Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
110. Bukan Kakak Ipar!


__ADS_3

"Kau? Tuan?" Pungkas Dini tersentak, terkejut, terperanjat dan terseok yang bercampur aduk


Sama halnya dengan Darwin yang pertama kalinya terkejut melihat sosok wanita yang ia kenal.


"Hey, Kau? Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanya Darwin yang biasa saja bahkan malah senang melihat Dini


"Tuan, Anda Darwin adik tuan Arya?" Kata Dini bertanya dengan nada bergetar untuk memastikan


"Kau mengenal kakakku? oh pasti ibuku yang memanggilmu kemari, tapi bagaimana ibu bisa tahu? Bagaimana cara dia membawamu ke sini? Kau juga pasti sudah bertemu dengan keluarga ku yang lain seperti kakak ipar dan kakak ku, mereka datang hari ini. Apa kau juga sudah bertemu dengan mereka? ibu benar-benar sudah menyiapkan semua ini untukku dengan mendatangkan mu."


"Tidak, Tuan. Bahkan saya tidak mengerti apa yang anda katakan."


"Ibuku menyuruhmu datang ke sini untuk menemui ku, bukan? Bagaimana cara kalian saling mengenal?" Ujar Darwin yang semakin tidak dapat dimengerti oleh Dini


"Sepertinya anda salah mengira pada saya. ibu memang memanggilku karena Tu--." Bicaranya terpotong karena Darwin menyelanya kembali


"Kau juga sudah memanggilnya dengan sebutan ibu. waktu begitu cepat padahal aku belum menyatakannya padamu. Ayo ikut aku! Kita akan bicarakan ini pada ibu, Ibuku pasti sudah sangat merepotkan mu." Ucap Darwin tidak membiarkan Dini berbicara sepatah kata pun, Darwin malah memegang tangan Dini dan menariknya ke dalam mansion sambil membawa bunga rangkaian sendiri


"Tidak, Tuan. Anda salah paham, tolong lepaskan saya sebentar untuk menjelaskan sesuatu." Ujar Dini yang terus tertarik oleh Darwin


"Menjelaskan apa? Bahkan aku yang akan menjelaskannya padamu dihadapan keluargaku nanti." Kata Darwin


Dini semakin tertekan, dia mengerti situasi kondisi yang terjadi saat ini bahwa Darwin telah salah paham padanya.


Sampai di dalam mansion tepat di mana semua orang sedang berkumpul.


"Kau sudah memberiku kejutan yang luar biasa. Selain kakak ipar, kau juga didatangkan ke sini." Bicara Darwin yang terdengar oleh Pak Barma, Bu Amira dan Arya yang sedang berbincang


Spontan mereka melirik ke arah sumber suara yang mendapati Darwin masuk dengan sedang menarik Dini, hal itu membuat mereka berdiri karena terkejut dan bertanya apa yang sedang terjadi sebenarnya.


"Darwin sangat senang dengan bertemu kakak iparnya sampai bergandengan seperti itu." Sangka Pak Barma


"Bukan, Dari raut wajah yang ditunjukkan Darwin tidak bisa ditebak."


Sedangkan Arya, sedang merasakan badannya terbakar api cemburu menyaksikan mereka berdua.


"Kakak, apa kabar? Kakak semakin tampan saja." Ujar Darwin melepaskan Dini dan meninggalkannya untuk menghampiri Arya dan memeluknya


Arya hanya diam dengan tatapan yang sudah dimengerti tak merespon sambutan Darwin.


"Di mana kakak ipar? Bukankah dia datang bersama kakak?" Ujar Darwin membuat semua orang tidak mengerti


"Ini pasti rencana ibu. Karena ibu tidak bisa mendatangkan kakak ipar yang tidak jadi datang, ibu jadi mendatangkan gadis yang diceritakan oleh ku padamu. ibu berhutang penjelasan padaku." Ujar Darwin membuat Bu Amira terkejut, sudah jelas kakak ipar yang ia maksud sedang ada dihadapannya. Dan semakin terkejut kala Darwin memberitahu jika Dini adalah gadis yang dimaksud Darwin padanya


"Kalian kenapa diam saja? Kakak juga? kenapa kakak menatapku seperti itu? ibu, ayo katakan sesuatu!" Ujar Darwin yang melihat semua orang seketika terdiam seperti patung dengan raut wajah ibunya yang seolah terkejut

__ADS_1


Darwin berjalan menghampiri Dini lagi dan memegang tangannya dengan romantis tanpa memperdulikan kenyataan yang belum diketahui.


"Karena kebetulan wanita yang ibu bawa setelah mendengar pernyataan ku kemarin. Sejujurnya aku sangat malu jika waktu terasa berlalu dengan cepat, padahal aku memiliki cara lain untuk membawa dia ke mansion ini.tapi kalian sudah mengetahuinya lebih dulu, maka dari itu aku tidak bisa berpura-pura lagi." Seketika Darwin bertekuk lutut dihadapan Dini dan semua orang dengan menyodorkan rangkaian bunga seperti orang ingin melamar


"Saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku tidak tahu kenapa pertemuan kita saat itu sulit untuk dilupakan olehku. saat kita bertemu kembali di pasar tradisional, aku sangat senang bisa bertemu denganmu dan kala itu hatiku terus berdebar dengan cepat disampingmu. sampai saat ini aku berpikir, jika aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu. Aku mencintaimu Dini! Inginkah kau menerima cintaku ini, Jika kau menerima bungaku ini, itu tandanya kau menerima cintaku." Pernyataan Darwin dihadapan semua orang


Dini benar-benar membeku, semakin tidak mengerti jika dia harus ditempatkan berada di situasi kondisi seperti ini.


Arya yang hanya diam sedari tadi menyaksikan tindakan adiknya. Berjalan dengan sarkas seperti ingin menerkam, seketika dia menyeret tubuh Darwin dan melayangkan pukulan di wajahnya. Otomatis tarikan itu membuat Darwin terseret dan pukulan yang membuatnya tersungkur di lantai, ditambah tidak mengerti kenapa Arya bertindak seperti ingin menghabisinya.


Peristiwa itu disaksikan dihadapan orang tua dan semua orang yang berdatangan untuk melihat keributan.


"Apa kau tidak bisa berpikir secara jernih saat ini, Hah? Apa kau ingin mencintai seorang wanita yang sudah menikah?" Bicara Arya dengan geram sampai terdengar gertak giginya menahan emosi, menarik kuat kerah Darwin


"Kenapa? Wanita yang sedang ku cintai belum sama sekali menikah, Kakak. kakak tahu dari mana jika Dini sudah menikah?" Ujar Darwin yang menganggap kakaknya salah paham


"KARENA AKU ADALAH SUAMINYA! DAN DIA ADALAH ISTRIKU! DIA KAKAK IPAR YANG SELALU KAU BAHAS MENGENAINYA!"


Bak terkena petir di siang bolong, tanpa adanya hujan dan pelangi, yang ada hanya kabut asap hitam yang menyelimuti. Darwin dan seluruh tubuhnya merespon pernyataan Arya dengan tersentak, terkejut, terjungkal, terduduk, dan ter-ter lainnya.


Dengan seluruh tubuh yang sudah bergemetar, Darwin menatap ke arah Dini yang sedang tertunduk menangis. dengan tatapan yang nanar, sendu, dan mata memerah dari seluruh bola mata putihnya.


Dadanya begitu sesak mendengar pernyataan Arya yang tidak bisa diterima walaupun oleh pikiran yang terbuka dan jernih.


"Untuk apa aku berbohong? itu adalah kenyataannya. Jika kau masih tidak percaya, tanyakan pada ayah dan ibu." Kata Arya


Darwin bangkit dari tersungkurnya di lantai, menghampiri kedua orang tuanya untuk meminta penjelasan.


"Apa semua yang dikatakan kakak benar, Bu? Wanita yang sedang berdiri itu adalah istri kakak." Tanya Darwin terdengar goyah


"Iya. Dini adalah istrinya Arya, Mereka menikah 6 bulan yang lalu secara sah. Dia kakak ipar yang selalu kau tanyakan dan penasarkan Bagaimana rupanya, Wanita mana yang bisa menikah dengan kakakmu." Ujar Bu Amira mengeluarkan air mata


Untuk kedua kalinya Darwin tidak bisa menerima kenyataan ini. Darwin berjalan mundur menjauhi ibunya, dengan tanpa sadar satu tetes air mata sudah menelusuri pipinya.


"Ini tidak mungkin. Bagaimana kakak bisa menikahi wanita yang ku cintai?!" Jalan mundur Darwin


"Lalu, kau ingin apa? kau ingin merebut dia dariku seperti kau merebut mainan ku saat kecil." Kecam Arya


Suasana semakin panas kala kakak dan adik saling bertengkar.


"Dengarkan aku, Din. aku mencintaimu! terimalah cintaku padamu, menikahlah denganku!" Pegang tangan kedua tangan Dini oleh Darwin yang ingin berbicara dengannya yang agresif dan egois


Untuk kedua kalinya Arya menarik Darwin dari hadapan Dini dan langsung membaku hantam Darwin tanpa ampun.


"ADIK MACAM APA KAU YANG MENCINTAI ISTRI KAKAKNYA!" Marah Arya yang memukuli, menghajar, menggebuki, meninju perut, pipi Darwin

__ADS_1


Tidak ada yang berani mencegah dan menghalangi pertengkaran mereka berdua sampai Darwin babak belur. mereka hanya diam seribu bahasa sebagai penonton setia.


"Arya, Arya sudah, hentikan semua ini! Apa kau tega memukuli adikmu sendiri?!" Teriak Pak Barma membuat Arya menyudahi aksinya


Sampai pada akhirnya karena mendapatkan Hantaman pukulan yang keras, Darwin mengeluarkan darah dari mulutnya. Dan wajah yang sudah babak belur.


"Adik seperti dirinya tidak pantas untuk menjadi adikku." Cela Arya emosi


"Dan kakak seperti dirimu, tidak pantas untuk menjadi kakakku." Sambar Darwin menandingi


Sekian kalinya, Arya hendak ingin menghajar Darwin kembali yang masih terduduk lemah. Namun, dengan cepat Dini menahan suaminya dengan memeluk perut Arya dan menariknya menjauh dari sana agar bisa menahannya.


"Tuan, aku mohon hentikan semua ini. Aku sungguh baik-baik saja. Tolong jangan membuat keributan apalagi membebani dengan merusak hubungan yang terjalin antara adik dan kakak." Bicara Dini


Dengan napas yang terdengar menggebu-gebu, dengan tatapan yang masih tajam menatap Darwin. Arya memegang kedua pipi Dini.


"Kau benar baik-baik saja? Apa saja yang sudah dia lakukan padamu?" Tanya Arya menatap Dini dengan mata yang masih merahnya


"Iya, semuanya baik-baik saja." Jawab Dini mengeluarkan air mata


"Jangan menangis! Aku ada di sini, tidak ada seorang pun yang bisa mendekati mu." Ujar Arya sambil menghapus air mata Dini menggunakan ibu jarinya


Melihat kedekatan dan keromantisan antara kakak dengan istrinya yang dia kenal sebagai Dini yang belum menikah, sekaligus wanita yang dicintainya, membuat Darwin sesak dan sakit menyaksikan kedekatan mereka berdua.


Dibantu oleh Bu Amira dan Pak Barma, Darwin diangkat untuk berdiri.


"Darwin, Apa yang sudah kau lakukan, Nak? Kau sudah membuat ibu malu." Ujar Bu Amira


Tatapannya begitu kosong menatap lantai putih.


"Ayo! Ibu akan obati lukamu." Bawa rangkul Bu Amira pada Darwin menuju kamarnya untuk mengobati luka Darwin


"Sebaiknya kita pulang. Untuk apa kita berlama-lama ditempat ini." Kata Arya menarik Dini dan beranjak pergi


"Tunggu, Arya! tindakanmu hari ini tidak bisa dimanfaatkan, kau malah menghabisi adikmu seperti ini. kau sudah dewasa, apa salahnya jika kita selesaikan masalah ini baik-baik."


"Kau juga sudah lebih dewasa tapi tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah. Sejak dulu kau selalu membela anak kesayangan mu itu.jangan anggap aku sebagai anak jika kau pilih kasih." Tanggapi Arya yang sama-sama keras seperti batu


"Kau--" Pak Barma hendak melayangkan pukulan namun diuntungkan dihalangi oleh Dini


"Mohon maaf ayah mertua, tolong jangan membuat suasana semakin ribut. maafkan saya karena sudah menceramahi ayah, bukan semata benci tapi tidak ingin hubungan antara anak dan ayah menjadi renggang. Kami akan pamit, lain kali kami akan datang." Ujar Dini menarik Arya pergi keluar dari kediaman Pak Barma


Siapa yang tahu dengan pertemuan yang tidak disangka-sangka, akhirnya membawa malapetaka bagi mereka yang terlibat akan cinta segitiga. walaupun garis segitiga pertama tidak mencintai bentuk segitiga sempurna. bukan hanya Darwin yang menjadi korban akan kandasnya rasa cinta pada satu wanita, dahulu Damar pun ikut terseret akan alunan cintanya pada Dini.


Kebenaran memang sebuah kejujuran yang indah, tidak bisa berubah pada kenyataan yang belaka. tapi siapa saja bisa terluka pada kejujuran yang diutarakan. Bahkan tidak bisa menerima sebuah kebenaran yang merujuk padanya!

__ADS_1


__ADS_2