Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 30 - Mengingat Sesuatu


__ADS_3

Hari ini Zayn menepati janjinya datang ke rumah Dini untuk bertemu dengan keluarga yang lainnya.


Di ruang tamu, Zayn dan juga Pak Malik sedang berbincang.


"Namamu Zayn?" Tanya Pak Malik


"Iya Tuan, nama saya Zayn." Ujar Zayn memperkenalkan diri, namun sepertinya Dini sudah menceritakan tentang dia


"Jangan panggil nama saya dengan Tuan. Saya bukanlah seorang pejabat ataupun orang terhormat. Panggil saja pak!" Ujar Pak Malik


"Iya, Baik pak." Ucap Zayn yang menurut


"Nama Zayn mengingatkan ku pada putraku yang hilang. Andaikan saja dia masih berada bersama kami mungkin Zayn sudah tumbuh seperti Tuan Zayn ini." Batin Pak Malik berkata


"Ada tamu tapi kami belum menyiapkan cemilan dan minuman apapun. Minumannya baru dibuat, minumlah selagi dingin di cuaca panas seperti ini, pasti akan segar." Ujar Bu Lia yang datang dari dapur membawa nampan berisi cemilan dan minuman


"Tidak perlu repot-repot seperti ini, Bu. Saya merasa jadi merepotkan." Ujar Zayn sungkan


"Eh,,, Kenapa berkata seperti itu. Ini sudah disiapkan dan tidak mungkin tidak dicicip sedikit saja."


"Jika begitu saya akan meminumnya." Ujar Zayn mengambil sirup dan meminumnya


"Iya silakan. minuman ini sengaja dibuat untuk tamu yang datang." Ujar Bu Lia


"Nenekk..."


Teriakan Ansel membuat Zayn terhenyak sampai ia lengah tidak berhati-hati dan minuman tersebut tumpah membasahi bajunya.


Refleks Bu Lia mengambil tissue dan segera mengelap tumpahan air itu agar tidak menyerap lebih dalam.


Zayn menatap Bu Lia dengan dalam. memberikan perasaan hangat yang muncul setiap kali menatapnya. Sama halnya dengan Bu Lia yang merasakan ikatan batin yang kuat berada di dekat Zayn.

__ADS_1


"Zayn, Namanya sama seperti putraku yang hilang. Andai saja dia adalah Zayn ku!" Batin Bu Lia


"Ansel, Lain kali kau harus berbicara dengan lebih baik, Ya. Jangan sampai berteriak, semua orang akan mendengar mu dengan baik walaupun pelan. Lihat apa yang terjadi pada tamu kita." Ucap Dini memberi nasihat


"Paman penculik, Tolong maafkan aku!" Ujar Ansel merasa bersalah


"Jangan marahi dia, Ansel tidak salah apa-apa, Aku saja yang tidak berhati-hati. Tidak apa Ansel, paman penculik saja yang salah." Ujar Zayn yang baik hati dan sekilas mengelus pucuk rambut Ansel


"Kau sangat baik Paman penculik. Tolong maafkan aku ya, Bu. Jangan marah juga." Ujar Ansel takut jika ibunya ternyata marah


"Yasudah, karena paman Zayn sudah memberimu maaf, lain kali kau tidak boleh seperti ini lagi saat ada tamu. Ibu sama sekali tidak marah, sebaiknya sekarang kau pergi ke kamar dan mengganti pakaian mu, Ya." Titah Dini dengan lemah lembut


Ansel pun pergi ke kamarnya dengan gusar.


"Tuan Zayn, bajumu basah mungkin bisa diganti oleh pakaian milik Tuan Darwin. Benarkan Dini?" Ujar Pak Malik


"Iya benar tuan, di sini terdapat pakaian pria yang pasti seukuran dengan, Tuan. Sebaiknya diganti agar tidak dingin." Balas Dini


"Sebaiknya diganti saja Tuan, selain basah tubuh Tuan juga nanti akan lengket karena ini tumpahan sirup." Ucap Bu Lia yang kini berbicara


Zayn pun tidak bisa menolak permintaan seorang ibu. la malah tertegun melihat Bu Lia yang seolah memerintah pada anaknya.


Tiba-tiba kepalanya menjadi sakit. Kepalanya seolah diremas dan berputar-putar membuatnya pusing.


Akkhhh...


Zayn memegang kepalanya.


Kilasan memori bayangan muncul dalam benaknya.


Kilasan sosok bayangan abu menampilkan dirinya yang sedang bermain di luar bersamaan dengan disuapi makan kala sibuk berlarian dengan mainan pesawat terbangnya.

__ADS_1


"Tuan Zayn apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?" Bu Lia terlihat cemas. la meletakkan tangannya di kepala Zayn yang membuat dia semakin meringis kesakitan dan menambah kilasan memori yang tampak tidak jelas


"Tuan Zayn katakan sesuatu. Apa yang kau ingat?" Ujar Dini yang memahami jika Zayn sedang teringat sesuatu


Selama sepuluh menit tanpa henti meringkuk kesakitan mengingat kilasan memori yang muncul. Zayn mulai kembali lebih merasa tenang dan reda dari sakitnya.


"Ini minumlah!" Ucap Dini memberikan minum air putih yang ia bawa


Dan Zayn pun meleguk nya.


"Kau sudah tenang?" Tanya Bu Lia terlihat kecemasan yang terukir dari wajahnya walaupun ia bukan siapa-siapa Zayn


"Aku tidak tahu ingatan apa yang muncul tadi. Wajah mereka tidak jelas. Aku hanya ingat sedang berlarian dengan mainan pesawat terbang ku sambil disuapi makan oleh seorang wanita yang tidak ku ketahui." Ucap Zayn


"Mungkin itu adalah ingatan masa kecil mu yang ingin memberikan titik terangnya." Ujar Dini


"Tapi kenapa terjadi diwaktu saat ini, dihadapan Dini dan orang tuanya. Sejak lama aku tidak mengalami hal ini lagi, apakah pengobatan yang aku lakukan berjalan dengan efektif."


"Dini dan keluarganya sangat membantuku untuk mengingat masa lalu. Mungkin saja Tuhan mengirimkan aku pada mereka sebagai perantara kesembuhan ku." Batin Zayn


"Dengan rutin meminum obat dan juga terapi yang dilakukan. Saya yakin Tuan bisa menemukan jati diri Tuan kembali. Mungkin saja ini adalah awal untuk mengingat segalanya." Ujar Dini


"Memangnya apa yang Tuan Zayn alami?" Tanya Pak Malik


"Aku belum menceritakannya pada kalian. Tuan Zayn mengalami Amnesia, dia sama seperti kita yang berasal dari Indonesia dan tinggal di Swiss sejak kecil. Tapi dia memiliki kejanggalan saat hidup bersama dengan keluarganya di sana. Dia sudah merasakan bahwa dia mengalami Amnesia, dan saat dipastikan dia memang didiagnosa Amnesia. Tuan Zayn selalu merasakan apa yang dialami seperti tadi." Jelas Dini memberitahu


"Kasihan sekali. Saya doakan semoga Tuan segera sembuh dari Amnesia dan mengingat kembali semuanya." Ujar Pak Malik yang bersimpati


Sedangkan Bu Lia, ia terus membidikkan maniknya menatap terus Zayn.


"Wajah putraku tidak ku ketahui bagaimana saat dia tumbuh dewasa. Wajah Tuan Zayn serupa dengan Zayn ku saat kecil. Perasaan apa ini Tuhan kenapa aku melihat sosok Zayn yang hilang dari anak muda ini." Batin Bu Lia

__ADS_1


__ADS_2