Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
200. Melahirkan (Part 3)


__ADS_3

Rumah Sakit


Di dalam ruangan persalinan, Dokter dan ketiga suster sedang membantu persalinan Dini. suara erangan Dini terdengar lirih, Arya yang sedari tadi berada di samping Dini, mengelus lembut kepala istrinya, kening dan leher Dini sudah bermandikan keringat, Arya mengelap keringat Dini dengan penuh kasih sayang.


Ia terus menggenggam tangan Dini memberikan semangat dan dukungan agar ia kuat melahirkan dengan normal.


"Ayo terus Nona Dini,,, tarik napas dalam dan hembuskan." Kata Dokter


Dini mengikuti instruksi Dokter.


"Iya terus seperti itu,,," Perintah Dokter


"Ayo Din, kau pasti kuat. Aku sangat yakin kau adalah wanita kuat yang bisa melahirkan normal." Ucap Arya


Napas Dini terdengar berat, menarik napas dalam kembali dan di hembuskan nya lagi.


Arya menatap iba melihat perjuangan Dini melahirkan, tak terasa air mata menetes dari sudut mata Arya, ia menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit dan pilu melihat perjuangan istrinya yang dulu pernah ia benci dan di sia-siakan.


Sekilas ia mengenang memori di mana ia memberi penyiksaan yang sangat kejam padanya.


Dini yang masih terus mengerang dan mengejan tangannya berpegangan pada Arya.


bahkan cakaran dan cubitan tidak membuat Arya marah atau kesal, bagi Arya, Dini melakukan hal itu tidak seberapa di banding kan dirinya yang sering menyakiti batin, mental, fisik, dan perasaan Dini dulu.


Dini terus menarik napas dalam-dalam dan di hembuskan nya kembali, wajahnya sudah memerah karena harus mengejan berkali-kali.


"Iya Nona Dini,, Ayo terus tarik napas lagi! rambut kepala bayinya sudah terlihat, Ayo lebih kuat lagi mengejan nya, sedikit lagi bayinya akan keluar." Ucap Dokter


Sekali lagi Dini menarik napas dalam dan suara erangannya begitu kencang, tanpa sadar tangan nya menjambak kuat rambut Arya. Arya tidak peduli ia membiarkan apa pun yang Dini lakukan padanya, asalkan anaknya lahir dengan selamat.


Hingga pada akhirnya...


Oooweekk,, ooweekkk,, ooweekkk


Terdengar suara tangisan bayi dengan nyaring menggema di dalam ruangan persalinan.


Bu Amira dan keluarga lain yang baru datang menunggu di luar sangat senang mendengar tangisan bayi itu.


Hanya saja di sana tidak ada Darwin yang hadir sejak awal, dan menghilang begitu saja tidak ada di tempat...


Napas Dini tersengal-sengal, lalu ia mengatur napasnya perlahan, ia baru tersadar saat melihat tangannya masih menjambak rambut Arya, dengan cepat tangan Dini melepas jambakan pada rambut Arya yang hitam tebal. ia Iangsung berbaring lemas di atas ranjang, saat mendengar suara tangisan bayinya tak terasa Arya meneteskan air mata haru bercampur bahagia, dan ia berbisik lembut di telinga Dini.

__ADS_1


"Anak kita lahir dengan selamat, terima kasih, sudah berjuang untuk melahirkan anak kita." Tanpa sadar dan melupakan segalanya, Arya mengatakan hal itu


Tiba-tiba air mata Dini pun mengalir dari sudut matanya, Arya mengusap lembut air mata Dini.


"Tuan Arya!?" Panggil Dokter


Arya menoleh pada Dokter yang sedang menggendong bayinya.


Arya pun berjalan mendekat pada Dokter yang masih berdiri di sisi ranjang.


"Selamat Tuan, Bayi anda berjenis kelamin laki-laki." Ujar Dokter tersenyum lebar


Lalu berkata kembali,


"Anak anda seorang jagoan, sangat tampan dan mirip seperti ayahnya, Hanya saja matanya mirip mengikuti ibunya. Selamat ya Tuan, ia bayi yang sehat." Lanjut Dokter


Wajah Arya berbinar cerah, ia menatap wajah bayi mungil itu, mengelus lembut pipinya dengan jari, terlihat pipi bayi mungil itu merah merona. mirip sekali saat ia kecil...


"Akhirnya kau lahir ke dunia." Ucap nya bangga dengan senyum mengembang


Dia lupa akan suatu hal yang menganggap bukan anaknya. Sepertinya sudah cukup bagi Arya mengakui bayinya tersebut dengan wajah yang mirip sama seperti ia lahir.


"Tentu saja, Aku ayah nya dan akan mengadzani anak ku sendiri." Ujar Arya


Dokter mendekatkan bayi mungil itu ke depan Arya, ia sendiri belum berani menggendong bayinya. Dan Arya segera mengalunkan suara adzan ke telinga kanan anaknya yang baru lahir ke dunia itu, butiran air mata kembali membasahi pipinya.


"Aku akan membersihkan anak mu dulu juga ibunya, setelah selesai kami akan membawa nya ke ruangan VIP." Kata Dokter


"Baik lah Dokter,,, Terima kasih banyak. Kau sudah membantu persalinan istriku." Kata Arya


"Sama-sama Tuan, Itu sudah menjadi tugas kami." Jawabnya memberikan bayi itu pada suster untuk di bersihkan lebih dulu


Arya kembali berjalan ke ranjang Dini.


"Din, kau sudah lihat itu? Bayi kita sudah lahir. Jenis kelaminnya adalah laki-laki, dia seorang jagoan." Kata Arya


Bukannya terlihat senang, Dini malah bersedih.


"Apa Tuan lupa dengan perkataan Tuan yang mengatakan jika dia bukan anakmu?" Ujar Dini mengingatkan


Seketika Arya tertegun dan raut wajahnya berubah datar.

__ADS_1


"Apa setelah lahir Tuan baru menyadarinya. Dulu kemana saja Tuan yang sama sekali mencapnya sebagai anak orang lain?!" Seru Dini


Arya benar-benar terpukul dan menyesal. Kini dengan melihat wajah dari bayi itu, ia tidak mungkin mencapnya sebagai anak orang lain.


itu adalah darah dagingnya, hasil dari buah cinta perbuatannya, apalagi yang harus dicurigai dan dipertanyakan? Masalahnya, apakah mereka akan bisa bertahan....? Dengan Arya yang lebih memilih Dini dibandingkan Valerie!


"Arya, bagaimana dengan Dini?" Tanya Bu Amira yang sejak tadi sudah menunggu di luar dan masuk


Arya hanya diam melihatnya ibunya datang.


Bu Amira menatapkan matanya pada Dini yang terbaring lemah di ranjang, ia menatap lekat wajah Dini.


Ia berjalan dengan lunglai menghampiri Dini.


"Putri ibu yang kuat. Kau sudah berhasil berjuang melahirkan anakmu sampai selamat. Terima kasih kau sudah berkorban untuk keluarga kami, Nak." Ujar Bu Amira mengelus rambut menantunya


Dini hanya mengeluarkan air mata.


Bu Amira pun memeluk Dini dengan sangat erat sampai mereka menangis bersama.


"Apa jenis kelamin cucuku?" Tanya Bu Amira


"Kalian mendapatkan seorang jagoan baru di Mansion mu, Ibu!" Jawab Dini


"Cucuku seorang laki-laki??" Antusias senang Bu Amira


"Iya ibu, sesuai dengan keinginan keluarga kalian." Ujar Dini jadi bersedih


"Kenapa begitu? Laki-laki atau perempuan sama saja. Ibu senang mendapatkan seorang cucu dan anak kecil di mansion ibu nanti." Ucap Bu Amira


Di sela perbincangan mereka, Datanglah seorang suster yang membawa bayi Dini yang sudah dibersihkan dan dipakaikan pakaian.


"Bayinya sudah dibersihkan. Apakah ibu dari bayi ini ingin menggendongnya? sambil memberikan ASI pertama." Ujar suster


Dini mengangguk dengan antusias.


Tangannya siap meraih anaknya dalam pangkuan dekapan di dadanya.


Namun...


"TIDAK PERLU...." Teriak seseorang yang menghentikan tangan Dini yang ingin meraih bayinya

__ADS_1


__ADS_2