
“Aku tidak bisa melakukannya, karena aku tidak ingin menyakiti keluargaku lagi, ini adalah kesalahanku tapi aku tidak pernah memikirkannya." Ujar Luna frustasi
Tak hanya sampai di sana, Luna terus menangis dan mengharapkan kepada Tuhan untuk mendapatkan keadilan kepada dirinya dan semua keluarganya.
"Oh Ya Tuhan, tunjukkanlah jalan kepadaku untuk mendapatkan keadilan, aku tidak bisa tidur ataupun mati, sedangkan dia tidur nyenyak, aku harus menghadapinya." Ujar Luna tidak menerima semua apa yang dialaminya saat ini
"Luna, Apa yang kau lakukan dengan pisau itu?" Tanya Dini terkejut saat ingin memberikan makan untuk Luna
Seketika Luna menjatuhkan pisau itu.
Prang!
__ADS_1
"Tidak, tidak ada yang ingin aku lakukan." Jawab Luna terbata
Menaruh Curiga, Dini mengambil pisau itu dan menelisik.
"Aku tidak percaya dengan perkataan mu yang pasti kau ingin melakukan hal buruk padamu sendiri." Kata Dini
"Aku mohon jangan beritahu ini pada kakakku. Aku tidak ingin dia memarahiku." Bersimpuh Luna di kaki Dini
Dini meletakkan nampan itu di atas meja yang dekat darinya.
Karena dia sangat bermasalah apabila Luna bersimpuh seperti itu, Dini mengangkatnya untuk berdiri.
"Jangan seperti ini. kau tidak pantas untuk menunduk dihadapan ku." Ujar Dini
"Aku sempat ingin membunuh diriku sendiri karena tidak bisa melihat keluargaku mendapatkan aib. Tapi aku teringat dengan kata-katamu yang membangun motivasi ku. Jadi, aku tidak jadi melakukan tindakan bodoh itu. Aku mohon jangan ceritakan ini pada kakak atau ibu." Ucap Luna menangis
Dini mengelap butir air mata yang menetes di pipi Luna menggunakan jarinya.
"Aku berjanji tidak akan mengatakan ini pada siapapun. Dengan mengurungkan niat bodoh itu aku tidak akan sampai membuatmu berada dalam masalah."
"Kenapa kau sangat baik?" Tanya Luna membuat Dini tak bisa berkata-kata akibat Luna baru saja mencap nya orang baik terlontar dalam ungkapannya. Yang pasti tanpa disadari maksud dari konteks perkataan Luna tersebut ia mengatakan jika Dini adalah orang baik
Dini mengalihkan pembicaraan.
"Kau belum makan lagi, Bukan? Aku membawakan makan untukmu." Ambil nampan Dini dan duduk di sofa sana diikuti Luna
"Kau suka disuapi oleh kakakmu, bukan? Kakakmu sedang bersama Nona Valerie, mereka sedang berada di belakang rumah yang terdapat taman untuk mengajak nona Valerie yang tengah hamil jalan-jalan agar tidak stress. Aku harap kau ingin makan tanpa disuapi kakakmu." Ujar Dini
"Apa aku bisa memintamu saja yang menyuapiku? Kau adalah temanku bukan, kita pernah satu kelas di jurusan kedokteran." Ucap Luna yang tidak pernah di sangka
Dini yang mendengar permintaan dari Luna pun serasa bermimpi jika Luna yang membenci dirinya itu meminta dia untuk menyuapinya.
"Agh... Apa aku tidak sedang bermimpi?" Kata Dini tidak percaya
"Aku tahu aku sangat jahat padamu dan sangat membenci dirimu. Tapi saat ini aku membutuhkan dukungan dari orang lain, aku sangat suka disuapi oleh kakak, tapi kau adalah seorang kakak, Bukan? Kakak Ipar?!"
Ucapan Luna di kata akhir membuat Dini merinding kala Luna tak segan menyebutnya sebagai kakak ipar.
__ADS_1
"Aku bolehkan memanggilmu dengan kakak ipar walaupun usia kita sama. Karena kau adalah istri dari Kakakku!" Ucap Luna
Dini membeku dan menatap Luna tak menyangka. Ia terharu bahkan sampai meneteskan air mata bahagia kala Luna menganggapnya sebagai kakak ipar yang dulu saja ia enggan menyebut namanya.