Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 108 - Sel Yang Dingin


__ADS_3

"Saya rasa kali ini tidak akan menjadi tontonan yang membosankan. Saya harap Tuan bisa datang menyaksikan langsung ketidakberdayaan musuh Tuan itu kali ini." Ucap Lucas dengan wajah smirknya


"Hmm, keluarlah," Ucap Antonio pelan


"Baik Tuan, saya pamit undur diri," Ucap Lucas yang segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Ia akan segera membawa Dini ke penjara untuk bertemu Arya.


Sebelum pergi ke penjara, Lucas lebih dulu pergi ke mansion Antonio untuk membawa Dini yang masih terkurung di sana.


"Ayo ikut denganku!" Gertak Lucas menarik Dini kasar saat sesampainya di mansion Antonio


"Kemana? Aku tidak ingin pergi mengikuti mu!" Jawab Dini berteriak


"Baiklah, Rupanya kau menolak. Padahal aku berencana membawamu untuk bertemu dengan suamimu di penjara." Ungkap Lucas meledek


Mendengar Lucas berkata demikian akan membawa Dini bertemu dengan Arya, hatinya berbinar-binar, senang, dan semangat untuk bertemu Arya.


"Benarkah? Baiklah, Aku ingin bertemu dengan suamiku." Jawab Dini bahagia dan sesaat ia kembali bergairah


Seperti bunga mawar yang tidak di siram beberapa hari dan akhirnya mendapati air untuk tumbuh segar.


"Bukannya tadi kau menolak." Ledek Lucas


"Tidak. Aku ingin ikut dengan mu. Kau ingin membawaku pada suamiku bukan, Tolong temukan aku dengannya." Pinta Dini merengek


"Ini yang ku inginkan. Berterima kasihlah nanti padaku karena sudah berbaik hati kali ini. Dan jangan lupa untuk membawa tisu yang banyak dari sekarang. Karena aku yakin pasti kau akan menangis tersedu-sedu di sana."


"Tidak perlu, Jika aku menangis, Jari suamiku sendiri yang akan menghapusnya." Jawab Dini percaya diri


Lucas menarik bibirnya ke samping. Ia tersenyum smirk dan meledek.


"Aku harap seperti itu. Jangankan menghapus air mata, menghapus jejak mu dihatinya pasti akan mudah untuk saat ini. Hahaha..." Batin Lucas berkata


...***...

__ADS_1


Tibalah saatnya Dini sampai di sebuah penjara yang jauh dari pusat kota. Penjara itu sepi seolah tidak ada kehidupan dan keramaian. Hanya ada beberapa penjaga yang menjaga tempat itu dan selalu membawa bedil ditangan mereka.


Inilah tempat penjara suaminya yang akan menaungi selama bertahun-tahun lamanya. Begitu seram tampak luar, apalagi dalamnya.


Dini tak bisa membayangkan bagaimana keadaan suaminya saat ini sudah merasakan penjara selama dua minggu berlalu.


Kini, Dini dan Lucas bersama polisi mengantar mereka masuk ke dalam untuk menunjukkan sel penjara Arya ditahan. Mereka berjalan menelusuri lorong sel penjara.



Baru pertama kalinya wanita sesuci Dini masuk ke dalam sebuah penjara dan merasakan bagaimana penjara itu. Perasaan dingin saat melangkahkan kaki masuk itu mendinginkan seluruh tubuhnya yang hanya memakai dress selutut, lengan sebahu.


Bersama perut besarnya ia menyaksikan dari sisi kanan dan kiri sel penjara, banyak narapidana yang tersiksa menunggu vonis mereka selesai hingga di bebaskan.


Ya, sel tahanan itu sangat dingin. Ditambah lagi mereka hanya mengenakan pakaian tahanan kaos pendek, dan celana selutut berwarna Navy bertuliskan 'TAHANAN'. Mereka belum pernah mengalami kedinginan yang begitu hebat sebelumnya. Itu sangat dingin, sehingga akan mengatakan itu adalah bentuk siksaan. Di sana menggunakan dingin sebagai bentuk penyiksaan untuk mencegah orang melakukan kejahatan.


Udara dingin, daur ulang namun pengap terus-menerus bersirkulasi di seluruh penjara, tidak ada "udara segar".


Sebagian besar penjara akan memberi setidaknya ranjang, selembar dan selimut. Berpegang pada hal-hal seperti hidup mereka yang tergantung padanya! Namun, tak terlihat benda semacam itu di dalam sel mereka. Hanya berteman lantai yang dingin tanpa alas. Tak ada pencahayaan yang hanya mengandalkan cahaya matahari masuk dari sirkulasi.



Arya yang malang!


Menetes sudah satu butir air mata Dini saat mendapati suaminya tengah meringkuk tidur di lantai yang dingin itu.


Pria itu selalu hidup dalam kemewahan, tidur di kamar yang luas dengan ranjang ukuran king size, nyaman dan empuk. Ketika di luar, ia bisa pergi ke apartemen ataupun menggunakan uangnya untuk menyewa hotel. Namun, saat ini seperti bukan dirinya, ia tidak berdaya untuk berkuasa.


Polisi tak berperasaan, membangunkan Arya yang tengah tertidur dengan menendangnya. Sakit hati Dini saat suaminya diperlakukan tak berperasaan seperti itu hingga dua butir air mata meluncur di pipinya.


"Bangun! Ada yang datang untuk menemui mu." Teriak polisi itu


Arya beserta keluguannya dengan wajah khas orang bangun tidur masih bingung menatap sekitar.

__ADS_1


Ia bangkit dan menatap depan. Dengan mata sayunya, ia terkejut dan melihat nanar kedatangan istrinya yang kini berada dihadapannya.


Rindu, Senang, Bahagia, semua bercampur aduk. Arya antusias berdiri, bahkan bangkitnya terburu-buru, dan berjalan keluar sel dengan gusar.


Kini mereka saling berhadapan satu sama lain dengan jarak sekitar 5 meter. Pria itu sangat mengkhawatirkan, tubuh yang kurus, lemas, rambut yang sudah panjang tidak di potong, matanya sayu, tak bugar lagi. Pakaian TAHANAN berwarna Navy itu tak cocok dikenakannya.


Keduanya tersenyum dan bercucuran air mata. Ingin sekali segera menggerakkan kaki sangat dekat untuk memeluknya, merasakan kembali bagaimana hangat tubuh itu.


Begitupun sebaliknya. Arya menatap Dini dihadapannya ini selalu cantik, tak pernah banyak berubah dalam dirinya, ia masih melihat Dini yang sama bahkan kali ini lebih cantik dengan perut besar yang tengah mengandung anaknya. Ia sangat merindukan sosok itu, seharusnya kehamilan Dini dilanjutkan dengan hari-hari yang bahagia, ia bisa merawat Dini dengan segala drama kehamilan. Namun, menyaksikan persalinannya pun ia dipastikan tidak akan bisa.


Arya dan Dini sama-sama sedang berjalan untuk saling mendekat. Langkahnya pelan dan kecil, tak melepas pandangannya mereka untuk saling menatap. Hanya udara dingin dan bercucuran air mata yang mengiringi pertemuan mereka lagi.


Sudah saatnya jarak mereka sangat dekat dan hanya menyisakan 1 meter.


Hati keduanya langsung terguncang, menggebu-gebu, ketidaksabaran ingin memeluk yang terus memuncak, dan tangisan yang semakin deras. Keduanya saling bertatap, memandang dan melihat penuh rasa haru juga tidak percaya.


Dini...


Arya...


Kedua nama itu saling terucap keluar dari mulut keduanya masing-masing menyebut cintanya.


Grep!


Dini lebih dulu menerjangkan tubuhnya memeluk Arya.


Untuk pertama kalinya lagi setelah lama berpisah seperti sensasi tujuh tahun ia pergi dan kembali ke pelukan suaminya, pelukan itu masih selalu nyaman dan menghangatkan tubuhnya.


Arrrrrrrgghhhhh...


Teriakan terdengar sangat menyakitkan.


Tubuh itu di dorong hingga terhempas sangat jauh hampir terjatuh. Wanita itu tengah menatap tak percaya.

__ADS_1


Apa yang terjadi? Kenapa? Ada apa? Pertanyaan ingin segera mendapatkan jawaban.


Baru saja 3 detik ia memeluk tubuh pria itu, sudah terdengar teriakan kesakitan, dorongan yang kuat sampai membuatnya terlempar jauh tak memeluk lagi!


__ADS_2