
"Jadi, Kalian akan menginap di mansion. Kenapa kalian tidak mengatakannya dari awal. Mungkin ibu akan meminta Bu Ashna untuk membersihkan kamarmu terlebih dahulu."
"Tidak perlu. Kami hanya satu malam di sini."
"Walaupun satu malam. Kalian akan sepanjang malam tidur di sana. Dan tidak baik tidur di kamar yang tidak bersih. Kau tahu sendiri sudah 1 tahun kamar itu tidak berpenghuni karena penghuninya pergi. walaupun Bu Ashna sering membersihkannya, tapi tetap saja debu bisa bersarang."
"Iya, Iya. Aku serahkan saja pada ibu." Ucap Arya yang pusing mendengar Bu Amira terus berbicara
"Nah, Itu lebih baik." Puas Bu Amira
"Bu Ashna!" Teriak Bu Amira memanggil
"Iya, Nyonya Besar. Ada yang perlu saya bantu?" Sedianya melayani Bu Amira yang langsung datang sekali dipanggil
"Begini, Arya dan Dini akan menginap di mansion ini sekarang. Aku meminta tolong padamu untuk membersihkan terlebih dahulu kamar Arya dulu, Ya!" Perintah Bu Amira
"Dengan senang hati, Nyonya." Ucap Bu Ashna antusias senang tuan mudanya akan menginap
Bu Ashna selaku kepala pelayan mengkerahkan beberapa anak buah pelayan lain untuk membantunya membersihkan dan merapikan kamar Arya di sore hari.
"Aku sangat gerah dan ingin mandi. Apa ibu masih menyimpan pakaian ku?"
"Semua pakaian mu itu aman berada di lemari kamarmu tersusun dengan rapi dan juga bersih masih terjaga." Jawab Bu Amira
"Aku akan mengambilnya ke sana." Kata Arya beranjak pergi
"Biarkan saya yang mengambilnya untukmu Tuan." Sebagai istri yang baik, Dini senantiasa menjadi istri yang teladan dan selalu siap untuk melayani suaminya dalam keadaan apapun dan di manapun
"Tidak perlu. Aku bisa mengambil sendiri. kamarku sangat jauh dari sini dan akan melelahkan harus menaiki anak tangga yang banyak ini karena kau sedang ha..." Terhenti
Hampir saja Arya keceplosan dihadapan Bu Amira. ia menatap ke arah ibunya yang ternyata mendengarkan bicaranya.
Bu Amira pun menatap Arya dengan menelisik.
Dan saling menatap secara intens.
"Aishh... Tidak perlu di bahas." Ucap Arya melenggang pergi
"Ada apa dengannya, Dia bicara tapi tiba-tiba berhenti?" Tanya Bu Amira
Dini yang merasa terhibur sampai mengukir senyum kecil.
"Tidak tahu, Bu. Akhir-akhir ini sikap Tuan memang sedikit berubah." Jawab Dini terkekeh
"Bagaimana dengan kehamilan mu? Valerie, Arya dan Bu Clara di sana belum mengetahui kehamilan mu, Kan?" Bisik Bu Amira takut Arya yang masih terlihat berjalan mendengar
Dari ketiga orang yang disebutkan Bu Amira. Hanya Arya yang sangat hebat mengetahui apapun rahasia yang di sembunyikan. Entah Dini yang terlalu bodoh, atau Arya yang terlalu hebat sampai ia belum tahu bagaimana Arya mengetahui Kehamilannya. Namun, ia enggan menceritakan pada ibu mertuanya itu.
"Semua orang di sana belum mengetahuinya, Bu. Rahasianya masih tertutup rapat." Alasan Dini
Bu Amira pun sangat puas dengan jawaban Dini. Ia bernapas lega yang sangat panjang.
__ADS_1
...***...
"Nyonya muda, Saat ini kamarnya sudah selesai dibersihkan dan sudah rapi. Dan kini Tuan muda sudah berada di dalam menunggu nyonya datang. Apa nyonya muda sendiri tidak akan masuk menemui Tuan?" Ucap Bu Ashna membuat pipi Dini memerah
"Emm... Bu Ashna, Tuan sendiri di kamarnya akan mandi dan pasti akan kembali turun."
"Barangkali nyonya muda juga akan mandi. Kamar mandi di kamar Tuan muda sangat luas dan bisa mandi bersama di sana." Sengaja Bu Ashna menggoda
Dini semakin terhimpit dan merasa malu sekaligus bertambah merah pipinya. Sedangkan Bu Amira sangat puas dengan kinerja Bu Ashna yang kini menggoda menantunya itu. Ia tertawa-tawa sendiri melihat wajah Dini yang sudah beringas seperti mencari tempat berlindung.
"Emm...em...Bu Ashna, itu tidak perlu. Nanti setelah Tuan selesai mandi, Aku akan pergi untuk mandi juga. itu bisa dilakukan bergantian saja." Jawab Dini meremas dress nya akibat gugup
"Kenapa tidak sekarang saja bersama Tuan, Nyonya muda?" Terus goda Bu Ashna semakin membuat Dini terhimpit
"Hhhh... Ashna, Cukup untuk jangan menggoda menantuku. Apa kau tidak melihat wajah menantuku sekarang yang sudah memerah ingin menangis." Ucap Bu Amira yang baru mengeluarkan suara
"Hhh... Maaf nyonya besar. Jika begitu saya tidak akan mengganggu nyonya muda lagi. Saya akan pamit untuk menyiapkan makan malam." Pergi Bu Ashna setelahnya
Sebelum pergi, terlihat dengan sembunyi-sembunyi jika Bu Amira dan Bu Ashna saling mengedipkan salah satu mata mereka. Dan terlihat Bu Amira mengacungi jempol di balik bajunya yang terlihat oleh Bu Ashna tidak dengan Dini yang tidak menyadari interaksi mereka.
Dini masih meremas dress nya karena masih gugup.
...***...
Makan malam~
Setelah Arya selesai mandi dan memakai pakaian baju kaos warna abu dan celana slim fit hitam menambah kesan berbeda. Ia turun untuk panggilan makan malam.
Sedangkan, Kini Dini bergiliran untuk mandi setelah Arya selesai. Karena tidak ada baju miliknya di sana, Bu Amira mengambil pakaian dari Luna untuk meminjamkannya dan pas dipakai di badan Dini.
"Kenapa? Apa ada yang salah denganku?" Ucap Arya menelisik pakaian yang dipakai karena ia kira tidak cocok
"Agh,,, Tidak ada, Arya. Ibu hanya pangling saja melihatmu.satu tahun ini ibu hanya sering melihatmu dengan setelah jas. Tapi untuk pertama kalinya lagi ibu melihatmu berpakaian biasa." Jelas Bu Amira
"Hanya masalah itu. Aku pikir apa. Lagipula ini bukan pertama kalinya aku memakai pakaian seperti ini, wajar saja aku berpakaian seperti ini di luar kerjaan. Apa salahnya? Aku juga membutuhkan pakaian untuk menutupi tubuhku." Cetus Arya membuat Bu Amira senang mendengar racauan Arya lagi
"Ibu tahu. Maka dari itu tidak heran lagi jika istrimu sangat nyaman denganmu sampai bisa bertahan." Kekeh Bu Amira
Arya menghiraukan Bu Amira dan hanya diam duduk di kursi meja makan menunggu Keluarga lain turun dan makanan disiapkan.
"Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah. Tidak bagus untuk diperlihatkan pada anakmu nanti jika sifat mu masih dingin seperti ini. Sesekali kau harus mencoba berlatih seperti Darwin yang ramah dan juga rendah hati." Kata Bu Amira menyinggung
"Jadi, ibu percaya jika Valerie sedang mengandung anakku?" Kata Arya malah berbalik bertanya
"Tidak. Tapi kau akan menjadi seorang ayah dari istri yang sah memberikan seorang anak padamu, Itu maksud ibu."
"Kedua istriku aku nikahi secara sah. Istri mana yang ibu maksud?"
"Tentu saja Dini." Jawab Bu Amira tanpa basa-basi
"Tapi Dini belum juga hamil, Bukan? Bagaimana aku bisa menjadi seorang ayah jika dia saja tidak hamil." Kata Arya yang seolah menjebak
__ADS_1
"I-itu karena kau yang tidak memperdulikan dia." Jawab Bu Amira berhati-hati
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan kebenaran dan menganggap aku seolah manusia terbodoh di dunia ini ibu. Aku sudah tahu rahasia kalian dan lebih cerdik dari yang kalian kira." Gumam Arya
Setelah tak lama menunggu, Keluarga Pratama pun berkumpul di meja makan. Begitu pula dengan Luna yang akhirnya bangkit kembali untuk bersemangat dan ingin keluar kamar berkumpul dengan keluarga. Hanya saja mereka tidak kehadiran satu anggota keluarga yakni Darwin yang masih di luar kota.
Disela makan, Sedari tadi raut wajah Dini memunculkan raut tidak enak. seolah dia menahan sesuatu dalam mulutnya.
Arya yang menyadarinya jika terjadi sesuatu yang terjadi pada Dini. Ingin sekali bertanya namun, sungkan karena berada dihadapan orang tuanya.
Oeekk...
Mual Dini yang refleks walaupun sudah berusaha menahannya sedari tadi agar tidak mengganggu orang lain.
Refleks juga Arya menjatuhkan sendok saat ia makan ingin sekali untuk menoleh pada Dini. Terlihat dari tangannya saat mengambil dan memegang sendok itu gemetar tak kuasa untuk ingin berbalik.
Untung saja Bu Amira sangat berperan untuk Dini di sana. Selagi tangan Arya tidak dapat menggapainya, masih ada uluran tangan yang mewakilkan dia dari ibunya.
Dalam wastafel toilet Dini memuntahkan isi makanan tadi yang baru beberapa masuk ke dalam perutnya.
Uhukk...uhukk...
Akhir Dini setelah muntah.
Setiap kali selesai muntah Dini pasti langsung terlihat pucat.
"Sudah??" Tanya Bu Amira
Dini mengangguk sebagai jawaban.
"Kau mual dihadapan Arya. Apa Arya tidak pernah curiga?" Cemas Bu Amira
"Tuan hanya selalu berkata jika aku masuk angin saja. Dan sering menyarankan ku untuk pergi ke dokter dengan nada marah." Alasan Dini
"Baguslah. Untung saja dia beranggapan seperti itu. Tidak masalah jika dia tidak mengetahui kehamilan mu saat ini yang terpenting kau dan bayimu bisa bertahan dan aman." Ucap Bu Amira
Bu Amira benar-benar sudah di kelabui oleh menantu dan anaknya sendiri. mereka pandai memainkan perannya masing-masing tanpa menaruh curiga orang lain pada mereka. Karena menganggap setiap kata yang keluar baik dari Dini ataupun Arya adalah benarnya.
Arya sendiri bak seorang pemilik mata batin yang disembunyikan dari orang lain padahal yang sebenarnya ia tahu kabar itu. Namun, ia selalu membuat orang lain seakan bodoh saat dipertemukan dengannya.
Ingin sekali untuk membantu. Tapi Arya tertahan karena tahu orang tuanya dan Dini menyembunyikan kehamilan Dini darinya. Memposisikan diri sebagai orang yang belum mengetahui Kehamilannya, ia berpura-pura tidak tahu dan bersandiwara tidak memperdulikannya.
"Kau sudah selesai? Jangan dibiasakan selalu seperti ini di sela orang lain sedang makan. Di rumah kau selalu saja seperti ini. Dan sekarang saat makan di rumah orang lain pun kau mual dan muntah." Hardik Arya
"Hush... tidak boleh memarahinya seperti itu. Wajar saja jika dia mual atau muntah yang tidak bisa di tahan. Kau ini malah memarahi istrimu."
"Memangnya kenapa? Dia saja bukan wanita hamil yang selalu mual dan muntah setiap saat." Singgung Arya
"Andai kau tahu jika istrimu Dini saat ini sedang hamil Arya. mungkinkah kau akan masih memarahinya seperti ini?" Gumam Bu Amira menyayangkan dan kasihan melihat Dini
Aku sudah tahu ibu... kau saja yang menganggap ku terlalu bodoh seolah tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
Arya sudah berhasil menjebak orang tuanya percaya akan dirinya yang belum mengetahui kabar hamilnya Dini.
Dini yang sangat memahami situasi kondisi itu. Hanya mengikuti jalan permainan Arya tanpa ingin berkata apapun.