
Keesokan harinya.
Keadaan Arya setelah menelan pasta gigi membuat dia diare.sejak dari malam membuat dia tidak bisa tidur karena harus berbolak-balik pergi ke toilet untuk menuntaskan rasa tidak nyaman yang ingin segera dikeluarkannya itu.
Tak hanya itu, akibat menelan pasta gigi yang mengandung fluoride dalam jumlah sedikit pun memberikan efek samping sakit perut. Nyeri lambung, air liur yang berproduksi dalam jumlah banyak, serta mual dan muntah juga terjadi padanya.
Ingin mengistirahatkan diri pun ia tidak bisa karena harus tetap bekerja pergi ke perusahaannya. Sehingga dengan begitu dia memaksakan diri untuk tetap pergi.
Dalam ruangannya Arya sedang berbincang dengan Asistennya Damar. Namun, Akibat efek sampingnya belum usai ia harus merasakan mulas ditengah pembicaraannya.
Aishh...
Kesal sambil meremas perutnya yang sudah melilit.
"Presdir, Ada apa? Anda baik-baik saja?" Khawatir Asisten Damar
"Sebentar, Aku pergi ke toilet dahulu." Pergi Arya terbirit-birit
Aksi itu pun membuat gelagat tawa bagi Damar yang melihatnya. Terlihat lucu dan unik bagi dia melihat Presdir nya seperti itu.
Memang sejak malam hari Arya tak henti pergi ke toilet untuk melakukan panggilan alam yang tak wajar sampai ia tidak bisa tertidur tenang. ia terus merasa sakit perut dan pergi mengeluarkannya.
"Eh,,, Ada apa dengan Presdir Arya? Dia berlari seperti anak kecil sambil memegang perutnya seperti itu." Bicara Karyawan yang menggosip
"Presdir seperti sedang menahan panggilan alam. Mungkinkah dia tidak sempat ritual pagi, ha, ha, ha..." Tawa Salah satu karyawan malah mengejek
Tak lama kemudian setelah harga dirinya dijatuhkan dihadapan karyawan secara habis-habisan. Arya kembali ke ruangan dengan perasaan lebih lega.
"Baiklah, akan ku lanjutkan." Setelah selesai dari toilet
"Baik, Presdir." Jawab Asisten Damar kembali duduk
"Aku meminta padamu untuk menyelidiki kemana saja dan apa yang dilakukan Valerie selama 1 tahun terakhir ini di Amerika. Dapatkan bukti kebenaran sebanyak mungkin agar keraguanku terjawab." Langsung Arya menjadi serius
"Memangnya ada apa dengan Nyonya Valerie, Presdir. Kenapa anda melakukan penyelidikan padanya?"
"Lakukan saja apa yang aku perintahkan tanpa perlu banyak bertanya. Ini sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging dalam dirimu selalu bertanya saat aku memerintah."
"Maafkan saya, Presdir." Tunduknya
"Segera lakukan dan beri tahu aku jika informasi mengenai Valerie berhasil di dapat."
__ADS_1
"Baik, Presdir." Jawabnya pergi dari ruangan Arya
"Entah ada kejanggalan apa yang terjadi kemarin terhadap Valerie. Kenapa bisa Pak Robert yang jelas-jelas dikenali Valerie berbalik dengan dia yang tidak mengenalnya sama sekali. Siapa sebenarnya di sini yang sedang berbohong?"
"Aduhhh..."
"Perutku..."
Geram Arya memegangi perutnya yang baru saja mulas dan kini tiba-tiba mulas kembali.
"Semua ini gara-gara rasa ngidam wanita itu. Jika dihitung tidak tahu berapa kali aku berbolak-balik menuju toilet." Jengkelnya
Tak lama ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya. Lalu, masuk setelah mendapatkan perintah untuk dipersilakan.
"Kebetulan sekali kau datang." Cetus Arya
"Presdir membutuhkan sesuatu?" Ujarnya langsung terhenyak
"Bukan, Tapi gara-gara dirimu aku jadi kena imbasnya." Langsung Arya menyalahkan
Membuat pria yang merupakan managernya itu yang tidak tahu apa-apa langsung kelimpungan dan beranggapan negatif.
"Bukan perusahaannya, tapi Presdir perusahaan ini. Jika bukan karena aku menceritakan mengidam aneh istrimu itu dulu pada istriku, Aku tidak akan sampai menanggung hal yang sama seperti aksi konyol mu."
"Presdir Arya memakan Oreo dengan krim pasta gigi?" Tegunnya langsung memahami
"Jangan sebut kedua benda itu. Gara-garanya perutku sakit seperti ini."
"ha, ha... Oops! Maaf Presdir, Saya refleks untuk tidak tertawa. Dahulu pun saya sama seperti anda yang sakit perut sampai meminta izin beberapa hari. Tapi tenang saja, walaupun cukup menderita, itu hanya bertahan 2 hari."
"Apa dua hari?? Aku harus berbolak-balik ke kamar mandi selama dua hari! Aku benar-benar bisa mati di toilet jika terus seperti ini."
"Sabar saja, Presdir. Demi kepentingan si bayi, sebagai calon ayah harus siap siaga entah itu badai atau 100 pasta gigi di makan."
"Sedikit saja sudah membuatku sakit perut. bisa-bisa aku lumpuh seumur hidup jika harus memakan 100 pasta gigi." Kecamnya
"Nyonya Valerie dan bayinya sangat pintar membuat calon Ayah ini mendapatkan pengalaman yang berharga. Mereka sangat beruntung memiliki ayah perhatian seperti anda yang penurut." Kekeh managernya
Mendengar managernya mengatakan jika sejak dari tadi berbicara dan menduga jika yang dimaksud adalah Valerie, membuat Arya murung. Padahal ia bukan membicarakan Valerie, melainkan Dini. Entah kenapa akhir-akhir ini Arya sangat sensitif mendengar nama Dini. Bukan karena ia membenci namanya, namun karena dorongan aneh seolah hanya nama Dini yang hanya ingin ia kenal di hatinya dan mulut orang lain.
...***...
__ADS_1
"Banyak sekali barang yang ku beli kali ini. Baju ini sangat bagus di badanku. Tapi sayangnya aku tidak bisa memakainya sekarang, gara-gara makhluk ini tumbuh dalam perutku, badan model ku rusak menjadi gemuk seperti ini. Tapi tenang saja, setelah melahirkan aku akan meminta uang pada Arya untuk perawatan tubuhku agar kembali seperti semula. Enaknya menjadi istri CEO dan berasal dari keluarga kaya yang bisa melakukan apa saja." Khayal Valerie yang sedang terbawa angannya
"Wah,,, Rupanya kekasihku ini sedang bahagia dan ceria dilihatnya." Gema bicara seseorang
Valerie terlihat beraut wajah tidak suka seketika.
"Kau? Berani-beraninya kau masuk tanpa sopan santun di rumahku!" Hardik Valerie
Yang datang adalah Richo, dengan entah maksud tujuan apa ia datang seperti itu.
"Rumahmu? Apa aku tidak salah mendengarnya? Kau dan keluargamu mana mampu membeli rumah semegah ini jika bukan karena memeras uang orang lain, yang tidak melainkan suamimu itu. Dengan bangganya kau mengatakan jika rumah suamimu ini adalah milikmu. Hah, Lelucon mu membuat orang tertawa." Ejek Richo
"Pergi dari sini sebelum semua orang di rumah ini melihatmu." Kata Valerie yang panik
"Kenapa kau panik? Aku bisa dengan bebas menemui ibu yang sedang mengandung anakku kapan saja dan di mana saja."
"Jangan bertindak bodoh! Kau bisa membuatku dalam masalah besar. Pergi!" Dorong Valerie
Kebetulan Luna yang masih memilih untuk tinggal di rumah kakaknya tak sengaja melihat Valerie dan Richo yang sedang bertengkar di ruang tamu utama. Luna tak sengaja lewat untuk pergi ke dapur dan seketika menghentikan langkahnya dulu.
Luna bersembunyi dari balik dinding dan ia mengintip di sana.
"Kak Valerie sedang bersama dengan siapa?" Tanya Luna pada dirinya sendiri
"Bukankah itu adalah klien kakak?! Kenapa dia akrab sekali dengan kak Valerie?" Bingung Luna
Kembali pada Valerie dan Richo.
"Aku mohon padamu sekali ini saja dengarkan aku untuk pergi sebelum ada yang melihat." Cemas Valerie terus mendorong Richo, namun Richo malah dengan sengaja menahan diri agar Valerie semakin dilanda kepanikan
"Aku akan segera pergi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya? Kau ingin uang? kemarin aku baru saja mendapatkan uang dari hasil pemotretan bersama denganmu. Jika kau menginginkannya, kau bis..." Terhenti
Cup!
Ciuman dari Richo mendarat di bibir Valerie saat sibuk berbicara.
"Hah!"
Luna membuka mulutnya lebar-lebar akibat syok kakak iparnya sedang berciuman bibir dengan pria yang merupakan klien kakaknya yang mencuat penuh tanda tanya besar.
__ADS_1