
Setelah di bawa ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan intensif selama 2 hari sana. Dini sudah dinyatakan boleh pulang.
Tanpa ada keluarga yang menemani baik itu ibunya sendiri, dia benar-benar tidak diberitahukan pada keluarga atas dirinya yang ada di rumah sakit. Arya sengaja tidak mengabari Keluarganya, karena hal ini tidak begitu penting baginya.
Di Rumah Arya
"Kau sudah pulih dari sakit akal-akalan mu bukan. Sekarang juga cepat bersihkan rumah ini.sudah 2 hari rumah ini tidak di sapu dan di pel karena ulah akal-akalan mu untuk menghindari hukuman dariku."
"Saya benar-benar takut pada ketinggian, Saya tidak berbohong untuk menghindari hukuman dari anda." Ujar Dini yang membuat rahang Arya mengeras
Arya menerjang Dini dengan kemarahan mencekal rahang Dini kuat-kuat.
"Kau pikir aku peduli padamu?! Tanpa alasan cepat bersihkan rumah ini." Mendorong Dini sampai terjerembab ke lantai
Arya sengaja dengan tidak memperkerjakan pembantu di rumahnya. Dia ingin Dini yang mengurus rumahnya untuk memberikan keselarasan siksaan padanya.
Dikarenakan hari ini adalah hari Minggu, Arya tidak pergi bekerja ke perusahaan. Dia menghabiskan waktu istirahatnya di rumah dengan menonton televisi, berleha-leha di ruang keluarga. Sedangkan Dini masih sibuk mengepel, menyapu, membersihkan jendela, menghilangkan debu dari setiap ruangan.
Dengan sengaja Arya mengotori lantai yang sudah di sapu dengan menjatuhkan camilan ke lantai. Melihat hal itu, Dengan sabar Dini menyapukannya kembali. Dengan terus menerus Arya mengotori lantai dengan berbagai cara agar Dini kelelahan 2 kali.
Dini sangat sabar menghadapi sikap Arya yang sengaja mengotori lantai lagi. Dia sudah lelah bolak-balik harus membersihkan ruang keluarga yang berantakan.
Saat sedang menyapu, dengan tidak sengaja sapu itu mengenai kaki Arya yang sedang duduk santai di sofa dengan kaki yang menapak di lantai.
Terpancing Emosi Arya menendang sapu tersebut karena sudah mengenainya hingga lepas dari genggaman Dini.
"Apa kau tidak bisa melihat, Hah?? Begitu saja kau sudah membuat onar!" Marah Arya yang menggema di seisi ruangan mencekal tangan Dini kuat-kuat
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja." Ada rasa takut yang besar timbul dalam dirinya sampai gemetar hebat
"Kau memang tidak becus mengerjakan sesuatu. Kau hanya bisa membuat onar dan onar dalam kehidupan mu, tidak bisakah satu hari saja kau melakukannya dengan baik tanpa melakukan kesalahan." Ucap Arya memicing
__ADS_1
"Saya tidak sengaja, Tuan. Kaki anda menghalangi sampah yang akan saya bersihkan."
"Jadi, kau menyalahkan kaki ku." Hardik Arya semakin tinggi
"Tidak, Tuan." Tanpa sadar air mata yang lama dibendung itu mengalir membasahi pipi
"Wanita seperti dirimu harus di beri pelajaran." Arya menarik Dini dengan menyeretnya menaiki setiap anak tangga entah ingin di bawa ke mana dan entah akan melakukan apa
Karena langkah Arya begitu cepat dan besar, Dini terseok-seok untuk menyeimbangi langkahnya yang sedang menyeret dirinya.
Dengan Kasar Arya mendorong Dini masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamar miliknya.dan langsung menyalakan Shower Air panas lalu, menyiramkannya pada kedua tangan Dini.
Akkhh...
Teriaknya yang histeris kepanasan saat air panas itu mengenai setiap inci kedua tangannya yang sudah melepuh kemerahan.
"Dengan kedua tanganmu ini bukan. Kau dengan sengaja untuk melukai diriku untuk membalaskan dendam mu padaku. Kau pikir kau akan mudah membalas dendam padaku? Kau belum tahu seperti apa orang yang ada di hadapanmu." Ujar Arya menghiraukan teriak histeris Dini yang kepanasan dan terus menyiramkan Shower Air panas tersebut pada tangannya
Dini tidak bisa melarikan diri atau mengelak, karena Dia sudah ditahan oleh Arya kuat sekali. Tenaganya untuk memberontak tidak sebanding dengan tangan Arya yang menahan dirinya.
"Jika kau berusaha untuk melukai diriku. Tidak segan aku akan membunuh dirimu saat itu juga." Ucap Arya menghentikan aksinya dan pergi
"Kenapa kau tidak membunuhku saat ini juga. Kau ingin membunuhku bukan? lalukan sekarang, Tuan Arya. aku tidak tahu apa kesalahanku padamu sampai kau menyiksa ku seperti ini. Jika kau benci padaku, Bunuh aku sekarang juga." Ujar Dini meluapkan keluh-kesahnya dengan nada tinggi membuat Arya menghentikan langkahnya
Arya berbalik dan menghadapi Dini kembali.
Terukir jelas sepasang mata merah dan raut wajah beringas menahan amarah.
Plaaakkk....
Suara tamparan keras terdengar nyaring.
Arya menampar pipi Dini dengan keras sampai mencetak telapak tangan membekas di pipinya.
__ADS_1
"Jika aku bisa, Aku akan membunuh wanita murahan seperti dirimu saat ini juga. Tapi aku tidak akan membiarkan mu mati di tanganku begitu saja, akan ku buat kau menderita karena sudah menerima perjodohan ini hanya demi uang." Hardik Arya lalu pergi
Hati Dini sudah hancur berkeping-keping. Dia benar-benar terpuruk, menangis, meratapi nasib harus menikah dengan pria kejam dan angkuh.
Tubuhnya merosot sempurna kala genangan Air yang sudah dingin membasahi tubuhnya.
Dini terduduk dengan genangan air mata yang deras jatuh tanpa mampu berkata apapun.
"I-ibuuu...Aku ingin pulang!" Rintih Dini terpuruk hilang asa ingin mengakhiri hidupnya saat itu juga
Bagaimana tidak, Hari-hari Dini yang merasa pergerakannya dibatasi oleh laki-laki bernama, Arya Razvan Pratama itu. menerima setiap perlakuan kasar dengan lapang dada.
Tiada hari berhenti tanpa siksaan. Itulah simbolis yang pantas diberikan pada Dini.
Bangkit dari keterpurukannya, Dini berjalan keluar dengan lunglai bertopang pada dinding agar bisa seimbang keluar dari kamar Arya.
Ia mengganti pakaiannya yang basah di kamarnya, lalu meratapi tangan yang dipenuhi lepuhan kemerahan.
Hiks...Hiks...
Dini mulai menangis kembali melihat tangannya yang malang mendapatkan penderitaan seperti ini.
Sssstt...Awww...
Dengan perlahan ia mengambil salep yang ada di laci lemarinya. Lalu mengoleskan luka bakar itu dengan pelan-pelan menggunakan salep, dan membalutnya menggunakan perban.
"Bagaimana bisa aku menghadapi semua orang dengan tanganku yang di perban seperti ini. Bagaimana jika ibu datang dan melihatku seperti ini? ibu pasti akan curiga." Ujar Dini yang masih sempat-sempatnya memikirkan agar kejahatan suaminya tidak diketahui orang
"Entah sampai kapan aku harus hidup di rumah ini bersama dengannya. Aku tidak tahan lagi menanggapi perlakuannya yang kasar padaku."
__ADS_1
Mampukah Dini bertahan hidup bersama suaminya yang posesif dan kejam itu?