Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 04 - Di Suatu Negara


__ADS_3

Di sebuah kota negara X merupakan negara maju yang nyaman, damai, dan tentram, terdapat sebuah keluarga kecil dengan hari-hari bahagia dan berwarna dijalaninya.


"Ibuuu..." Seorang anak kecil berlari menghampiri ibunya yang datang menjemput selesai pulang sekolah


Seorang ibu itu sedikit berjongkok dan mengulurkan kedua tangannya menyiapkan diri untuk diterjang oleh anaknya yang akan memeluk.


Mereka saling memeluk satu sama lain dengan penuh kasih sayang dari seorang ibu yang mendapatkan ciuman di pucuk rambutnya.


"Bagaimana sekolahmu hari ini? Apakah menyenangkan?" Tanyanya


"Iya, Bu. Sekolah selalu menyenangkan karena dapat bertemu dengan teman-teman ku setiap hari, tapi hari ini aku sangat senangggg sekaliiii..." Bicara khas anak kecil yang panjang di dua kata akhir


"Oh Ya, Apa yang membuat mu kali ini sangat senang sekali?" Tanya seorang ibu itu dengan penuh kelembutan


"Hari ini semua nilai dari ujian tengah semester sudah keluar, dan aku mendapatkan nilai 100 untuk mata pelajaran matematika dan 90 untuk mata pelajaran lainnya dari Bu guru. Coba ibu lihat ini!" Pungkas anak kecil itu mengeluarkan selembaran kertas jawaban dari tasnya


"Wah,,, Ansel sangat hebat! Nilai 100 untuk matematika, dan nilai yang sangat besar di mata pelajaran lainnya." Puji dari ibunya


"Apa ibu sangat bangga?" Tanyanya suara khas anak kecil


"Tentu saja ibu sangat bangga, Anakku ini sangat pintar." Cubit lembut pipinya karena gemas


"Itu semua aku dapatkan dari tidak belajar sama sekali. sepanjang hari aku selalu bermain, tapi karena aku hebat aku bisa mendapatkan nilai 100 dari teman-teman ku yang lain."


"Eitss... Tidak boleh berbangga diri seperti itu. kau boleh bangga pada dirimu, tapi jangan sampai merendahkan orang lain. Ibu tahu kau sangat pintar, tapi bukan hanya karena kau tidak belajar dan malah mendapatkan nilai bagus dari tidaknya kau belajar, kau menganggap dirimu orang yang hebat. Ingat! Ibu selalu mengajarkan mu untuk rendah hati." Ujarnya


"Baik Bu, Aku mengerti, Aku tidak akan mengulanginya lagi." Jawabnya


"Kalian masih di sini rupanya?!" Bicara seorang pria pada mereka yang masih berbincang


Dengan spontan wanita itu dan anaknya menoleh.


"Aku pikir aku terlambat dan kalian sudah pergi. Syukurlah kalian masih ada di sini, dan aku akan menjemput kalian." Bicaranya kharismatik


"Ayahh..."


Langsung peluk anak kecil itu hanya sampai pahanya saja, karena tinggi badannya tidak menggapai untuk memeluk orang dewasa yang memiliki tinggi badan 178 cm.


"Kau juga datang untuk menjemput ku?" Tanyanya


"Iya, sudah lama ayah tidak datang untuk menjemput dirimu. Ayah berinisiatif untuk menyusul ibumu ke sini untuk menjemput kalian." Jawabnya


"Yeay,,, Aku senang sekali. Ayah dan ibu ada di sini untuk menjemput ku." Senangnya sampai berjingkrak-jingkrak

__ADS_1


Ayah dan ibunya pun tertawa kecil melihat anaknya yang kegirangan.


"Tuan Darwin, kau mengatakan akan menghadiri rapat siang ini. Tapi kenapa kau tiba-tiba ada di sini untuk menjemput Ansel?"


Jika wanita itu menyebut Tuan Darwin, Siapa lagi jika bukan Darwin yang kita kenal?! Lalu, siapa wanita itu? Tentu saja ia adalah Dini!


"Aku dengan cepat menyelesaikan rapat itu dengan mengubah jadwal di pagi hari tadi. Karena tidak terlalu sibuk, aku tahu kapan Ansel pulang sekolah dan segera datang kesini." Jawab Darwin


"Oh, Baiklah. Padahal aku sendiri bisa menjemput Ansel dan Tuan bisa fokus saja pada pekerjaan yang ditakutkan sibuk."


"Tidak sama sekali. Kau sendiri datang pasti menggunakan taksi karena mobil di rumah dipakai oleh supir untuk mengantarkan ibu dan juga nenek." Ujarnya


"Iya, itu memang benar, mereka sedang pergi bersama entah ingin kemana." Ucap Dini sambil tertawa kecil


"Aku sudah menduga itu!" Ucap Darwin yang tertawa kecil bersamaan


Suara handphone Dini berbunyi dikala mereka sedang tertawa kecil.


"Tunggu sebentar!" Ucap Dini mengocek tasnya dan mengambil handphone miliknya yang berdering


la pun segera mengangkat telepon.


"Dokter Dini, Anda sudah berada di mana?" Ucap seorang dokter wanita dalam telepon


"Aku sudah selesai menangani pasien dari batas jam kerjaku, dan ini sudah saatnya jam kerjamu, di luar sudah banyak pasien berdatangan dari pagi sampai sekarang." Katanya


"Iya benar, Aku lupa untuk datang ke rumah sakit. Baiklah, aku akan segera ke sana sekarang."


"Baiklah, Maafkan aku karena tidak bisa meng-handle pasien mu yang sudah menunggu karena aku pun terus mendapatkan panggilan dari rumah sakit lain memintaku segera datang." Kata Dokter Erina


"Iya, Tidak masalah. Sebelumnya terima kasih karena sudah memberitahuku."


Panggilan pun diakhiri.


Ya, Kini Dini resmi menjadi seorang dokter dengan mengabulkan cita-citanya yang sempat tertunda dari hasil melanjutkan pendidikannya kembali di negara tempat ia berada dan tersembunyi. Dan kini ia kembali dengan sosok Dini yang berbeda dari kurun waktu beberapa tahun lalu, meskipun usianya kini menginjak 27 tahun, ia masih memiliki wajah yang menolak tua. ia menjadi dokter di rumah sakit yang dibangun oleh Darwin khusus untuk Dini.


"Kau harus pergi ke rumah sakit?" Tanya Darwin


"Iya, Aku sempat lupa mengemban tanggung jawabku sendiri. Sepertinya aku tidak bisa mengantarkan Ansel ke rumah, aku harus segera pergi karena banyak pasien yang sudah menunggu, dokter lain pun sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing." Ujar Dini


"Baiklah, Tidak masalah, Aku yang akan mengantarkan Ansel pulang." Ujar Darwin


"Baiklah. Terima Kasih, Tuan Darwin. Kau selalu ada disaat aku membutuhkan bantuan." Ujar Dini

__ADS_1


"Kau ingin aku antar lebih dulu?" Tawar Darwin


"Tidak perlu, aku akan menaiki taksi saja. Lebih baik Tuan antarkan saja Ansel pulang, ditakutkan dia menunggu lama dan kesal nanti." Ujar Dini


"Baiklah." Jawab Darwin tidak memaksa. Karena ia tahu bagaimana sifat Dini yang penuh dengan kasih sayang dan tidak ingin melihat anaknya yang ia sayangi menderita


"Hati-hati ibu! Aku akan menunggu ibu pulang di rumah." Jawab Ansel anaknya


"Hari ini ibu akan segera pulang agar Ansel tidak harus menunggu ibu dengan lama, Ya?" Ucapnya


"Iya, Ibu tidak perlu khawatir." Ujar Ansel suara khas anak kecil


Dini pun bergegas menaiki taksi dan segera pergi ke rumah sakit.


"Ayah, sebelum pulang ke rumah, Apa kita bisa pergi ke mall sebentar?" Ucap Ansel mendongakkan kepalanya untuk bertatapan langsung dengan ayahnya yang tinggi


"Sebelum kita pergi, Apa yang akan kita beli di sana. Coba ayah tebak, pasti Ansel ingin membeli mainan, bukan?" Ujar Darwin


Ansel pun tertawa.


"Iya Benar, Ayah sangat hebat bisa menebak keinginan ku, Ayah benar-benar jenius, seratus untuk ayah!" Ucap Ansel menghibur


"Jika Ayahnya jenius, tentu anaknya akan lebih jenius, kau sudah pintar untuk meminta mainan dari ayah sejak kecil." Ucap Darwin berjongkok untuk berbicara dengan Ansel dan sekilas mencubit lembut hidungnya


"Di rumah aku bosan tidak ada teman untuk diajak bermain. Jika Ayah dan Ibu memberikan adik seperti teman-teman ku, aku mungkin bisa bermain dengannya."


Perkataan Ansel membuat Darwin tak bisa berkutik, ia tercengang mendengar pernyataan Ansel padanya.


"Baiklah, kita akan pergi ke mall sekarang. Di sana kau bisa bebas memilih mainan yang kau sukai." Ujar Darwin


"Yeay... Ayah memang yang terbaik." Senang Ansel


Setelah usia Ansel menginjak tiga bulan, Dini memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya. Dia memilih fakultas kedokteran seperti awal sebagai tempatnya untuk menimba ilmu. Hal itu di lakukannya bukan tanpa alasan. Setelah melalui berbagai drama kehidupan, itu tidak menurunkan keinginannya untuk tetap menjadi seorang dokter.


Kuliah di tempuhnya selama dua setengah tahun. Selama kuliah, dia mengikuti magang di rumah sakit ternama dan mendapatkan gelar sarjana serta surat izin praktek yang terverifikasi langsung dari luar negeri dan sudah sah sebagai seorang dokter.


Perjuangannya menjadi dokter tidak sampai disitu. Setelah hampir setahun mengikuti koas, dia akhirnya diangkat sebagai asisten dokter dengan keterampilan yang memumpuni, sehingga dokter yang sudah sah tidak mengkhawatirkan kinerjanya walaupun belum diangkat sebagai dokter sah. Tinggal dua bulan lagi masa koas profesinya selesai, dan dia bisa mendirikan rumah sakitnya sendiri di negara orang lain.


Sebenarnya dari dulu Darwin sudah menawarkan pada Dini untuk membuka rumah sakit sendiri semasa ia masih menimba ilmu dengan mempekerjakan dokter, sehingga ketika nanti Dini sudah benar-benar menjadi dokter yang sah, ia tinggal masuk untuk mulai praktek. Namun, Dini menolak, karena merasa akan mengeluarkan Darwin banyak uang. Pada akhirnya Darwin mengalah dan membiarkannya menyelesaikan jenjang karir nya sendiri.


Selama di angkat sebagai asisten Dokter, penghasilannya cukup lumayan. Dini mulai menabung uang itu untuk membangun rumah sakitnya sendiri. Ia tidak sampai membeli mobil ataupun rumah, karena Darwin sudah menjamin kehidupan keluarga kecilnya.


Bila di tanya, bagaimana hubungannya dengan Darwin selama tujuh tahun ini? Hubungannya dengan Darwin baik-baik saja, bahkan lebih dari baik. Dia menganggap Darwin seperti seorang malaikat yang sangat melindunginya. Darwin selalu membantunya tanpa dia meminta pertolongan sekalipun. Dari dulu Dini sudah tahu bahwa Darwin memiliki perasaan lebih terhadapnya, namun kehidupan mereka masih penuh teka-teki. hanya satu hal yang pasti, Kehidupan mereka menjadi jauh lebih baik!

__ADS_1


Dengan di dampingi keluarga yang sangat mencintainya, Dini melahirkan Ansel. Seorang malaikat kecil yang akan selalu menyinari kehidupannya. Sebuah sinar yang menerangi hidupnya yang penuh dengan kegelapan. Kehadiran Ansel sangat membuat bahagia semua orang saat di sela ia melahirkan dan meninggalkan anak yang lain!


__ADS_2