Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 97 - Kecemasan


__ADS_3

1 Bulan Kemudian~


"Tuan, bisakah kau tidak pergi demi diriku." Lari kecil Dini menghampiri Arya yang tengah menarik kopernya


Arya menghentikan langkahnya.


"Hey, sudah berapa lama kita menikah, kau masih tetap memanggilku Tuan." Ucap Arya demikian


"Aku akan memanggil namamu dan jawab dulu pertanyaan ku." Ucap Dini yang serius kali ini sehingga ia tidak bisa diajak bercanda walaupun terlihat Arya menghiburnya


Arya menghela napas panjang dan meletakkan kedua tangan memegang bahu istrinya.


"Ini tidak akan lama. Aku akan segera kembali..." Ucap Arya gusar


"Kenapa harus pergi ke luar negeri untuk bekerja? Keluarga dan perusahaan mu ada di sini, kenapa harus kesana? Kau adalah pemiliknya bukan, kenapa tidak menyuruh karyawan mu yang pergi, atau kau bisa meminta Tuan Damar yang menggantikan mu." Kata Dini bersikeras melarang Arya yang akan pergi ke luar negeri untuk bisnisnya selama 2 Minggu


"Apa yang membuatmu seperti ini? Tak biasanya kau begini yang selalu sabar menunggu hingga aku kembali." Ucap Arya melihat keanehan dari raut wajah istrinya


"Entahlah, tapi kali ini sangat berbeda. Aku merasa tidak tenang seakan firasat buruk akan terjadi padamu. Semalam saja aku bermimpi orang yang berpakaian hitam bertopeng akan menembak mu yang sedang lemah. Jadi, lebih baik kau tidak pergi, Ya." Pinta Dini kekeh


"Itu hanyalah mimpi, Mimpi adalah bunga tidur yang tidak ada kaitannya dengan dunia. Aku harus tetap pergi sayang, ini semua untuk keluarga kita agar terjamin kehidupannya."


"Kau sudah kaya bukan, katamu harta yang kau miliki tidak akan habis, semuanya sudah cukup. Untuk apalagi pergi kesana kemari hanya demi bisnis yang menguntungkan." Debat Dini


Arya menghela napas gusar. Ia pribadi tidak ingin pergi untuk bisnisnya kali ini, tak seperti lalu yang selalu bersemangat untuk meraup keuntungan yang baru. Entah firasat seorang istri berkata, ia juga merasakan hal buruk seperti akan terjadi padanya.


"Aku harus tetap pergi. Ini adalah janjiku pada Klien di sana, walau bagaimanapun juga aku harus menjamin nama baik perusahaan kita yang akan dilanjutkan oleh putra kita jika mereka menginginkannya. Aku tidak bisa melalaikan tanggung jawabku, hanya demi menatap masa depan anak kita yang cerah aku harus tetap berusaha." Ungkap Arya yang tidak bisa digugat

__ADS_1


Sekuat apapun Dini mencegah dan melarangnya pergi. Arya tetap bersikeras pada keputusannya sembari menepis sebuah prasangka buruk yang menghantui dan mengatakan semua akan baik-baik saja karena Tuhan akan melindunginya.


"Tapi..." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya Arya sudah memotong


"Jaga diri dan kehamilan mu baik-baik, Jaga Putra-putra kita, dan aku titipkan rumah ini padamu. Disini ada Bu Shani yang akan menjagamu, akan ada anak buah juga yang menjaga, selama aku pergi rumah ini akan tetap aman. Jika kau bosan kau bisa pergi ke mansion ibu, ajak anak-anak juga. Aku pergi..." Lirih Arya terdengar gusar tak siap untuk pergi selama 2 Minggu meninggalkan istrinya yang bersikeras melarang


Sebelum pamit ia mencium kening istrinya sangat lama. Seolah ini ciuman terakhir, Arya merasa tak ingin melepaskannya. Tak lupa juga ia turun mencium perut Dini yang sudah memasuki 6 bulan kehamilan.


Genggaman tangan Arya semakin lama semakin merenggang, Arya merasa Dini masih memegangnya erat, tapi Arya menariknya kuat perlahan terlepas semakin menjauh.


Sesekali ia menatap Dini yang berkaca-kaca, Itu membuat Arya sakit, entah ada apa dengan kepergiannya hari ini, kenapa terasa berat untuk melangkah pergi keluar.


Arya dengan mantap melangkahkan kakinya pergi sembari menarik kopernya, semakin lama pandangan Arya semakin jauh dari Dini hingga tidak bisa melihat bayangannya sekalipun.


Saat itu juga, Satu bulir air matanya lolos menetes ke lantai meratapi kepergian suaminya.


...***...


Malam hari tiba.


Tak ada lagi keramaian yang tersisa memenuhi kamar itu, hanya ada sunyi, lampu tidur yang hanya menerangi, suara burung hantu yang berlalu lalang terbang di luar. Waktu semakin larut, Dini belum saja membuat matanya terpejam untuk tidur, hanya mengingat dan merindukan Arya mengharapkan segera kembali pulang.


Daripada terlarut dalam kesepian, Dini pun memutuskan untuk pergi ke kamar putranya. Terlihat kedua putranya telah tertidur lelap tak merasa beban berat menyerang merindukan sang ayah.


Dini duduk di pinggir ranjang menatap satu persatu wajah putranya dan mengusap lembut kepala mereka. Wajah mereka sama persis seperti ayahnya, Dini sampai berkhayal jika ia sedang menatap Arya dalam bentuk raga bukan foto.


"AYAH!!" Tercekat Arsen

__ADS_1


Dalam lamunan, Dini tersadarkan oleh batukan Arsen yang terbangun dan terlihat napasnya terengah-engah sesak.


"Arsen, ada apa? Ini minumlah..." Cekat Dini langsung memberikan Arsen minum


Arsen meneguk air itu hingga habis seakan ia haus baru menemukan air setelah dikejar penjahat yang membuatnya berlari.


"Ada apa nak, kau terjaga ditengah malam." Tanya Dini


"Ayah..." Lirih Arsen menyebut


"Kau merindukan ayahmu? Ibu juga merindukan dia. Bersabar ya..." Kata Dini


"Apa ayah sudah sampai, Bu?" Tanya Arsen masih tersengal-sengal


"Ibu juga tidak tahu. Tapi seharusnya ayah sudah sampai. Ayah juga tidak memberi ibu kabar. Ibu sudah menelepon ayahmu tapi handphone nya tidak aktif dan juga mengirimkan pesan tapi belum ada balasan."


"Aku bermimpi ayah ada di ruang yang gelap. Ia sangat lemah dan tubuhnya penuh dengan darah." Pungkas Arsen menjelaskan mimpi buruknya


"Mimpimu sama seperti ibu. Kemarin malam ibu bermimpi Ayahmu dikepung oleh orang berpakaian hitam dan bertopeng, dan saat itu ayahmu terkujur lemah tak bisa melawan."


"Apakah ini pertanda, Bu. Pertanda jika ayah tidak sedang baik-baik saja." Ucap Arsen


"Ibu juga bingung Arsen. Sejak pagi melihat ayahmu akan pergi, ibu merasa tidak tenang dan cemas, ibu takut terjadi sesuatu pada ayahmu. Sampai sekarang pun ibu masih memikirkannya. Kenapa ayahmu belum juga memberikan kabar...?" Resah Dini


"Aku juga mengkhawatirkan Ayah, Bu. Tapi aku yakin ayah baik-baik saja. Mungkin di hotel ayah ketiduran setelah perjalanan jauhnya. Sekarang ibu juga harus tidur, adik bayi juga pasti lelah karena ibunya belum tidur juga. Jika ibu ingin dan merasa kesepian, Lebih baik ibu tidur saja bersama kami. Aku akan memeluk ibu menggantikan ayah..." Ujar Arsen


Dini tersenyum bangga pada Arsen, ia juga mengecup pucuk rambut putranya. Apa yang dikatakan Arsen ada benarnya, daripada di kamar tidur sendirian, lebih baik ia tidur bersama kedua putranya. Di kamar anak yang besar dan luas itu dengan ranjang ukuran king size, Dini ikut berbaring disamping kanan memeluk kedua putranya dan dibalas pelukan oleh Arsen yang tidur dekat dengan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2