Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 67 - Kakaknya Ansel!


__ADS_3

"Ibuu..." Ansel turun dari kamarnya dan berteriak memanggil mencari ibunya


"Ansel Ibu di sini, Ada apa nak?" Tanya Dini lembut


"Ibu, Arsen sudah pulang. Saat aku bangun, Dia sudah ada di sampingku lagi." Ujar Ansel dengan raut wajah tidak mudah ditebak seolah ia syok


"Ibu dan yang lain sudah tahu. Kemarin Ayah berhasil menemukan Arsen dan membawanya kembali pulang." Jelas Dini


"Ayah juga sudah pulang? Kapan?" Tanya Ansel


"Malam hari bersama Arsen pukul satu malam saat kau sedang tidur." Kata Dini


"Kenapa ibu tidak membangunkan ku? Aku kan bisa bertemu dengan Arsen lebih awal." Rengek Ansel


"Ansel kan sedang tidur. Ibu tidak akan tega membangunkan mu." Ujar Dini


"Yah,,, Padahal semua orang tidak tidur hanya untuk menunggu Arsen pulang. Dan aku malah enak tertidur di kamar..." Murung Ansel


"Tak masalah. Kau tidak akan mungkin berjaga sepanjang malam bersama kami bergadang. Besoknya lagi Ansel kan akan sekolah." Ucap Dini memberikan pengertian


"Iya, Ibu benar. Aku akan pergi ke sekolah, nanti bagaimana jika aku mengantuk!" Sadar Ansel


Dini hanya tersenyum mengangguk.


"Lalu, Apakah kakak mu sudah bangun?" Tanya Dini memalui Ansel


"Belum, kakak belum bangun dan masih tertidur pulas." Balas Ansel


"Baiklah, Tidak apa-apa. Arsen pasti sangat lelah dan biarkan dia tidur dengan nyaman." Imbuh Dini


Namun tidak, Arsen terlihat sedang menuruni anak tangga menghampiri Dini dan Ansel yang sedang di dapur.


"Arsen, kenapa kau sudah bangun? Jika kau masih lelah, sebaiknya kau istirahat kan dirimu." Ujar Dini


Bukannya menjawab, Arsen malah duduk di kursi meja makan miliknya.

__ADS_1


"Kau lapar? Kau ingin ibu siapkan sarapannya sekarang?" Tanya Dini


Suatu hal yang tidak disangka, Arsen mengangguk.


Dini pun terkejut dan senang dengan respon Arsen yang rupanya ingin dia menyajikan makanan sekarang.


"Baiklah, Ibu akan menyiapkannya untukmu sekarang, Ya." Ujar Dini dengan wajah berseri-seri. Dan ia pun terburu-buru menyajikan makanan yang sudah disiapkan itu di atas meja makan.


"Ansel, Kau juga duduk untuk sarapan dengan Arsen, Ya. Kau harus sarapan lebih dulu sebelum pergi sekolah." Titah Dini


"Baik Ibu." Jawab Ansel menurut


"Kau ingin yang mana? Hari ini ibu masak banyak sekali untuk kalian?" Tanya Dini lebih dulu pada Arsen


Arsen pun menunjuk menggunakan semua jarinya pada lauk pauk yang ia inginkan.


Dini pun merasa sangat bahagia kali ini melihat putranya Arsen mulai terbuka diri padanya.


"Baiklah, Ibu akan mengambilkannya untuk mu, Hem..." Ujar Dini


"Dan Ansel, Kau ingin lauk pauk yang mana?" Tanya Dini


"Sama kan saja seperti Arsen..." Balas Ansel


Setelah kedua anaknya dipastikan makan dengan lauk pauk yang mereka inginkan, Dini duduk di seberang hadapan mereka sembari memperhatikan kedua anaknya yang sangat lahap sedang makan.


Arsen dan Ansel terlihat sangat menikmati makanan yang Dini masak. Begitupun dengan Arsen yang seminggu ini tidak makan enak, Ia benar-benar sudah dibangkitkan kebutuhan nutrisinya lagi dengan cita rasa masakan ibunya.


Dini tersenyum-senyum melihat kedua anaknya itu. Perasaan hangat dan bahagia muncul melihat mereka bersama.


Hingga pada akhirnya mereka selesai sarapan dalam keadaan perut kenyang...


Dini membuatkan dua gelas susu hangat untuk diberikan pada kedua anaknya itu. Terlihat Arsen yang sudah meleguk habis susunya, dan sedangkan Ansel hanya memandang Arsen yang tengah meminum susu.


"KAKAK, Minumlah susu milikku yang dibuatkan ibu juga untuk ku! Tapi aku akan memberikannya pada Kakak. Dengan minum susu, kakak akan kembali kuat..." Ujar Ansel polos

__ADS_1


KAKAK? Apa maksud Ansel memanggilnya dengan Kakak? Kakak hanya bisa dimiliki oleh ia yang memiliki seorang adik, dan adik kandung yang memanggilnya dengan Kakak!


Arsen malah terdiam tanpa ekspresi dan mengikuti arah pandang penglihatannya pada Ansel yang tengah tersenyum padanya.


"Aku boleh memanggilmu dengan Kakak, Kan?" Tanya Ansel


"Kenapa?" Tanya Arsen dingin


"Ibu mengatakan, Karena kau adalah Kakak ku!" Kata Ansel


"Aku tidak mengerti..." Jawab Arsen demikian


"Arsen, mungkin ini akan berat bagimu tapi semua orang sudah mengetahuinya dan hanya kau yang belum. Sebenarnya ibu melahirkan anak kembar, Kau dan Ansel adalah anak kembar itu, Kalian adalah saudara kandung kakak beradik kembar!" Ungkap Dini menjelaskan


Tidak ada ekspresi apapun yang ditunjukkan raut wajah Arsen, sehingga orang lain tidak mampu menilainya.


"Iya Kakak, Jadi aku adalah adikmu. Kita bukanlah teman, tapi kita adalah saudara kandung... Ibu kita sudah melahirkan kita ke dunia ini." Ujar Ansel


Arsen terlihat menerima kenyataan itu dengan lapang dada dan sangat percaya dengan sebuah kebenaran kali ini.


Tapi ia belum bisa menunjukkan segalanya. Ia merasa malu dengan kedua orang yang berada di hadapannya kali ini. Berapa banyak dosa, luka, dan rasa sakit ia berikan pada mereka. Sampai ia sendiri menjauhi Ansel dan tidak menyukainya di rumah ataupun sekolah saat ia tahu hanya sebatas temannya.


"Ansel adalah adikku! Aku adalah kakaknya! Apakah itu pantas? Ansel adalah anak yang baik, sedangkan aku sebagai kakak tidak mampu menjaga dan bermain dengannya. Ansel, Kau tidak pantas menjadi adikku. Kakak mu ini sudah banyak berdosa pada mu dan juga ibu kita, Rasanya aku malu pada kalian..." Ujar Arsen dalam hati


Dini dan Ansel beranggapan jika Arsen tidak senang dengan kenyataan itu. Dia masih belum bisa melupakan masa lalu dan masih enggan mengakui mereka. Itu terlihat dari Arsen tidak berbicara apapun, dan turun dari kursi meja makan lalu pergi ke kamarnya.


"Ibu, Ada apa dengan kakak? Apa kakak tidak ingin memiliki adik sepertiku?" Tanya Ansel murung


"Ansel jangan berkata seperti itu. Mungkin Kakakmu membutuhkan banyak waktu untuk menerima segalanya. Nanti kau dan kakakmu akan bermain bersama." Ujar Dini


"Ibu yakin akan hal itu?" Tanya Ansel


"Sangat yakin!" Jawab Dini


Ya, Kedua kata itu yang harus selalu aku tekankan untuk percaya jika Arsen akan menerima kami dalam hidupnya sesuai status kami masing-masing sebagai ibu dan adik. Hari itu pasti akan tiba di mana kami melupakan masa lalu dan melangkah ke masa depan yang cerah!

__ADS_1


"Ibuu... Ansel..., Bisakah kalian mendengar suara hatiku? Aku malu, Aku malu pada kalian! Bukan aku tidak ingin mengakui kalian dalam hidupku... Aku malu!" Kata hati Arsen


__ADS_2