Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
201. Sudah Saatnya...


__ADS_3

"TIDAK PERLU...." Teriak seseorang yang menghentikan tangan Dini yang ingin meraih bayinya


Terlihat Valerie datang dari kejauhan untuk menghancurkan keluarga yang tengah berbahagia.


"Bayi itu sudah lahir, Bukan? Sesuai perjanjian yang sudah tertanda tangan, kau bisa pergi tanpa membawa anakmu! kau bahkan tidak perlu melihat ataupun menggendong bayimu." Kata Valerie


Ia merebut bayi tersebut dari tangan suster dan sudah berada dalam gendongannya.


Dini tidak bisa menerima bayinya kini berada dalam gendongan Valerie.


"Tidak, Aku ingin melihat dan menggendong bayiku." Ujar Dini


"Tidak bisa, Bayi ini sudah menjadi milikku seutuhnya, Karena aku akan membawanya sekarang. Apa yang kau tunggu, Arya? Bayinya sudah lahir dan akan berada bersama dengan kita, kau bisa melihat dengan sepuasnya saat di rumah nanti. Ayo kita pergi!" Ajak Valerie meninggalkan Dini dengan bayinya yang ia bawa


"Tidak, tidak bisa, tolong jangan membawa bayiku pergi. Aku ingin mencabut kontrak hamil itu, aku mohon nona Valerie, jangan jauhkan aku dari anakku, aku sendiri belum melihat wajah dan menggendongnya." Ujar Dini menangis


Tanpa mendengarkan, Valerie tetap pergi walaupun berhenti sejenak.


Dini meraih tangan Arya dan memegangnya.


"Aku mohon padamu juga Tuan. Jangan biarkan aku jauh darinya, tuan masih bisa memperlakukan diriku dengan kejam di rumahmu, tuan bisa saja menjadikan aku pembantu dan mengatakan pada anakku jika aku bukan ibunya dan hanya seorang pembantu di rumah mu. Tapi jangan biarkan aku jauh darinya..." Memohon Dini dengan memelas


"Arya, apa kau masih ingin mendengarkan dia? Ayo cepat pergi!" Ajak Valerie


Arya terus menatap Dini dengan nanar dan sendu. ia juga tidak ingin Dini pergi jauh darinya, pikirannya terus menimbang-nimbang untuk tetap mempertahankan Dini, tapi Valerie terus menghasut dan mengajaknya segera pergi tanpa mendengarkan Dini.


Arya memegang tangan Dini, dan melepaskannya dengan kasar.


Mereka pergi begitu saja tanpa ingin melihat ke belakang yang terus memberontak teriak histeris memanggil anaknya.


Bu Amira pun turut mengikuti Arya dan Valerie dari belakang karena cucunya dibawa pergi, membuat Dini hanya bersama Darwin yang memenangkan nya di dalam.


"Tidakkkk... Jangan bawa anakku pergi! Jangan bawa dia! Aku mohon pada kalian... Jangan bawa dia!! Huaaa...." Tangisnya keras sekali sampai histeris


Sampai Dini terjatuh dari ketinggian ranjang dan selang infus yang masih terpasang terlepas. ia ingin mengejar putranya yang di bawa, namun ia sendiri tak sanggup mengejar karena rasa sakit yang muncul kembali...


Akkhhh...


...***...


Keesokan harinya~


Setelah Dini melahirkan, Dini dibawa pulang oleh kedua orang tuanya menuju rumah mereka. Dia sangat sedih bahkan belum sempat memberi ASI pada bayinya, seharian penuh Dini hanya menangis dalam kamar dengan ASI yang terus keluar membasahi, dan memikirkan keadaan anaknya yang diberi nutrisi apa.


Dengan inisiatif ia memompa asi sebanyak mungkin dan menyimpannya secara hygiene dan steril dalam sebuah tempat karena mudah terkontaminasi.


Barang-barang yang sudah dimasukkan ke dalam koper masing-masing sudah tersimpan rapi barang mereka di dalamnya.


Sebelum itu, Pak Malik membuat iklan atas rumah yang didapatkan dari hasil pernikahan Dini dulu, yang diberikan keluarga Pratama pada mereka, dan saat ini akan di jual. Dan baru saja ia membuat iklan penjualan rumahnya itu, sudah ada pembeli yang berminat untuk membeli dengan harga 10 Milyar.


Semua surat tanda kepemilikan sudah di urus menjadi pemilik yang baru. Selain rumah, Pak Malik pun harus kehilangan tanah yang luas dan sudah ia garap selama satu tahun untuk menjalankan usahanya itu, sehingga sekarang ia terpaksa meninggalkan kemewahan yang sudah di dapatkan hanya karena demi anaknya. Toh mereka bisa berada di posisi sekarang, itu semua berkat pemberian Bu Amira dan suaminya atas pernikahan Arya dengan Dini dulu.


Kini mereka sedang berdiri di depan rumah mereka yang sudah ditempati selama lebih dari 1 tahun menatapnya dengan nanar.


Tak ada harta yang abadi, mereka akan pergi jauh dari tempat itu untuk selama-lamanya.


"Maafkan aku Pak, Bu, Karena semuanya terjadi karena ku, kalian harus meninggalkan rumah ini, dan bapak harus kehilangan usaha yang sudah dijalani bahkan sedang maju itu. Aku pikir kalian bisa tetap berada di sini tanpa harus ikut pergi denganku." Ujar Dini


"Tidak Din, sebagai orang tuamu kami tidak mungkin akan meninggalkan anak kami sendirian setelah melewati hari yang panjang dengan penuh luka. Rumah dan tanah itu adalah pemberian Bu Amira yang dibeli oleh uang mereka sendiri. kita tidak akan mendapatkan apa-apa jika bukan hanya karena kau menikah dengan Tuan Arya. Semua harta ini hanya milik mereka, bukan kita!" Jawab Pak Malik


"Iya Nak, kami akan tetap pergi bersama mu." Ujar Bu Lia


"Kalian adalah harta yang ku miliki saat ini. Kalian selalu ada untukku." Ujar Dini memeluk kedua orang tuanya


"Ayo sebaiknya kita pergi sebelum kita ketinggalan pesawat." Ajak Pak Malik


"Sebelum itu, Aku ingin pergi ke rumah Tuan. Untuk memberikan surat perceraian dan juga mengembalikan aset keluarganya." Ucap Dini


"Baiklah, kami akan mengantarmu ke sana."


Rumah yang penuh dengan kenangan saat ditinggalkannya selama satu tahun kini ia harus meninggalkannya.


Saat masuk, Dini dan kedua orang tuanya sudah disambut oleh Valerie wanita penyihir itu.


Tak suka melihat Dini datang, ia langsung menyerangnya.


"Untuk apa kau datang kemari, hah? Untuk memohon di rumah ini agar kau bisa kembali. maaf, pintu rumah ini sudah tertutup rapat untukmu." Hardik Valerie


"Aku hanya ingin bertemu dengan Tuan." Ujar Dini


"Tidak bisa, Arya tidak ada di sini, dia sudah pergi ke perusahaan." Seru Valerie


Baru saja Valerie mengatakan itu, Arya terlihat sedang menuruni anak tangga.

__ADS_1


Tahu jika Valerie berbohong, Dini berjalan juga mendekati Arya.


"Hey, seenaknya kau masuk ke dalam rumah orang, tidak ada sopan santunnya." Ujar Valerie


Kini Arya sudah berada di bawah dan berhadapan langsung dengan Dini. Kedua manik mereka saling bertemu, mereka saling menatap lama dengan sendu, tak sadar Dini sudah meneteskan butiran air mata.


Sambil mengulurkan tangannya, Dini terisak memberikan surat tanah dan berupa uang dari hasil penjualan rumah yang diberikan Bu Amira.


"Ini, Aku mengembalikan semuanya padamu." Ujar Dini terisak


Arya menatapnya surat tanah dan koper itu berkaca-kaca.


"A-apa ini?" Tanya Arya bergetar


"Ini adalah surat tanah dan juga uang dari hasil penjualan rumahmu yang kami tempati. Terima kasih sudah memberikan aset ini pada kami dan ingin menampung kami dalam keluargamu, tapi sekarang ini sudah tidak ada gunanya bagi kami, jadi kami ingin mengembalikannya padamu." Ujar Dini dengan meneteskan air mata


Arya mengambil surat dan koper berisi uang itu dari tangan Dini dengan lambat dan bergetar.


"Maafkan aku, karena aku mengambil sedikit uang itu untuk keperluanku, dan aku pun tidak bisa menggantinya padamu." Jawab Dini sambil bercucuran air mata


Arya bingung dengan situasi kondisi saat ini, ia terus menatap Dini dan sekilas menatap kedua barang yang ada di tangannya dengan mengerutkan dahi.


"Kenapa kau mengembalikan semua ini?" Tanya Arya terbata


Bukannya menjawab, Dini malah sibuk dengan perkataannya...


"Aku juga ingin menitipkan ASI ini untuk anakku. Aku tahu dia belum mendapatkan ASI dariku. Aku mohon berikan ini padanya." Ujar Dini menitipkan pada Arya


Lalu, Terus berkata...


"Dan ini, aku sudah menandatanganinya, hanya tinggal kau yang menandatangani surat ini." Dini pun mengeluarkan selembar kertas yang di beri map, lalu diberikan pada Arya


Arya menaruh apa yang sedang dipegangnya, ia mengambil satu surat yang diberikan oleh Dini, lalu membuka dan membacanya.


Setelah selesai membaca, Arya menatap Dini dengan tidak menyangka.


"Surat Perceraian?!!" Tegunnya


"Sebagai tanda perjanjian dari awal, Kita akan berpisah!" Ujar Dini


Arya menatap Dini dengan tidak menyangka, matanya tidak berkedip dalam waktu yang lama, tanpa sadar ia sendiri meneteskan air mata.


"TIDAK PERLU...." Teriak seseorang yang menghentikan tangan Dini yang ingin meraih bayinya


Terlihat Valerie datang dari kejauhan untuk menghancurkan keluarga yang tengah berbahagia.


"Bayi itu sudah lahir, Bukan? Sesuai perjanjian yang sudah tertanda tangan, kau bisa pergi tanpa membawa anakmu! kau bahkan tidak perlu melihat ataupun menggendong bayimu." Kata Valerie


Ia merebut bayi tersebut dari tangan suster dan sudah berada dalam gendongannya.


Dini tidak bisa menerima bayinya kini berada dalam gendongan Valerie.


"Tidak, Aku ingin melihat dan menggendong bayiku." Ujar Dini


"Tidak bisa, Bayi ini sudah menjadi milikku seutuhnya, Karena aku akan membawanya sekarang. Apa yang kau tunggu, Arya? Bayinya sudah lahir dan akan berada bersama dengan kita, kau bisa melihat dengan sepuasnya saat di rumah nanti. Ayo kita pergi!" Ajak Valerie meninggalkan Dini dengan bayinya yang ia bawa


"Tidak, tidak bisa, tolong jangan membawa bayiku pergi. Aku ingin mencabut kontrak hamil itu, aku mohon nona Valerie, jangan jauhkan aku dari anakku, aku sendiri belum melihat wajah dan menggendongnya." Ujar Dini menangis


Tanpa mendengarkan, Valerie tetap pergi walaupun berhenti sejenak.


Dini meraih tangan Arya dan memegangnya.


"Aku mohon padamu juga Tuan. Jangan biarkan aku jauh darinya, tuan masih bisa memperlakukan diriku dengan kejam di rumahmu, tuan bisa saja menjadikan aku pembantu dan mengatakan pada anakku jika aku bukan ibunya dan hanya seorang pembantu di rumah mu. Tapi jangan biarkan aku jauh darinya..." Memohon Dini dengan memelas


"Arya, apa kau masih ingin mendengarkan dia? Ayo cepat pergi!" Ajak Valerie


Arya terus menatap Dini dengan nanar dan sendu. ia juga tidak ingin Dini pergi jauh darinya, pikirannya terus menimbang-nimbang untuk tetap mempertahankan Dini, tapi Valerie terus menghasut dan mengajaknya segera pergi tanpa mendengarkan Dini.


Arya memegang tangan Dini, dan melepaskannya dengan kasar.


Mereka pergi begitu saja tanpa ingin melihat ke belakang yang terus memberontak teriak histeris memanggil anaknya.


Bu Amira pun turut mengikuti Arya dan Valerie dari belakang karena cucunya dibawa pergi, membuat Dini hanya bersama Darwin yang memenangkan nya di dalam.


"Tidakkkk... Jangan bawa anakku pergi! Jangan bawa dia! Aku mohon pada kalian... Jangan bawa dia!! Huaaa...." Tangisnya keras sekali sampai histeris


Sampai Dini terjatuh dari ketinggian ranjang dan selang infus yang masih terpasang terlepas. ia ingin mengejar putranya yang di bawa, namun ia sendiri tak sanggup mengejar karena rasa sakit yang muncul kembali...


Akkhhh...


...***...


Keesokan harinya~

__ADS_1


Setelah Dini melahirkan, Dini dibawa pulang oleh kedua orang tuanya menuju rumah mereka. Dia sangat sedih bahkan belum sempat memberi ASI pada bayinya, seharian penuh Dini hanya menangis dalam kamar dengan ASI yang terus keluar membasahi, dan memikirkan keadaan anaknya yang diberi nutrisi apa.


Dengan inisiatif ia memompa asi sebanyak mungkin dan menyimpannya secara hygiene dan steril dalam sebuah tempat karena mudah terkontaminasi.


Barang-barang yang sudah dimasukkan ke dalam koper masing-masing sudah tersimpan rapi barang mereka di dalamnya.


Sebelum itu, Pak Malik membuat iklan atas rumah yang didapatkan dari hasil pernikahan Dini dulu, yang diberikan keluarga Pratama pada mereka, dan saat ini akan di jual. Dan baru saja ia membuat iklan penjualan rumahnya itu, sudah ada pembeli yang berminat untuk membeli dengan harga 10 Milyar.


Semua surat tanda kepemilikan sudah di urus menjadi pemilik yang baru. Selain rumah, Pak Malik pun harus kehilangan tanah yang luas dan sudah ia garap selama satu tahun untuk menjalankan usahanya itu, sehingga sekarang ia terpaksa meninggalkan kemewahan yang sudah di dapatkan hanya karena demi anaknya. Toh mereka bisa berada di posisi sekarang, itu semua berkat pemberian Bu Amira dan suaminya atas pernikahan Arya dengan Dini dulu.


Kini mereka sedang berdiri di depan rumah mereka yang sudah ditempati selama lebih dari 1 tahun menatapnya dengan nanar.


Tak ada harta yang abadi, mereka akan pergi jauh dari tempat itu untuk selama-lamanya.


"Maafkan aku Pak, Bu, Karena semuanya terjadi karena ku, kalian harus meninggalkan rumah ini, dan bapak harus kehilangan usaha yang sudah dijalani bahkan sedang maju itu. Aku pikir kalian bisa tetap berada di sini tanpa harus ikut pergi denganku." Ujar Dini


"Tidak Din, sebagai orang tuamu kami tidak mungkin akan meninggalkan anak kami sendirian setelah melewati hari yang panjang dengan penuh luka. Rumah dan tanah itu adalah pemberian Bu Amira yang dibeli oleh uang mereka sendiri. kita tidak akan mendapatkan apa-apa jika bukan hanya karena kau menikah dengan Tuan Arya. Semua harta ini hanya milik mereka, bukan kita!" Jawab Pak Malik


"Iya Nak, kami akan tetap pergi bersama mu." Ujar Bu Lia


"Kalian adalah harta yang ku miliki saat ini. Kalian selalu ada untukku." Ujar Dini memeluk kedua orang tuanya


"Ayo sebaiknya kita pergi sebelum kita ketinggalan pesawat." Ajak Pak Malik


"Sebelum itu, Aku ingin pergi ke rumah Tuan. Untuk memberikan surat perceraian dan juga mengembalikan aset keluarganya." Ucap Dini


"Baiklah, kami akan mengantarmu ke sana."


Rumah yang penuh dengan kenangan saat ditinggalkannya selama satu tahun kini ia harus meninggalkannya.


Saat masuk, Dini dan kedua orang tuanya sudah disambut oleh Valerie wanita penyihir itu.


Tak suka melihat Dini datang, ia langsung menyerangnya.


"Untuk apa kau datang kemari, hah? Untuk memohon di rumah ini agar kau bisa kembali. maaf, pintu rumah ini sudah tertutup rapat untukmu." Hardik Valerie


"Aku hanya ingin bertemu dengan Tuan." Ujar Dini


"Tidak bisa, Arya tidak ada di sini, dia sudah pergi ke perusahaan." Seru Valerie


Baru saja Valerie mengatakan itu, Arya terlihat sedang menuruni anak tangga.


Tahu jika Valerie berbohong, Dini berjalan juga mendekati Arya.


"Hey, seenaknya kau masuk ke dalam rumah orang, tidak ada sopan santunnya." Ujar Valerie


Kini Arya sudah berada di bawah dan berhadapan langsung dengan Dini. Kedua manik mereka saling bertemu, mereka saling menatap lama dengan sendu, tak sadar Dini sudah meneteskan butiran air mata.


Sambil mengulurkan tangannya, Dini terisak memberikan surat tanah dan berupa uang dari hasil penjualan rumah yang diberikan Bu Amira.


"Ini, Aku mengembalikan semuanya padamu." Ujar Dini terisak


Arya menatapnya surat tanah dan koper itu berkaca-kaca.


"A-apa ini?" Tanya Arya bergetar


"Ini adalah surat tanah dan juga uang dari hasil penjualan rumahmu yang kami tempati. Terima kasih sudah memberikan aset ini pada kami dan ingin menampung kami dalam keluargamu, tapi sekarang ini sudah tidak ada gunanya bagi kami, jadi kami ingin mengembalikannya padamu." Ujar Dini dengan meneteskan air mata


Arya mengambil surat dan koper berisi uang itu dari tangan Dini dengan lambat dan bergetar.


"Maafkan aku, karena aku mengambil sedikit uang itu untuk keperluanku, dan aku pun tidak bisa menggantinya padamu." Jawab Dini sambil bercucuran air mata


Arya bingung dengan situasi kondisi saat ini, ia terus menatap Dini dan sekilas menatap kedua barang yang ada di tangannya dengan mengerutkan dahi.


"Kenapa kau mengembalikan semua ini?" Tanya Arya terbata


Bukannya menjawab, Dini malah sibuk dengan perkataannya...


"Aku juga ingin menitipkan ASI ini untuk anakku. Aku tahu dia belum mendapatkan ASI dariku. Aku mohon berikan ini padanya." Ujar Dini menitipkan pada Arya


Lalu, Terus berkata...


"Dan ini, aku sudah menandatanganinya, hanya tinggal kau yang menandatangani surat ini." Dini pun mengeluarkan selembar kertas yang di beri map, lalu diberikan pada Arya


Arya menaruh apa yang sedang dipegangnya, ia mengambil satu surat yang diberikan oleh Dini, lalu membuka dan membacanya.


Setelah selesai membaca, Arya menatap Dini dengan tidak menyangka.


"Surat Perceraian?!!" Tegunnya


"Sebagai tanda perjanjian dari awal, Kita akan berpisah!" Ujar Dini


Arya menatap Dini dengan tidak menyangka, matanya tidak berkedip dalam waktu yang lama, tanpa sadar ia sendiri meneteskan air mata.

__ADS_1


__ADS_2