Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 13 - Pertemuan Arsen


__ADS_3

"Arsenn..." Panggil Ansel berlari


menghampiri Arsen yang sedang berjalan untuk masuk


Arsen yang baru sampai di gerbang pun, terpaksa harus menengok ke sumber suara.


Dini pun ada bersama Ansel yang ikut turun untuk mengantarkannya sampai depan gerbang.


"Kau sudah sekolah? Aku pikir kau tidak akan sekolah hanya istirahat di rumah."


"Aku berada di sini. Tentu saja aku sekolah sekarang!" Ketus Arsen menjawab


"Agh,,, lya benar. Kau ada di sini dan artinya kau sekolah." Canggung Ansel jadinya mendengar jawaban Arsen yang dingin


"Ibu, Ayo cepat kemari! Aku ingin mengenalkan temanku pada ibu." Titah Ansel menyuruh Dini yang sedang berjalan untuk lebih cepat


"Sebentar Ansel, Ibu pasti akan sampai." Kata Dini


Dini pun sampai.


"Nah,,, Ibu, Ini adalah teman yang selalu aku ceritakan padamu. Namanya Ansel..." Pungkas Ansel mengenalkan


Arsen menunggu di sana walaupun ia ingin segera masuk. Namun, pandangannya tak beralih pada wanita yakni ibu Ansel yang terlihat cantik dengan polesan make up sederhana di wajahnya. Tidak seperti dulu saat ia bertemu dengan bibinya Gino yang sangat menor.


Pandangan Dini pun ikut tertuju pada anak kecil itu. Entah mengapa perasaan hangat tiba-tiba menusuk ke dalam relung hatinya saat melihat anak kecil itu. Detak jantung Dini pun berdetak tidak berirama. Pandangannya kembali terpaku di detik kemudian saat anak kecil itu tiba-tiba menatap matanya.


"Wajah itu..." Batin Dini saat melihat dengan samar wajah Arsen


"Ibu..." Sentuhan Ansel membuat pandangan Dini terputus


"Agh,,, Iya. Saya adalah ibunya Ansel. Ansel sering menceritakan banyak hal tentang mu. Saya senang bisa bertemu langsung dengan Arsen yang ternyata sangat tampan seperti yang Ansel katakan." Ujar Dini


Arsen tidak menjawab, ia masih terpaku melihat Dini sampai tak fokus mendengar apa yang dikatakan.


"Arsen, Kenapa kau diam saja? Ibuku sedang berbicara dengan mu. Ibu, Arsen memang seperti itu, dia sangat cuek sekali, seperti yang aku ceritakan. ibu lihat sendiri, kan?"


"Iya, Ibu senang bisa bertemu dengan teman mu." Kata Dini


"Oh iya, Ansel mengatakan jika kemarin kau bertengkar sampai wajahmu lebam seperti ini. Pasti rasanya sangat menyakitkan. Maka dari itu bibi ingin memberikan kotak makan ini untukmu. Di dalamnya sudah ada sayuran hijau, daging dan telur mengandung protein yang tinggi untuk mempercepat proses penyembuhan luka mu. Ini Ambil lah..." Ucap Dini mengambil kotak makan dari tas dan diberikan pada Arsen


Arsen melihat kotak makan itu dengan sendu. la ragu untuk mengambilnya.

__ADS_1


Dini terus tersenyum menunggu Arsen untuk mengambil dan sekilas melirik terus ke arahnya.


Dengan gemetar ia mengangkat kedua tangannya untuk mengambil kotak makan dari tangan Dini.


"Te-terima Kasih, Bibi..." Lirih Arsen


"Sama-sama..." Jawab Dini dengan lembut dan senyum manisnya


Mendengar suara Arsen pertama kali, perasaan hangat kembali menusuk sampai relung hatinya. Hatinya bergetar mendengar suara yang samar itu.


"Ayo kita masuk! Sebentar lagi kelas akan mulai." Ajak Ansel


"Benar. masuklah! Belajar dengan giat dan perhatikan ibu guru yang sedang menerangkan jangan sampai bermain-main, Ya." Pesan Dini pada Ansel


Arsen pribadi pun merasakan jika dia sedang diberi pesan oleh ibunya sendiri untuk sekolah dengan baik.


"Baik Bu. Aku kan anak baik, mana mungkin berbuat nakal." Jawab Ansel membuat gemas


Ansel dan Arsen pun masuk lebih dalam untuk menuju kelas mereka. Dini pun turut melihat mengiringi kepergian mereka.


Bak seorang ibu yang memiliki anak kembar dan bersekolah bersama-sama, ia mengantarkan kedua putranya sampai gerbang sekolah untuk menuntut ilmu. Dia melihat Arsen dan Ansel yang berjalan bersamaan itu dengan perasaan senang. Ansel terlihat sedikit mungil dari Arsen yang lebih tinggi darinya.


Kebahagiaan pun terganggu kala seorang anak nakal membuat keonaran yang fatal.


"Arrgh... Siput lambat sekali jalannya!" Senggol Devan pada bahu Arsen dengan kuat sampai membuat Arsen tersungkur


Brakk


"Arrghh..." Suara ringisan Arsen yang terdengar cukup nyaring membuat Dini yang masih melihat kepergian mereka sangat terkejut dengan kejadian itu


"Arsen..." Pekik Dini melihat Arsen terjatuh karena disenggol


Ringisan Arsen pun berhasil membuat wanita yang tengah mengantarkan kepergian itu tanpa sadar langsung menoleh dan berlari ke arah anak kecil yang sedang meringis sambil mengelus lututnya yang sakit.


"Haha... Rasakan itu. Dasar anak lemah. Begitu saja sudah jatuh." Hardik Devan


"Arsen, Kau terjatuh. lutut mu juga lecet. Huaa... Ibu..." Ansel nampak merasa bersalah sampai menangis sambil mengelus lutut Arsen yang kotor


"Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Dini yang ikut berjongkok pada anak kecil di depannya


"Ibu, lututnya jadi lecet..." Jawab Ansel yang menangis

__ADS_1


"Arsen, ikut dengan ku, aku akan mengobati lukamu." Kata Dini


"Tidak perlu bibi, Aku baik-baik saja. Rasanya tidak terlalu sakit." Jawab Arsen yang kuat


"Tapi lukamu??" Cemas Dini


"Tidak masalah, Sakitnya akan hilang dalam beberapa menit."


"Benar kau tidak apa-apa? Bibi bisa saja memberi perban untuk lukamu ini dulu."


"Kelas akan segera di mulai. Aku tidak terbiasa masuk terlambat. Jadi biarkan saja seperti ini karena rasanya tidak terlalu sakit." Jawab Arsen


"Baiklah, Bibi akan membantumu berdiri saja, Ya." Kata Dini membangunkan Arsen untuk berdiri


"Terima Kasih Bibi..." Ucap Arsen yang dibantu berdiri


"Ibu... Aku yang salah. Huaa..." Ansel kembali menangis


"Ansel, Kenapa jadi kau yang menangis. Di sini aku yang terjatuh, aku juga yang merasa sakit, tapi kenapa seperti kau yang kesakitan sampai menangis? sudah... jangan menangis! Aku tidak apa-apa." Arsen menghapus air mata Ansel


Dini tersentuh melihat interaksi mereka. Melihat Arsen yang penuh perhatian, Dia yang membayangkan betapa indahnya fenomena ini jika Ansel sedang bersama KAKAKNYA yang saling menyayangi satu sama lain.


"Tapi aku tidak bisa menolong saat Devan mendorong mu. Kemarin aku di dorong olehnya, Kau masih sempat menolongku agar tidak terjatuh..." Bicara Ansel dengan sesenggukan


"Tidak apa, Ini hanya luka kecil bagiku." Jawab Arsen dengan dewasa


"Arsen, Jika kau sakit katakan saja, Nak. Kau tidak perlu menahannya." Ujar Dini


Arsen merasakan perasaan yang sangat hangat saat Dini seolah ibunya yang sedang mengkhawatirkannya.


"Tidak apa Bi, Aku akan baik-baik saja. Seorang jagoan tidak akan pernah menangis ataupun merasa sakit." Ujar Arsen membuat Dini terkagum dengan jawabannya


"Kau dengar itu Ansel. Kau tidak perlu merasa bersalah, Arsen sendiri sudah mengatakannya padamu jika dia tidak apa-apa. Sekarang jangan menangis lagi, Ya." Ucap Dini menghapus air mata Ansel sampai ia tidak menangis lagi


"Nah seperti itu, berhenti menangis karena jika Ansel menangis hidung Ansel akan merah seperti badut." Lanjut Dini berhasil membuat anaknya tertawa


"Baiklah, Arsen ayo kita masuk!" Ajak Ansel yang memegang tangan Arsen untuk jalan dengan bergandengan


"Hati-hati!" Ucap Dini mengiringi kepergian mereka


Jalan Arsen pun sedikit terpincang-pincang. Hal itu mencuat keraguan akan keadaan yang sebenarnya tidak baik-baik saja. Dini malah semakin khawatir melihat jalan Arsen seperti itu.

__ADS_1


"Perasaan apa ini? Kenapa aku menjadi terlalu khawatir seperti ini? seolah anakku sendiri yang sedang mengalami kesakitan seperti ini. Kasihan sekali dia, aku tidak sempat mengobati lukanya." Ucap Dini


__ADS_2