Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
S2 17 - Masih Sama


__ADS_3

"Dia masih seperti dulu, seperti Tuan Arya yang sangat ku kenal. Arya yang angkuh dan juga egois, dan saat ini dia masih terlihat tampan. Bertemu denganmu membuatku mengingat akan kekejaman mu yang menorehkan luka padaku." Ujar Dini menangis dalam kamarnya


"Sakit dan benci hati ini saat aku harus bertemu denganmu. Namun, Aku rindu bisa merasakan kembali berada di dekatmu. Kenapa kau harus muncul dihadapan ku? Sehingga membuatku kembali mengingat akan dirimu yang memperlakukan ku dengan sangat baik." Ucap Dini yang tidak berhenti mengeluarkan air mata


"Andai saja aku bisa menghilangkan ingatan seseorang. mungkin aku akan tenang selama berada di sini. aku yakin kau tidak akan tinggal diam begitu saja setelah mengetahui keberadaan ku, akan lebih mudah bagimu untuk mengganggu kehidupan baru ku ini."


"Ibu,,," Datang Ansel membuka pintu menemui Dini di kamarnya


Mendengar Ansel memanggil dirinya di saat sedang menangis, dengan cepat dia menghapus air mata agar tidak dicurigai Ansel.


"Mata ibu terlihat sembap. Ibu habis menangis, Ya?" Tanya Ansel menaiki ranjang Dini dan duduk di sampingnya


"Tidak, siapa yang menangis. ibu tidak menangis." Mengelak Dini


"Jangan bohong. Itu mata ibu memerah dan juga sembap. Aku juga sering menangis dan mataku langsung seperti itu." Kata Ansel


"Tidak Ansel, ibu tidak apa-apa. Sekarang coba katakan ada apa gerangan yang membuat putraku yang tampan ini datang menemui ibu?" Tanya Dini


"Ada banyak sekali pertanyaan dari sejak tadi, Bu. Aku masih saja memikirkan paman tampan, Kenapa dia tadi menyebut ibu dengan istri? Bukankah ibu istrinya ayah ku." Ujar Ansel bertanya


"Ansel, kau tidak perlu memikirkan perkataan tadi. Apa yang kau lihat dan dia katakan semuanya salah." Ujar Dini


"Tapi bagaimana bisa paman tampan terus mengejar kita? mobil hitam tadi pun mengikuti kita, tapi ibu menyuruh supir taksi untuk bersembunyi terlebih dahulu dan kita tidak diikuti lagi."


"Bagaimana caraku untuk menjelaskan hal ini pada Ansel. sepertinya dia sudah memahami terhadap lingkungan sekitarnya." Gumam Dini


"Kau tahu bagaimana sebuah film dibuat?" Tanya Dini


"Tidak!" Ansel menjawab sambil menggeleng


"Anggap saja seperti itu."


"Jadi, Kita sedang syuting seperti di film-film ya, Bu?" Pikir Ansel demikian


"Benar. mungkin paman yang kau maksud tadi sedang melakukan syuting, tapi karena ibu ketakutan akibat bertemu dengan orang baru sehingga ibu lari dan kita jatuh akibat paman itu tidak sengaja menyenggol kita." Ucap Dini terpaksa berbohong


Ansel yang sangat polos diusianya percaya begitu saja perkataan ibunya.


"Wahh,,, Ayahnya Arsen sangat hebat sekali. Selain tampan dia juga ternyata seorang aktor, Ya. seharusnya aku meminta foto tadi." Pungkas Ansel demikian

__ADS_1


"Syukurlah Aku bisa mengecoh Ansel agar percaya pada perkataan. Walaupun aku tahu seharusnya tak pantas berbohong dengan mencari alasan seperti ini pada seusia anak kecil. ingin bagaimana lagi, Aku tidak bisa menceritakan masa laluku padanya. Maafkan ibu Ansel..." Gumamnya bersalah


"Jika nanti kita bertemu lagi dengan paman tampan, Apakah ibu akan berlari lagi? Ibu pasti sangat ketakutan, Ya? Aku juga seperti itu saat masuk sekolah dan sangat takut bertemu teman-teman baruku." Lontar Ansel


"Agh,,, I-Iya... Ibu sangat takut." Jawab Dini gemetar


"Padahal sebelum ibu tinggal di Swiss dan melahirkan aku. ibu, ayah, nenek, nenek buyut, dan kakek berasal dari sini. seharusnya ibu tidak perlu takut dengan orang-orang di sini."


"Ibu memang sangat penakut tidak pemberani seperti dirimu. maka dari itu Ansel sangat hebat mudah beradaptasi dengan teman-teman barunya."


"Arsen sangat hebat dariku, dia sangat pemberani melawan Devan yang nakal itu dan juga sangat cerdas. Ibu juga langsung menyukainya saat pertama bertemu, kan?" Pungkas Ansel


"Jika Ansel selalu menceritakan Arsen dan juga ayahnya, dan ayahnya adalah paman tampan yang selalu ia sebut dan bertemu hari ini, maka dari itu artinya anak yang ku temui kemarin, Arsen...??"


"Arsen adalah putraku! Iya,,, Aku bertemu dengan putraku yang lain. Arsen..."


"Ansel, bisakah kau berjanji pada ibu?" Ujar Dini


"Tentu saja, Apa itu?" Tanya Ansel


"Kau tidak boleh menceritakan tentang hari ini pada siapapun."


"Terutama ayahmu. Anggap saja ini adalah rahasia kita berdua."


"Rahasia? Yeay,,, Aku memiliki rahasia dengan ibu." Senangnya menganggap rahasia adalah sebuah permainan


Perasaannya berkecamuk, Dini sangat senang dan terharu bisa mengetahui jika anak yang baru ia temui beberapa minggu yang lalu ternyata adalah anaknya. Pantas saja perasaan yang muncul sangat berbeda kala ia berada di dekat anak itu dan selalu mengingatnya...


...***...


"Arsen ku sayang, Kau sudah pulang rupanya. Tapi kenapa terlambat cucuku? Apa ada kelas tambahan?" Sambut dan tanya Bu Amira


"Tidak ada... Jalan perkotaan sangat macet. Terpaksa Pak Ari harus mencari jalan pintas, namun ternyata banyak kendaraan yang mengambil jalan pintas juga sampai sedikit padat dari biasanya."


"Iya benar, Nyonya besar... Dari dulu Jakarta tidak pernah berubah selalu padat dengan kendaraan. Karena mungkin ini hari sabtu, kendaraan yang keluar bertambah untuk memanfaatkan waktu libur awal mereka. Mohon maaf atas kelalaian saya yang terlambat mengantarkan Tuan muda pulang hari ini." Ucap Pak Ari


"Agh... Tidak masalah. Kita tidak tahu masalah apa saja yang bisa datang hari ini. Yang terpenting cucuku sudah pulang dalam keadaan baik-baik saja tidak ada yang terluka seperti dulu akibat seorang anak nakal yang mengganggunya." Ucap Bu Amira


Pak Ari yang merupakan suami dari Bu Shani dan seorang supir di keluarga Pratama sangat bersyukur mendapatkan majikan yang sangat baik tanpa ada tekanan.

__ADS_1


"Arsen sebaiknya kau mengganti pakaian mu dan setelah itu turun kembali untuk makan, Ya." Titah Bu Amira


"Baiklah..." Jawab Arsen dingin dan melenggang menaiki tangga menuju kamarnya


"Ibu..." Panggil Arya tergesa-gesa masuk setelah 10 menit kepergian Arsen dan duduknya Bu Amira di sofa


"Arya, Ada apa kau datang berlari dan pulang lebih awal hari ini?"


"Kabar baik." Berseri Arya


"Apakah kau berhasil menstabilkan perusahaan mu kembali?" Ujar Bu Amira menduga demikian


"Bukan mengenai perusahaan. Ini mengenai Dini..."


"Kau sudah menemukan dia? Di mana? Apa kau tidak membawanya langsung ke mansion ini?" Pekik Bu Amira yang antusias


"Tentu saja. Dengan sendirinya dia datang ke perusahaan ku tadi. Tak ku sangka dia berada di negara ini, Bu."


"Lalu, Di mana dia sekarang? kenapa tidak langsung membawanya."


"Dia melarikan diri setelah melihat keberadaan ku."


"Kenapa seperti itu? Mungkinkah dia belum bisa melupakan kejadian yang menimpanya dan masih marah pada kita."


"Sepertinya begitu, dia tidak menyangka akan bertemu denganku manusia yang ingin ia hindari di dunia ini. terlihat darinya yang menatapku dengan penuh kebencian." Ujar Arya


"Ibu harap ini adalah awal dari segalanya tanpa harus menyimpan kebencian satu sama lain. sepertinya dia datang untuk menemui anaknya di sini, ibu sangat tahu Dini tidak akan melupakan anaknya begitu saja, ibu sudah katakan dia pasti akan datang menemui Arsen."


"Ada kejanggalan di sini, Bu. Dini datang ke ruangan ku untuk mencari seorang anak kecil yang karyawan ku bawa ke hadapan ku."


"Anak kecil?" Bingung Bu Amira


"Iya, dia datang untuk membawa anaknya. anak itu memanggil Dini dengan sebutan Ibu..." Ucap Arya menjelaskan


"Mungkinkah Dini sudah menikah dengan pria lain?" Duga demikian


"Entahlah,,, Aku hanya berharap jika masih ada harapan untuk memilikinya kembali."


"Bersabarlah... Kita berpikir positif saja mungkin Dini membuka panti asuhan dan semua anak asuh memanggilnya dengan ibu. Dini senang sekali berbuat amal dan rasa kemanusiaan yang tinggi."

__ADS_1


"Apa yang dikatakan ibu bisa saja benar? Namun, kenapa wajahnya sekilas mirip dengan Ansel. Siapa anak itu, rahasia apa yang tidak aku ketahui di dunia ini?" Gumam Arya


__ADS_2