
Dini menjalani kehidupan barunya dengan profesi Dokter yang ia jalani, suatu rasa bersyukur yang sangat besar ia dapat mengejar cita-citanya kembali dikala sudah memiliki seorang anak. Kewajibannya sebagai seorang ibu yang tidak lepas begitu saja, ia dapat melakukan pekerjaan yang sibuk dengan ia mengambil kerja setengah hari di pagi hari dan pulang siang hari, begitupun terkadang siang hari dan pulang sore hari.
Dini sangat bersyukur selama 7 tahun yang sudah berlalu, tuhan masih memberikan kesempatan padanya untuk mengejar cita-cita. Hal ini tidak luput dari dukungan kedua orang tua, nenek, dan juga Darwin yang selalu ada untuknya.
Dini dan Darwin saling berteleponan.
"Aku sudah berada di depan. Kapan kau keluar?" Tanya Darwin dalam telepon yang menjemput Dini siang hari
"Bahkan aku baru saja keluar dari ruangan ku. Aku akan segera menuju ke sana." Jawab Dini dalam telepon
"Cepatlah! Apa karena kau sudah tua, jalanmu jadi lambat?" Ejek Darwin hanya bercanda
"Hey,,, Jangan menyebutku tua! penampilan begini, aku masih terlihat seperti umur tujuh belas tahunan, jika ada pria berusia 20 tahun, mungkin mereka akan menjadikan aku istrinya." Ujar Dini meladeni Darwin yang membuatnya terpancing untuk bercanda
"Hey Nona, Jaga mulut mu itu, Ya! Kau memiliki pria yang harus kau jaga hatinya. Lagipula aku meragukan jika mereka ingin menikahi mu, panggilan apa yang cocok nanti jika kalian sampai menikah, apakah suami mu itu akan memanggil mu dengan sayangku, atau bibi! hhh..." Ucap Darwin mengejek
"Dasar! Bercanda mu tidak lucu, Tuan Darwin. Kau pun harus ingat jika umur mu sudah kepala tiga dan itu tandanya kau sudah tua. hhhh..." Kata Dini mengejek
"Baiklah, kita berdua sama-sama sudah tua dan lagipula sudah memiliki anak yang dirawat. segera cepat kemari, atau aku akan pergi meninggalkan mu." Ujar Darwin
"Baiklah, baiklah, Aku akan segera sampai. Mohon untuk tidak marah-marah ya Tuan Tua! hhh..." Ejek Dini yang tidak ada habisnya
"Kau!!..." Darwin jadi geram karena selalu diejek tua oleh Dini. ia ingin berbicara panjang lebar, namun melihat panggilan sudah dimatikan.
Hal itu tidak masalah baginya, asalkan bisa melihat Dini tertawa bahagia, kebahagiaannya sudah terletak dari melihat Dini tertawa.
Dini berjalan menghampiri Darwin yang sudah menunggu di depan mobil dan melihat nya dengan tersenyum semringah ke arahnya yang mungkin masih dalam suasana mengejek Darwin tua.
"Maafkan aku sampai kau harus menunggu lama berdiri di sini." Ujar Dini sambil tersenyum manis
"Tidak masalah, ingin satu tahun agar kau bisa sampai di sini, aku akan tetap setia berdiri di sini." Ujar Darwin
Dini pun sampai tertawa kecil.
"Tuan Darwin ini ada-ada saja. rumah sakit ku bukan berasal dari alam berbeda dan harus melewati portal untuk sampai ke sini."
"Itu adalah caraku agar selalu melihatmu tertawa. Baiklah, silakan masuk Tuan putri!" Darwin pun membukakan pintu mobil dan mempersilakan Dini masuk
"Lain kali jangan seperti ini. Aku bisa membukanya sendiri. Tapi aku ucapkan terima kasih pengawal!!" Ucap Dini masuk sembari terkekeh
__ADS_1
Mereka berdua sudah berada di dalam. Dengan Darwin yang sudah siap melajukan mobilnya.
"Ini sudah waktu pulang sekolah Ansel. Apa kita sekalian menjemput dia?" Tanya Darwin
"Sepertinya tidak, kita akan terlambat beberapa menit dan pastinya akan membuat Ansel menunggu. Ibu mengatakan biarkan dia saja yang menjemput Ansel tadi pagi karena melihat jadwalku hari ini masuk pagi, dan kau pasti sibuk." Jelas Dini
"Baiklah, kita akan langsung pulang saja. mungkin mereka lebih cepat pulang daripada kita." Ujar Darwin
Dini hanya mengangguk.
Darwin pun melajukan mobilnya untuk pulang.
Tempat tinggal Darwin beserta keluarga di suatu negara yang jauh dari negara kelahiran mereka.
"Nenek Buyut, Di mana ayah dan juga ibu? Kenapa mereka belum juga pulang?" Rengek Ansel yang menunggu orang tuanya
"Ansel sayang, sabar ya nak! sebentar lagi ayah dan ibumu pasti akan segera pulang. lebih baik Ansel menunggu di sini bersama nenek buyut saja, ya?" Ucap Nek Arini yang menenangkan cicitnya
"Tapi ini sudah lama sekali, Nenek Buyut! Biasanya mereka tidak lama seperti ini. mungkin saja mereka diam-diam pergi ke mall tanpa diriku." Masam Ansel
"Cicit ku tersayang, nenek yakin mereka sedang berada dalam perjalanan. mereka tidak mungkin setega itu meninggalkan putranya ini pergi berdua ke mall. mereka pun sudah tahu apa jadinya jika Ansel tidak diajak pergi ke mall, karena tidak ingin mengambil risiko Ansel yang marah, ayah dan ibumu memilih untuk tidak pergi ke sana berdua." Ucap Nek Arini memberi pengertian
"Apa itu benar Nenek Buyut?" Tanya Ansel lugu
Ansel pun menerimanya, namun terlihat murung dan menunggu dengan bosan kedua orang tuanya yang belum kunjung datang juga.
Tak lama kemudian, Darwin dan Dini memasuki rumah dengan bersamaan.
Ketika melihat mereka berdua, Raut wajah Ansel langsung berseri, ia berlari menghampiri ayah dan ibunya.
"Ayahh... Ibuu..." Langsung peluk keduanya
"Ansel pulang di jemput nenek ya? Maafkan ibu tidak bisa menjemput mu ya?!" Ujar Dini langsung berjongkok untuk menyeimbangi tinggi badannya dengan Ansel
"Tidak apa-apa ibu, aku tidak marah. tapi aku marah karena ibu dan ayah pulang lama sekali hari ini, aku sampai harus menunggu lama dengan nenek buyut!" Mengadu Ansel
"Maafkan Ayah dan Ibu ya, nak! hari ini ibu pulang terlambat karena masih harus melayani satu pasien dahulu. Lain kali ibu berjanji akan pulang sebelum Ansel pulang dijemput atau lebih cepat dari ini." Ujar Dini
"Baiklah, Aku tidak akan sampai marah pada ibu sangat lama. tapi aku akan marah pada ayah karena ayah membawa mobilnya sangat lambat!" Ucap Ansel pada Darwin
__ADS_1
"Hey Jagoan! Kau marah pada Ayahmu, Ya?" Ucap Darwin dengan lembut yang tidak sungguh-sungguh sampai marah
"Iya, Karena ayah yang mengendarai mobilnya, Ayah sampai sangat lama mengantarkan ibu pulang." Jawab Ansel dengan masam
"Oh, Baiklah, lihat saja jika Ansel marah pada ayah! Ayah tidak akan membelikan Ansel mainan ataupun mengajak ke mall lagi." Ucap Darwin meladeni dengan lembut dan sedikit memasang wajah garang
"Tidak masalah, aku bisa memintanya pada nenek, kakek, atau nenek buyut. Mereka bisa membelikan banyak mainan dari yang sering ayah berikan." Jawab Ansel begitu santai
Hal itu pun mengundang gelagat tawa sekeluarga.
...***...
Sore hari Darwin dan Dini sedang menikmati senja di taman halaman belakang rumah, sambil bersantai menghirup semerbak aroma bunga yang bermekaran dengan meminum secangkir teh.
Mereka saling berbincang dengan Darwin yang memulai topik.
"Mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu dan menikmati senja berdua di sini." Ucap Darwin
"Maksud Tuan Darwin? Kenapa terdengar seperti akan pergi jauh dan kau mengucapkan salam perpisahan." Kata Dini
"Besok aku akan pergi ke Jakarta menginjakkan kaki ke tempat itu lagi." Ujar Darwin mengejutkan dan begitu terus terang
"Apa alasan dibalik semua itu? Kenapa harus pergi ke sana?" Tanya Dini
"Ada kontrak proyek yang harus aku jalani di sana bersama dengan klien ku."
"Itu pasti tidak akan lama, bukan? 1 Minggu atau 2 Minggu Tuan akan kembali. tidak perlu bercanda denganku karena kali ini aku tidak akan termakan akan candaan Tuan." Ucap Dini yang menganggapnya sebagai candaan Darwin belaka
"Aku tidak sedang bercanda. Aku serius! Membutuhkan waktu lama untuk berada di sana sampai sekitar 1 tahun, itupun belum pasti, mungkin bisa sampai 2 atau 3 tahun untuk berada di sana." Jawab Darwin
"Apa?? Selama itu? Lalu, Bagaimana dengan kami yang ada di sini?" Tanya Dini jadi bingung
"Aku tahu Jakarta bukanlah tempat yang cocok untukmu. masa kelam kita berada di sana, dan tidak akan mungkin bagimu untuk kembali ke sana. biarkan aku pergi dan kalian bisa tetap berada di sini." Ujar Darwin
Dini pun menganggap jika Jakarta adalah tempat yang memberikan goresan luka menyakitkan baginya. benar kata Darwin, ia tidak mungkin kembali ke Jakarta setelah 7 tahun tinggal di negara orang dan mendapatkan kebahagiaan di sini.
"Mungkin memang akan sulit jika kami harus berpisah denganmu selama itu. Tapi akan lebih sulit jika kita bersama-sama kembali ke Indonesia. Aku akan mengizinkan mu pergi, walaupun sulit rasanya untuk ditinggal pergi oleh mu."
"Percayalah satu tahun tidak akan terasa lama. Aku akan secepatnya menyelesaikan proyek itu agar bisa kembali bersama denganmu." Ujar Darwin memegang kedua pipi Dini
__ADS_1
Darwin menggenggam tangan Dini yang terlihat sedih. Bukan hanya Dini, ia sendiri yang akan pergi menginjakkan kaki kembali ke negara kelahiran dalam jangka panjang akibat urusan pekerjaan, tidak bisa meninggalkan Dini dan juga Ansel jauh-jauh di negara orang lain.
Satu hal yang pasti keinginannya adalah selama ia berada di sana, ia tidak dipertemukan dengan keluarga di sana, terutama kakaknya yakni Arya!