Terbelenggu Oleh CEO Angkuh

Terbelenggu Oleh CEO Angkuh
174. Terpesona


__ADS_3

Setelah menjalani hari yang panjang dan melelehkan untuk menjalankan proyek kerja samanya dengan Richo. Banyak sekali pikiran yang bertumpuk dalam kepalanya. Sedari sesi pemotretan, Arya tidak bisa berkonsentrasi dalam kerjanya.


Valerie yang pulang lebih dulu setelah selesai menjalani pemotretan dan mendapatkan sejumlah pundi-pundi uang yang sangat besar. Ia sangat senang dan memutuskan bersenang-senang di luaran sebelum kembali ke rumah. Tak lupa selain barang branded untuk dirinya sendiri ia membelikan barang branded untuk ibunya dari hasil kerja seharinya itu.


Malam Hari~


Kini Arya telah pulang dari bekerja, ia sedang melenggang masuk ke rumahnya bersiap menuju kamar pribadi.


Namun, Sebelum itu dia berpas-pasan dengan para pelayan yang belum tidur.


"Apakah Nyonya sudah tidur?" Tanya Arya pada pelayan itu. Nyonya yang dia maksud adalah Dini. Namun, perkataan Arya tak cukup membuat pelayannya mengerti


"Nyonya Valerie sudah tidur setelah makan malam, Tuan." Jawab Sopan dan menunduk salah satu pelayan itu


Walaupun bukan jawaban yang ia inginkan karena ia bertanya perihal Dini. Arya sangat mengerti dengan kondisi saat ini dan memakluminya.


"Lalu, Dini?" Tanyanya membuat pelayan keanehan


"Dini? Ia sudah tidur di kamarnya, Tuan. Tuan membutuhkan sesuatu? Katakan saja pada saya, saya akan menjalankan perintah dari Tuan." Jawabnya karena yang ia tahu Dini adalah pelayan sama sepertinya


"Tidak, Bukan itu. Tidak perlu, Kalian bisa pergi." Jawab Arya sangat kesal dengan jawaban pelayan yang tidak diharapkan


Para pelayan segera berbisik-bisik dalam posisi masih berlutut, mereka kebingungan saat mendapati Tuan Arya pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi.


Tetapi mereka tetap merasa lega karena sepertinya mereka tidak akan mendapatkan hukuman apapun setelah melihat wajah Arya sedikit marah walaupun tak mengerti apa alasan dibalik kemarahannya.


Semuanya dibuat terlena, Memikirkan kenapa Arya menanyakan Dini sebagai pelayan. Padahal pelayan di rumah itu bukan hanya Dini, tapi mereka juga memiliki peran yang sama di sana.


Suatu hal yang berbeda saat masuk ia tidak langsung melenggang ke arah kamarnya sendiri. Tapi ia melangkahkan kakinya menuju arah kamar Dini berada.


Saat sudah berada di depan pintu kamar Dini, ia membukanya secara perlahan dan saat pintu sedikit terbuka, ia tidak mendapati sosok Dini tertidur di atas ranjang.


Sontak ia syok, Di mana Dini berada saat ini.


"Apakah dia kabur? atau..." Dengan napas yang berat, langkah kakinya yang panjang hendak masuk kamar, namun saat ia sudah berada di dalam kamar, matanya menangkap seseorang sedang tertidur di sofa

__ADS_1


Tubuhnya yang mungil membuatnya tidak akan terlihat jika dilihat dari arah ranjang.


"Haahhh!"


"Jantungku!"


Geram Arya berhenti sejenak, dia mengusap dadanya dan menstabilkan pernapasannya.


Arya langsung melangkah ke arah Dini, yang memang terlihat tidur nyenyak di sana.


Tetapi saat Arya melihat Dini dari dekat...


Deg... Deg... Deg!


Jantungnya berpacu lagi, pipinya merah padam seperti tomat matang, dan udara di sekelilingnya tiba-tiba saja menjadi panas.


Dini yang sedang berbaring dengan mata terpejam di sofa, hanya mengenakan piyama navy yang kebesaran di tubuhnya.



Glek!


Arya menelan salivanya, dia seperti terhipnotis dengan keindahan Dini, semakin ia mendekat semakin mempesona penampilan wanita itu.


Sekarang Arya sudah duduk tepat di sisi Dini, kelihatannya Dini yang juga kelelahan itu sampai tertidur pulas di sofa setelah ia membersihkan tubuhnya yang terlihat masih basah.


Mata Arya tetap melekat ke wajah dan tubuh istrinya, sungguh sudah banyak sekali wanita cantik dan menggoda yang selama ini berada di sekitaran Arya, Terutama Valerie wanita yang ia cintai dan banggakan.


Akan tetapi tidak ada satupun dari mereka mampu membuat Arya terpesona, atau meningkatkan gairah kejantanan nya.


Akan tetapi wanita ini, dengan wajah polos dan sikapnya yang lugu dan menyedihkan, mampu memporak-porandakan Arya, dan meningkatkan gairahnya ke tahapan yang belum pernah Arya rasakan sebelumnya.


"Hei... bangun!" Arya yang tidak ingin kehilangan dirinya sendiri itu, mencoba membangunkan Dini, dia ingin Dini tidur di ranjang bukan di sofa.


Tapi saat tangannya hendak menyentuh bahu Dini, tanpa sadar kepala Dini malah terjatuh ke tangannya.

__ADS_1


Dan tentu saja hal itu membuat Arya tidak bisa menahan dirinya lagi.


Arya mencengkeram tangan satunya, dia bingung dengan apa yang sedang terjadi kepadanya, yang jelas semuanya terasa panas sekarang ini.


Setelah Dini bersandar di tangannya, Arya membutuhkan beberapa menit untuk mengatur pernapasannya dan menahan dirinya sendiri.


Dia mungkin memang sudah menikah dengan Dini, akan tetapi ia tahu Dini seperti asing baginya, ia sudah memberikan banyak penderitaan pada gadis kecil itu.


Tentu Arya tahu jika ia dan Dini memiliki jarak usia yang sangat jauh, pasti tidak tahu menahu dengan hubungan orang dewasa, Namun sepertinya Dini sudah didewasakan oleh keadaan. Jadi, dia harus bisa menahan dirinya sendiri dan perlahan akan mengerti.


Setelah merasa dia sudah sedikit tenang, Arya segera menggendong Dini lagi, membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Arya masih berdiri di sisi ranjang memperhatikan Dini, mencoba mempertanyakan sebenarnya apa yang ada dalam diri Dini hingga membuatnya merasa aneh seperti sekarang ini.


Sembari melipat tangan dan menatap dengan tajam, matanya tiba-tiba saja menangkap ke arah buah dada Dini.


Glek!


Lagi-lagi dia merasa gairahnya memuncak.


"Di ... dia tidak mengenakan apapun di dalam sana, astaga, kenapa aku jadi merasa panas dan gugup seperti ini? Apa yang terjadi dengannya, Dia sudah tidak waras, kah? Dia sama sekali tidak berpikir akan kedinginan atau tidak nyaman. Apa dia sering melakukan ini setiap malam?" Arya mencoba mengalihkannya pandangannya, namun tetap saja matanya menuju ke arah yang sama lagi


Benar, Dini memang hanya mengenakan piyama navy miliknya tanpa menggunakan pakaian dalam, membuat Arya bisa memperhatikan tonjolan dan lekukan tubuh Dini secara transparan.


Apalagi sinar bulan yang memasuki ruangannya membuat semuanya menjadi terlihat semakin jelas.


Tubuhnya sangat indah, membuat mata Arya seperti terkunci dan tak bisa mengalihkan tatapannya.


"Hemm, ukurannya boleh juga, sedikit berbeda di saat dulu aku merasakannya, terlihat sekarang lebih berisi dan sepertinya pas di tangan, ha ha ha!" Tawa nakal dan wajahnya yang berubah ganas itu berucap sendiri sembari menatap dengan lantang ke arah buah dada Dini


Namun beberapa menit setelah itu ....


"Arya, apakah kau sudah gila? wanita ini adalah yang kau benci sekarang dan prioritas utama mu terus menindas nya, kau harus fokus, jangan ingin tergoda oleh wanita rubah ini!" Geram Arya menggelengkan kepalanya


Walaupun dia sudah meyakinkan dirinya, dia tidak bisa membohongi reaksi tubuhnya, apalagi pipi dan daun telinganya yang merah padam itu.

__ADS_1


__ADS_2