Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
76. Acrophobia


__ADS_3

Dini pun sudah turun, ia sedang bergelantungan di atas membuat jantungnya terus berdebar dengan cepat, dan serangan panik yang melanda.



(Contohnya seperti itu)


"Aku sangat takut!! Bagaimana ini?" Ucap Dini yang gemetar ketakutan


"Hah,,,,I-ibu aku takut!" Ketakutan Dini yang merajalela dalam dirinya dengan debaran jantung yang cepat kala dirinya terombang-ambing bergelantungan di gedung yang bertingkat


"Jangan lihat kebawah Dini, kau pasti bisa menyelesaikan pekerjaanmu." Ucap Dini kembali menyemangati diri sendiri.


Dini meraih alat pembersih jendela dan mulai membersihkan kacanya.bisa dikatakan percuma ia membersihkannya karena di luar sedang hujan dan jendela akan tetap kotor dan basah, tapi tetap saja dia lakukan karena perintah Arya yang seakan sengaja membuat Dini tersiksa.


Kurang lebih 15 menit Dini membersihkan jendela yang sia-sia.Reaksi-reaksi lain yang sudah muncul pada Dini yakni gemetaran, dada berdebar, pusing, berkeringat dingin, mual, sesak napas. Dia merasakan kepalanya yang berputar hebat, penglihatan nya pun kabur.karena Dini tidak bisa menahannya ia menjatuhkan semua perkakas kebersihan sedangkan ia langsung tidak sadarkan diri dan dengan masih bergelantung di seutas tali yang mengaitnya.


Arya yang sedari tadi memantau Dini dari layar monitor yang ia bisa merekam dari setiap sisi penjuru perusahaannya. seketika ia terkejut karena tidak ada pergerakan lagi, ia langsung mengecek semua koneksi yang tersambung dan menstabilkan kembali, tapi tidak ada masalah yang didapat, monitornya berfungsi dengan baik seperti biasa.


Pikirannya sudah kalang kabut, berbagai pikiran negatif muncul dan bergelut dalam benaknya.


Refleks Arya lari terbirit-birit menuju lantai atas membuat Asisten Damar yang bersamanya terkejut dan langsung mengikuti Arya.


"Presdir, Apa yang terjadi?" Tanya Damar sambil berlari mengikuti Arya


"Kenapa liftnya mati?!" berhenti di depan salah satu lift yang tidak berjalan semestinya


"Lift sedang dalam perbaikan, Presdir.


karena tadi pagi karyawan mengeluhkan masalah lift yang berguncang hebat." bicara Damar menstabilkan nafas karena mengejar Arya yang berlari begitu cepat dan terlihat khawatir


"Di mana wanita itu berada?" Tanya Arya sudah tidak karuan begitu sangat khawatir

__ADS_1


"Dini masih membersihkan jendela seperti yang anda perintahkan." Ujar Damar


"Bodoh! Kenapa kau meninggalkannya." Umpat Arya kesal


"Memangnya apa yang terjadi Presdir?" Tanya Damar bingung kenapa sikap atasannya berbeda terlihat cemas sekali


"Kita harus cepat menemuinya." Arya pun terpaksa menggunakan tangga darurat menuju Rooftop dengan menyusuri setiap anak tangga yang tidak terhitung jumlahnya


Sampai Di Rooftop~


Dan benar dugaannya, Dini dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan bergelantung di bawah dengan seutas tali.


"Dinii...!!" Syok Asisten Damar


Dalam guyuran hujan yang membasahi pakaiannya, Tanpa berpikir apapun lagi Arya mengerek tali yang mengait Dini agar dia bisa naik ke atas.ketika Dini sampai di atas tubuhnya sudah terkulai lemas dan dingin, Arya pun dengan cepat melepas ikatan yang mengait di tubuh Dini dibantu Asisten Damar.


Dengan seluruh pakaian mereka yang basah karena hujan, Arya dengan sigap menggendong Dini ala bridal style membawa Dini untuk masuk. Menghiraukan pasang mata karyawan yang melihat aksinya, Dan mulut yang membicarakan menjadi instrumen kekhawatirannya.


Semua karyawan menyaksikan Arya menggendong Dini dan mereka semua merasa iri, tanpa memperdulikan sekitarnya, Arya membawa Dini ke ruangan kamar istirahat miliknya di perusahaan. Setelah sampai, Dia meletakkan Dini di ranjangnya dengan Asisten Damar yang mengikuti mereka.


"Baik Presdir." Asisten Damar sigap menelpon Dokter pribadi Arya yang merupakan sahabat Arya sendiri.setelah itu, ia pergi untuk membawakan set pakaian wanita untuk Dini


Di kamar, Arya mencoba untuk membangunkan Dini dari membuat Dini agar tetap hangat dengan menggosok-gosokkan tangan dan kakinya dan menyelimutinya.


Ada kekhawatiran dan sorot mata yang sulit untuk diartikan.


Tak lama kemudian Dokter Ivan datang dengan Asisten Damar yang membawakan pakaian untuk Dini.


"Siapa yang sakit, Ar. kau sakit?" Tanya dr.Ivan yang tiba-tiba baru saja datang


"Bukan, Tapi is- maksudku karyawan ku.cepat kau periksa dia." Kelu Arya yang sedikit lagi akan salah ucap

__ADS_1


dr.Ivan langsung memeriksa keadaan Dini.tidak lama pemeriksaan sudah selesai.


"Bagaimana, apa yang terjadi, dia tidak meninggal kan?"


"Dia sangat lemah, kondisi tubuhnya tidak normal.aku sarankan kau membawa dia ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif di sana. Dia baru saja mengalami syok trauma berat!"


"Jika begitu tunggu apa lagi, bawa dia ke rumah sakit sekarang juga." Ujar Arya tanpa basa-basi


"Maaf Presdir, atas kelancangan saya.tapi anda sendiri yang membuat Dini seperti ini.jika anda tidak menugaskannya untuk membersihkan jendela luar, ia tidak akan seperti ini.andai anda tahu bahwa Dini takut pada ketinggian, Dia sudah berusaha menjelaskan padamu.tapi kenapa sekarang anda bersikap peduli dan khawatir seperti itu padanya." Ucap Asisten Damar dengan berani tanpa memperdulikan dia sedang bicara dengan siapa


Sorot mata Arya pun berubah menjadi tajam dan mengintimidasi Asisten Damar, membuat Asisten Damar sedikit terancam.


"Jadi kau menyalahkan ku, kau tidak tahu kepada siapa kau berbicara lancang seperti itu." Ucap Arya yang berjalan ke arah Damar lalu, menarik kerah baju Damar dan mendorong Damar, membuatnya terjerembab ke lantai


"Sudah cukup, Arya.di saat seperti ini kau masih bersikap kekanak-kanakan, kita harus segera menyelamatkan wanita ini jika kau peduli padanya." Hardik dr.Ivan pada Arya


"Asal kau tahu Damar, aku menyelamatkan nya bukan aku khawatir atau peduli padanya.tapi aku masih tidak membiarkan dia meninggal begitu saja dengan mudah."


"Arya sudah cukup!! kau harus membawa dia ke rumah sakit." bentak sekali lagi dr.Ivan


Arya pun kembali menggendong Dini.sebelum ia berangkat ke rumah sakit, Arya menatap damar tajam, dan melanjutkan langkahnya.


dr.Ivan pun menghampiri Damar dan membantu Damar bangkit.


"Maaf atas kelancangan Arya yang masih temperamen kepadamu tadi, Damar. Aku tahu kau sangat baik hati dan banyak sakit hati atas perlakuan Arya padamu." Ucap dr.Ivan pada Asisten Damar sebelum pergi


"Tidak apa-apa dr.Ivan. selama bertahun-tahun saya sudah memahami sikap dan sifat atasan saya."


"Kau memang orang baik, cepat kita harus menyusul mereka".ucap dr.ivan pada damar sambil menepuk-nepuk pundak nya, lalu ia pergi menyusul Arya


Asisten Damar pun sedikit termenung tapi ia berusaha membendung kesedihannya itu dan menyusul ke rumah sakit.

__ADS_1


Di rumah sakit, Dini sudah diberikan perawatan intensif oleh dr.Ivan yang menanganinya.


Di luar ruangan Asisten Damar dan Arya tidak saling berbicara seperti dua kubu yang sedang memanas dan memilih untuk diam.


__ADS_2